Mendidik Cara Don Bosco

azrou_center_morocco_m“Susternya jarang ditemui, jarang kelihatan,” demikian pengakuan seorang siswa yang sedang menuntut ilmu di sebuah lembaga pendidikan yang dikelola para biarawati. Untuk pembaca yang non-Katolik, “biarawati” digunakan untuk menyebut sekelompok perempuan yang mempersembahkan hidupnya secara utuh dalam pelayanan kepada Gereja Katolik dengan mengikrarkan kaul (sumpah suci) untuk hidup dalam komunitas religius dalam semangat ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Para biarawati ini sehari-hari dikenal sebagai “para suster”. Mereka menghidupi semangat atau spiritualitas pelayanan tertentu yang biasanya telah diletakkan dasarnya oleh pendiri mereka dan yang kemudian disetujui oleh pimpinan Gereja Katolik di Vatican. Salah satu bidang karya para biarawati ini adalah menyelenggarakan pendidikan Katolik.

Kembali ke pernyataan sang siswa tadi: para suster susah ditemui, mereka jarang kelihatan. Ketika saya bertanya lebih lanjut, siswa tersebut mengatakan bahwa para suster memang tidak berbaur dengan para siswa. Bahkan ketika istirahat pun mereka (maksudnya para suster) jarang kelihatan. Jika begitu, siapakah sebenarnya yang menyelenggarakan sekolah tersebut? Apakah kaum awam alias para guru yang non-biarawati tersebut? Dalam sekolah semacam ini tidak jarang kita melihat peran guru-guru awam yang sangat dominan, termasuk juga dalam penegakkan disiplin. Karena itu, bukan hal yang aneh jika ada siswa yang berpendapat bahwa guru (awam) sepertinya lebih “galak” dari para biarawati.

Keadaan semacam ini bisa dibaca secara positif, tetapi bisa juga negatif. Secara positif dapat dikatakan bahwa minimnya keterlibatan para biarawati di antara para siswa merupakan cara yang baik untuk mendorong peran aktif para guru awam. Karena para biarawati umumnya sudah menduduki posisi-posisi kunci seperti Kepala Sekolah, maka “guru awam” diberi kepercayaan lebih untuk mengatur jalannya sekolah. Meskipun begitu, minimnya kehadiran para suster di antara siswa dapat dilihat sebagai hal yang negatif, dan inilah yang ingin saya soroti di sini.

Saya teringat, ketika pertama kali menjadi guru di tahun 1989. Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang bersiap menapaki jalan panggilan imamat. Karena saya memutuskan bergabung dengan para imam Salesian yang bidang karya utamanya adalah pendidikan, saya dan rekan-rekan ditugaskan untuk tinggal sebagai calon novis di salah satu komunitas pendidikan para imam Salesian. Saya diutus bersama seorang rekan dari Timor Leste untuk tinggal di salah satu komunitas di ujung Pulau Timor yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMK. Demikianlah, tahun 1989 – seusai menyelesaikan SMA – saya langsung terjun menjadi guru SMP.

Guru di sekolah-sekolah yang dikelola para imam Salesian memiliki semangat pelayanan yang berbeda. Mereka harus menjadi guru sebagaimana yang dikehendaki Santo Yohanes Bosco, seorang pendidik dan rasul kaum muda. Salah satu praktik yang sangat ditekankan pada waktu itu adalah bahwa pada jam istirahat para guru tidak boleh ada di kantor. Mereka harus berada di halaman sekolah, di gang, di kantin, dan di sudut-sudut sekolah di mana para siswa bisa ditemui. Di situ para guru harus berinteraksi dengan para siswa,berdialog dengan mereka. Para guru harus memosisikan diri mereka di tengah para siswa bukan sebagai polisi tetapi sebagai asisten.

Don Bosco menggunakan istilah asisten. Per definisi, kata “asisten” diartikan sebagai orang atau pribadi yang hadir untuk membantu/menolong. Demikianlah, kata “asisten” bersinonim dengan kata-kata seperti “pembantu” (helper), “yang hadir dan membantu” (attendent), “penolong” (auxilliary), dan sebagainya. Guru sebagai asisten yang hadir di antara siswa adalah sahabat yang memosisikan dirinya tidak lebih tinggi dari orang lain. Dia hadir “di samping” atau “di sisi” siswa dalam artinya yang sesungguhnya.

Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.
Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.

Mengapa Don Bosco mau supaya para gurunya menjadi asisten dan hadir di antara para siswa? Pertama, spiritualitas pendidikan Don Bosco adalah “menyelamatkan jiwa-jiwa”. Don Bosco selalu mengatakan, “Berikan kepadaku hanya jiwa-jiwa dan ambillah yang lainnya daripadaku” (da mihi animas caetera tolle). Dalam arti itu, kehadiran para guru di antara siswa adalah kesempatan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Don Bosco tidak ingin satu detik pun tidak diisi dengan hal-hal baik yang menguduskan. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada setan untuk menggoda dan membawa siswanya kepada pencobaan. Kehadiran guru-guru di antara siswa dimaksud sebagai “cara” untuk mencegah para siswa jatuh ke dalam pencobaan semacam itu. Don Bosco selalu mengatakan kepada para gurunya, “Biarkan anak-anak bermain, loncat, berteriak, berlari ke sana kemari, yang penting tidak jatuh ke dalam pencobaan dan dosa” (“Run, jump, have all the fun you want at the right time, but, for heaven’s sake, do not commit sin!”).

Kedua, pendidikan Katolik sebagaimana yang ditanamkan para Salesian dalam semangat menyelamatkan jiwa-jiwa tersebut juga harus dibaca dalam konteks pembinaan pribadi siswa dalam keutuhannya. Dalam konteks pendidikan modern, pendidikan dalam keutuhan adalah proyek pendidikan karakter yang mengincar pembentukan pribadi yang utuh, intelektual dan rohani, jiwa dan raga. Dan itu hanya bisa tercapai jika setiap guru memosisikan dirinya sebagai model atau contoh. Bagi Don Bosco, kehadiran para guru di antara siswa tidak sekadar sahabat yang bersedia menolong. Kehadiran mereka harus sungguh-sungguh dirasakan sebagai kehadiran yang mengasihi. Don Bosco sangat sering mengatakan bahwa tidak cukup para guru mengatakan bahwa mereka mengasihi anak-anak. Anak-anak harus sungguh-sungguh merasakan cinta kasih tersebut.

Di sini kita berhadapan dengan sebuah spiritualitas pendidikan Salesian yang sangat biblis. Setiap karya kerasulan, termasuk karya pendidikan, adalah cara Allah menyatakan keselamatan-Nya. Menjadi guru dalam semangat ini adalah tanggapan terhadap panggilan agung untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan itu dilakukan pertama-tama bukan dengan mendemonstrasikan kehebatan guru dalam mengajar – hal ini juga penting. Juga bukan dalam kemegahan bangunan gedung – hal ini juga penting. De facto sekolah-sekolah Salesian ditandai oleh bangunan yang megah dan mentereng. Menjadi guru yang menyelamatkan, dalam semangat pendidikan Don Bosco, adalah kehadiran di antara para siswa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dengan cara menjadi model, menjadi sahabat, dan memancarkan kasih supaya kasih itu sungguh-sungguh dirasakan kehadirannya. Tampaknya perubahan perilaku pada diri siswa akhirnya merupakan buah dari kesadaran siswa sendiri bahwa mereka sungguh-sungguh dikasihi, bahwa ada sahabat yang kehadirannya benar-benar menunjukkan “jalan” untuk menjadi sempurna.

Kembali ke “keluhan” siswa di sebuah sekolah di atas yang menyayangkan ketidakhadiran para biarawati di antara para siswa. Mungkin saja para biarawati itu mempraktikkan spiritualitas pendidikan yang lain. Kalau pun ini betul, bagi saya, kehadiran guru di antara siswa tak akan pernah tergantikan, terutama kehadiran sebagai model atau contoh. Para siswa harus sungguh melihat kebaikan dalam diri gurunya supaya mereka bisa menirunya. Dan tampaknya hal terakhir ini yang kurang ditampakkan dalam pelayanan para biarawati tadi. Padahal kita baca dari Inil Matius 5: 16: “Biarlah terangmu juga bercahaya dengan cara yang sama supaya mereka dapat melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Bagi saya, hanya dengan penghayatan spiritualitas menjadi guru semacam inilah seorang guru Katolik dapat menempatkan dirinya dalam keseluruhan ekonomi keselamatan Allah yang telah disediakan-Nya bagi semua orang, termasuk bagi para siswa-siswi di sekolah.

Selamat hari guru (terlambat diucapkan karena sudah jam 22:5 WIB, tanggal 25 November 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s