Tergelitik Tulisan Buya Syafii

tulisan buyaSaya suka membaca refleksi bernuansa teologis-filosofis-spiritualis menjelang hari raya keagamaan, terutama Natal dan Idulfitri. Natal karena sebagai penganut Katolik, saya ingin menyiapkan diri dengan pikiran dan refleksi tertentu menjelang hari raya. Tetapi juga idulfitri, karena ingin mengetahui makna terdalam dari perayaan keagamaan Islam tersebut. Demikianlah, hari ini saya membaca tulisan Buya Syafii Maarif, Said Aqil Siraj, dan Sukidi, semuanya terbit di Harian Kompas (5 Juli 2016).

Saya terutama tertarik dan langsung membaca tulisan Buya Syafii di halaman 1 dan bersambung di halaman 15. Tulisan itu diberi judul Bom dan Masa Depan Peradaban Islam. Siapa pun yang mengikuti berita pasti langsung menghubungkan konteks tulisan ini dengan dua bom menjelang Lebaran 2016, yakni bom di Turki dan Baghdad yang menewaskan ratusan orang tak berdosa. Dari situ kita juga mengerti kegundahan dan kegeraman Buya Syafii (dan siang ini juga ada berita tentang bom bunuh diri di Solo). Bahwa masa kejayaan Islam sering justru berjibaku dengan pertarungan teologi di dalam Islam sendiri. Dan bagi Syafii Maarif, itu semua berangkat dari keegoan manusia yang mengakui diri umat Islam tetapi tidak benar-benar menaati ajaran Islam. Merujuk ke keadaan yang porak poranda di Timur Tengah, Buya Syafii melihat itu sebagai ekspresi dari nasionalitas atau etnisitas sempit yang sengaja disandarkan pada pandangan teologis tertentu dalam Islam.

Analisis ini sangat baik, terutama dalam semangat Idulfitri, karena dapat mengingatkan umat seluruhnya, bahwa kemenangan spiritual seusai Ramadhan seharusnya juga nampak dalam upaya membangun peradaban yang lebih manusiawi, jika mau ya peradaban yang berlandaskan ajaran agama. Dan itu mengandaikan setiap orang, setiap pemimpin agama, dan setiap negara melepaskan egonya sendiri, mengubur terlebih dahulu kepentingan politik jangka pendek yang hanya mengahancurleburkan peradaban. Dalam arti itu, sejalan dengan judul tulisan Buya Syafii, peradaban Islam sedang dipertaruhkan.

Sampai di sini saya masih “menikmati” tulisan Buya Syafii. Tetapi ketika menyinggung rapuhnya persatuan Islam, terutama di Timur Tengah, karena setiap negara memperjuangkan nasionalitasnya sendiri, Beliau berpendapat bahwa keadaan semacam ini akan dimanfaatkan bangsa Barat untuk semakin memecah-belah Islam dan kemudian menawarkan apa yang disebutnya sebagai “iming-iming duniawi”. Saya mengutip Buya Syafii, “Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi” (hlm. 15). Bagi saya, pernyataan seperti ini problematis, pertama karena seakan menggarisbawahi cara tafsir sekarang, bahwa Barat tidak hanya melihat Islam sebagai musuh, tetapi berusaha menghancurkannya dari dalam (memanfaatkan kerapuhan dunia Islam sendiri). Sebagai seorang guru besar, Buya Syafii tentu dapat mempertanggungjawabkan ini secara akademis. Tetapi mengingat pembaca media massa tidak memiliki pemahaman yang memadai, maka pernyataan atau kesimpulan semacam ini justru dapat terus memelihara sentimen negatif terhadap Barat. Bagi saya, beban pembuktian tidak bisa diberikan kepada pembaca.

Kedua, pernyataan Buya Syafii juga problematis jika menyimpulkan bahwa Barat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk semakin menghancurkan dunia dan peradaban Islam. Lagi-lagi, menurut saya, pandangan semacam ini mendikotomikan Islam vs Barat yang pro “iming-iming duniawi”. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan “iming-iming duniawi”. Apakah itu ada hubungannya dengan kehidupan dunia Barat yang semakin tidak percaya pada Tuhan? Apakah itu berhubungan dengan sekularisme yang dianut di Barat? Lagi-lagi, Buya Syafii pasti bisa mempertanggungjawabkan ini. Tetapi tetap saja pembaca seperti saya yang kurang pengetahuan ini akan memlihara kesan dalam diri saya, bahwa dunia Barat harus diwaspadai karena dapat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk menghancurkan peradaban suatu agama.

Mudah-mudahan saya salah menangkap pesan mulia yang disampaikan Buya Syafii. Tetapi paling tidak, dengan menulis ini, para pembaca bisa membantu saya memahami lebih mendalam apa yang dimaksud dengan pernyataan atau kesimpulan Buya Syafii seperti itu.

Buya Syafii dan rekan-rekan Muslim, selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s