Nyali

pemimpin bernyali
Pemimpin bernyali. Sumber: Stat Jim B Aditya 2016. Disebarluaskan melalui WA Group Hidesi, 18 Juni 2016).

Pagi ini, sebuah meme beredar di media sosial. Di meme itu tertera gambar Joko Widodo, Susi Pudjiastuti, Basuki Tjahja Purnama, dan Tito Karnavian berikut tulisan: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI.

Saya tertarik dengan kata “nyali” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sifat berani atau keberanian. Sayang, saya tidak menemukan informasi dalam Bahasa Indonesia seputar asal-usul kata ini, dalam konteks kultur seperti apa kata ini semula digunakan, kapan pertama kali kata ini digunakan secara nasional, dan sebagainya. Padahal informasi seperti ini menarik, tidak saja untuk memahami evolusi sebuah kata, tetapi juga konstruksi budaya mengenai sebuah kata.

Meskipun begitu, kita tetap bisa menangkap “semangat” kata ini dalam bahasa lain, taruhlah saja Bahasa Inggris. Kata “nyali” dalam Bahasa Inggris – menurut saya yang bukan ahli bahasa – adalah kata “courage”. Menurut Dictionary.com, kata “courage” diartikan sebagai (1) kualitas pikiran (mind) dan roh (spirit) yang memampukan seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan, bahaya, rasa sakit (penderitaan) dan seterusnya tanpa rasa takut; (2) hati sebagai sumber emosi. Pengertian kedua ini disebut obsolete, artinya sudah tidak digunakan lagi. Sementara itu, ada juga idiom yang berlaku dalam masyarakat Barat, ketika mereka mengatakan: have the courage of one’s convictions, yang artinya “bertindaklah sesuai keyakinan seseorang, terutama ketika tindakan-tindakan tersebut menghadapi berbagai cemohan dan kritikan.

Menarik juga diperhatikan, bahwa kata “courage” sendiri secara historis merukan “Medium English” (ME), yakni kata-kata yang baru mulai digunakan pada periode tahun 1150-1475, dan yang sekarang masih digunakan oleh masyarakat Barat. Secara akar kata, kata “courage” masuk ke dalam tuturan Bahasa Inggris dari Bahasa Prancis Kuno “corage” yang sepadan dengan kata “cor” dalam Bahasa Latin, yang artinya “hati” dan kata “age”, sebuah sufiks yang mengindikasikan “proses, tindakan, atau hasil dari sebuah proses atau tindakan”. Dengan begitu, kata “courage” yang akar katanya terdiri dari suku kata “cor” dan “age” dapat dimaknakan sebagai (1) tindakan keberanian yang berasal dari hati, yang merupakan buah dari pertimbangan hati, roh dan pikiran; dan (2) tindakan keberanian itu merupakan hasil dari sebuah proses.

Apa yang mau saya tegaskan dengan kedua kesimpulan pengertian yang saya tegaskan ini? Pertama, mengatakan bahwa keberanian berasal dari dalam hati dan merupakan buah dari pertimbangan roh, hati, dan pikiran, itu sekaligus menegaskan bahwa tindakan keberanian itu bukan sebuah kepura-puraan atau bukan sebuah “agenda setting” demi mencapai tujuan tertentu di luar tindakan keberanian itu sendiri. Pertanyaannya, apa yang hendak dicapai dengan sebuah tindakan yang berani? Pada level individu, keberanian adalah sebuah keutamaan pribadi menghadapi tindakan, perlakuan, peristiwa, intervensi, dan sebagainya dari luar yang sifatnya bertentangan dengan pertimbangan hati. Dalam arti ini, suara hatilah yang “memberitahu” individu bahwa apa yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan, dengan moralitas, dengan ajaran agama, dengan prinsip etika tertentu, dan sebagainya. Himbauan suara hati inilah yang kemudian mendorong individu untuk mengambil tindakan yang berani dengan hasil akhir dan konsekuensi yang berbeda-beda. Karena tindakan keberanian berasal dari hati dan pikiran, kepura-puraan (pura-pura berani) seharusnya tidak diberi tempat. Keberanian sendiri mengandaikan daya tahan, sementara kepura-puraan akan mati atau lenyap saat tidak tercapainya agenda pribadi.

Sementara itu, pada level keutamaan sosial, sikap berani muncul ketika hati nurani dan pikiran menghadapi praktik politik, kebijakan umum, rekayasa politik, ideologi tertentu, dan semacamnya yang jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan dan kemaslahatan warga negara. Dalam konteks inilah kita menyebut seorang pemimpin sebagai yang memiliki keberanian jika memiliki “nyali” dalam menghadapi berbagai praktik culas dan kotor dan kemudian berusaha memperbaikinya, tanpa rasa takut akan ancaman, boikot, pelengseran, ditinggalkan koalisi politik, dan sebagainya.

Kedua, sikap berani tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Menjadi berani bukanlah sebuah proses instan. Dalam konteks keberanian sebagai keutamaan menurut Aristoteles, sikap semacam ini hanya bisa terwujud ketika orang memiliki disposisi moral akan apa yang baik dan buruk lalu kemudian membiasakan diri (habituasi) bertindak secara benar dalam hidupnya sebegitu rupa sehingga tindakan benar menjadi kebiasaan (habit). Kita tahu ini sebuah proses pendidikan watak di mana seseorang dididik dan dibiasakan untuk bertindak menurut nilai-nilai moral tertentu, termasuk nilai keberanian (courage) tadi. Dengan begitu, tindakan yang berani sebagai sebuah tindakan moral telah teruji selama proses pendidikan dan selama menghadapi berbagai perilaku tidak bermoral dalam hidup sehari-hari.

Dalam konteks refleksi semacam inilah kita bisa memahami ungkapan dari meme ini: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI. Setiap kita bisa menyimpulkan sendiri seperti apa dan dalam konteks praktik politik seperti apakah Presiden Jokowi disebut sebagai pemimpin yang berani. Demikian pula dengan Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Basuki Tjahja Purnama selaku Gubernur DKI, dan Bapak Jenderal Tito Karnavian (yang segera akan menjadi Kapolri).

Mereka dan banyak lagi orang muda pemberani yang memang punya nyali politik yang seharusnya memimpin republik ini jika memang kita mau mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s