Kepentingan Diri dalam Relasi Sosial

Hoffnungsschimmer_1
Kepentinganku vs kepentingan orang lain. Sumber: http://blogs.wgbh.org/innovation-hub/2015/5/29/0530-full-show/

Dalam sebuah relasi antarmanusia, apakah ada relasi yang sifatnya bebas kepentingan (bebas self-interest)? Dulu saya berpikir, bahwa relasi yang paling intim dengan orang yang kita kasihi seharusnya bebas kepentingan. Yang saya maksudkan dengan bebas kepentingan adalah bebas dari segala upaya mengikutkan agenda atau maksud tertentu yang menguntungkan diri sendiri di luar dari tujuan bersama yang hendak dibangun dalam relasi tersebut. Kepentingan diri dapat termanifestasi dalam berbagai hal, misalnya kesenangan dan kenikmatan diri, motif-motif yang sifatnya psikologi seperti ingin mendapatkan kesenangan dan dukungan dari sebuah relasi atau bahkan ingin menguasai dan mengendalikan orang sampai kepentingan yang sangat ekonomis.

Ternyata pandangan saya itu saya. Bahkan dalam hubungan dengan orang yang paling dicintai pun, tampaknya kepentingan diri tetap diikutkan, entah sadar atau tidak. Pada level yang paling ideal, relasi yang ideal memang tidak boleh menghilangkan atau membinasakan identitas pihak-pihak yang berelasi. Tetapi dalam praktik, banyak hal yang menyebabkan orang mau tidak mau mengikutkan kepentingan atau agendanya sendiri dalam relasi. Teman-teman yang sudah menikah mestinya bisa membuktikan hal ini. Apakah relasi kita dengan suami atau dengan istri kita benar-benar tanpa kepentingan lain selain demi kebaikan pasangan kita? Atau hanya demi kebaikan dan cita-cita luhur kita? Menurut saya, yang berbeda di antara kita tidak terletak pada ada atau tidak adanya kepentingan relasi dengan pasangan hidup kita, tetapi sebesar apakah kepentingan pribadi itu diikutkan.

Bahkan dalam konteks kehidupan dan pelayanan keagamaan. Dua tahun terakhir saya memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan di Gereja saya (Gereja Katolik). Tepatnya, saya merelakan diri menjadi Katekis dengan tugas mengajar dan mempersiapkan orang-orang yang mau menjadi Katolik. Saya mengatakan bahwa saya merelakan diri, karena ini pilihan saya sendiri. Sudah lama saya pikirkan, dan ketika memutuskan, saya melakukannya dengan bebas. Termasuk mempersiapkan keluarga, bahwa beberapa waktu tertentu saya di akhir pekan akan tersita karena kegiatan pelayanan semacam ini.

Saya berpikir bahwa orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di Gereja tidak memiliki kepentingan yang lain selain melayani Gereja, membuat semakin banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan, dan menjadikan orang Katolik semakin baik hidupnya di masyarakat. Tetapi rupanya tidak. Ada berbagai macam alasan dan motif yang mendorong orang merelakan dirinya dalam pelayanan “suci”. Ada yang mau melayani Gereja untuk mengisi waktu luang. Ini biasanya bagi mereka yang sudah pensiun. Ada yang tentunya melayani Gereja karena merasa memang Tuhan “memanggil” dan menginginkan dia dalam pelayanan itu. Tetapi ada juga yang mau melakukannya karena “daripada di rumah”.

Motif terakhir ini yang tampaknya bermasalah. Orang memiliki relasi yang buruk dengan pasangan hidupnya berusaha menghindari masalah itu dengan mencari kesibukan di luar rumah. Bagi dia, aktivitas di luar rumah, termasuk pelayanan di Gereja sebagai aktivitas yang membebaskan dia dari beban hidupnya selama ini.Memang sulit membuktikan apakah motif semacam ini ada dalam pelayanan kegerejaan. Tetapi kegagalan dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks pelayanan gereja, dapat memberi kita semacam tanda untuk memahami motif pelayanan sebagai pelarian. Tandanya banyak dan bisa macam-macam, mulai dari orang yang cepat marah dalam pelayanan sampai menjadi keras kepala dan enggan mendengar pendapat orang lain.

Saya menggunakan contoh pelayanan di Gereja hanya untuk menunjukkan bahwa sebetulnya ada beragam alasan yang sering tidak kita sadari ketika kita hendak membangun relasi dengan orang lain atau ketika kita mau terlibat dalam aktivitas yang melibatkan kerjasama dengan orang lain. Contoh yang saya kemukakan di atas (entah pada level keluarga sendiri maupun dalam konteks pelayanan kegaamaan) mendorong kita untuk sadar, bahwa kepentingan diri sering diikutkan dalam setiap relasi yang kita bangun. Posisi saya tidak pertama-tama mendorong agar kepentingan diri tidak diikutkan dalam berbagai relasi atau kegiatan yang melibatkan orang lain. Kepentingan diri sebaiknya tetap dipertahankan, karena kadang-kadang itu juga yang menentukan otentisitas kita. Yang penting adalah bagaimana mengelola kepentingan diri tersebut agar kita tidak menjadi orang yang semata-mata memperjuangkan kepentingan dirinya. Kecuali memang kita mau menjadi orang yang sangat egoistik dan self-centered dalam setiap relasi dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s