Harus Yakin

when-you-believe-it-you-will-see-it-2-728

Sore itu, seorang pria paruh baya melewati tepi hutan lindung, tidak jauh dari pemukiman warga. Seperti biasa, dia akan bertemu dengan kawanan gajah dan para pelatih gajah di kawasan itu. Entah sudah berapa kali pengalaman itu berulang.

Tapi sore ini terasa lain. Ketika melewati beberapa kawanan gajah yang tengah merumput, tiba-tiba saja rasa herannya muncul. Dia sadar bahwa ternyata gajah dengan postur tubuh nan raksasa dan mampu menggulingkan mobil sekali pun itu ternyata diikat hanya oleh seutas tali kecil. Kaki-kaki gajah pun tidak dirantai sama sekali. Dia berpikir dalam hati, katanya, “Sebenarnya kapan pun gajah-gajah itu bisa memberontak, menyerang para pelatih mereka, dan berlari masuk ke hutan untuk menikmati kebebasan mereka. Tetapi mengapa itu tidak mereka lakukan?”

Tidak jauh dari situ, dia melihat salah seorang pelatih gajah sedang mengelus belalai salah satu gajah betina. Orang itu pun menghampiri sang pelatih sembari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih pun menjawab enteng, katanya, “Ketika gajah-gajah masih kecil, kami menggunakan tali kecil untuk mengikat mereka, dan itu cukup untuk menahan mereka supaya tidak berontak. Ketika mereka menjadi dewasa, mereka tidak perlu dijaga dengan tali yang besar. Karena mereka sudah dikondisikan sejak kecil untuk tidak berontak, meskipun dengan tali yang sangat kecil, pengkondisian itu terus ada dan mempengaruhi hidup mereka. Mereka percaya bahwa tali-tali itu akan tetap mengikat mereka – sekecil apapun tali itu. Dan itu yang membuat mereka tidak pergi atau berontak.”

Orang itu begitu takjub mendengar penjelasan si pelatih gajah. Sambil terdiam, dia mengulang kata-kata sang pelatih dalam hatinya, “Binatang-binatang ini dapat bisa berontak dan berlari ke hutan kapan saja, tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak bisa melakukannya, maka mereka masih terikat sampai saat ini.” Jadi, sebenarnya yang membuat mereka bertahan adalah keyakinan mereka sendiri.

Sambil mengangguk-angguk kecil, orang itu berkata dalam hatinya, “Benar juga ya. Sebenarnya berapa banyak dari kita yang percaya bahwa dia tidak bisa melakukan suatu hal hanya karena pengalaman kegagalannya di masa lampau, atau karena melihat pengalaman kegagalan orang lain.”

Kuncinya ada di keyakinan, kuncinya ada di keyakinan, kuncinya ada di keyakinan. Orang itu bahkan mengulang-ulang frasa ini beberapa kali dalam perjalanan pulang ke rumah.

Moral: Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Kita seharusnya tidak boleh menyerah dan terus berjuang dalam hidup ini. Seseorang gagal bukan karena dia ditakdirkan untuk gagal. Gagal bukanlah takdir. Dia gagal supaya dia bisa belajar dari pengalaman kegagalan itu dan bangkit untuk terus maju, terus memperbaiki diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s