Kita, Konsumerisme dan Tekad di Tahun 2016

new life
new life

Selamat pagi semuanya. Beberapa hari terakhir ini saya berpikir keras tentang apa yang sebaiknya saya tulis, tema yang saya sukai dan mudah-mudahan mengundang refleksi lebih lanjut dari rekan-rekan pembaca. Beberapa tahun terakhir saya memang suka menulis refleksi akhir tahun di mana saya mengangkat tema tertentu yang menurut saya menarik dan pantas didiskusikan. Demikianlah, saya pernah menulis mengenai “ada dan kemewaktuan”, tetapi saya juga pernah menulis perihal makna kerja. Sambil merenung, saya membaca status seorang teman di mana dia menyinggung problem konsumerisme. Ah haaa….. teman ini menyinggung suatu tema yang mengena di hati saya. Ya, saya termasuk orang yang peduli dan suka merefleksikan problem etis di seputar konsumerisme dan sikap konsumeristis.

Aneh juga ya, menulis soal konsumerisme ketika Anda sendiri belum menjadi seorang yang kaya secara ekonomi. Ini menjadi semacam gugatan terhadap diri. Tetapi apakah betul, bahwa seseorang hanya bisa mengkritik konsumerisme jika dia sudah menjadi semacam “korban” atau pelaku dari konsumerisme? Sepertinya cara berpikir demikian sulit diterima sebagai masuk akal. Posisi saya agaknya dirumuskan demikian: memiliki kemampuan finansial supaya bisa mengakses atau membeli barang dan jasa tertentu itu baik, bahkan dapat memanusiakan seseorang. Bayangkan dengan kehidupan di mana Anda tidak bisa mengakses barang dan/atau jasa tertentu. Jadi, jika sekarang refleksi ini mengajukan kritik tajam terhadap konsumerisme, upaya ini seharusnya dibaca sebagai cara saya memaknakan konsumerisme sambil pada saat yang bersamaan mencoba mengambil jarak terhadapnya.

Makna yang Ambigu?

Mungkin baik kalau kita memahami arti kata ini. Dictionary.com memberikan 3 pengertian yang berbeda. Sebagai sebuah kata benda, “konsumerisme mengandung pengertian (1) gerakan modern tahun 1940-an yang berusaha melindungi konsumen melawan produk-produk barang dan jasa yang tidak bermanfaat, bersifat inferior, berbahaya, juga menolak iklan dan kampanye produk yang menyesatkan, penentuan harga yang tidak jujur, dan sebagainya. (2) konsep yang mendeskripsikan semakin meluas dan masifnya konsumsi barang dan jasa yang bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan ekonomi. (3) Penggambaran atas praktik atau fakta meningkatnya konsumsi barang dan jasa; bukan deskripsi netral karena di dalamnya termuat kritik terhadap praktik konsumerisme Amerika Serikat.

Pengertian berdasarkan arti kata ini jelas menunjukkan bahwa “konsumerisme” ternyata tidak memiliki makna tunggal, jadi sangat tergantung sudut pandang, kepentingan dan siapa yang menggunakannya. Konsumerisme dapat merupakan sebuah orde atau tatanan ekonomi (dan itu nyata dalam pengertian kamus nomor 1 dan 2 di atas), yang umumnya merujuk kepada upaya masif mengkampanyekan barang dan jasa demi meningkatkan pembelian terhadapnya di satu pihak serta usaha sistematis untuk mengubah pola hidup warga kepada kehidupan yang lebih konsumtif. Jadi, dalam matra ekonomi, konsumsi mengandung dua pengertian sekaligus: mengkampanyekan produk barang dan jasa dan mengubah pola dan gaya hidup. Konsumerisme, dalam pengertian ini, tampaknya menjadi apa yang disebut sebagai ideologi ekonomi.

Di lain pihak, konsumerisme dapat pula bermakna ideologis, entah ideologi yang “anti” terhadap kapitalisme maupun yang pro pasar alias kapitalisme itu sendiri. Saya tidak berani menyebut sosialisme sebagai ideologi yang anti kapitalisme dan menolak pasar, karena negara-negara sosialis dewasa ini de facto memuja dan menyembah kapitalisme. Dengan begitu, paling-paing kritik terhadap konsumerisme datang dari kelompok agama atau kelompok sosial tertentu yang resah terhadap dampak negatif konsuemerisme, kapitalisme dan semacamnya.

Meskipun ada catatan yang mengatakan bahwa kata ini digunakan secara masif pasca Perang Dunia II, konsepnya sebenarnya sudah muncul dalam literatur sejak tahun 1899, terutama dalam karya Thorstein Veblen. Karya ini terutama dihubungkan dengan kritik terhadap konsumerisme yang terjadi di kalangan kelompok kelas menengah di awal abad ke-20 melalui proses globalisasi. Dengan begitu, sebenarnya masyarakat sudah sejak awal menyadari bahwa cara hidup yang menonjolkan konsumsi dapat sangat berbahaya, baik kepada diri sendiri maupun terhadap masyarakat dan lingkungan alam. Dalam arti itu, salah satu pengertian kamus sebagaimana dideskripsikan di atas dapat kita pahami maksudnya.

Demikianlah, harus dikatakan bahwa ada dua kepentingan yang selalu muncul ketika membicarakan konsumerisme. Di satu pihak ada kepentingan pasar dengan logika konsumtifnya yang terus-menerus berusaha mengubah pola dan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan logika pasar: membeli, membeli dan terus membeli. Dalam konteks inilah kita mengerti ungkapan yang diplesetkan dari kata-kata Rene Descartes, “Cogito ergo Sum” atau “Saya berpikir jadi saya ada” menjadi “Saya membeli jadi saya ada”. Apakah ini menggambarkan secara tepat keadaan masyarakat modern saat ini masih harus diperdebatkan, karena gerakan yang mempromosikan konsumsi secara etis muncu dan berkembang dengan cukup kuat di dunia saat ini, sehingga tanpa harus mengandalkan gerakan anti konsumerisme secara frontal, masyarakat sebetulnya mulai menyadari risiko konsumsi tak-terbatas.

Pada aras inilah saya ingin memposisikan diri saya, bahkan konsumsi adalah bagian dari hidup. Ia adalah sebuah tuntutan biologis yang sangat elementer. Menjadi bermasalah ketika tuntutan konsumsi itu diinjeksikan dari luar sebegitu masifnya sehingga saya memutuskan untuk melakukan tindakan konsumsi, pertama-tama bukan karena pertimbangan dan pilihan rasional saya, tetapi lebih karena pendiktean oleh pasar.

Tantangan Tahun 2016: Konsumsi Secara Bijak

Meskipun masih sangat singkat, deskripsi mengenai pengertian konsumerisme di atas membantu saya untuk merancang hidup saya – syukurlah jika juga hidup keluarga, karena agak sulit “menaklukkan” anak sendiri – di tahun 2016 ini dan ke depannya. Saya ingin merujuknya kepada satu dokumen penting yang dikeluarkan Gereja Katolik tahun 2015 lalu, yakni Ensiklik Laudato Si. Ensiklik ini adalah ajaran resmi Paus Fransiskus yang diterbitkan untuk menanggapi isu kehancuran lingkungan hidup. Banyak insight dan inspirasi yang bisa dipetik dari dokumen ini, dan di sana-sini di banyak sumber seseorang bisa dengan mudah menemukan potongan-potongan kata-kata Fransiskus yang menginspirasi. Bagi saya, ensiklik ini menjawab keresahan hati selama ini, bahwa kerusakan dan kehancuran alam disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang tidak peduli, acuh tak acuh dan mengkonsumsi barang dan jasa yang tidak ada batasnya sehingga merusak alam, baik karena mengambil bahan dasar dari alam untuk produksi maupun membuang sisa dan limbah olahan pabrik, sisa konsumsi manusia, dan sebagainya ke alam.

Saya tidak ingin berpanjang kata mengomentari hal ini. Pembaca yang berminat menyimak ilustrasi borosnya perilaku manusia yang berdampak pada kerusakan dan kehancuran lingkungan hidup, silakan saja membaca tulisan yang saya buat beberapa saat lalu untuk salah satu blok saya (klik http://oborhidup.blogspot.co.id/2015/09/bahaya-kultur-pemborosan.html). Di sini saya hanya ingin mengatakan, bahwa ajaran Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si mengafirmasi pemikiran dan keresahan saya, bahwa saatnya sekarang kita perlu mengubah cara konsumsi kita. Saatnya sekarang kita mengubah cara hidup yang mengambil secara membabi buta dari alam. Saat kita melakukan apa yang dalam bahasa rohani disebut sebagai “pertobatan”, yakni peralihan gaya hidup dari acuh tak acuh terhadap dampak konsumsi berlebihan kepada sikap dan pilihan hidup yang semakin menghormati dan memelihara bumi.

Menurut saya, ensiklik Laudato Si sebetulnya menggambarkan keresahan dan kerisauan banyak pihak di dunia dewasa ini, entah karena dipicu oleh perubahan iklim yang masif yang bermuara pada tenggelamnya banyak pulau, entah karena kehancuran hutan, menipisnya lapisan Ozon, semakin banyak warga negara yang menjadi miskin karena kehilangan lahan pertanian, dan sebagainya. Yang jelas, jika pembaca melakukan riset sederhana, misalnya mencari publikasi bertemakan “attitude toward consumerism” di mesin pencari data seperti google scholar, kalian akan menemukan ratusan bahkan mungkin ribuan publikasi mengenai hal ini. Jika disortis untuk publikasi lima tahun terakhir, kita akan mendapatkan cukup banyak publikasi berbobot, banyak darinya adalah analisis empirik, yang menunjukkan sedang terjadinya pergeseran sikap (attitude) masyarakat mengenai konsumsi. Harus diakui, perubahan atau pergeseran sikap ini bersifat positif. Ada cukup banyak gerakan yang dilakukan, entah secara perorangan maupun kelompok sosial, ke arah konsumsi yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Yang menarik juga dalam publikasi itu adalah penegasan mengenai pentingnya regulasi pemerintah untuk memastikan terealisasinya konsumsi yang lebih rasional dan bertanggungjawab.

Dalam bingkai optimisme inilah saya ingin menceburkan diri ke dalam sekaligus menyambut datangnya Tahun 2016. Pertama, saya ingin menjadi bagian dari perubahan perilaku sekaligus mengkampanyekan perilaku hidup sederhana dan hidup sehat. Sebagai seorang dosen, saya meletakkan ke pundak tanggungjawab saya sendiri untuk menyebarkan semangat hidup sederhana, semangat membeli karena kebutuhan yang benar, dan bukan kebutuhan sebagaimana dikonstruksi kapitalisme. Kedua, saya ingin menjadi bagian dari kampanye memosisikan alam bukan semata-mata sebagai objek untuk dieksplotasi, tetapi sebagai entitas yang memiliki tujuan pada dirinya. Saya membayangkan akan melakukan banyak kegiatan luar ruangan, misalnya travelling atau mengajak keluarga ke rekreasi alam, melibatkan keluarga atau mahasiswa dalam upaya pemeliharaan alam, dan semacamnya. Ketiga, dalam semangat hidup sebagai orang beragama, saya ingin semakin membuka diri kepada “pewahyuan Allah melalui alam dan karya ciptaan lainnya.”

Dan ketika Kereta Api Eksekutif Parahayangan melewati Karawang di siangn hari ini, 2 Januari 2016, pukul 11:00 WIB, saya mengakhiri tulisan teramat sederhana ini. Dari balik kaca jendela, hamparan sawah nan hijau telah mampu membangkitkan rohku untuk menundukkan diri pada kebesaran Yang Maha Kuasa. Semoga sikap semacam ini terus terpelihara dan merasuk dalam hidup yang terlalu sering lupa bersyukur.

Selamat datang tahun 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s