Rindu Membuncah Saat Kau Jauh

passion of love by Mandell Maull
Lukisan Passion of Love karya Mandell Maull. Sumber: http://www.redbubble.com/people/mandellart/works/5478320-passion-of-love.

Kerinduan membuncah ketika kekasih jiwa tak hadir secara fisik. Ketika dua kekasih dipisahkan ruang dan waktu. Ini sebuah pengalaman sangat manusiawi. Lewat sajak-sajak Sextus Propertius menjelang abad pertama masehi, orang Romawi Kuno memiliki kata-kata yang cukup tepat untuk menggambarkan gejolak jiwa ini. Dalam Elegy 33, buku II, Sextus Propertius menulis, “Passion is often greater in absent lovers.” Kalimat itu dalam bahasa Latin menjadi semper in absentes felicior aestus amantes.

Sajak lengkapnya saya kutipkan di bawah ini. Perhatikan kalimat yang saya garisbawahi di bagian terakhir sajak ini.

Book II.33A:23-44 Cynthia drinking late
You don’t listen, and you let my words rattle around, though Icarius’s oxen now draw their slow stars downward. You drink, indifferent: are you not wrecked by midnight, and is your hand not weary throwing the dice? Perish the man who discovered neat wine, and first corrupted good water with nectar! Icarius you were rightly killed by Cecropian farmers, you have found how bitter the scent is of the vine. You, Eurytion the Centaur, also died from wine, and Polyphemus, you by Ismarian neat. Wine kills our beauty, and corrupts our youth: often through wine a lover doesn’t know her man.
Alas for me, much wine doesn’t alter you! Drink then: you’re lovely: wine does you no harm, though your garland droops down, and dips into your glass, and you read my verse in a slow voice. Let your table be drenched with more jets of Falernian, and foam higher in your golden cup.
No girl ever willingly goes to bed alone: something there is that desire forces us all to search for. Passion is often greater in absent lovers: endless presence is lowering for the man who’s always around.

Bagaimana sajak indah ini bisa ditafsirkan? Beberapa kata bisa ditonjolkan untuk memperdalam pemahaman. Salah satu yang menarik perhatian adalah kata “aestus” dalam ungkapan semper in absentes felicior aestus amantes. Kata ini merupakan kata benda maskulin, deklensi keempat, yang artinya (1) panas/heat, api/bara/fire, pasang/tide, hasrat mendalam/passion (secara figuratif). Secara figuratif, kata ini juga mendeskripsikan gerak ombak pasang yang saling bergantian. Dalam arti itu, kata aestus menunjukkan suatu bara, hasrat, gelombang yang bergerak silih berganti. Jika digunakan untuk menggambarkan gejolak atau rasa rindu mendalam sang kekasih kepada belahan jiwanya yang absen di hadiratnya, rasa cinta mendalam (passion), maka dimaksud sebenarnya adalah rasa cinta mendalam atau emosi cinta maha dasyat yang menjadi semakin kuat kepada mereka yang tidak hadir. Pemahaman ini tidak bisa dibalik dengan menyimpulkan bahwa rasa cinta akan berkurang kadar kemendalamannya ketika sang kekasih ada bersama (hadir bersama). Yang terjadi ketika sang kekasih ada atau hadir bukanlah kadar cinta yang berkurang, tetapi cinta yang semakin terpuaskan karena kehadiran. Karena itu, kalau pun ada kesan kurang kuat atau mendalamnya cinta di hadapan hadirnya kekasih, kesan itu hanyalah implikasi logis. Kehadiran membuat cinta menjadi lebih mendalam karena perealisasiannya.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, kerinduan mendalam (aestus atau passion) saya maknakan sebagai cinta yang membuncah. Menurut KBBI, buncah artinya hati atau pikiran yang sedang keruh, gelisah, kacau. Sementara berdasarkan analisis Thesaurus, kata aestus/passion/cinta-mendalam dipahami sebagai hati yang guncang, bingung, galau, buntu, hilang akal, kacau, kalang kabut, karut, dan semacamnya. Demikianlah, kata “membuncah” tampaknya menggambarkan secara cukup tepat perasaan seorang kekasih ketika jauh dari belahan jiwanya.

Kata kedua yang menarik perhatian saya dari ungkapan semper in absentes felicior aestus amantes adalah kata felicior. Kata ini adalah bentuk komparatif dari kata felix, artinya “berbahagia” (happy) atau “beruntung” (fortunate). Pengertian paling dasar dari kata ini adalah “berbuah” (fruitful) atau produktif, dan ini berhubungan dengan tanaman dan semacamnya. Disandingkan dengan kata felicior aestus, pilihan kata ini menunjukkan cinta mendalam yang “menguntungkan”, semacam membawa keberuntungan atau bersifat produktif (menghasilkan sesuatu alias semakin mencintai). Dibaca secara lebih optimistis, absennya fisik atau tidak hadirnya sang kekasih jiwa di samping justru membuat dua insan semakin saling mengasihi. Cinta menemukan maknanya yang lebih dalam.

Dalam konteks inilah kita memahami semacam “jeritan” hati Sextus Propertius ketika dia menulis puisi ini. Kepada kekasih jiwanya yang jauh, dia menulis, “Kamu tak mendengar, dan kamu membiarkan kata-kataku terucap tak-bermakna … banyaknya anggur tak sangup menggantikan [hadir]mu … tak seorang wanita pun yang ingin beranjak seorang diri ke tempat tidurnya: ada sesuatu di sana saat hasrat mendorong kita untuk menemukannya.” Dan ketika semuanya itu tak-terealisasi karena absennya sang kekasih jiwa, Sextus Propertius pun berkata dengan yakinnya, “Cinta-mendalam sering [terasa] lebih besar saat tiadanya sang kekasih.”

Pesan Moral

Irving Singer mengatakan dalam bukunya Philosophy of Love (2009, 44-51) bahwa hasrat atau cinta mendalam (passion) terhadap pasangan mengandaikan bekerjanya aspek kognisi dan afeksi. Kehadiran kekasih atau pasangan memungkinkan bekerjanya dua dimensi ini. Keduanya saling mengenal, saling menerima kekurangan dan kelebihan, dan berjanji untuk saling mengasihi. Keduanya juga saling memperdalam cinta mereka. Karena itu, ketidakhadiran salah satu dapat menyebabkan yang lainnya menjadi uring-uringan, gundah, merasa kehilangan, dan sebagainya seperti dikatakan dalam sajak di atas. Sebaliknya, absen atau ketidakhadiran seseorang dalam waktu lama – atau bahkan terus tidak hadir seperti dalam contoh perceraian atau kematian – hanya akan membuat pasangan lainnya terluka. Dia akan mengalami pengalaman kesepian yang menggigit.
Kadang-kadang absen atau tidak hadirnya pasangan hidup untuk sesaat justru baik. Dia dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui ikatan cinta kedua belah pihak. Seperti kata syair sebuah lagu lawas, “Aku pergi untuk kembali.” Ya, perginya sang kekasih untuk beberapa saat menciptakan ruang eksistensial untuk menghayati cinta kepada sang kekasih secara lebih mendalam. Dan ketika sang kekasih kembali bersatu secara fisik, cinta yang telah mendalam itu menemukan alasannya untuk semakin berkembang. Pada titik ini, sang kekasih dapat menikmati anggur tanpa merasa sepi kehilangan belahan jiwanya seperti keluhan jiwa Sextus Propertius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s