Diam itu Emas

Kita semua pasti pernah mendengar ungkapan atau peribahasa “diam itu emas” (silence is golden). Ungkapan atau peribahasa ini umumnya digunakan dalam situasi ketika orang berpikir bahwa lebih baik tidak mengatakan suatu apapun daripada berbicara atau mengatakannya.

Meskipun ada yang percaya bahwa ungkapan ini dapat diasalkan pada ungkapan Mesir Kuno dan sudah digunakan oleh orang-orang dari negeri Firaun ribuan tahun silam, kita tetap tidak punya catatan sejarah mengenai asal-muasal ungkapan ini. Yang jelas, ungkapan “diam itu emas” pertama kali muncul dalam literatur Inggris, terutama dalam puisi karya Thomas Carlyle (4 December 1795 – 5 February 1881) seorang filsuf Skotlandia, penulis esai, sejarawan, guru, dan penulis satir. Carlyle menggunakan ungkapan ini ketika menerjemahkan frasa Jerman dalam sebuah novelnya berjudul Sartor Resartus yang terbit sekitar tahun 1833-1834 di Fraser’s Magazine. Sebagai catatan, novel ini sendiri sebetulnya merupakan sebuah komentar atas pemikiran dan kehidupan awal seorang filsuf Jerman bernama Diogenes Teufelsdröckh.
Ungkapan “diam itu emas” memang merujuk ke novel tersebut yang dalam perkembangannya kemudian mulai digunakan secara luas sebagai sebuah watak atau keutamaan yang baik. Sebuah kutipan cukup panjang yang menggambarkan ungkapan “diam itu emas” dapat disimak di bawah ini sebagai berikut:

“Silence is the element in which great things fashion themselves together; that at length they may emerge, full-formed and majestic, into the daylight of Life, which they are thenceforth to rule. Not William the Silent only, but all the considerable men I have known, and the most undiplomatic and unstrategic of these, forbore to babble of what they were creating and projecting. Nay, in thy own mean perplexities, do thou thyself but hold thy tongue for one day: on the morrow, how much clearer are thy purposes and duties; what wreck and rubbish have those mute workmen within thee swept away, when intrusive noises were shut out! Speech is too often not, as the Frenchman defined it, the art of concealing Thought; but of quite stifling and suspending Thought, so that there is none to conceal. Speech too is great, but not the greatest. As the Swiss Inscription says: Sprecfien ist silbern, Schweigen ist golden (Speech is silvern, Silence is golden); or as I might rather express it: Speech is of Time, Silence is of Eternity.”

Demikianlah, kita dapat menangkap maksud dari ungkapan “diam itu emas” sebagaimana yang saya garisbawahi di atas. Ungkapan yang berhubungan dengan “diam itu emas” yang menarik bagi saya adalah (1) “hold thy tongue for one day”. Terjemahan lurusnya adalah “hentikan lidamu satu hari”. Orang menggerakkan lida ketika berbicara. Karena itu, menghentikan lida berarti berhenti berbicara. (2) Terlalu banyak bicara identik dengan menimbulkan keributan atau kegaduhan, apa yang dalam kutipan di atas diistilahkan dengan “intrusive noise” atau kegaduhan yang luar biasa yang membuat orang jengkel. (3) Banyak bicara itu bukan hal yang buruk. Seperti dikatakan dalam kutipan di atas, banyak bicara itu “bagus” (great) tetapi bukan yang luar biasa (the greatest). Sebagaimana juga dinyatakan di bagian awal dari kutipan itu, banyak hal besar dan luar biasa dapat menyatakan diri justru ketika seseorang mampu “menjaga lidanya” dalam arti mampu membangun dan mempertahankan keheningan (diam) dalam dirinya.
Dalam kehidupan spiritual, “diam” (silence) adalah metafor untuk menyatakan “ketenangan batin” (inner stillness) atau ketenangan yang terbentuk dalam diri seseorang. Ketenangan pikiran dan ketenangan batin pertama-tama bukanlah ketiadaan suara atau hilangnya kegaduhan di sekitar. Keheningan batin dalam spiritualitas lebih dimaknakan sebagai keterbukaan dan komunikasi dengan yang ilahi. Tuhan hanya mau berbicara dalam keheningan dan membuka komunikasi dengan orang yang telah mencapai keheningan. Seperti yang pernah dikatakan Eckhart Tolle, penulis buku-buku spiritualitas kontemporer, keheningan dapat dipahami baik sebagai tiadanya kegaduhan, tetapi dapat pula berarti ketenangan pikiran dan batin. Demikianlah, dalam konteks ini, yang terpenting bukanlah ada atau tidak adanya kegaduhan di sekeliling, tetapi bagaimana seseorang memiliki ketenangan pikiran dan batin untuk dapat berkomunikasi dengan yang ilahi.

Saya sengaja merujuk ungkapan “diam itu emas” ke karakteristik pengalaman rohani, bahwa Allah hanya bisa dialami dalam keheningan. Maka, yang pertama yang harus diusahakan oleh setiap orang beragama adalah mencapai keheningan. Bagi saya, berbagai praktik ritual keagamaan apapun tidak bermakna apa-apa bagi individu ketika seseorang belum mampu mencapai taraf keheningan dalam dirinya. Dan saya lebih khawatir lagi ketika agama terlalu gaduh dalam mementingkan ritual sebegitu rupa sehingga tidak sanggup membantu umatnya mencapai keheningan. Jika sudah begitu, agama sebetulnya tidak lebih baik dari lembaga yang memelihara kegaduhan sebagai bagian dari watak eksistensinya.

Ya, diam itu memang emas.

Sumber
1. http://www.phrases.org.uk/meanings/silence-is-golden.html
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Sartor_Resartus
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Carlyle
4. https://en.wikipedia.org/wiki/Silence#In_spirituality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s