HERMENEUTIKA DAN FENOMENOLOGI

Seorang rekan yang adalah mahasiswa program master psikologi baru saja berdiskusi mengenai hermeneutika. Menyimak penjelasan saya mengenai apa itu hermeneutika, dia menangkap kesan seakan-akan hermeneutika sama saja dengan fenomenologi. Dia pun bertanya, apa perbedaan antara hermeneutika dan fenomenologi? Saya berusaha menjawabnya secara singkat berikut.

Mengenai Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari kata “hermes”, merujuk ke pesan-pesan yang disampaikan oleh dewa Hermes. Dialah yang dapat mengerti dan menginterpretasikan apa yang dewa atau yang ilahi ingin sampaikan kepada manusia.

Per definisi, hermeneutika sebenarnya adalah seni memahami (art of understanding) dan teori penafsiran (interpretasi). Membicarakan hermeneutika, kedua dimensi ini menjadi satu kesatuan. Jadi, pasti ada pemahaman dan kemudian penafsiran. Menginterpretasi selalu bersifat teknis dan teoretis, sementara memahami lebih merupakan seni. Sementara yang dipahami adalah fenomenon (gejala) tertentu, entah itu periode sejarah, orang, kejadian tertentu, dan sebagainya yang menampakkan diri kepada subjek (kesadaran).
Friedrich Schleimacher (1768-1834), adalah filsuf yang menjadi titik awal dikenalnya hermeneutika sebagai pendekatan dalam filsafat. Ada dua sumbangan penting yang diberikan Friedrich Schleimacher. Pertama, dia menekankan apa yang disebutnya sebagai “hipotesis atas sesuatu secara linguistik” (“linguisticality hypothesis”). Bagi dia, manusia adalah makhluk bahasa. Pemahamannya mengenai fenomena berakar pada hakikatnya sebagai makhluk bahasa ini. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa memahami sesuatu tanpa bahasa. Bahasa adalah alat untuk memahami fenomena.
Kedua, Friedrich Schleimacher berpendapat bahwa memahami pernyataan lisan atau tulisan selalu tergantung pada dua hal, yakni konteks bahasa (linguistic context) dan konteks pribadi (personal context). Dalam konteks bahasa, subjek memahami pernyataan sebagaimana dinyatakan dalam bahasa tertentu; di sini ada interpretasi gramatikal. Misalnya, terhadap kalimat “I have spent a whole night with my fiance in a hotel” berbeda dengan “I will be spending a whole night with my fiance in a hotel”. Kedua pernyataan ini jelas berbeda secara gramatikal, dan karena itu mengungkapkan makna yang berbeda; yang pertama sudah selesai dilakukan, sementara yang kedua baru akan dilakukan.

Sementara itu, dalam konteks personal, subjek berusaha memahami pernyataan dengan memperhatikan keadaan hidup dan pikiran dari orang yang mengatakan kalimat tersebut. Di situ ada interpretasi psikologis. Demikianlah, berhadapan dengan seseorang yang mengatakan bahwa “I have spent a whole night with my fiance in a hotel”, saya bisa memahami pernyataannya dengan memperhatikan gesture atau gerak tubuhnya, ekspresi wajahnya, intonasinya, merasakan perasaannya dan sebagainya. Apakah pernyataan itu dikatakannya sebagai ungkapan kegembiraan atau justru ungkapan kekecewaan karena malam-malam yang menjengkelkan yang dia rasakan selama berdua dengan kekasihnya.

Ingat bahwa kedua dimensi dalam penafsiran ini selalu berjalan beriringan.

Tokoh lain yang juga menarik adalah Wilhelm Dilthey (1833-1911). Dia biasanya dihubungkan dengan masa para hermeneut romantik abad 19 (terutama Schleiermacher) dan hermeneut abad 20. Wilhelm Dilthey sendiri mengoreksi pandangan Schleiermacher mengenai hipotesis atau penafsiran linguistik (gramatikal). Bagi dia, proses penafsiran adalah sebuah proses kehidupan itu sendiri; kategorinya bersifat eksistensia. Dia melihat bahwa sebagai penafsir atau subjek yang ingin memahami sesuatu, kita ternyata tidak bisa membedakan antara tahap penafsiran linguistik dan tahap penafsiran personal. Kita melakukannya sebagai sebuah kegiatan pemahaman dalam satu kesatuan persis karena kita adalah makhluk bahasa, yang berbicara dan mendengar, yang menulis dan membaca, yang memaknakan pengalaman, dan sebagainya, dan yang pada saat bersamaan memahami dan memberi makna pada fenomena tertentu. Bahwa setiap aspek kehidupan kita adalah upaya menafsir dan memahami realitas tanpa membuat pembedaan tajam antara kedua aspek tersebut.

Hubungan hermeneutika dan fenomenologi

Lalu, apa hubungan hermeneutika dengan fenomenologi sebagaimana yang Anda tanyakan?

Per definisi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena. Penjelasan ini tidak dengan sendirinya jelas, karena fenomena sendiri digunakan dalam cara yang beragam dan berbeda. Jadi, jika fenomenanya sendiri belum jelas didefinisikan, bagaimana kita bisa memahami fenomena tersebut? Meskipun demikian, sesuatu masih bisa dikatakan sehubungan dengan fenomena. Dalam konteks pengetahuan, isu atau hal utama yang diangkat adalah apakah realitas terdalam (the essence of things) menyatakan atau menyingkapkan diri dalam fenomena?

Kembali ke contoh konteks gramatikal dan konteks personal yang saya contohkan di atas. Tarulah bahwa saya sudah menghabiskan semalaman bersama pacar saya di sebuah hotel, dan bahwa itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Dan bahwa pengalaman itu benar memang begitu adanya. Jadi, jika seorang penafsir (hermeneut) menafsir pernyataan saya sebagai ekspresi kebahagiaan – misalnya menghubungkannya dengan ekspresi wajah saya, intonasi dan pilihan kata atau gerak tubuh saya – dan penafsirannya itu sesuai dengan keadaan yang saya alami, interpretasi itu “berhasil”. Saya sebagai fenomena telah mengungkapkan diri kepada si penafsir dan dia berusaha memahami saya sebagaimana saya menampakkan diri.

Masalahnya kemudian adalah apakah saya (being) yang menampakkan diri melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, intonasi bahasa, dan pernyataan itu memang menampakkan hakikat terdalamku? Apakah esensiku sebagai pengada menampakkan diri secara menyeluruh kepada kesadaran si penafsir? Jika pun pengada menampakkan diri secara menyeluruh, apakah subjek yang memahamiku mampu menangkap keseluruhan esensiku? Pertanyaan mendasarnya adalah “apakah kita dapat memahami esensi dari sesuatu?”

Demikianlah, fenomena adalah subjek yang menampakkan diri kepada kesadaran. Kesadaran subjek yang berupaya memahami fenomena itulah upaya penafsiran atau hermeneutika.
Supaya penafsiran subjek tidak bersifat subjektif (asal menafsir) dan supaya penafsiran itu semakin dekat dengan hakikat atau esensi dari fenomena yang menampakkan diri, maka hal-hal berikut harus diperhatikan baik oleh hermeneutika maupun fenomenologi. Hal-hal itu adalah:

Pertama, horizon (sumbangan Gadamer). Yang dimaksud di sini adalah konteks interpretasi, wilayah, lingkup, setting, keadaan, atau ruang ketika sebuah teks atau sebuah fenomena diinterpretasikan dan ketika penafsir menjadi bagian dari wilayah atau konteks itu. Kembali ke contoh di atas, si penafsir mampu menyimpulkan bahwa saya sedang bersukacita setelah menghabiskan waktu bersama pacar saya karena dia ada dalam konteks ketika saya menyatakan diri. Penafsir itu tidak berjarak dan tidak mengoperasikan konsep dan pemikirannya sendiri. Dia menarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang dia lihat, tetapi dia mengambil bagian di dalamnya.

Kedua, pemahaman/understanding (sumbangan Gadamer). Yang dimaksud dengan dimensi ini adalah fusi atau pemaduan atau terjadinya pertemuan antara horizon penafsir dan teks. Kembali ke contoh di atas, jika penafsir tidak pernah memiliki horizon tertentu bahwa ekspresi wajah saya dan gerak tubuh saya menyimbolkan kegembiraan, dia tidak akan pernah mampu memahami saya yang menyatakan diri. Dalam arti itu, tidak terjadi pertemuan antarhorizon.

Ketiga, lingkaran hermeneutis interpretatif (interpretative hermeneutical circle). Perjumpaan yang memungkinkan horizon penafsir berelasi dengan horizon fenomena yang menampakan diri hanya bisa terjadi dalam sebuah proses yang dialektis. Inilah yang disebut sebagai lingkaran interpretatif hermeneutif. Analogi lingkaran memang cocok menggambarkan proses fusinya horizon, pertama-tama bukan relasi subjek – objek, tetapi sebuah proses pemahaman. Proses itu sendiri lebih tepat digambarkan sebagai lingkaran.

Keempat, lingkaran hermeneutik kontekstual (contextual hermeneutical circle). Penafsir memahami hubungan antara bagian dengan keseluruhan teks atau fenomena. Kembali ke contoh di atas, penafsir bisa saja menangkap bahwa bagian dari fenomena yang saya tampakan atau nyatakan kepadanya (mengekspresikan kegembiraan setelah menginap semalam bersama pacar di sebuah hotel) ternyata memiliki relasi dan menjadi bagian dari keseluruhan diri saya. Bahwa saya memang pemuda yang suka “mempermainkan perempuan”, persis ketika penafsir melihat lebih dalam ke siapa diri saya dan menemukan teks-teks yang lebih utuh mengenai diri saya. Bahwa telah beberapa kali saya mengecewakan perempuan dengan mencampakkan mereka setelah mereka “ditaklukkan”.

Kelima, lingkaran fenomenologis hermeneutik (phenomenological hermeneutical circle). Pada level ini, relasi dialektis antara penafsir dengan fenomena, termasuk di dalamnya kemampuan memahami bagian teks dalam hubungannya dengan keseluruhan teks (fenomena), lalu fusi antara horizon penafsir dengan horizon teks (fenomena), diharapkan penafsir mampu memahami fenomena dalam keseluruhan maknanya, apa yang disebut Gadamer sebagai “to reveal a totality of meaning in all its relations”.

Jadi, kembali ke pertanyaan yang diajukan sebagai problem fenomenologi di atas, jawabannya adalah bahwa fenomena dapat dipahami dalam totalitasnya, bahwa esensi atau hakikat fenomena dapat dipahami. Tetapi dengan catatan, proses-proses hermeneutik terjadi secara tepat dan benar, yakni dengan memperhatikan dan mempraktikkan kelima hal di atas.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s