Angeline dan Cinta yang Gagal Bertunas

Berita seputar Angeline, bocah delapan tahun di Bali yang menghilang sejak tanggal 16 Mei 2015 dan kemudian ditemukan tidak bernyawa pada tanggal 10 Juni 2015 telah menarik perhatian seantero jagad. Pemberitaan oleh media massa telah mengoyak-ngoyak kesadaran dan akal sehat kita. Reaksi publik pun beragam. Orang dibuat bertanya-tanya, sungguh tega seorang ibu membunuh “anaknya” sendiri? Kalau pun kemudian bukan sang ibu (angkat) yang menjadi pelakunya, pertanyaan publik tetap tidak bergeser, “Mengapa ada orang yang tega menganiaya, menyakiti, dan membunuh sesamanya, apalagi seorang anak kecil dan kelompok yang tidak mampu membela dirinya?”

Sebagian pemberitaan menghubungkan kasus ini dengan tingginya angka kekerasan terhadap anak-anak. Logika yang dibangun tampaknya sederhana dan masuk akal. Di tengah semakin meningkatnya angka kekerasan terhadap anak, kekerasan berujung kematian yang dialami Angeline seakan menemukan alasan penjelasnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan bahwa kekerasan terhadap anak menjadi semakin meningkat selama lima tahun terakhir. Dicatat terdapat 261 kasus kekerasan terhadap anak di tahun 2011, meningkat menjadi 426 di tahun 2012, 1.615 di tahun 2013 dan 622 kasus di tahun 2014. Memang masih harus dibuktikan hubungan keniscayaan antara meningkatnya kekerasan terhadap anak dengan kekerasan aktual terhadap Angeline supaya tidak jatuh ke dalam kesesatan berpikir non causa pro causa (sesuatu yang bukan sebab justru dijadikan sebab), angka-angka itu mengingatkan kita perihal kerentanan kelompok anak-anak di Indonesia.

Sebagian pemberitaan lainnya menghubungkan kematian Angeline dengan hasrat dan hidden agenda orang-orang di sekitarnya untuk merebut hak warisan yang konon mencapai 60 persen dari total kekayaan mendiang ayah angkatnya. Meskipun masih harus dibuktikan di pengadilan, hasrat dan perilaku buruk semacam ini pun tidak bisa dipungkiri, telah menjadi bagian dari “nafsu” thanatos (destruksi dan penghancuran yang berakibat kematian) manusia. Dalam arti itu, secara psikologis dapat dikatakan bahwa “nafsu” semacam ini dapat termanifestasi di tangan siapa pun, tergantung faktor pemicunya.Kedua cara tafsir atas kekerasan terhadap anak ini sebetulnya berhubungan dengan cara kita memosisikan dan memahami orang lain. Dalam perspektif pemikiran filsuf eksistensialis Prancis, Gabriel Marcel (1889–1973), kekerasan terhadap anak, perempuan, orang cacad, janin, bayi, bahkan umat manusia secara keseluruhan seharusnya tidak terjadi jika relasi yang dibangun dengan mereka telah mencapai level pengalaman eksistensial, di mana orang lain adalah sesama, saudara, bukan objek, yang membuka diri, yang mengundang untuk dipahami sebagai misteri, dan bukan pertama-tama sebagai objek. Refleksi filosofis dan etis atas kasus kematian Angeline dari perspektif fenomenologis Gabriel Marcel dapat memperkaya pemahaman kita mengenai siapa diri kita dan siapa sesama kita.

Tiga Kondisi

Jika kedua tafsir di atas benar adanya, bahwa kematian Angeline berhubungan dengan kegagalan masyarakat melindungi anak-anak serta dorongan hasrat pembunuh dari dalam diri karena keinginan untuk memperkaya diri, maka harus dikatakan bahwa relasi yang dibangun dengan orang lain pun telah mengalami kegagalan. Supaya orang lain tidak dipahami sebagai objek yang harus dikuasai dan ditaklukkan, Gabriel Marcel mengajukan tiga kondisi penting, yakni cara memahami orang lain, cara memahami diri, dan “kita” sebagai titik temu antara orang lain dan saya.

Pertama, bocah Angeline sudah hidup bersama dengan orangtua angkatnya selama delapan tahun. Dalam perspektif Marcel, bisa saja terjadi bahwa Angeline di mata ibu angkat dan saudara-saudara tirinya dilihat sebagai “orang lain”, “orang asing”, “orang yang ada di jalan”, “bukan siapa-siapa”. Ada jarak yang terbentang antara Angeline yang pohon biologis berbeda dengan orangtua angkat dan saudara-saudara tirinya. Dia ada dalam rumah, hidup di antara mereka tetapi tidak pernah bersama mereka. Dia menghabiskan waktu dalam kesendirian meskipun secara fisik berada di dekat mereka. Orangtua angkat dan saudara-saudara tiri gagal memahami Angeline sebagai “seseorang seperti saya”, “sesama”, yakni orang yang sama seperti saya, yang memiliki martabat, identitas, dan harga diri yang tak pernah bisa tergantikan. Delapan tahun dilewatkan dalam sebuah kehidupan bersama yang palsu karena tanpa “kebersamaan”.

Kedua, jika seseorang memahami dirinya sebagai subjek yang bermartabat, seharusnya seperti itu pula dia memahami orang lain. Martabat dirinya terletak pada pemosisian dirinya sebagai subjek yang bermartabat. Sebagai subjek bermartabat, dirinya memiliki tidak hanya nalar – yang sanggup mengobjekkan orang lain – tetapi juga perasaan yang mampu menjalin persekutuan (la communion) dengan orang lain. Dalam arti itu, tampaknya tidak ada cukup perasaan yang terbangun selama delapan tahun kehidupan Angeline bersama orangtua angkatnya, selain kesadaran objektif bahwa bocah itu telah menjadi penghalang bagi kebahagiaan keluarga sepeninggal almarhum ayah angkatnya.

Ketiga, pemosisian Angeline sebagai orang asing dan kehidupan bersama tanpa persekutuan pada akhirnya gagal membentuk sebuah kehidupan bersama sebagai “kita” (toi). Angeline selamanya bukan siapa-siapa bagi keluarga angkatnya. Tidak ada relasi intersubjektif, tidak ada persekutuan, tidak ada hubungan ke-kita-an. Dalam perspektif Marcel, kehidupan bersama sebagai “kita” seharusnya membentuk persekutuan antarpribadi, di mana sesama adalah “dia yang saya cintai (celui qui j’aime) dan dia yang menjadi harapan bagi saya (celui en qui j’espère). Angeline jelas bukan sosok yang dicintai. Bocah kecil nan malang itu ternyata tidak menjadi harapan bagi keluarga angkatnya.

Cinta yang Gagal Bertunas

Absennya tiga kondisi dalam kehidupan Angeline dan orangtua angkatnya sebenarnya juga menunjukkan fakta lain seputar kegagalan cinta antarmereka. Kita asumsikan bahwa Angeline diadopsi atas dasar cinta atau sekurang-kurangnya perasaan suka. Tetapi perasaan suka itu tidak sempat bertumbuh menjadi cinta orangtua angkat kepada anaknya. Apa faktor penyebabnya?

Cinta dan keputusan untuk mencintai seseorang pertama-tama adalah keputusan bebas. Keputusan itu diambil setelah seseorang bertemu dengan orang lain secara pribadi. Pertemuan itu menghasilkan sebuah pengalaman kehadiran bersama (co-prèsence) yang pada gilirannya mampu menumbuhkan persekutuan (communion). Dalam perspektif Marcel, cinta bertumbuh dari sebuah pengalaman perjumpaan ketika orang lain membuka dirinya dan memanggil aku untuk mencintainya. Cinta itu bertumbuh bukan karena dia memiliki banyak hal yang menarik, tetapi karena dia adalah dia (1927: 217).

Sulit menerapkan kondisi cinta sejati yang diusulkan Gabriel Marcel ini dalam memahami cinta antara Angeline dan orangtua angkatnya. Pengalaman perjumpaan antarmereka sepertinya tidak berhasil membuahkan pengalaman kehadiran bersama, apalagi sebuah persekutuan. Delapan tahun hidup Angeline adalah sebuah pengalaman yang melelahkan dan mengasingkan, ketika kehadirannya tidak sanggup menghimbau, mengetuk hati dan memanggil untuk dikasihi. Entah karena apa orangtua angkatnya memelihara hati yang keras dan tak-tersentuh oleh kelembutan dan ketakberdosaan seorang bocah kecil. Dan jika benar bahwa perkara warisan menjadi faktor pemicunya, harus dikatakan bahwa kerakusan dan ketamakanlah yang membutakan mata kasih dan membekukan hati cinta.

Soal kerakusan dan ketamakan, Erich Fromm (1900 – 1980), seorang psikoanalis dan filsuf sosial pernah mengatakan, Greed is a bottomless pit which exhausts the person in an endless effort to satisfy the need without ever reaching satisfaction.” Kematian Angeline dan “keberhasilan” mendapatkan apa yang diinginkan tidak akan pernah memuaskan dahaga tamak, rakus, dan nafsu penumpukkan kekayaan. Di situlah nafsu destruktif akan mengejawantah menjadi dewa bengis “thanatos” alias pencabut nyawa tak-berperikemanusiaan dan siap mengorbankan orang-orang yang tak-berdosa.

Alih-alih cinta merekah dalam hidup Angeline. Cinta bahkan tak pernah mampir. Dan bocah kecil itu pun menghadap Sang Khaliknya dalam kehampaan cinta.[]

Artikel ini pernah diterbitkan di Harian Suara Pembaruan, 27 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s