Dua Makna Hari Kasih Sayang

Circle_of_Adam_Elsheimer_The_Lupercalian_Festival_in_Rome
Perayaan Lupercalia di Roma sekitar tahun 1578-1610 Masehi sebagaimana dilukis oleh Adam Elsheimer. Perhatikan bagaimana para imam menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit kambing. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Lupercalia#mediaviewer/File:Circle_of_Adam_Elsheimer_The_Lupercalian_Festival_in_Rome.jpg

Valentine Day atau Hari Kasih Sayang yang jatuh setiap tanggal 14 Februari sering diasosiasikan dengan momen di mana seseorang mengungkapkan rasa cinta dan kasihnya kepada pasangannya. Di Indonesia, perayaannya menjadi kontroversial karena direduksikan kepada praktik seks bebas di kalangan para remaja. Tahun ini saja, tidak hanya di Aceh yang nota bene adalah provinsi shariah sehingga wajar kalau perayaan Hari Valentine dilarang, tetapi juga di provinsi lain seperti di Jawa Timur. Wali Kota Surabaya sendiri bahkan menginstruksikan kepada Satpol PP untuk merazia tempat-tempat di mana diperkirakan menjadi tempat berkumpulnya para remaja dalam mengekspresikan cinta mereka. Sikap permusuhan kepada Hari Kasih Sayang pun semakin menjadi persis ketika perayaannya sendiri direduksikan kepada coklat dan kondom. Keduanya memang menyimbolkan cinta dalam arti hubungan seksual, meskipun kita tidak pasti, apakah coklat juga memang menyimbolkan seks.

Saya yakin, jika saja banyak penguasa di negeri ini tahu, bahwa berdasarkan tradisi Barat, Hari Kasih Sayang juga dihubungkan dengan Santo Valentinus, larangan terhadap perayaan Valentine Day akan semakin keras di masa mendatang. Terutama di daerah-daerah yang mengidentifikasikan diri secara keras sebagai wilayah shariah, bisa jadi perayaan Valentine Day akan dicap sebagai praktik kekafiran. Jika sudah begitu, menurut saya, batas antara politisasi agama dan kepentingan jangka pendek penguasa akan sulit dibedakan. Padahal, perayaan semacam ini, jika direncanakan dengan baik dan diberi nuansa lokal tertentu, justru dapat mendatangkan keuntungan ekonomis.

Ritus Lupercalia

Sambil mengesampingkan terlebih dahulu hubungan antara Valentine Day dengan Santo Valentinus, saya tertarik untuk menghubungkannya dengan sebuah ritus kuno di Romawi Kuno bernama lupercalia. Mungkin saja ritus lupercalia sudah dikenal sebelum zaman Romawi sebagai sebuah ritus dan perayaan rakyat untuk mengusir roh jahat dan menguduskan kota. Ritus yang diperkirakan dirayakan selama tanggal 13-15 Februari ini sebetulnya juga dimaksudkan untuk menyehatkan kota dan membuatnya menjadi lebih subur. Perayaan lupercalia sendiri sebenarnya menggabungkan ritus dan perayaan lain yang dikenal dengan nama februalia atau februatio. Ritus dan perayaan februalia sendiri sebenarnya merupakan sebuah ritual purifikasi yang memang di kemudian hari, karena digabungkan dengan ritus lupercalia, maka ritus penyucian sendiri lalu direlasikan secara eksklusif kepada ritus lupercalia.

Untuk diketahui, ritual atau perayaan februalia sendiri biasanya berlangsung di bulan Februari sebagai permulaan musim semi ketika manusia menyucikan dan membersihkan dirinya dan tempat tinggalnya – disimbolkan dengan turunnya hujan yang rata-rata cukup tinggi intensitasnya di bulan ini. Kemungkinan besar ritus dan perayaan ini berasal dari suku Sabini yang tinggal di sekitar wilayah Pegunungan Appenines tengah, yakni daerah-daerah yang membentang di Barat Laut Pegunungan Alpen Liguria, ke sebelah Barat Daya dan berakhir di Wilayah Calabria. Orang-orang Sabine sendiri sebenarnya terbagi ke dalam dua populasi utama ketika Roma mulai terbentuk. Salah satu suku kemudian bergerak mendekat ke Roma dan mendiami wilayah ini bersama dengan suku-suku lain yang sudah lebih dahulu mendiami Roma. Meskipun merupakan keturunan suku Sabine, suku ini juga dilatinkan dan menjadi bagian dari kebudayaan Roma di kemudian hari. Sementara itu, suku kedua dari Sabini tetap tinggal di wilayah pegunungan yang di kemudian hari bangkit melawan kekuasaan Romawi dalam perang memperjuangkan kemerdekaan. Kekalahan suku kedua ini membuat mereka “terpaksa” menerima dan diasimilasikan dengan kekuasaan Republik Romawi.

Sebetulnya Februare adalah kata bahasa Latin yang diasosiasikan dengan praktik purifikasi atau penyucian, terutama penyuciaan menggunakan air. Praktik ini sendiri sebenarnya diwariskan dari kebudayaan Etruscan, yang memang dimaksudkan sebagai penyucian atau purifikasi. Etruscan sendiri merujuk ke kebudayaan Etruska, yakni kebudayaan yang dihidupi oleh orang-orang yang mendiami wilayah Tuskani, wilayah bagian barat Umbria, dan bagian utara Lazio.

Demikianlah, bulan Februarius dalam kebudayaan Romawi diambil dari festival atau pesta rakyat yang disebut Februa atau Februatio yang memang dirayakan selama tanggal 13–15 dalam bulan ini. Di kemudian hari, Dewa Februus dalam tradisi dan kebudayaan Romawi merupakan personifikasi baik kepada bulan Februari maupun praktik penyucian (purifikasi). Dengan begitu, menjadi jelas sekarang bahwa bulan Februari disebut demikian karena memang berhubungan dengan praktik purifikasi atau penyucian, dan sama sekali tidak dipersonifikasi dengan Dewa atau Tuhan.

Sebagaimana disebutkan di atas, dalam praktik perayaan dan ritus Februatio di kemudian hari digabungkan dengan ritus lupercalia, di mana keduanya tetap mengusung makna yang sama, yakni ritus penyucian (purifikasi), terutama menggunakan air. Nama lupercalia sendiri diyakini memiliki hubungan dengan pesta rakyat kuno dalam kebudayaan Yunani Kuno, terutama dari orang-orang Arcadia Lykaia. Kata Lykaian dalam Bahasa Yunani Kuno dihubungkan dengan kata lukos, yang dalam bahasa Latinnya adalah lupus atau serigala. Perayaan ini juga dihubungkan dengan perayaan penghormatan kepada dewa Pan dalam masyarakat Lycaea di Yunani Kuno. Dewa pan sendiri mirip atau sama dengan dewa Faunus dalam tradisi Romawi Kuno.

Dalam mitologi Romawi, lupercus sebenarnya adalah seorang dewa, kadang-kadang diidentifikasi dengan dewa Romawi bernama Faunus. Dewa ini sebenarnya sama dengan dewa Pan dalam tradisi Yunani. Lupercus adalah dewa dari para penggembala. Perayaannya dirayakan pada perayaan ulang tahun pendirian kuil bagi penyembahan dirinya, yakni pada tanggal 15 Februari. Perayaan inilah yang disebut Lupercalia. Imam dalam perayaan Lupercalia akan mengenakan pakaian dari kulit kambing. Sejarawan Justin pernah melukiskan bagaimana “dewanya orang Lycaea, yang oleh orang Yunani disebut Pan dan orang Romawi disebut Lupercus.” Imam yang nyaris telanjang karena mengenakan hanya pakaian dari kulit kambing itu kemudia berdiri di depan gua Lupercal, gua di mana Romulus dan Remus dipelihara dan disusui oleh serigala. Di sanalah, dalam penanggalan Romawi, di perkirakan sebagai yang terjadi pada pertengahan bulan, dan itu berkisar selama tanggal 13-15 Februari. Dalam perayaan ini, kambing dan anjing dikorbankan kepada dewa, juga garam dan roti yang telah dipersiapkan oleh para imam perempuan (vestal virgins) pun dibakar untuk persembahan ini. Dengan perantaraan para imam, persembahan dihunjukkan kepada dewa lupercalia – dewa serigala betina yang diyakini sebagai yang memelihara dan menyusui Remus dan Romulus, pendiri kota Roma.

Perayaan Valentine Day

Lalu, apa hubungan ritus lupercus ini dengan perayaan Valentine Day? Di atas sudah ditunjukkan bahwa ritus lupercus sebenarnya adalah ritus penyucian. Dalam zaman Kekristenan, perayaan Valentine Day dianggap sebagai perayaan orang kafir, sehingga harus diganti dengan perayaan yang sifatnya lebih rohani Kristen. Demikianlah, Paus Gelasius I (492-496) melarang perayaan lupercus dan menggantinya dengan pesta Penyucian Bunda Maria. Demikianlah, di zaman ini, tanggal 14 Februari dalam Gereja Katolik merupakan pesta perayaan Penyucian Bunda Maria. Melalui praktik perayaan ini kemudian di abad 14 diklaim bahwa 14 Februari tidak hanya merupakan perayaan Penyucian Bunda Maria, tetapi juga merupakan perayaan cinta romantis (romantic love), meskipun kemudian dikatakan bahwa klaim semacam ini tidak berhubungan secara langsung dengan apa yang dimaksudkan Paus Gelasius.

Selain itu, tanggal 14 Februari pun tidak cocok dengan perayaan keagamaan selama masa Paus Gelasius I, di mana perayaan Penyucian Bunda Maria dirayakan di Yerusalem, dan itu memang dirayakan pada tanggal 14 Februari hanya karena Yerusalem menetapkan perayaan Kelahiran (the Nativity) pada tanggal 6 Januari. Meskipun perayaan tanggal 14 Februari kemudian dikenal sebagai perayaan “Penyucian Maria”, sebenarnya itu hanya berhubungan dengan perayaan persembahan Yesus ke Bait Suci, jadi tidak ada hubungan dengan perayaan cinta romantis. Praktik perayaan Penyucian Maria tanggal 14 Februari kemudian menjadi perayaan Yesus dipersembahkan ke dalam Bait Allah pada tanggal 2 Februari sebagaimana praktik perayaan ini diperkenalkan ke Roma dan tempat-tempat lainnya di abad ke-6 masehi setelah zaman Gelasius I.

Seorang penulis bernama Alban Butler dalam karyanya berjudul Lifes of the Principal Saints (1756-1759) mengajukan klaim tanpa dukungan bukti bahwa selama perayaan lupercalia, para peserta laki-laki dan perempuan mengambil nama-nama yang tersimpan di dalam sebuah pot untuk melihat siapa jodoh mereka. Juga Surat Cinta Valentine yang di zaman ini begitu diagung-agungkan sebagai bagian dari perayaan Valentine Day dipercaya berasal dari tradisi lotrei jodoh semacam ini.

Kenyataannya, perayaan Valentine Day yang identik dengan hari Kasih Sayang ini tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan lupercalia ketika laki-laki mengambil nama secara acak dari dalam sebuah pot untuk mengetahui siapa nama calon isterinya. Kebiasaan atau tradisi menentukan jodoh melalui lotrei semacam ini yang di kemudian hari ditentang keras oleh para imam Katolik, misalnya oleh Fransiskus de Sales pada kira-kira tahun 1600, ketika dia mengganti perayaan ini dengan perayaan yang lebih religius ketika para gadis menarik nama-nama para Rasul yang sudah ditulis dan disimpan di altar Gereja. Meskipun demikian, tetap sulit menunjukkan hubungan langsung antara pesta lupercalia dengan perayaan kasih sayang.

Meskipun demikian, secara implikasi, kita bisa menarik dua pelajaran dari perayaan Valentine Day. Pertama, perayaan ini berhubungan dengan ritus penyucian atau purifikasi. Jadi, kalau pun mau dirayakan sebagai hari Kasih Sayang, seharusnya difokuskan pada bagaimana pasangan suami isteri atau kekasih, atau orangtua dengan anak-anak, saling menyucikan dan memurnikan relasi cinta mereka. Seharusnya mereka bertanya tentang sejauh mana hubungan cinta mereka. Mereka juga harus memurnikan relasi tersebut sehingga menjadi semakin dekat satu sama lain. Adalah hal yang aneh atau dipraktikkan di luar konteks historis jika perayaan Valentine Day dimaknakan sebagai hari di mana pasangan muda-mudi mempraktikkan cinta dan hubungan seksual.

Kedua, setiap perayaan sebetulnya adalah kreasi budaya dalam bentuk simbol tertentu untuk kepentingan manusia (pendukung budaya tersebut). Dalam arti itu, perayaan Valentine Day seharusnya tidak dilarang, tetapi diperbaiki, dimurnikan, dikonstruksi ulang demi kepentingan kita. Perayaan ini sendiri selain dapat meningkatkan dan memperdalam relasi antarorang yang saling mengasihi, sebetulnya juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi. Sekali lagi, simbol cinta kasih yang dihubungkan dengan coklat, warna pakaian tertentu, makanan tertentu, bunga, film, lagu, dan sebagainya (dan bukan seks), justru dapat menjadi industri kreatif yang mendatangkan keuntungan finansial.

Selamat merayakan Hari Kasih Sayang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s