PESTA PERPISAHAN SEKOLAH YANG TIDAK MENDIDIK

Para orangtua yang punya anak duduk di kelas akhir sebuah jenjang pendidikan mulai deg-degan, mirip ketika anak-anak baru mulai memasuki tahun pertama sekolah. Faktor pemicunya apalagi kalau bukan uang. Memang lebih banyak uang dibutuhkan ketika seorang anak memasuki suatu jenjang pendidikan, tetapi itu tidak berarti bahwa masalahnya selesai ketika anak-anak akan meninggalkan bangku sekolah dasar atau menengah. Para orangtua tahu bahwa sekolah akan segera mengirim proposal atau permintaan dana untuk kepentingan perpisahan. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung, dan itu sangat ditentukan oleh di mana akan diselenggarakannya “pesta” perpisahan tersebut.
Dana untuk perpisahan sekolah yang diselenggarakan oleh anak-anak jenjang akhir dan para guru semakin meroket saja. Ada sekolah di Jakarta yang menyelenggarakan perpisahan sekolah di Bali yang menghabiskan puluhan juta Rupiah. Ada juga sekolah di daerah yang menghabiskan puluhan juta rupiah di daerah-daerah wisata, pusat kota, dan semacamnya yang nota bene sangat jauh dari lokalitas mereka. Pertanyaannya, apakah pantas sekolah menyelenggarakan pesta perpisahan yang menghabiskan puluhan juta rupiah?
Kelompok pendukung program ini akan berpendapat bahwa inilah kesempatan terakhir bagi anak-anak untuk mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukur. Bagi mereka, biaya tidak menjadi halangan, karena anak-anak sudah menyicil sejak tahun pertama, masih ditambah dengan sumbangan dari para donatur. Pertanyaannya, kalau pun sekolah memiliki dana tak terbatas, apakah harus digunakan untuk menyelenggarakan perpisahan sekolah yang menelan biaya sampai puluhan atau mungkin ratusan juta Rupiah? Pertanyaan ini relevan direfleksikan terutama oleh penyelenggara sekolah Katolik di bawah bimbingan Gereja Katolik yang akhir-akhir ini ikut mengkampanyekan keutamaan hidup sederhana.
Dua fenomena memicu refleksi mengenai kesederhanaan dalam penyelenggaraan sekolah. Pertama, di level politik, kita punya saksi hidup dalam diri Joko Widodo, Presiden RI, yang tanpa henti mempraktikkan kesederhanaan dalam penyelenggaraan negara. Rapat pemerintah dibatasi dan tidak lagi diadakan di hotel-hotel mewah. Perjalanan dinas yang tidak perlu mulai dipangkas. Birokrasi disederhanakan dan dirampingkan. Kemewahan hidup para penyelenggara negara mulai dikurangi, dan transparansi penggunaan anggaran semakin ditingkatkan. Yang menarik, semuanya diawali dari diri sang presiden sendiri. Penampilannya begitu sederhana, perjalanan dinasnya tidak memakan biaya mahal, bahkan cara bicaranya pun sederhana.
Kedua, Paus Fransiskus adalah model kesederhanaan zaman kita. Mulai dari cara dia mengidenfikasi diri dengan sosok Santo Fransiskus Asisi yang sederhana sampai cara hidup dia yang memang mencerminkan kesederhanaan. Birokrasi di Vatican dibuat lebih sederhana, korupsi mulai diusut dan ditindak, bahkan berani memberi sanksi kepada pejabat Gereja yang terlalu mementingkan kekayaan duniawi. Kata-katanya pun sederhana dan bersahaja, karena dia sadar betul bahwa Gereja ada pertama-tama bukan untuk membanggakan diri dan kemegahannya, tetapi demi menyelamatkan orang kecil dan kaum terlantar.
Dua sosok ini sebetulnya tidak hanya menunjukkan model hidup sederhana, tetapi juga kerendahan hati. Kesederhanaan hidup yang tidak didasarkan pada sikap rendah hati hanya akan jatuh pada pencitraan diri demi tujuan tertentu. Sebaliknya, kesederhanaan hidup yang didasarkan pada sikap rendah hati memampukan orang lain untuk melihat dan mengalami semacam pembebasan jiwa. Bahwa pada akhirnya kekayaan dan kelimpahan hidup tidak pernah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Dia hanyalah alat yang dapat digunakan untuk melakukan kebaikan yang lebih besar, dalam bahasa teologis, demi menghadirkan Kerajaan Allah di dunia.
Seharusnya dalam kedua konteks inilah kita memaknakan penyelenggaraan pesta sekolah, atau bahkan cara hidup menggereja secara umum. Berangkat dari kedua fenomena itu, seharusnya penyelenggaraan pesta perpisahan yang menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan juta Rupiah tidak perlu dilakukan. Pesta perpisahan bukan hal yang buruk pada dirinya, tetapi tidak harus diselenggarakan di tempat yang sangat jauh dengan biaya yang begitu mahal. Sebenarnya banyak “pesta” yang sederhana, murah, dan bermakna bisa diselenggarakan di sekolah itu sendiri, dan itu sangat tergantung pada kreativitas guru dan para siswa.
Lalu, bagaimana dengan uang puluhan bahkan ratusan juta Rupiah yang “berhasil” dikumpulkan sekolah untuk penyelenggaraan pesta perpisahan? Mungkin orang akan langsung memprotes jika saya mengusulkan agar dana tersebut disumbangkan saja kepada orang miskin, panti asuhan, atau membiayai anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi di sekolah tersebut. Orang akan lebih heran lagi jika saya mengatakan bahwa sebagian dari dana tersebut harus diberikan kepada para guru, entah dalam bentuk tunai atau hadiah lainnya. Tetapi itulah realitasnya. Kita tampaknya lebih bersemangat bekerja, mengumpulkan uang dan kemudian menghabiskannya seketika dibandingkan dengan kalau kita menggunakannya untuk membantu orang yang kurang mampu, termasuk kepada para guru kita yang nota bene menerima gaji yang cenderung rendah dibandingkan dengan teman-teman mereka yang pegawai negeri sipil.
Tentang mau diapakan dana yang tersedia di sekolah tentu akan menjadi perdebatan panjang dan tak berkesudahan. Poin saya dalam tulisan ini sangat sederhana: sekolah Katolik tidak pantas menyelenggarakan pesta perpisahan yang menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan Rupiah. Pemborosan tidak hanya bertentangan dengan semangat Injili yang sedang dihidupi Gereja (dengan model Paus Fransiskus), tetapi juga tidak mendidik para siswa itu sendiri. Kesederhanaan hidup dan kerendahan hati seharusnya menjadi bagian dari pendidikan nilai di sekolah Katolik, dan salah satu wujudnya adalah melalui aksi solidaritas dengan orang miskin di sekitar kita, dan bukan dengan menghabiskannya di Bali, Bandung, Yogyakarta, Malang, atau daerah-daerah lainnya.
Penulis adalah staf pendidik humaniora pada Fakultas Kedokteran, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s