Noverim me, noverim te

gambar 2

Sebuah dialog terjadi antara sang guru dan muridnya seperti berikut:

Guru: Nak, apakah engkau mencintai aku lebih dari mereka ini?
Murid: Guru, engkau tahu, aku sudah hampir 50 tahun mengikuti engkau, dan aku tidak pernah berpaling ke guru lain. Jika itu bukan cinta, lalu apa?
Guru: Baik nak, jika engkau semakin menjadi dirimu sendiri dalam kematanganmu, itulah tandanya kau mencintaiku.
Murid: Rasanya belum cukup, guru.
Guru: Ya, hanya kamu yang tahu.
Murid itu pun tertunduk dan terus merenung.

Ini sebuah percakapan sederhana tetapi mendalam antara guru dan muridnya. Fakta bahwa sang murid sudah mengikuti guru dan menjadi muridnya selama hampir 50 tahun menunjukkan hubungan yang tidak lazim dibandingkan dengan status relasi guru-murid biasa dalam sekolah-sekolah formal. Menjadi murid dalam konteks ini dapat diartikan sebagai keputusan mengikuti dan menjadi bagian dari suatu ajaran, tradisi, doktrin, atau mungkin juga pewahyuan dari sang guru. Pertanyaan sang guru bisa dipahami sebagai semacam tes untuk mengetahui kesetiaan sang murid.

Diskusi itu juga menujukkan beratnya syarat kesetiaan. Bagi sang guru, seorang murid hanya bisa disebut setia jika (1) dia menjadi semakin dekat dengan dirinya sendiri; (2) dia menjadi semakin matang. Bagi guru, hanya murid yang telah menjadi semakin dekat dengan dirinya sendiri dan semakin matanglah yang mampu mempertahankan kelekatan hubungan dengan sang guru.

Apa artinya mengenal diri sebagai kondisi yang diprasyaratkan dalam status kemuridan? Tidak lama setelah “pertobatan” menjadi pengikut Yesus, Agustinus dari Hippo (13 November 354 – 28 Agustus 430) menulis pengalaman hubungannya dengan Tuhan demikian, “Ya Allah, yang adalah sama di setiap zaman, biarkan aku mengenal diriku, biarkan aku mengenal Engkau! – Noverim me, noverim te” (Soliloquies II, 1. BA 5, hlm. 87). Mengenal diri artinya kembali ke diri, masuk ke kedalaman diri, menantang diri untuk melihat kekurangan dan kelemahannya. Ajaran atau petuah sang guru yang selama ini didengar pasti masuk dan tersimpan di dalam pikiran hati. Ajaran sang guru itulah yang sekarang menjadi semacam “pemantul” (prompter) atau kaca yang memberitahu sang murid tentang perilaku dan perbuatannya. Kembali ke diri dan semakin mengenal diri, dengan demikian, sebenarnya adalah permintaan sang guru agar seseorang mengevaluasi dan melihat dirinya sendiri, sejauh mana dia setia pada ajaran-ajaran sang guru.
Syarat lain yang juga penting adalah menjadi dewasa dan matang. Ini maksudnya pun sederhana. Orang yang matang adalah orang yang dewasa. Dia adalah orang yang tahu dengan baik ajaran gurunya, memiliki komitmen untuk melaksanakan ajaran gurunya dalam hidupnya, dan yang tidak mau berpaling atau kembali lagi ke masa sebelum mengenal sang guru. Kedewasaan atau kematangan memang menjadi syarat kesetiaan ketika sang murid bertahan pada ajaran gurunya, bahkan ketika berhadapan dengan ajaran-ajaran lain yang lebih baru dan menggiurkan.

Di sinilah kita mengerti, mengapa sang murid pun tertunduk dan merenung setelah mendengar kata-kata gurunya. Ketertundukkan murid bisa bermakna dua. Pertama, dia mengalami semacam perasaan terpukul atau tergugat, bahwa ternyata dirinya belum mengenal dirinya dengan baik, dan dengan begitu juga belum matang. Jika ini benar, pertanyaan atau ujian sang guru seharusnya dipahami sebagai semacam sindiran atau teguran supaya kembali menjadi setia. Kedua, ketertundukkan sebagai uangkapan syukur dan sujud, karena sang guru ternyata lebih setia. Sang guru ternyata tidak pernah berhenti mencintai, tidak pernah mengalihkan cintanya kepada orang lain, bahkan ketika sang murid berpaling dari dirinya. Ucapan syukur dan sujud sekaligus sikap rendah hati (menunduk = merendahkan diri) sambil bertekad untuk kembali menjadi murid yang baik dan setia.

Kesetiaan kepada guru dapat dimaknakan secara religius sebagai kesetiaan kepada ajaran agama. Jika begitu, baik juga kalau dialog semacam ini kadang-kadang dibiarkan bergema di dalam hati kita. Dia akan menjadi pemicu bagi ujian kesetiaan kita. Sejauh mana saya mengenal diri sendiri, dan dengan begitu semakin mengenal sang guru. Ya, noverim me, noverim te.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s