Format Baku Argumen

Mempresentasikan Argumen dalam Bentuk Standar

Argumen dalam bentuknya yang baku sangat bermanfaat, terutama ketika kita harus menyusun dan mengidentifikasi argumen itu sendiri. Selain itu, harus diingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita biasanya tidak menghadapi argumen dalam bentuknya yang baku (standar). Bentuk baku sebuah argumen harus selalu dikembalikan ke dalam premis-premis dan kesimpulan.

Perhatikan contoh berikut.

Premis 1: Jika Anda ingin mendapat pekerjaan yang baik, Anda harus rajin bekerja.

Premis 2: Anda memang ingin mendapatkan pekerjaan yang baik

Kesimpulan: Jadi, Anda harus rajin bekerja.

Ini adalah bentuk argumen yang baku (standar). Mari kita menuliskan dua argumen lagi menggunakan bentuk yang standar:

  • Kita seharusnya tidak menyertakan rasa sakit yang tidak perlu pada sapi dan babi. Lebih dari itu, kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit yang tidak perlu pada binatang yang memiliki kesadaran, dan sapi dan babi adalah binatang-binatang yang memiliki kesadaran.

Premis 1: Kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit pada setiap binatang yang memiliki kesadaran.

Premis 2: Sapi dan babi adalah binatang yang memiliki kesadaran

Kesimpulan: Jadi, kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit pada sapi dan babi.

  • Jika cairan ini bersifat asam, kertas lakmus akan berubah menjadi merah. Tetapi itu tidak terjadi. Karena itu, cairan ini pasti bukan asam.

Premis 1: Jika cairan ini adalah asam, kertas lakmus akan berubah menjadi merah.

Premis 2: Kertas lakmus tidak berubah menjadi merah.

Kesimpulan: Cairan ini pasti bukan asam.

Dalam mempresentasikan argumen dalam bentuknya yang baku, premis-premis dan kesimpulan harus dapat diidentifikasi secara jelas. Kadang-kadang kita juga harus menulis kembali beberapa kalimat tertentu untuk membuat maknanya menjadi lebih jelas, misalnya pada premis 2 dari contoh kedua di atas. Perhatikan juga bahwa kesimpulan tidak harus ada di akhir dari sebuah wacana yang mengandung argumen sebagaimana ditunjukkan dalam contoh 1 di atas. Kadang-kadang justru terjadi bahwa sebuah argumen tidak ditulis secara eksplisit. Misalnya, ketika itu diungkapkan dalam pertanyaan retorik berikut:

“Bagaimana mungkin Anda percaya bahwa korupsi itu tindakan yang dapat diterima? Tindakan semacam itu tentu tidak adil dan melanggar hukum.”

Pertanyaan retoris semacam ini mengandung sebuah argumen. Kita harus menulis kembali argumen itu dalam bentuk premis-premisnya sebagai berikut.

Premis: Korupsi itu tindakan yang tidak adil dan bertentangan dengan hukum.

Kesimpulan: Korupsi adalah tindakan yang tidak bisa diterima.

Dua catatan sehubungan dengan bentuk baku dari argumen dapat diberikan berikut. Pertama, jika Anda ingin meningkatkan keterampilan membaca dan memahami, Anda harus terus melatih diri dalam hal merekonstruksi argumen yang Anda hadapi dengan cara menulisnya kembali secara hati-hati dalam bentuknya yang baku. Kedua, ketika mengemukakan argumen, Anda sebaiknya tidak sekadar membela posisi dan pendapatmu. Harus diingat bahwa dengan mengemukakan argumen kita justeru dapat memahami posisi kita dan posisi orang lain secara lebih baik.

Latihan

Tulislah kembali atau rekonstruksikan ulang argumen-argumen di bawah ini ke dalam bentuknya yang baku.

  1. Anton bisa jadi sedang berada di Surabaya atau di Bandung. Menurut Pak Teguh, Anton tidak sedang berada di Surabaya. Jika begitu, dia seharusnya sedang berada di Bandung.
  2. Jika pemerintah daerah berencana membangun Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di daerah ini, warga masyarakat yang ada di daerah ini harus dikompensasi. TPA dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi penduduk di sekitarnya. Masyarakat tidak akan memilih tinggal di daerah ini jika semula sudah mengetahui rencana pemerintah daerah tersebut.
  3. FIFA akan menjatuhkan sanksi yang berat terhadap pemain yang suka melakukan aksi pura-pura jatuh (diving) selepas Piala Dunia 2014 di Brazil. Pemain yang suka melakukan aksi diving seperti Arjen Roben atau Didier Drogba harus berhati-hati jika ingin terus berkarier di sepak bola. Arjen Roben dan Didier Drogba ternyata berhasil mengendalikan diri untuk tidak melakukan aksi diving sampai mereka gantung sepatu belum lama ini.
  4. Jika kita tidak memperkuat sistem pendidikan, maka pendidikan di sekolah-sekolah akan hancur. Dampaknya, sekolah-sekolah akan mendidik dan menghasilkan generasi muda yang tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja, dan itu akan menyulitkan mereka untuk keluar dari garis kemiskinan. Kita tidak boleh membiarkan situasi buruk ini terjadi. Karena itu, kita harus memperkuat sistem pendidikan kita.
  5. Meskipun Presiden terus meyakinkan kita bahwa pemerintahannya akan menjamin dan meningkatkan keamanan, kita tidak melihat bukti atau tanda-tanda ke arah itu. Mobil, motor, atau rumah kita sering menjadi sasaran aksi pencurian, dan ini membuat kita kesal dan marah. Keamanan dan rasa aman harus dimulai dari rumah, dan kita tidak harus memilih lagi Presiden yang tidak sanggup mewujudkan janji-janjinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s