MEMBUNUH BAYI CACAT

Udo Schülenk, adalah seorang filsuf Kanada yang kini menduduki jabatan Royal Society of Canada: End of Life Decision Making Panel dan juga dikenal sebagai ko-editor jurnal terkemuka Bioetics. Belum lama ini dia menulis sebuah artikel yang terbit di The Journal of Thoracic and Cardiovascular Surgery, yang dia beri judul Physicians can justifiably euthanize certain severely impaired neonates. Melalui tulisan ini Schülenk mempromosikan posisi filosofisnya berhadapan dengan anak-anak yang terlahir cacad, tentu juga warga negara yang mengalami disabilitas. Sama seperti posisi filosofis lain yang secara gencar dikampanyekan oleh filsuf sekaliber Peter Singer, Schülenk pun berpendapat bahwa para dokter sebetulnya dapat mengeutanasia bayi yang terlahir cacad berdasarkan analisis kualitas hidup terhadap bayi tersebut. Tentu pendekatannya sangat utilitaristik dalam arti jika kualitas hidup bayi – dalam analisis itu – lebih rendah atau kecil dari kemungkinan dia mencapai kesejahteraan hidup (well being), maka bayi tersebut dieutanasia saja.

Mengenai kriteria kualitas hidup, Schülenk menulis demikian, “A quality-of-life ethic requires us to focus on a neonate’s current and future quality of life as relevant decision-making criteria. We would ask questions such as: Does this baby have capacity for development to an extent that will allow him or her to have a life and not merely be alive? If we reach the conclusion that it would not, we would have reason to conclude that his life is not worth living.”

Pendapat semacam ini tentu memiliki dampak yang sangat praktis bagi para dokter dan petugas kesehatan lainnya. Yang jelas, ketika berhadapan dengan seorang bayi yang terlahir cacad, Schülenk mengusulkan bahwa (1) hadapi saja bayi tersebut, tetapi fokuskan perhatian pada kualitas hidup bayi tersebut, bukan hanya kualitas hidup sekarang, tetapi juga yang akan datang. Ini adalah kriteria dalam mengambil keputusan apakah membiarkan bayi itu terus hidup atau mengakhiri hidupnya. (2) Untuk memastikan hal ini, para dokter silakan mengajukan pertanyaan ini: apakah bayi yang cacad ini memiliki kapasitas untuk berkembang yang memungkinkan dia memiliki kehidupan yang baik dan tidak sekadar asal hidup? (3) Jika jawabannya adalah tidak, maka sebetulnya tidak ada alasan untuk mempertahankan kehidupan bayi tersebut.
Masih menurut Schülenk, para penentang euthanasia pasti akan berpendapat bahwa tindakan para dokter yang mengakhiri hidup bayi cacad berdasarkan analisis kualitas hidup adalah melanggar martabat sang bayi sebagai manusia. Dan itu didasarkan pada alasan perikemanusiaan dan bela-rasa (compassion). Menanggapi hal ini, Schülenk berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan moral antara membunuh seorang bayi dan membiarkannya mati secara alamiah, kecuali kenyataan bahwa bayi akan mati lebih cepat jika diakhiri hidupnya melalui euthanasia dibandingkan dengan membiarkannya mati secara alamiah. Menurut dia, membunuh bayi cacad melalui euthanasia justru lebih baik, karena lebih mengurangi rasa sakit dan penderitaan dibandingkan dengan membiarkannya mati secara alamiah.
Tentang hal ini Schüklenk berargumentasi demikian, “Once we have concluded that death is what is in the best interest of the infant, it is unreasonable not to bring about this death as painlessly and as much controlled in terms of timing by the parents as is feasible… If his prolonged dying is harmful to them (the parents) a further quality-of-life based argument in favor of terminating the infant’s life is established.”

Jadi, keputusan untuk mengakhiri hidup bayi yang cacad sebetulnya merupakan keinginan terbaik (the best interests) dari bayi tersebut. Dan jika sudah merupakan keinginan terbaiknya, menunda kematian atau membiarkannya hidup lebih lama justru melanggar prinsip bioetika harm (tindakan yang membuat orang lain menderita), tetapi juga berlaku tidak adil (justice) terhadap upaya membesarkan anak-anak lain yang sehat.

Terhadap bayi yang terlahir cacad dan dalam keadaan yang sangat parah, jika penangan secara medis terhadapnya dihentikan tetapi perawatan (caring) masih tetap dilanjutkan dan kemudian bayi itu meninggal, maka kematian bayi ini disebut sebagai kematian alamiah (natural death). Dapat terjadi bahwa bayi dalam keadaan yang sangat parah akan terus hidup karena perawatan (caring) tadi. Karena kondisinya yang buruk, bayi semacam ini dapat saja mati, tetapi tidak bisa dipastikan kapan. Kondisi semacam ini tentu tidak diinginkan oleh orang seperti Schüklenk, Peter Singer dan sekutu-kutu mereka. Sementara itu, jika bayi tersebut disuntik dengan obat mematikan (lethal injection), bayi tersebut pasti akan mati, secara sengaja.
Schüklenk sendiri berpendapat bahwa bayi-bayi yang baru saja lahir sebenarnya memiliki status yang sama dengan janin yang masih ada dalam rahim. Posisi ini sama dengan yang didukung Peter Singer, di mana mereka mengatakan bahwa janin dan bayi sebetulnya bukan persona (non person), karena belum memiliki kemampuan berpikir rasional dan menentukan dirinya sendiri. Dengan posisi moral semacam ini, mereka sebetulnya mengusulkan ke para orang tua supaya dapat memilih secara bebas untuk mengakhiri hidup bayi-bayi mereka (juga janin) yang memang teridentifikasi sebagai cacad. Tentang hal ini, Schüklenk menulis demikian, “In morally important ways his developmental state is closer to that of a fetus than to that of a person like you or me. The parents should be able to freely decide on what would amount to postnatal abortion.
Pertanyaannya, mengapa Schüklenk tampak bersemangat mendukung dan mengkampanyekan euthanasia terhadap bayi yang terlahir cacad? Bukankah posisi moral semacam ini akan ditolak oleh masyarakat dan kelompok masyarakat yang pro pada kehidupan? Tampaknya Schüklenk merujuk ke praktik euthanasia terhadap bayi cacad di Belanda yang telah disahkan oleh Mahkama Agung pada tahun 1990-an dan kemudian disetujui oleh Asosiasi Kedokteran Belanda bersamaan dengan diterimanya Protokol Groningen. Mengenai hal ini, Schüklenk menulis demikian, “renatal testing renders the need for infanticide exceedingly rare. …Of about 200,000 children born in The Netherlands on an annual basis only very few newborns saw their lives ended by this means.”
Jadi, menurut Schüklenk, euthanasia terhadap bayi yang terlahir cacad sebenarnya sah secara moral. Ketakutan bahwa praktik semacam itu akan menerjang apa yang disebut sebagai slippery slope, ternyata tidak terbukti di Belanda. Bahwa hanya ada 4 bayi yang dieuthanasia di Belanda selama tahun 1995 dan 2005, tidak ada seorang bayi pun yang dieuthanasia selama tahun 2005-2010.
Cara bernalar seperti ini tentu sangat masuk akal, bahwa euthanasia terhadap bayi yang terlahir cacad tidak akan menjadi pilihan umum untuk mengakhiri hidup bayi-bayi tersebut. Dan bahwa kasus Belanda memperkuat pilihan moral semacam ini. Masalahnya, jika sudah ada skrining terhadap janin dalam rahim, apakah janin mengidap Spina Bifida, Hydrosefalus, atau downsyndrome lainnya dan kemudian digugurkan tanpa harus menunggu sampai lahir sebagaimana lazim dipraktikkan di Belanda maupun di Belgia, lalu apa relevansi dari argumen yang dikembangkan Schüklenk ini?
Apa pun juga argumennya, posisi moral filsuf-filsuf seperti Schüklenk, Peter Singer atau Jocelyn Downie sebenarnya sangat jelas: mereka mendukung aborsi, mendukung euthanasia, juga terhadap bayi yang cacad. Kita tahu, mendiskusikan suatu problem moral tetapi memasuki ruang diskusi dengan posisi moral yang sudah jelas akan sangat sulit mengambil keputusan lain selain mengafirmasi posisi moral tersebut. Dan ini juga menjadi kritik terhadap mereka yang membela hak hidup manusia, dalam kondisi apa pun.

Sulit sekali mengambil keputusan apakah harus mengeuthanasia bayi yang terlahir cacad, kalau pun itu berdasarkan analisis kualitas hidup yang tampaknya sangat sederhana di atas kertas. Ada banyak pihak yang harus didengarkan pendapatnya, termasuk pendapat orangtua sendiri. Memang kita harus mewujudkan apa yang menjadi kepentingan terbesar dari para bayi yang terlahir cacad demikian. Apakah itu berarti harus mengakhiri hidup mereka atau harus mempertahankan kehidupan dengan cara apapun, rasanya sulit diputuskan tanpa harus berhadapan secara langsung dengan bayi real yang sedang mengidap kecacadan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s