MENYINGKAP RASA MALU MORAL

Oleh Yeremias Jena

Para psikolog berpendapat bahwa rasa malu telah menjadi bagian integral dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia. Menurut mereka, bahkan bayi sudah punya rasa malu. Misalnya, seorang bayi ditinggal ibunya di kursi dorong di ruang keluarga sementara sang ibu pergi ke dapur. Sang bayi berusaha menarik perhatian ibunya ketika ibunya kembali dari dapur, misalnya dengan menatap atau tersenyum. Bayi merasa kecewa dan malu ketika didapatkan ibunya tidak berkontak mata atau tidak menaruh perhatian padanya. Bayi yang diliputi rasa kecewa dan malu itu kemudian mengalihkan perhatian dari ibunya sambil mengarahkannya ke sudut pandang yang lain. Sang bayi merasa malu karena ibunya tidak memenuhi harapannya (“What We Get Wrong about Shame”, dalam: http://www.psychologytoday.com/blog/your-zesty-self/200905/what-we-get-wrong-about-shame).

Umumnya rasa malu digunakan untuk menggambarkan perasaan mereka yang melakukan kesalahan tertentu dan kesalahannya tersebut diketahui orang lain. Tetapi dalam konteks bayi di atas, rasa malu juga berhubungan dengan tidak terealisasinya ekspektasi tertentu. Secara negatif, orang yang seharusnya memiliki rasa malu tetapi berperilaku seolah-olah tidak terjadi suatu perilaku negatif padanya dicap sebagai tidak punya rasa malu. Dalam konteks politik, misalnya, pejabat publik yang melakukan korupsi dan tidak mengakui kesalahannya, mengulang perbuatannya, atau yang selalu tersenyum di depan kamera wartawan sering dicap sebagai tidak punya rasa malu.

Masih menurut para psikolog, rasa malu umumnya meliputi keadaan-keadaan seperti (1) shyness: rasa malu karena kehadiran orang asing atau orang yang belum di kenal; (2) discouragement: rasa malu karena kekalahan atau ketidakberhasilan dalam suatu kompetisi; (3) embarrassment: rasa malu atau tepatnya dipermalukan di hadapan umum; (4) self-consciousness: rasa malu yang berhubungan dengan kegagalan menjalankan peran (performance) tertentu, dan (5) inferiority: keseluruhan rasa malu yang berhubungan dengan diri (self).

Kajian semacam ini mengingatkan kita tentang kadar dangkal–dalamnya sebuah perasaan bersalah. Seorang yang merasa malu karena kehadiran orang asing tentu memiliki kadar rasa malu yang berbeda dengan rasa malu karena problem inferioritas. Demikianlah, kesalahan atau perilaku negatif yang memicu rasa malu memiliki dampak yang berbeda terhadap rasa manifestasi rasa malu, dan itu sangat ditentukan oleh jenis perilaku negatif yang dilakukan tersebut.

 

Manifestasi Rasa Malu Moral

Pertanyaannya, apakah rasa malu melulu bersifat negatif atau dapat juga bersifat positif? Secara filosofis, pertanyaan ini dapat dijawab dengan mendiskusikan rasa malu dalam dua ranah, yakni rasa malu moral (moral shame) dan rasa malu kognitif (cognitive shame). Manifestasi rasa malu sebagaimana ditegaskan para psikolog di atas sebenarnya masuk dalam ranah rasa malu moral. Sambil menunda mendiskusikan rasa malu kognitif, tulisan ini lebih memusatkan perhatian pada diskursus mengenai rasa malu moral.

Dalam konteks pemikiran Aristoteles (Nicomachean Ethics, Book IV. Moral Virtue, Chapter 9), rasa malu moral dilihat sebagai kegagalan dalam membentuk diri menjadi pribadi yang berkeutamaan. Demikianlah, rasa malu moral bukanlah sebuah karakter atau watak, tetapi lebih sebagai sebuah perasaan (rasa bersalah, rasa dilecehkan dan tidak dihormati, dan sebagainya) yang terus akan menguasai hidup seseorang yang gagal menjadi manusia bermoral. Rasa malu bagi Aristoteles umumnya identik dengan pengalaman kaum muda yang masih labil dan sedang mencari jati diri. Rasa malu seharusnya tidak terjadi pada orang dewasa yang setia dan tekun membentuk jati dirinya menjadi pribadi berkeutamaan. Dalam arti itu, menurut Aristoteles, rasa malu pada kaum muda karena gagal berperilaku moral masih bisa diterima dan dipahami sebagai bagian dari proses belajar, tetapi tidak demikian dengan orang dewasa. “….we praise young people who are prone to this feeling, but an older person no one would praise for being prone to the sense of disgrace, since we think he should not do anything that need cause this sense” (Aristoteles, Nicomachean Ethics. Ibid).

Demikianlah, rasa malu moral lebih berhubungan dengan perasaan kegagalan, rasa sakit atau rasa terganggu karena gagal membentuk diri sebagai pribadi berkeutamaan. Aristoteles dalam Rhetoric (Book II, Chapter 6) mendefinisikan rasa malu sebagai “….pain or disturbance in regard to bad things, whether present, past or future, which seem likely to involve us in discredit; and shamelessness as contempt or indifference in regard to these bad things.” Bagi Aristoteles, kegagalan membentuk diri sebagai pribadi yang berkeutamaan itu dapat terjadi karena berbagai alasan yang berhubungan dengan dominasi kejahatan (evil) atas pembentukan watak berkeutamaan dalam diri manusia. Bagi Aristoteles, kegagalan itu terjadi karena tujuh hal berikut.

Pertama, problem licentiousness (sifat lembek terhadap pembatasan-pembatasan moral dan legal, terutama yang berhubungan dengan masalah seks). Sifat semacam ini digunakan Aristoteles untuk menggambarkan (1) individu yang penakut (cowardice) yang tidak mau mengambil jarak dari kejahatan tetapi justru membiarkan dirinya masuk ke dalam kejahatan; (2) pribadi yang melakukan ketidakadilan, misalnya menipu atau memanipulasi orang lain demi keuntungan finansial; (3) pribadi yang melakukan hubungan seks dengan orang yang terlarang pada waktu yang tidak tepat dan di tempat yang salah.

Kedua, problem low greed and meaness (sifat rakus, tidak lembut atau tidak jujur). Sifat-sifat semacam ini menandai orang yang mengambil keuntungan finansial, entah dalam cara yang tepat atau keliru, dari orang-orang miskin, orang-orang marginal, bahkan dari orang yang sudah mati.

Ketiga, problem tokens of meaness (sifat suka menghitung atau suka membuat perhitungan secara tidak jujur). Sifat-sifat semacam ini menandai mereka yang (1) kurang memberi bantuan atau tidak memberi bantuan sama sekali padahal dia memiliki kemampuan untuk membantu. Atau juga sifat orang yang menerima bantuan dari orang yang lebih buruk keadaannya dari dirinya. Termasuk ke dalam sifat ini adalah orang yang suka meminjam dengan cara seolah-olah sedang meminta, atau meminta-minta dalam cara sebegitu rupa sehingga kelihatan seperti sikap minta tolong kepada orang tersebut untuk mengembalikan atau membayar sesuatu kepadanya. Juga tampak dalam sikap orang yang selalu memuji orang dalam cara seperti meminta-minta atau memelas.

Keempat, problem disposisi atau menempatkan diri sebagai seorang flatterer (sifat orang yang sering mengeluh secara berlebihan dan secara tidak jujur, terutama demi memperoleh keuntungan tertentu). Sifat-sifat semacam ini menandai mereka yang suka memuji-muji orang secara terang-terangan dan berlebihan dan menutup-nutupi kelemahan orang tersebut. Juga nampak dalam sifat orang yang mengekspresikan simpati yang berlebihan terhadap kesusahan yang orang itu alami ketika berada bersama orang tersebut (Rhetoric, 1384a).

Kelima, problem effeminacy (menggambarkan sifat seseorang yang lebih feminin dalam arti lemah, lembut, atau lembek. Seharusnya seseorang berperilaku sesuai watak atau karakter asalinya, dan bukan berakting seolah-olah memiliki sifat berbeda). Sifat semacam ini nyata dalam bagaimana seseorang menolak untuk bertahan dalam situasi buruk, padahal dia sendiri sebenarnya memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi demikian.

Keenam, problem ignoble disposition (sifat-sifat yang tidak agung sehingga tidak pantas dihormati) yang nyata dalam perilaku seperti menerima keuntungan terutama dari orang lain yang kemudian melecehkannya.

Ketujuh, problem boastfulness (sifat pembual) yang termanifestasi dalam sikap memuji diri secara berlebihan dan membutakan diri terhadap keunggulan dan kelebihan orang lain.

Inilah sifat-sifat yang menandai kegagalan manusia dalam membentuk dirinya sebagai pribadi bermoral atau berkeutamaan. Dalam perspektif pemikiran Socrates (terutama dalam Apology), rasa malu moral (sebenarnya juga rasa malu kognitif yang tidak diuraikan dalam tulisan ini) hanya dapat diatasi melalui aktivitas seperti “evaluasi diri” (self-examination), “evaluasi terhadap diri dari orang lain” (examination of others) dan “percakapan persahabatan” (friendly conversation), terutama mengenai hal-hal mendasar yang berhubungan dengan upaya membentuk diri sebagai pribadi bermoral. Tentang hal ini, Plato menulis dalam Apology, “Aren’t you ashamed that you’re anxious to secure as much money, reputation and honor as you can, but show no care or concern for understanding, truth and that your soul be as good as possible?” (Apology, 29d9–e 3).

Demikianlah, melalui refleksi diri (mengenal diri), seseorang tahu bahwa dirinya ternyata lemah (cowardice) karena tidak sanggup mengambil jarak terhadap kejahatan (evil). Pengenalan diri semacam inilah yang memampukan seseorang untuk mengkultivasi keutamaan keberanian (courage) dalam dirinya, dan dengan demikian dapat mengatasi rasa malu yang muncul dari dalam dirinya tersebut. Demikian pula halnya dengan kegagalan-kegagalan lainnya dalam membentuk diri sebagai pribadi berkeutamaan sebagaimana dideskripsikan di atas.

Penutup

Rasa malu memang berhungan dengan perasaan tidak nyaman, tidak terhormat, rendah diri, disepelehkan, dan sebagainya yang dialami seseorang dalam dirinya. Ada berbagai alasan mengapa rasa malu itu timbul, baik sebagaimana ditawarkan ilmu psikologi maupun filsafat. Dari perspektif filsafat, rasa malu terjadi karena kegagalan membentuk diri sebagai pribadi berkeutamaan. Orang seperti Aristoteles akan mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk menghindari diri dari perasaan malu adalah menghindari tujuh sifat sebagaimana dideskripsikan di atas. Itu bisa dilakukan dengan pertama-tama memahami cakupan dan manifestasi sifat-sifat sebagaimana dideskripsikan. Tetapi lebih dari itu, bagaimana seseorang mengevaluasi diri (self-examination), sejauh mana dia telah mampu melampaui atau mengatasi sifat-sifat buruk tersebut. Dalam perspektif Socrates, mengenal diri ternyata merupakan modal dasar dalam membebaskan diri ketujuh sifat negatif sebagaimana dilukiskan Aristoteles.

Dengan begitu, kita mengerti sekarang betapa rasa malu, terutama rasa malu moral, memiliki dimensi dan cakupan yang jauh lebih luas dari sekedar perasaan malu karena berhadapan dengan orang asing atau perasaan dipermalukan di muka umum. Rasa malu moral berhubungan dengan kegagalan seseorang mengatasi atau melampaui ketujuh sifat buruk dalam dirinya. Kegagalan melakukan hal ini hanya akan mendaratkan seseorang pada rasa malu inferiority (rasa rendah diri) sebagaimana diistilahkan oleh para psikolog. Dalam arti itu, orang yang gagal membentuk dirinya sebagai pribadi berkeutamaan harus siap menjadi pribadi atau orang yang inferior dalam artinya yang sesungguhnya. Orang semacam ini akan menjalani hidupnya dalam perasaan malu yang tak-berkesudahan.

Yeremias Jena, dosen etika dan humaniora di Fakultas Kedokteran dan Peneliti pada Pusat Pengembangan Etika (PPE), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s