Kerja Memang Harus Bermartabat

Resensi Buku

Buku KasdinPendahuluan

Apakah kerja harus bermartabat? Sejauh mana sebuah pekerjaan disebut bermartabat? Apakah kerja bermartabat hanya menyangkut jenis pekerjaan atau profesi tertentu, misalnya white-collar works? Atau, kerja bermartabat juga termasuk pandangan dan sikap individu terhadap pekerjaannya, bagaimana institusi memperlakukan pekerjanya, bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dengan waktu luang, dan sebagainya?

Menyimak percakapan antara Jeremy Miller-Reed (23) dengan Samson White (22), dua banker muda di Goldman Sachs sebagaimana dicatat Kevin Roose, penulis buku Young Money: Inside the Hidden World of World Street’s Post–Crash Recruits dapat memberikan gambaran kepada kita apa yang dimaksud dengan kerja bermartabat. “Jika tujuan [yang mau kita capai] adalah bagaimana membuat orang lain mengalami kerusakan psikologis tertinggi, maka saya rasa asal saya naik ke meja kerjamu dan menghancurkan kepalamu di siang bolong, ini akan menjadi cara terbaik [untuk mencapainya],” kata Jeremy Miller-Reed.” Mendengar itu, Kevin Roose lalu bertanya, “Apakah Anda tahu apa reaksi rekan-rekan kerjamu setelah mengetahui kejadian itu?” “Para analis keuangan lainnya yang mengetahui kejadian itu akan diminta oleh atasan mereka, katanya, “Hai kalian semua, bolehkah kalian membersihkan [darah] yang tercecer di meja dan lantai itu?” (baca http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/). Percakapan ini tampak sangat vulgar, tetapi itulah realitas keseharian yang dihadapi para banker muda yang bekerja di perusahaan-perusahaan jasa keuangan ternama di dunia, seperti Goldman Sachs, Wall Street, JP Morgan, dan semacamnya. Karena tekanan kerja yang begitu tinggi yang menyebabkan stress, banyak banker muda yang memutuskan bunuh diri (baca “Why High Finance Workers Commit Suicide?” dalam Business Insider, 21 Februari 2014 atau: http://business.financialpost.com/2014/02/21/why-high-finance-workers-commit-suicide/).

Kevin Roose mencatat percakapan ini ketika dia mewawancarai banyak banker muda dalam rangka menulis buku Young Money: Inside the Hidden World of World Street’s Post–Crash Recruits (Grand Central Publishing, New York: 2014). Buku ini lahir untuk menjawab sebuah fenomena, mengapa banyak lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi (terutama Ivy Leaguers seperti Brown University, Columbia University, Cornell University, Dartmouth College, Harvard University, Princeton University, the University of Pennsylvania, dan Yale University) yang tidak mau bekerja di perusahaan keuangan besar seperti Wall Street, JP Morgan, Goldman Sachs dan semacamnya setelah tahun 2008?

Roose terutama mengamati dan mencatat secara kronologis kehidupan 8 banker ambisius, 20-an analis keuangan, semuanya masih muda dan sedang menapaki karier kesuksesan di Wall Street. Dia menemukan bahwa sikap dan kultur perusahaan sedang mengalami perubahan, terutama setelah krisis finansial tahun 2008. Para calon banker masuk ke dunia kerja dalam keadaan yang sebetulnya pesimistik, dan mereka harus bekerja. Karena itu, mereka “terpaksa” menerima situasi kerja dengan lingkungan yang sangat keras. Krisis finansial telah mengubah kebijakan pemotongan gaji para banker, sehingga mereka bekerja keras tetapi menerima penghasilan yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan keadaan sebelum tahun 2008. Fakta lain yang mencuat, para banker muda bekerja nyaris tanpa istirahat, waktu mereka diisi kerja, tanpa mempedulikan kepentingan pribadi, waktu luang, relasi manusiawi, dan tidur. Para banker juga tampak pucat karena kurang tidur dan menjadi terlalu gemuk karena pola makan dan istirahat yang tidak sehat. Perlahan-lahan, para banker juga menjauhkan diri dari kawan-kawan yang tidak meminati masalah keuangan. Kevin Roose menulis hal ini dengan sangat bagus, “Money goes from being something that is infrequently discussed to being the primary subtext of life. … “Social relationships start to feel transactional.” (baca: http://www.washingtonpost.com/opinions/2014/03/21/f18ce204-9e71-11e3-9ba6-800d1192d08b_story.html)

Betapa tidak. Para banker muda itu harus bekerja dari pukul sembilan pagi hingga jam lima keesokan hari. Tentang waktu kerja yang tidak manusiawi ini, Prof. Alexander Michel dari University of Southern California menyimpulkan dalam sebuah penelitiannya, bahwa ada tiga alasan mengapa para banker muda bekerja sangat keras sampai pada titik yang membahayakan kehidupannya sendiri.

Pertama, para banker muda berani mengambil risiko yang membahayakan dirinya karena ingin meraih impian kehidupan yang lebih baik. Tentang hal ini, Prof. Alexander Michel menulis, “During years 1-3, bankers construed their bodies as objects that the mind controls. They worked long hours, neglected family and hobbies, and forget their bodies’ needs in order to enhance productivity. They suppresed the need for prolonged sleep, taking naps at 11 p.m and then again at 1, 3, 4. When I asked, “Aren’t you worried that this will affect your health?, most responded like this Bank Associate, “For the next few years, work has priority. I will worry about may health then.” To my question, “What if you do irreversible damage?” Many answered, “I am willing to take that risk.” (Lihat http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/).

Kedua, alasan uang . Penghasilan seorang banker muda bisa mencapai lebih dari 900 ribu dollar per tahun. Jadi, wajar jika mereka bekerja keras di awal karier untuk bisa menikmatinya di kemudian hari, termasuk mengambil risiko yang membahayakan diri. Tapi, apakah alasan ini masih relevan sejak krisis keuangan tahun 2008, di mana ada kebijakan cut-off terhadap gaji para banker? Banker muda dewasa ini menerima gaji yang lebih kecil dibandingkan dengan senior mereka pada posisi yang sama sebelum tahun 2008.

Ketiga, soal tujuan (purpose) yang ingin dicapai. Setiap tahun Wall Street merekrut orang-orang muda dan ambisius dari perguruan tinggi terkemuka dan berharap agar mereka mau bergabung dan membuat dunia menjadi lebih baik. Wall Street menawarkan kepada para banker muda sebuah impian menjadikan dunia lebih baik dalam semboyan “real-world-responsibility” dan investasi yang bertanggung jawab secara sosial. Padahal ini semua tidak lebih dari sebuah wishful thinking. Misalnya, seorang yang baru saja masuk ke Goldman, mengira bahwa tugas khususnya hanya menjalankan perdagangan komoditas. Padahal setelah beberapa saat berlalu, tugasnya bisa berubah dan menjadi lebih berat. Tujuan yang hendak dicapai lalu bergeser dari “menjadikan dunia lebih baik” kepada ideologi perusahaan keuangan, yakni “we exist to make money”. Tampak jelas bahwa pekerjaan para banker ternyata tidak jauh berbeda dengan pekerjaan seorang kuli, yakni menjalankan pekerjaan distributif, dan bukan pekerjaan kreatif. Dalam pemahaman Prof. Alexander Michel, sebuah profesi disebut pekerjaan kreatif jika merealisasikan sesuatu yang baru ke dalam dunia. Sebaliknya, disebut pekerjaan distributif jika pekerjaan difokuskan semata-mata pada bagaimana menaklukkan para kompetitor dan menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dari sebuah pasar finansial.

Kerja Memang Harus Bermartabat

Temuan Kevin Roose dan catatan Prof. Alexander Michel mendorong kita untuk bertanya, “Apakah manusia harus bekerja tanpa mengenal batas kemampuannya?” “Apakah alasan manusia bekerja?” “Apakah dapat dibenarkan secara etis jika manusia mereduksikan pekerjaan kepada semata-mata sarana untuk merealisasikan kepentingan ekonomi?”

Kasdin Sihotang, pengajar Etika Bisnis di Fakultas Ekonomi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menerbitkan sebuah buku berjudul Kerja Bermartabat: Kunci Meraih Sukses (2014). Apa yang dimaksud dengan kerja bermartabat? Umumnya perusahaan-perusahaan memahami kerja bermartabat sebagai “komitmen setiap organisasi untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif dan positif sedemikian rupa sehingga terbangun hubungan kerja yang manusiawi.” Untuk merealisasikan hal ini, umumnya perusahaan-perusahaan menginisiasi terbentukna prosedur, kebijakan, dan standar perilaku tertentu yang mengikat setiap karyawan. Beberapa prinsip yang biasanya diacu sebagai pendefinisi kerja bermartabat meliputi hak seorang pekerja untuk (1) diperlakukan secara bermartabat; (2) bekerja dalam lingkungan atau suasana kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan; (3) bebas dari ketakutan dan diskriminasi; (4) menerima penghargaan atas keterampilan dan kemampuan profesionalnya; (5) menerima penghasilan yang layak.

Merujuk ke distingsi Hannah Arendt mengenai labour, work dan activity, Kasdin Sihotang berpendapat bahwa manusia tidak sekadar bekerja (labour), tetapi juga berkarya dan mewujudkan dirinya secara utuh. Bekerja pada level paling dasar dilakukan manusia karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (labour), dan ini menempatkan manusia pada level biologis, sama seperti yang dilakukan binatang. Padahal, manusia bukan sekadar pekerja (homo laborans), tetapi juga subjek atas pekerjaan (homo faber). Dengan menjalankan pekerjaan, manusia merealisasikan seluruh kemampuan dirinya. Manusia adalah tujuan pada dirinya. Dengan bekerja, manusia merealisasikan tujuannya, nilai-nilai yang dihayatinya, serta imbalan yang pantas dengan profesinya. Bekerja memiliki orientasi individual, tetapi juga sosial. Pekerjaan memiliki nilai-nilai tanggung jawab, keadilan, kejujuran, dan kepercayaan (hlm. 4–19). Kerja bahkan merealisasikan spiritualitas tertentu, bahwa Tuhan memanggil setiap orang untuk membangun dunia menjadi lebih baik (hlm. 30–33).

Dalam arti itu, dapat disimpulkan bahwa etos kerja yang dibangun perusahaan jasa keuangan sebagaimana dideskripsikan di atas telah melupakan dimensi kerja bermartabat. Tampak jelas bahwa pekerjaan telah direduksikan hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan, dan itu artinya menyamakan pekerjaan (profesi) dengan kerja tangan dalam arti labour menurut Arendt. Padahal, menurut alur pemikiran yang dibangun Kasdin Sihotang, kerja tidak hanya bernilai personal, tetapi juga sosial, etis dan spiritual. Bahkan pada level sangat personal pun kerja tidak bisa direduksikan sebagai kerja tangan dalam arti peyoratif (tanpa kebebasan), karena secara filosofis, tangan dan keterampilannya justru mencerminkan kebebasan manusia (hlm. 16–17). Di akhir bab kedua Kasdin mau menjawab pertanyaan, “Bagaimana mewujudkan kerja bermartabat?” Bagi Kasdin, kode etik profesi dapat diandalkan sebagai semacam sarana untuk mewujudkan kerja bermartabat. Kasdin Sihotang membayangkan bahwa kode etik profesi yang adalah prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar suatu pekerjaan (prinsip kejujuran, tidak berperilaku buruk, tidak melanggar hukum, berperilaku adil dan proporsional, dan semacamnya), jika dilaksanakan secara konsekuen, dapat mewujudkan kerja bermartabat.

Dari simpul inilah Kasdin Sihotang kemudian menarasikan bab ketiga, ketika dia terutama mengeksplorasi apa itu profesi dan ciri-ciri profesi (hlm. 38–46) sebelum kemudian menegaskan prinsip-prinsip etika profesi (hlm. 47–51). Pertanyaannya, mengapa kemudian buku ini harus mendeskripsikan secara panjang lebar teori-teori etika dasar sebagaimana nampak dalam bab 4–6 (hlm. 55–111)? Tampaknya Kasdin Sihotang terjebak dalam pemikiran bahwa etika profesi mengandung prinsip-prinsip moral yang perwujudannya menjadi semacam jaminan bagi terciptanya sebuah kerja yang bermartabat. Pendekatan semacam ini tidak sepenuhnya salah jika kita memahami bahwa buku ini dibaca dan digunakan oleh mahasiswa yang belum pernah mempelajari etika dasar sebelumnya. Kelemahannya, kajiannya menjadi terlalu panjang dan melelahkan. Menurut saya, seseorang dapat memahami etika profesi tanpa memahami secara mendalam etika dasar. Prinsip-prinsip etika dasar seperti deontologi dan utilitarisme sebetulnya dapat dijelaskan ketika membicarakan prinsip etika profesi tertentu. Toh prinsip-prinsip etika profesi, sejauh itu ada pada level etika terapan, tidak akan menerapkan prinsip-prinsip etika dasar (terutama utilitarisme dan deontologi) secara literer. Kita tahu, yang berlaku pada level etika terapan (termasuk etika profesi) adalah prinsip prima facie sebagaimana dimaksud W.D. Ross (1877–1971) dan prinsip-prinsip turunan lainnya yang dirumuskan kemudian, atau prinsip balancing (balancing principles sebagaimana dimaksudkan Beauchamp dan Childress dapat dibaca dalam http://www.bu.edu/wcp/Papers/Bioe/BioeToml.htm) sebagaimana dipraktikkan dalam etika kedokteran. Dalam arti itu, menurut saya, bab 4–6 buku ini tidak harus diikutkan dan pembaca bisa langsung mempelajari bab 7 (tanggung jawab dalam pekerjaan), bab 8 (kesadaran moral dalam kerja), bab 9 (keadilan dalam kerja), serta bab 10 (hak dan kewajiban karyawan).

Kembali ke keadaan kerja para banker muda sebagaimana dideskripsikan di bagian pendahuluan. Dapatkah prinsip tanggungjawab sebagaimana dideskripsikan dalam buku ini (bab 7, hlm. 113–125) dapat menjelaskan memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan-perusahaan jasa keuangan? Bukankah bekerja tanpa kenal lelah dengan sedikit waktu istirahat adalah bagian dari tanggung jawab memajukan perusahaan? Apakah seorang banker tidak memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri, terhadap waktu luang, terhadap kebutuhan sosial dan kepentingan keluarganya? Membaca bab tujuah buku ini, saya menjadi khawatir, jangan-jangan kita mengajarkan prinsip-prinsip tanggung jawab yang memiliki muatan ideologis karena hanya menguntungkan perusahaan. Bagaimana jika prinsip stakeholders orang harus diuntungkan (hlm. 119) dipraktikkan sebegitu dengan mengorbankan kepentingan seorang karyawan, misalnya hak untuk istirahat yang cukup, memperhatikan kesehatannya, dan sebagainya sebagaimana menjadi masalah para banker muda di atas? Dalam arti itu, prinsip tanggung jawab dalam kerja bermartabat harus diperluas hinggah meliputi pula tanggung jawab seorang karyawan atas dirinya dan kepentingannya.

Ini penting ketika kita berbicara mengenai kesadaran moral dalam bekerja (bab 8, hlm. 127–148). Masih merujuk ke masalah yang dihadapi para banker muda di atas, saya membayangkan bahwa para mahasiswa yang membaca bab ini akan menyadari bahwa bagian dari kesadaran moralnya adalah keberanian moral untuk meninggalkan sebuah perusahaan jika perusahaan tersebut jelas-jelas merugikan kepentingan dirinya (membahayakan kesehatannya, menyita hampir seluruh waktu, merampas kebebasannya, dan semacamnya). Beberapa pemikiran dasar sudah coba dieksplorasi dalam bab ini (lihat misalnya di halaman 144–145), dan itu seharusnya dipertajam lagi, dengan contoh-contoh yang lebih konkret. Jika para banker muda tahu bahwa pekerjaan mereka berisiko (misalnya membahayakan kesehatannya), dan suara hatinya menyadari hal ini, mengapa mereka tetap merisikokan dirinya? Jika iming-iming gaji yang tinggi dan kenyamanan hidup yang didapat menjadi alasan pembenar, mengapa terjadi perubahan cara pandang semacam ini? Pertanyaan-pertanyaan filosofis semacam ini tentu sulit diharapkan jawabannya dari buku ini (terutama setelah membaca bab 8).

Bab kesembilan dan kesepuluh memang penting dipelajari. Lagi-lagi, jika yang hendak ditonjolkan dari prinsip keadilan dalam bekerja hanyalah prinsip tidak diskriminatif (prinsip keadian komutatif, lihat hlm 155–156) atau prinsip equal consideration dan bukan prinsip equal treatment dalam bekerja, misalnya dalam hal pemberian gaji (prinsip keadilan distributif di hlm. 157–158), maka sebetulnya tema-tema ini dapat diintegrasikan ketika membicarakan masalah etika profesi dalam bekerja (menurut saya, salah satu pemahaman menarik atas pemikiran Adam Smith mengenai tema-tema ini datang dari Peter Singer, filsuf Australia dalam bukunya Singer, Peter, The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology, New American Library, NY, 1981) mengenai . gagasan Adam Smith Masalahnya akan menjadi lain jika prinsip-prinsip etika kerja sebagaimana dirumuskan Adam Smith (hlm. 158–165) dieksplorasi sebagai pendalaman dari prinsip-prinsip keadilan yang dideskripsikan sebelumnya. Saya membayangkan bahwa sikap simpati sebagaimana dimaksudkan Adam Smith (hlm. 160) dapat diperdalam dengan diskusi mengenai sikap solidaritas dalam arti keberpihakan kepada kelompok tertindas dan upaya membebaskan manusia dari struktur sosial yang merusak hubungan antarmanusia, mengkotak-kotakkan masyarakat berdasarkan profesi dan melanggengkan pembagian kerja sebagai sarana penindas (Yeremias Jena, 2013, hlm. 116). Di titik inilah problem yang dihadapi para banker muda dan kaum profesional lainnya dapat diatasi. Simpati atau solidaritas nyata harus sampai pada upaya menghancurkan iklim kerja yang membelenggu dan membatasi karyawan untuk menjadi dirinya sendiri.

Penutup

Sebagai buku ajar, karya Kasdin Sihotang ini dapat dibaca dan dipahami bahkan oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang filosofis yang memadai. Di titik inilah sebetulnya terletak kelebihan buku ini – sejauh sebagai buku ajar – bahwa siapa pun yang mengajar etika kerja atau profesionalisme dapat menggunakan buku ini sebagai buku pegangan wajib. Seseorang tidak harus mempelajari etika dasar untuk memahami etika profesi dalam pekerjaan, karena materi-materinya sudah dijelaskan secara panjang lebar dalam buku ini.

Meskipun demikian, catatan-catatan dan pertanyaan kritis yang saya ajukan di atas dapat menjadi sumbangan yang bagus dalam memperkaya perspektif buku ini. Jika martabat (dignity) sebagaimana nampak dalam judul buku ini hendak dipahami sebagai “sesuatu yang dimiliki setiap pengada sejak lahir sebagai yang harus dihormati” atau dalam pengertian Kantian sebagai “sesuatu yang memiliki tujuan pada dirinya sendiri dan dengan demikian tidak bisa dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan lainnya”, maka kerja bermartabat seharusnya adalah kerja yang melaluinya manusia mencapai dirinya sendiri sebagai subjek. Di sinilah sebuah catatan penutup harus diberikan. Sejauh manakah kita yakin bahwa prinsip-prinsip kerja bermartabat sebagaimana dibahas dalam buku ini sungguh-sungguh membantu manusia (setiap pekerja) untuk menyadari bahwa dirinya adalah persona yang tidak bisa direduksikan sebagai alat? Atau, jangan-jangan prinsip-prinsip kerja bermartabat yang kita kampanyekan justru menjadi semacam perpanjangan tangan penguasa atau pemilik modal dalam menganeksasi kesadaran manusia untuk mereduksikan pekerjaannya sebagai tidak lebih dari pekerjaan tangan (labour), meskipun dia mengklaim diri sebagai profesional? Kasus yang dihadapi para banker muda sebagaimana diangkat di bagian pendahuluan tulisan ini seharusnya membantu kita untuk menjadi lebih kritis ketika mendiskusikan problem-problem moral dalam pekerjaan.[]

Daftar Pustaka

Jena, Yeremias. Marajut Hidup Bermakna. Narasi Filosofis Pencerah Kehidupan. Jakarta, Bidik-Phronesis: 2013.

Lopes, Linette. “Why High Finance Workers Commit Suicide?” Dalam: http://business.financialpost.com/2014/02/21/why-high-finance-workers-commit-suicide/). Akses: 10 Mei 2014.

McDonough, Megan. ‘Young Money: Inside the Hidden World of Wall Street’s Post-Crash Recruits’ by Kevin Roose. Dalam: http://www.washingtonpost.com/opinions/2014/03/21/f18ce204-9e71-11e3-9ba6-800d1192d08b_story.html) Akses: 10 Mei 2014

Roose, Kevin. The Woes of Wall Street: Why Young Bankers Are So Miserable. Dalam: http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/). Akses: 10 Mei 2014

Sihotang, Kasdin. Kerja Bermartabat. Kunci Meraih Sukses. Jakarta, Penerbit Universitas Atma Jaya: 2014.
Singer, Peter, The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology, New York, New American Library: 1981.

Tomlinson, Tom. Balancing Principles in Beauchamp and Childress. Dalam: http://www.bu.edu/wcp/Papers/Bioe/BioeToml.htm). Akses: 12 Mei 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s