Kekerasan Terhadap Tubuh dan Absennya Ruang Spiritual

Berita kriminalitas terus saja mengguncang kesadaran etis kita. Media massa mewartakan perilaku sadistik dan pembunuhan dengan motif-motif yang tampaknya sepele, seperti cemburu, sakit hati karena diejek, selain alasan klasik seperti perampokan dan pemerkosaan. Selain perempuan dan anak-anak menjadi korban, pelakunya pun terbilang anak-anak remaja. Lebih mengejutkan lagi, perilaku sadistik menyertai aksi kekerasan dan pembunuhan ketika korban “dihabisi” dengan cara ditusuk, dicekik, dianiaya, dan dibiarkan mati perlahan-lahan.

Kita pun bertanya, mengapa tubuh manusia begitu mudah dihabisi? Ada yang berpendapat bahwa beban ekonomi atau psikologis yang tidak tertahankan telah menjadi pemicu tindakan kekerasan. Kalau pun alasan-alasan ini benar, mengapa manusia tidak sanggup menahan perilaku brutal dan sadistiknya dan tega dan mengahabisi tubuh yang lain yang juga tidak berbeda dengan tubuhnya sendiri?
Matinya Ruang Spiritual

Gabriel Marcel (1889–1973), seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa zaman modern dengan seluruh watak teknis yang mementingkan efisiensi telah mengahancurkan dimensi dan ruang metafisika (spiritual) dari dalam kesadaran manusia. Padahal ruang ini penting agar seseorang bisa memahami dirinya dan orang lain, bukan semata-mata sebagai tubuh organik, tetapi sebagai diri dalam ketotalannya. Absennya ruang metafisika hanya akan mereduksikan tubuh menjadi semata-mata benda yang dapat diobjektifikasi demi kepentingan tertentu, termasuk menyiksa dan membunuhnya.

Hal ini juga digarisbawahi oleh Karol Wojtyla (1920–2005) ketika dia melihat bahwa peralihan ke abad dua puluh satu ditandai oleh lenyapnya dimensi metafisika ini. Padahal hanya di dalam dan melalui ruang inilah kita bisa memahami tidak hanya tubuh orang lain, tetapi juga tubuh kita. Hilangnya ruang metafisika mereduksikan tubuh hanya sebagai objek pemuas kebutuhan, objek rekayasa, dan sebagainya. Kita lupa bahwa pemberangusan ruang metafisik manusia berakibat pada hilangnya manusia sebagai pribadi yang bermartabat.

Tabiat modernitas dengan rasionalitas teknisnya menyulitkan dirinya untuk memelihara ruang metafisik dan spiritual manusia hanya karena dimensi-dimensi ini tidak bisa dikuantifikasi. Bagi modernitas, ruang metafisik dan spiritualitas tidak relevan karena tidak mampu membuktikan diri sebagai yang bermanfaat dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi, memperbesar laba, meraup keuntungan finansial, meraih kekuasaan dan semacamnya. Selain itu, pengakuan atas eksistensi ruang spiritual dan metafisik hanya akan membatasi berbagai rekayasa terhadap tubuh sebagai komoditas. Dalam perspektif Wojtyla, misalnya, mengatakan bahwa tubuh adalah persona yang bermartabat hanya akan berarti mencegah perlakuan sewenang-wenang terhadap tubuh. Padahal tubuh justru menjadi komoditas yang sangat menguntungkan, sebut saja untuk pelacuran, perdagangan anak dan perempuan, aborsi, dan semacamnya.

Padahal ruang metafisik, dimensi spiritual, atau oase rohani sangat dibutuhkan dalam seluruh proses menjadi manusia. Hanya dalam dimensi inilah tubuh – pada level individu – dapat memahami dirinya bukan sekadar “badan” tetapi sebagai “aku” dalam seluruh pengalaman hidupnya. Sementara itu, pada tataran relasional, ruang metafisik, selain mencegah seseorang mereduksikan tubuh yang lain sebagai objek, juga mampu membangkitkan rasa kagum, keterpesonaan, perhatian dan tanggung jawab, agar tubuh yang sedang menampakkan diri dalam relasi antarsesama itu tidak disakiti dan dibunuh.

Konsekuensi

Lalu, apa hubungan antara hilangnya dimensi metafisik dengan tindakan brutalisme, sadisme dan pembunuhan terhadap tubuh? Pertama, tubuh sesama tidak akan mungkin disakiti dan dibunuh jika ada perjumpaan antarindividu, terjadi saling menyapa dan terbangun relasi intersubjektivitas. Pelaku pembunuhan dan korban bisa jadi saling mengenal dan membangun relasi, tetapi relasi itu tidak pernah mencapai level “perjumpaan”. Setiap perjumpaan, demikian Emmanuel Levinas (1905–1995) adalah “momen penampakan” ketika orang lain memperlihatkan dirinya sebagai wajah yang mengundang tanggungjawab untuk dikasihi.

Kedua, setiap perjumpaan dengan sesama selalu menyisakan ruang misteri. Orang lain tidak pernah menampakkan dirinya dalam ketotalannya. Selalu ada “ruang yang tidak dikenal” dalam setiap relasi antarmanusia. Di situlah persisnya terjadi ketegangan pilihan etis dalam memperlakukan sesama. Mereka yang punya motif mengobjekkan sesama berusaha menempatkan sesama sebagai orang asing sebegitu rupa agar mudah diciderai dan dibunuh. Kalau pun relasi antarsesama pernah terbangun sampai pada level perjumpaan yang membangkitkan tanggungjawab, relasi itu dinegasikan atas nama “sakit hati”, “kecewa”, “cemburu”, dan semacamnya. Penyangkalan ini dimaksud hanya untuk memberangus ruang “asing” dalam diri orang lain agar tubuh yang lain menjadi benda yang mudah disakiti dan dibunuh. Dan tampaknya para pembunuh yang kejam dan brutal itu jatuh ke dalam pilihan semacam ini.

Di lain pihak, terdapat mereka yang teguh berprinsip, bahwa tubuh yang lain, seperti juga tubuhku, tidak pernah bisa dipahami secara menyeluruh. Pemahaman terhadap tubuh selalu menyisakan ruang misteri dan wilayah batas nalar yang membangkitkan kekaguman dan misteri. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mengalami godaan mereduksikan tubuh yang lain sebagai objek pemuas kebutuhan. Hanya saja mereka “memilih” untuk tidak mematikan ruang metafisik dan spiritual dari dalam dirinya.

Tidak mudah memelihara dimensi spiritual atau ruang metafisik sebagai bagian dari proses menjadi manusia persis ketika kita “terlempar” dalam dunia yang membangun logika objektifikasi, kuantifikasi, dan materialiasasi berbagai hal untuk kepentingan ekonomi. Dan ketika ada sebagian dari kita yang berusaha sekuat tenaga menahan diri dari godaan semacam ini, sebagian kecil lagi ternyata jatuh ke dalam godaan mengobjekkan, menyakiti, dan membunuh sesamanya.

Berhadapan dengan watak teknis modernitas yang keras kepala mempertahankan tendensi teknis dan objektifnya, kita perlu bekerja keras menyemai generasi yang mampu melampaui dikte modernitas, agar bisa sampai pada ruang perjumpaan dengan “yang lain” bukan sebagai objek yang harus dibunuh, tetapi sebagai “aku-yang-lain” yang harus dikasihi.[]

Penulis adalah dosen etika kedokteran dan staf PPE, Unika Atma Jaya Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s