TAJAMNYA PISAU GOSIP

Oleh Yeremias Jena
(Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jl. Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara. 14440)

Siapa yang tidak tahu gosip? Apakah kita sendiri pernah bergosip ria? Adakah sesuatu yang salah dari tindakan atau perilaku semacam itu? Bukankah gosip wajar dilakukan sejauh ia dipahami sebagai bagian dari status kita sebagai manusia?

Oxford Dictionary mendefinisikan gosip sebagai “casual or unconstrained conversation or reports about other people, typically involving details that are not confirmed as being true.” Per definisi, gosip menegaskan beberapa hal penting yang menandai karakter kita sebagai manusia: percakapan atau informasi yang tak-terbatas mengenai orang lain. Percakapan atau obrolan selalu mengenai hal-hal yang kebenarannya belum dikonfirmasi apakah benar atau salah. Hal penting lainnya yang perlu ditambahkan adalah bahwa obrolan atau percakapan itu terjadi tanpa kehadiran orang yang sedang menjadi subjek pembicaraan tersebut.

Gosip dapat dikaji dari berbagai perspektif. Ada kajian antropologis atau sosiologis yang menegaskan bahwa dalam arti tertentu, gosip dibutuhkan masyarakat sebagai pemersatu relasi sosial. Gosip dapat menjadi sarana edukasi ketika karakter tokoh-tokoh tertentu dikisahkan secara berlebihan sebegitu rupa untuk menimbulkan kekaguman dan imitasi. Sementara gosip mengenai kelemahan lawan dapat membangkitkan keberanian dan harga diri diri anggota komunitas dalam persaingan antarkomunitas.

Gosip juga dapat dimaknakan secara filosofis. Kajian etika sendiri – terutama dari perspektif deontologi – menegaskan bahwa tindakan menggosip orang lain sama saja dengan memperlakukan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan individu. Dalam arti itu, benarlah yang dikatakan Margareth Holland (“What’s Wrong with Telling the Truth? An Analysis of Gossip” dalam Americal Philosophy Quarterly, Vol. 33, No. 2, April 1996, hlm. 206), bahwa ada alasan moral untuk menghentikan atau tidak berpartisipasi dalam gosip ketika kita menyadari sepenuhnya “kaidah emas” yang memerintahkan kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Selain itu, gosip tetap bisa diposisikan sebagai tema refleksi fenomenologis-filosofis, misalnya dari sudut pandang obrolan dan kejatuhan manusia otentik dalam das Mann sebagaimana dikemukakan Martin Heidegger.

Tulisan ini mencoba meneropong gosip dari sudut pandang filsafat Kristiani. Karena tema tulisan ini begitu dekat dengan nilai-nilai Kristianitas, tulisan ini sebenarnya dapat juga dipahami sebagai semacam spiritualitas kritis atas nilai-nilai Kristianitas mengenai gosip itu sendiri. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis sangat berutang budi pada karya Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, II-II Q. 73,Art. 2.

Bahaya Kata-kata

Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?” Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”

“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan ….”

Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal mengenai kebaikan sahabat saya?”

Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”

Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.

“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).

Mengapa ketiga ketiga syarat sebagaimana dikemukakan Socrates itu harus dipenuhi ketika kita membicarakan orang lain tanpa kehadiran dirinya? Memenuhi ketiga tuntutan itu sama artinya dengan tidak melibatkan diri dalam setiap upaya gosip-menggosip. Apakah manusia memang harus mencegah dirinya memasuki situasi yang memungkinkan terjadinya gosip? Jika disebut sebagai bagian dari hakikat alamiah manusia, mengapa manusia harus mencegah dirinya menggosip sesamanya?

Kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata bagai pedang bermata dua. Dia bisa menginspirasi, membangkitkan dan mendorong perubahan dan pertumbuhan manusia. Tetapi dia juga bisa menghancurkan. Kata-kata bahkan lebih mematikan daripada pedang, terutama ketika itu diungkapkan sebagai fitnah.

Dalam artikel pertama dari pertanyaan 73 dalam Secunda Secundae, Thomas Aquinas mengatakan bahwa gosip itu fitnah (backbiting). Melibatkan diri dalam gosip atau mendengar gosip, dalam iman Katolik, dikategorikan sebagai dosa ringan (venial sin). Menanggalkan terlebih dahulu perdebatan seputar gosip dan dosa, Thomas Aquinas berusaha menunjukkan secara rasional, mengapa gosip yang adalah fitnah itu harus dihindari. Sebagaimana lazim dalam cara berfilsafat Thomistik, sang filsuf pertama-tama menolak pandangan umum yang menolak fitnah sebagai salah (dan dosa). Menurut Thomas Aquinas, mereka yang membela fitnah sebagai tindakan yang salah umumnya mendasarkan diri pada dua alasan utama. Pertama, jika fitnah – per definisi – adalah membicarakan keburukan dan merusak nama baik orang secara rahasia, ini tidak memenuhi syarat kerahasiaan, karena memfitnah seseorang pasti dilakukan di hadapan para pendengar. Dalam arti itu, tindakan memfitnah memiliki dimensi kepublikan sehingga bertentangan dengan definisi kata “fitnah” itu sendiri.

Kedua, sehubungan dengan fitnah sebagai upaya merusak dan menghancurkan reputasi atau nama baik seseorang, pengertian ini pun harus ditolak. Sesuatu disebut sebagai reputasi atau nama baik mengandaikan rekognisi dan akseptasi publik. Karena itu, usaha menghancurkan nama baik tidak bisa tidak dilakukan secara publik.

Thomas Aquinas berpendapat bahwa kedua posisi ini tidak bisa diterima. Mereka yang menolak gosip dan fitnah sebagai sesuatu yang buruk lupa bahwa merusak dan menghancurkan orang lain itu dapat terjadi dalam dua cara, yakni secara terbuka dan langsung (seperti tindakan seorang perampok yang merebut nama baik seseorang secara frontal) dan secara tidak langsung (seperti tindakan seorang pencuri yang tidak memberitahu terlebih dahulu kapan dia datang). Bagi Thomas Aquinas, gosip dan fitnah adalah upaya merusak nama dan harga diri seseorang yang disebarkan melalui kata-kata, diucapkan secara tertutup dan rahasia (tanpa kehadiran korban). Tindakan ini buruk pada dirinya sendiri karena intensi penggosip adalah merendahkan dan menghancurkan korbannya melalui upaya meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang dibicarakannya mengenai orang lain itu mengandung kebenaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai penggosip adalah menciptakan kesan dan opini yang buruk dari orang lain (pendengar) mengenai korban gosip.

Berbeda dengan tindakan merusak dan mengahancurkan orang lain secara terbuka (posisi yang dibela para pendukung gosip), gosip dan fitnah memiliki kadar moralitas yang jauh lebih buruk. Menyerang dan menghancurkan orang secara terbuka (Thomas Aquinas menyebutnya sebagai “mencaci maki” atau reviling), meskipun berpengaruh pada kehormatan (honor) seseorang, sang korban memiliki kesempatan untuk membela diri. Tidak demikian dengan menggosip dan memfitnah orang. Korban yang difitnah tidak hanya kehilangan harga dirinya (honor), tetapi juga nama baiknya (good name). Mengapa nama baik (good name) sangat ditonjolkan oleh Thomas Aquinas dalam refleksi filosofis dan teologisnya mengenai gosip dan fitnah? Bagi dia, memiliki nama baik jauh lebih berharga dari harta dan kekayaan apa pun; bahwa ketiadaan nama baik justru menyulitkan seseorang dalam melakukan banyak hal secara baik. Padahal, menjadi baik secara moral – mengikuti Aristoteles – adalah bertindak sebagai orang yang berkeutamaan dengan merealisasikan seluruh potensialitas diri. Menjadi orang yang tersakiti karena fitnah akan menghalangi seseorang dari merealisasikan seluruh potensialitas dirinya itu.
Lebih dari Sekadar Larangan

Di sinilah kita mengerti dengan baik maksud kata-kata Socrates dalam dialog di atas. Bahwa menggosip atau memfitnah seharusnya dihindari karena tidak mengandung kebenaran, tidak membawa kebaikan, dan tidak bermanfaat. Implikasi moralnya amat jelas: relasi antarsesama dan persahabatan seharusnya dibangun di atas kebenaran dalam arti saling menerima apa adanya. Bahwa setiap orang saling mengisi dalam kekurangan dan kelebihannya. Bahwa kebenaran dalam arti itu akan membawa kebaikan bagi kita, dan kebaikan itulah manfaat dari relasi itu sendiri.

Belajar dari Santo Thomas, kita harus mengatakan tidak untuk gosip dan fitnah. Tindakan semacam itu tidak hanya melawan cinta kasih, tetapi juga keadilan. Cinta kasih adalah dasar persahabatan Kristiani. Radikalitas cinta kasih Kristiani justru terletak pada kesediaan menerima dan mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Sementara keadilan adalah imperatif moral untuk memperlakukan orang lain sama seperti seseorang ingin diperlakukan.

Gosif dan fitnah ibarat pisau amat tajam yang siap menghancurkan relasi sosial kita. Maka membiarkan gosip dan fitnah tetap eksis sama saja dengan mengizinkan pedang teramat tajam itu mengiris dan mengancurkan persahabatan kita. Dan kita tidak mau seperti itu, bukan?[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s