Banalitas Korupsi

Ratusan mata wartawan dan jutaan pemirsa di tanah air membelalak. Rudi Rubiandini, mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berurai air mata sambil membela diri seusai sidang pengadilan tindak pidana korupsi, Selasa 7 Januari 2014. Ada dua poin inti pembelaan diri. Pertama, ia mengaku tidak bersalah. Kalau pun ada penyelewengan uang negara, itu dilakukan semata-mata karena kepentingan stakeholders, apa yang disebutnya sebagai “…ada kebutuhan logistik meminta sesuatu.” Kedua, pertahanan moral Rudi akhirnya “jebol” setelah selama lima bulan menahan diri untuk tidak menerima tawaran suap.

Pengakuan Rudi menegaskan bahwa tindakan korupsi yang dilakukannya, dalam pemahamannya, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku di institusinya. Dia menyebut itu sebagai “… saya melakukan semua dengan menggunakan tupoksi yang dilakukan teman-teman saya di SKK Migas.” Ada hal yang kontradiktif di sini. Di satu pihak Rudini mengatakan bahwa tindakannya bukan korupsi karena sudah sesuai dengan tupoksi yang berlaku. Tetapi di lain pihak, dia sebetulnya tahu bahwa tindakan itu salah. De facto dia sudah “berhasil” menahan diri selama lima bulan untuk tidak korupsi.

Pertanyaan publik lalu mengarah ke kenyataan yang kontradiktif ini. Jika tahu bahwa tindakan itu – termasuk tupoksi – salah, mengapa masih berani menerima suap? Mengapa seorang yang sangat terdidik seperti Rudi dengan pemahaman yang mantap tentang apa yang baik dan buruk secara moral, seakan-akan tunduk pada pendiktean sistem yang korup?
Kemalasan Berpikir

Pembelaan diri Rudi mengingatkan kita akan konsep Hannah Arendt mengenai banalitas kejahatan. Sebuah kejahatan dikatakan banal jika itu dianggap lazim oleh pelakunya. Disebut lazim pertama-tama karena dilakukan sesuai prosedur, hanya menjalankan ketentuan institusi, sudah menjadi kebijakan birokrasi, dan sebagainya. Dalam konteks itu, siapa pun juga orang baik yang masuk dalam institusi yang korup pasti melakukan kejahatan.

Karakteristik kejahatan yang banal bukan terletak pada motif tindakan melakukan kejahatan, misalnya memperkaya diri, memajukan institusi, mencapai kekuasaan, dan semacamnya. Juga bukan pada absennya kehendak (will) yang kuat dalam diri subjek berhadapan dengan godaan korupsi sebagaimana dipersepsi teologi tradisional. Motif-motif ini, dalam pemikiran Hannah Arendt, tidak dilihat sebagai alasan pembenar tindakan kejahatan, karena mereka mengandaikan pelaku kejahatan memiliki pertimbangan rasional – rasionalitas tindakan instrumental atau strategis – sebelum melakukan kejahatan. Kejahatan disebut banal atau lazim jika pelaku kejahatan malas berpikir sehingga tidak mampu mencapai level reflektif yang memampukan dia untuk selalu membedakan tindakan-tindakan yang benar secara moral dan melaksanakannya.

Kalau benar bahwa apa yang dilakukan Rudi bukan untuk memperkaya diri (menurut pengakuannya, dirinya dan keluarganya tidak miskin-miskin amat), dan bahwa pertahanan dirinya “jebol” setelah lima bulan, maka yang sebetulnya dialami sang profesor adalah penyerahan dirinya ke dalam logika kejahatan banal ketika pikiran rasional dan kritisnya berhasil dilumpuhkan institusi yang korup. Dua kondisi harus dipenuhi supaya seseorang bisa membebaskan diri dari sistem yang korup, yakni kesatuan antara kata (pikiran, rasionalitas) dan tindakan (aksi). Pikiran atau rasionalitas dibangun dalam apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita contemplativa. Apa yang dilakukan Rudi selama lima bulan mungkin bisa dikatakan sebagai tahap contemplatio ketika dia betul-betul bersikap kritis, mengambil jarak, dan sanggup mendeteksi kecurangan dan kebobrokan sistem. Tetapi itu tidak terjadi pada level tindakan atau apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita activa. Daya nalar kritis seakan-akan lumpuh di hadapan tindakan. Ada jurang yang sangat lebar antara apa yang diketahui sebagai benar dan tindakan itu sendiri.

Mengapa pikiran rasional dan kritis seakan tidak berdaya menghadapi “godaan” kejahatan? Kondisi seperti apakah yang dihadapi Rudi sehingga kejahatan korupsi itu menjadi semacam pesona yang terus memikat dan sulit dihindari, persis ketika seorang pemuda yang tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang wajah sang pujaan hatinya?

Institusi yang jahat dan korup biasanya didesain sebegitu rupa sehingga memiliki daya pelumpuh kesadaran etis, mirip birokrasi dan kekuasaan elit partai di zaman Nazi Jerman yang mampu melumpuhkan kesadaran kritis setiap pengikutnya. Ada semacam kekuatan pencuci otak yang dimiliki setiap birokrasi (yang korup). Caranya bisa macam-macam. Perubahan gaya hidup, misalnya mulai menyenangi olahraga golf, mengkoleksi mobil, rumah mewah, barang-barang antik, dan sebagainya dapat menjadi cara efektif yang digunakan sistem yang korup untuk melumpuhkan kesadaran kritis dan etis seseorang.Dalam pemikiran Hannah Arendt, yang disasar institusi yang korup adalah melumpuhkan apa yang disebut “the faculty of thinking” dari setiap pelaku tindakan. Dalam kasus Rudi, proses pelumpuhan itu terjadi selama kurang lebih lima bulan.

Akibatnya fatal bagi Rudi sendiri dan seluruh tindakan kejahatan yang banal lainnya. Tindakan yang dilakukan memang tampak sebagai bukan tindakan kejahatan tetapi hanya sebuah kelaziman persis ketika pelaku kejahatan telah kehilangan kesadaran moralnya. Dan untuk itu, Rudi harus membayar mahal. Bukan hanya kemandekan atau kegagalan seluruh cita-citanya membenahi sistem dan birokrasi di SKK Migas yang korup, tetapi juga kekalahan kaum intelektual di hadapan pesona kejahatan. Dan jika benar bahwa gaya dan kenyamanan hidup telah menjadi senjata utama sistem dan birokrasi yang korup dalam memasung kesadaran kritis kita, maka logika bahwa gaji yang tinggi sanggup membebaskan seseorang dari tindakan korup mungkin harus dipertimbangkan ulang.

Kebijaksanaan hidup tradisional yang diusung agama-agama mungkin saja benar. Hartamu boleh banyak dan berlimpah. Gajimu sebulan mungkin saja membuatmu bergelimang uang. Yang terpenting adalah apakah seseorang mampu membebaskan hatinya dari kepungan dan penguasaan kekayaan atau tidak. Kata orang bijak, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada”, dan itu berlaku bagi mereka yang pikiran kritis dan rasionalnya sudah dilumpuhkan oleh institusi yang korup.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s