Miss World, Budaya Timur, dan Milley Cyrus

Ajang Miss World yang sedang menuai kontroversi di Indonesia.
Ajang Miss World yang sedang menuai kontroversi di Indonesia.

Beberapa hari menjelang digelarnya ajang Miss World di Sentul dan Bali, FPI (dan MUI) berupaya keras untuk menggagalkan ajang yang menurut mereka hanya sekadar mengumbar kemolekan tubuh tersebut. Menyimak alasan yang mengemuka dan menyebar di berbagai media pemberitaan, penolakan itu didasarkan sekurang-kurangnya pada dua hal. Pertama, alasan budaya ketimuran. Kedua, alasan agama.

Tidak usah memperdebatkan alasan agama ketika referensinya jelas-jelas sebuah Kitab Suci yang oleh pemeluknya diyakini sebagai yang turun dari Allah sendiri. Tentu celah perdebatan tetap terbuka, terutama pada pertanyaan sejauh manakah perintah Ilahi memiliki efektivitas mengikat ketaatan para pemeluk agamanya? Sejauh mana pula kelompok yang mengatasnamakan pemimpin umat mampu “memaksakan” ketaatan umat kepada perintah atau ayat yang dirujuk sebagai inti moralitas pelarangan ajang Miss World tersebut. Sekali lagi, meskipun pertanyaan-pertanyaan ini menarik untuk didiskusikan, saya tidak akan mengangkatnya di sini.

Budaya Barat Vs “Budaya Timur”

Coba sekarang kita refleksikan argument pertama, bahwa ajang Miss World harus dibatalkan karena tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Pertanyaannya, apakah budaya ketimuran itu? Pada tataran akademik, lebih mudah mendefinisikan budaya Barat dibandingkan dengan budaya ketimuran.

Budaya Barat umumnya diidentikkan dengan peradaban Barat, gaya hidup Barat, atau peradaban Eropa. Terminologi ini digunakan untuk mengidentifikasi warisan norma sosial, norma-norma moral, tradisi, kebiasaan dan adat istiadat, sistem kepercayaan, sistem politik, artefak-artefak dan teknologi yang berkembang di Barat dalam rentang sejarah tertentu di seluruh Eropa darat. Budaya Barat, dengan demikian, ditandai oleh sistem budaya (seni, filsafat, sastra, hukum, tradisi, dan sebagainya) yang mereka wariskan dari suku-suku bangsa Celtik, Germanik, Helenistik, Yahudi, Slavik, Latin dan beberapa kelompok etnik dan bahasa lain di daratan itu. Bahwa budaya Barat berkembang pesat sejak abad ke-4 masehi, lalu mengalami pemercepatan selama zaman Abad Pertengahan dan Renaisans. Bahwa ada pengaruh budaya dari dunia Timur (Islam) bagi perkembangan budaya Barat, tentu ini sebuah fakta yang tak-terbantahkan(terutama sejak ekspansi Islam dalam penaklukan Semenanjung Iberia dan sekitarnya).

Hampir pasti, ketika orang kebanyakan berbicara mengenai budaya Barat, referensi mereka adalah nilai-nilai budaya tersebut. Jadi, apa nilai budaya Barat itu? Beberapa literatur mengatakan bahwa nilai budaya Barat melingkupi penghargaan yang tinggi atas kerja nalar (reason), individualisme, konsep mengenai kebahagiaan yang didapatkan secara sekuler, paham mengenai demokrasi, kapitalisme, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai-nilai ini dengan mudah dilihat dalam berbagai manifestasi budaya Barat, baik dalam bentuk kebudayaan material maupun non-material.

Dapatkah kita mendefinisikan budaya Timur dengan berangkat dari pemahaman mengenai budaya Barat? Beberapa konsep mungkin saja memadai, misalnya soal kebebasan dan individualisme. Tetapi apakah dengan begitu, kita mudah mengatakan bahwa budaya Timur menegasikan individualisme dan menyangkal kebebasan individu? Lebih sulit lagi mengatakan bahwa budaya Timur lebih mementingkan perasaan dan bukan nalar, atau budaya Timur anti kapitalisme. Barangkali satu-satunya identitas budaya yang cocok sebagai pembeda budaya Barat dan Timur adalah bahwa budaya Barat bersifat sekuler dan budaya Timur adalah religius. Tetapi lagi-lagi pembedaan semacam ini pun tidak tepat. Budaya Barat bukan sekuler tetapi memosisikan ranah kehidupan beragama sebagai wilayah privat dan ranah lainnya sebagai urusan publik. Tentu pemisahan ini memiliki alasan historisnya sendiri yang dapat dipahami.

Persis di sinilah kita mendefinisikan budaya Timur. Pertama, tidak ada sebuah kesatuan wilayah – katakan semacam sebuah Pan Asia – yang menunjukkan adanya ekspresi kebudayaan yang sifatnya monolitik. Kedua, mendefinisikan budaya Asia sebagai yang berbeda dari budaya Barat (definisi negatif) hanya akan merendahkan budaya Timur itu sendiri. Jika begitu, menurut saya, ketika orang berbicara mengenai budaya ketimuran (apalagi itu dibicarakan di Indonesia oleh FPI atau MUI), sudah hampir pasti itu adalah sebuah klaim religius atas budaya ketimuran. Dengan kata lain, di tangan FPI, MUI dan semacamnya, budaya ketimuran atau kebijaksanaan lokal tampaknya identik dengan budaya religius. Nah, jika pembacaan saya ini tidak keliru, maka sebetulnya menolak digelarnya Miss World di Indonesia lebih didasarkan pada satu alasan tunggal, yakni alasan keagamaan.

Milley Cyrus dan Kita

Ada satu fenomena yang menggoda untuk ditafsirkan. Hari-hari ini banyak sekali kaum muda di Barat (terutama di Amerika Serikat) yang memprotes penampilan Milley Cyrus yang menyanyi sambil (maaf) pantatnya digoyang-goyang mengarah ke arah (maaf) kemaluan Robin Thicke ketika mengisi acara MTV Video Music Awards, 25 Agustus 2013 yang lalu. Aksi nakal dan erotis pemeran Hannah Montana yang membawakan lagu “Blurred Lines” itu sontak mengundang reaksi dan kecaman publik. Mayoritas masyarakat – sebagaimana tampak dalam pemberitaan media – menyayangkan aksi artis muda dan idola kaum remaja itu (http://www.youtube.com/watch?v=PxOmRwILc1E).

Pertanyaannya, mengapa masyarakat Barat yang menurut kaca mata kita adalah sekuler dan bebas, toh tetap memiliki kesadaran moral dalam memilah-milah manakah tindakan yang baik dan manakah yang buruk dan harus dihindari?
Tentu mereka tidak sampai turun ke jalan, mengerahkan kelompok “penjaga moral” untuk merusak panggung tempat Milley Cyrus menyanyi atau memboikot acara hiburan. Di sinilah barangkali perbedaan mencolok antara budaya Barat dan budaya Timur (yang sebenarnya adalah budaya berdasarkan agama tertentu). Bahwa di Barat sana mereka menonjolkan fungsi nalar atau kerja rasio. Berbagai acara dapat ditampilkan di publik dan nalarlah yang memilah-milah manakah ekspresi budaya yang baik dan bermoral dan yang pantas dijadikan sebagai pegangan hidup dan manakah yang harus ditolak. Dalam bingkai cara berpikir semacam ini, orang Barat dapat mencapai kedewasaan dalam berbudaya ketika penyaringan (filterisasi) budaya tidak mereka wakilkan kepada orang atau kelompok lain di luar dirinya. Merekalah yang menjadi penyaring budaya bagi dirinya sendiri.

Barangkali inilah letak perbedaannya. Bahwa masyarakat kita, untuk selamanya tidak akan pernah bisa menjadi masyarakat yang dewasa dan mandiri dalam berbudaya persis ketika fungsi kritis nalarnya disandera oleh orang atau kelompok lain – yang belum tentu juga menggunakan nalar kritisnya. Lalu, ketika kita mengatasnamakan budaya Timur untuk menolak budaya Barat, yang kita lakukan adalah menolak berbagai ekspresi budaya Barat, bukan dengan sebuah alur berpikir yang rasional, tetapi dengan perasaan horor dan ketakutan bahwa budaya Barat tersebut dapat membawa kita ke neraka.

Saya lalu membayangkan seorang Tuhan yang ikut menonton acara Miss World sambil mengagumi karya ciptaan-Nya sendiri. Oh, betapa indahnya lekak-lekuk tubuh ciptaan-Ku, demikian kata Tuhan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s