Optimisme Panggilan Hidup Bakti

Sisters-of-Mary

Panggilan hidup dibaktikan (imam, biarawan dan biarawati) sedang mengalami penurunan secara global. Catatan Center for Applied Research dalam Bidang Pewartaan dari Georgetown University menunjukkan bahwa ketika jumlah umat Katolik mengalami peningkatan di seluruh dunia sekitar 68 persen selama tahun 1975-2010, jumlah imam mengalami peningkatan hanya 1,8 persen (www.therecord.com, 26 Juli 2013). Pertumbuhan jumlah imam yang minim ini hanya terkonsentrasi di kawasan Afrika dan Asia, sementara wilayah yang secara tradisi menjadi penyumbang terbesar jumlah imam seperti Eropa dan sekarang Amerika Latin justru mengalami penurunan. Gereja Katolik seakan menghadapi kebenaran Sabda yang mengatakan, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit” (Luk 10:2a).

Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut Penginjil Lukas, ”Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk 10:2b). Dalam arti itu, panggilan hidup dibaktikan memang harus dimintakan persis karena dia adalah anugerah.

Masalahnya, sejauh mana kita yakin bahwa doa meminta penuai akan dikabulkan? Memang kita tidak bisa memastikan rahasia dan penyelenggaraan Tuhan. Tetapi keadaan Gereja dewasa ini memberikan pengharapan akan bertumbuhnya panggilan hidup dibaktikan. Ini terlihat dari sebuah survei online mengenai panggilan hidup dibaktikan. Terhadap pertanyaan “seserius apa Anda mempertimbangkan hidup bakti sebagai panggilan hidupmu”, 38,9 persen dari 430 responden mengatakan bahwa mereka ”sangat serius” mempertimbangkan hidup bakti sebagai pilihan. Sementara 21,4 persen mengatakan ”serius”, diikuti oleh ”kadang-kadang serius” sebanyak 19,3 persen dan ”tidak serius sama sekali” sebanyak 3,3 persen. Menariknya, sebanyak 17,2 persen yang mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses pembinaan hidup dibaktikan (http://www.vocationnetwork.org/articles/show/240)

Jika survei ini dibaca lebih lanjut pada pertanyaan mengenai ”jenis hidup bakti seperti apa yang ingin dimasuki”, responden berturut-turut ingin menjadi ”suster” (47%), ”imam biarawan” (16,3%), ”bruder” (15,8%), ”romo diosesan (9,5%), ”institut sekuler” (6,0%), dan sisanya adalah ”pelayan awam” (5,3%). Yang menarik, alasan memilih hidup bakti adalah karena mau menjalani cara hidup apostolis dan pewartaan (31,4%) serta kehidupan yang kontemplatif ataupun kontemplatif aktif (30,9%).

Sadar bahwa mayoritas responden adalah orang Amerika Serikat atau yang mengerti Bahasa Inggris, statistik itu tidak bisa digeneralisir sebagai yang mewakili keadaan gereja semesta. Meskipun demikian, data-data ini memberi harapan baru, bahwa Tuhan sedang menjawab doa-doa umat-Nya yang meminta penuai bagi kebun anggur-Nya.

Potret sekilas mengenai optimisme ini sebenarnya juga dapat dibaca dari semangat yang dibawa Paus Fransiskus di World Youth Day di Brasil belum lama ini. Associated Press mewawancarai beberapa pemuda dari Chile, Meksiko, dan Brasil tentang alasan berpartisipasi dalam WYD, dan tanpa ragu-ragu mereka mengakui akan memilih panggilan hidup bakti. Ini tentu tidak terlepas dari sosok Paus Fransiskus yang dalam kesederhanaannya justru memancarkan hakikat panggilan hidup bakti, yakni untuk melayani dan bukan dilayani. Seruan-seruan Bapa Suci agar para imam dan uskup tidak hanya pandai berkotbah tetapi rajin turun ke tengah masyarakat memang menegaskan inti panggilan hidup dibaktikan sekaligus menjadi model. Bahwa di tengah dunia yang bergelimang harta dan kekayaan, masih ada sekelompok orang yang bersaksi akan otentisitas kehidupan, tentang kepedulian Tuhan pada yang miskin dan papa, keadilan Tuhan pada yang tertindas, pengampunan Tuhan pada yang keras hati, dan semacamnya.

Bahwa Gereja Katolik terus mengalami pertumbuhan, kita hanya bisa bersyukur atas karya agung ini. Di lain pihak, memang ada tren penurunan panggilan. Tugas segenap umat adalah menawarkan cara hidup bakti kepada putra dan putri kita sambil mendorong mereka untuk memasukinya. Doa meminta ”penuai” menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan panggilan hidup bakti. Sementara itu, tren peningkatan jumlah orang muda yang memilih panggilan hidup bakti harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Dua usul konkret dapat dikemukakan di sini. Pertama, pada level mereka yang sedang menjalani hidup bakti, teladan hidup menjadi elemen esensial untuk menarik minat kaum muda. Kaum muda tidak mencari kekayaan materi ketika memilih hidup bakti, karena mereka bisa dapatkan di dunia. Itu artinya gereja atau biara yang kaya secara materi sebenarnya gagal menjadi model bagi hidup yang lepas bebas dan yang tergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi. Aspek ini juga sangat ditekankan Paus Fransiskus dalam tatap muka dengan para seminaris dan biarawan di Aula Santo Paulus di Vatican dalam Pekan Panggilan, tanggal 6 Juli 2013 yang lalu, bahwa kebahagiaan hidup bakti tidak terletak pada kepemilikan atas materi, tetapi pada kedalaman hubungan dengan Tuhan dan kesaksian akan kedalaman relasi itu (https://www.youtube.com/watch?v=0JZuSyS-z3A).

Kedua, pada level umat beriman, apa yang dikritik Paus Fransiskus dalam tatap muka dengan para seminaris dan biarawan/wati itu menarik untuk diperhatikan. Sri Paus berbicara mengenai kultur kenyamanan (cultura di provisorio) yang menghambat pertumbuhan panggilan hidup bakti. Yang bisa kita lakukan pada level umat adalah merancang dan menjalankan kehidupan dalam semangat kemurahan hati (generosita) sehingga seluruh materi yang kita miliki tidak menghalangi kita untuk bersikap lepas bebas terhadapnya. Kesukaan memberi dan kegemaran membantu orang lain yang kita tularkan kepada anak-anak kita dapat menjadi cara kita menanamkan benih panggilan hidup bakti ke dalam diri putra dan putri kita.[]

2 pemikiran pada “Optimisme Panggilan Hidup Bakti

  1. Tuhan Yesus, Engkau tahu betapa besar keinginanku untuk mencintai-Mu. Engkau juga memahami persoalan-persoalanku. Jika Engkau ingin agar aku menjadi rasul-Mu, sebagai seorang suster, Engkau hendaknya memungkinkan aku untuk mengikuti-Mu dalam panggilan ini. Aku tidak memohon agar selalu bebas dari persoalan-persoalan, tetapi jika Engkau tidak memberikan harapan kepadaku, dari mana aku dapat memperolehnya? Karena itu, ya Yesus, yang sungguh aku cintai, semuanya aku serahkan kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s