Gereja Katolik Berperan dalam Lepasnya Timor Leste dari Indonesia?

belo2
Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo SDB.

Pertanyaan seputar sejauh mana peran Gereja Katolik dalam perjuangan rakyat Timor Leste memerdekakan dirinya lepas dari Indonesia selalu menarik untuk ditanyakan. Sejauh pengetahuan saya, tidak ada semacam kata sepakat final seperti apakah peran Gereja Katolik. Secara doktriner, Gereja Katolik memang tidak masuk dalam politik praktis, tetapi tentu memiliki pandangan atau lobi-lobi yang bisa memengaruhi suatu keputusan politik. Dan ini tentu wajar dalam setiap proses politik di mana pun.

Kembali ke pertanyaan di atas: Sejauh mana Gereja Katolik Timor Leste yang waktu itu di bawah kendali Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB berpengaruh atau mempengaruhi keberlangsungan perjuangan dan semangat pantang menyerah dari para pejuang Timor Leste untuk melepaskan diri dari kekuasaan Indonesia? Saya sendiri berpendapat bahwa pengaruh itu ada, dan saya merasakan itu ketika masih bekerja di Timor Leste selama 4 tahun selaku seminaris (waktu itu). [Saya datang ke Timor Leste tahun 1989, menempuh pendidikan Seminari Menengah sampai 1991, lalu kembali lagi ke negeri ini dan bekerja sebagai tenaga pastoral tahun 1994-1996]. Tetapi sejauh mana pengaruh itu, saya sendiri tidak bisa memastikannya sampai saya membaca tulisan berikut dari sebuah blog berbahasa Tetum (Bahasa Timor Leste).

Surat berikut ditulis oleh Uskup Belo, mengenang 25 Tahun pertemuan para pimpinan Gereja Katolik dengan para pejuang Fretelin. Saya mau menerjemahkan tulisan ini dengan alasan historis, semoga sebagian kecil pertanyaan yang diajukan di atas bisa terjawab.

Kolese Fatumaca di Baucau, Timor Leste.
Kolese Fatumaca di Baucau, Timor Leste.

Terjemahan Surat Mgr. Belo

Hari ini 25 April 2011. Bangsa Portugal memperingati hari Kemerdekaan bagi Bangsa Portugal. Dua puluh lima tahun lalu, Timor Leste (Lorosae) masih diokupasi oleh para tentara Indonesia. Di tahun 1986, tanggal 25 April, di Kolese Banewaga (Kolese Fatumaca), ada sebuah pertemuan antara kami dengan Komandan Falintil bernama Kay Rala Xanana Gusmão.

Menuruti nasihat Nunsius Apostolik [perwakilan atau duta besar Vatican di sebuah negara], yang waktu itu bernama Mgr. Fransisco Canalini, kami mengirim sebuah surat ke Komandan Falintil di hutan, melalui perantaraan Pastor Eligio Locatelli. Dalam surat itu kami nyatakan supaya jika bisa maka kami bisa melakukan pertemuan dengan Komandan Falintil, Kay Rala Xanana Gusmão. Setelah mendapatkan jawaban positif, kami bersama Pastor Jose Antonio da Costa selaku Sekretaris dan Dewan Keuskupan Dili, berangkatlah kami ke Baucau, supaya di malam ini juga bisa bertemu dan berbicara dengan Kay Rala Xanana Gusmão.

Kami tiba di Kolese Fatumaca (sekitar 17 km dari Kota Baucau) pukul 6 sore. Di malam hari, jam 8:00, setelah mengadakan doa malam bersama dengan para siswa kolese [maksudnya para siswa yang tinggal di asrama], kami berdua Pastor Jose, beranjak ke kamar tidurnya masing-masing. Para siswa juga pergi tidur ke bangsal mereka. Setelah jenset dimatikan (mesin pembangkit listrik), Pastor Locatelli menunggu di halaman depan, menemani Pastor Baltazar berkeliling. Mendekati pukul 11:00 malam, Pastor Locatelli mengetuk pintu kamar kami (Mgr. Belo dan Pastor Jose), memberitahukan bahwa Komandan Falintil segera akan tiba.

Pastor Jose dan saya berjalan menuju “ruang tamu” sambil menunggu kedatangan Komandan. Di ruang tamu itu kami membakar lilin sambil menunggu “tamu”. Tidak lama berselang, datang dari arah kebun, ada seseorang tiba-tiba muncul. Mengenakan pakaian kamuflase (penyamaran), mengenakan sepatu dan menutup seluruh tubuhnya. Pastor Locatelli membawa “tamu” itu ke dalam ke ruang tamu. Setelah masuk ke ruang tamu itu, kami pun menyalami tamu itu dan kami saling bersalaman dengan hanya berjabatan tangan. Tetapi Komandan dan Pastor Jose justru saling memeluk erat-erat. Pastor Locatelli berdiri berjaga-jaga di halaman depan.

Setelah duduk, saya lalu menyampaikan bahwa kami sangat bergembira karena bisa bertemu dengan Komandan. Kami juga menyampaikan salam dari Nunsius Apostolik. Setelah itu, kami menyampaikan beberapa pandangan kami berikut:

  1. Nunsio meminta untuk disampaikan ke Komandan, bahwa jika ada anak buah Komandan atau para gerilyawan lainnya yang ingin kabur ke luar negeri, Gereja Katolik bisa menjadi penengah untuk membantu hal ini [sepertinya maksudnya jika ada pejuang atau gerilyawan yang mau mencari suaka politik].
  2. Kami tidak datang untuk meminta agar Komandan dan pasukannya menyerah, tetapi jika bisa, meminta agar sebaiknya ada perubahan strategi pertahanan dan perlawanan. Kami berpendapat: dengan kekuatan militer kalian tidak akan menang; jika bisa, mulailah dengan model perlawanan baru, yakni perlawanan dengan cara diplomasi.
  3. Kami juga meminta kepada Komandan supaya pasukannya tidak boleh membakar rumah dan harta benda masyarakat.

Komandan [Kay Rala Xanana Gusmão] duduk terdiam cukup lama sambil berpikir. Setelah itu dia angkat bicara sambil menjelaskan filosofi dari “perlawanan dan pertahanan”. Setelah menjelaskan hal itu, Komandan pun berkata, “Kami para pejuang tidak akan lari ke luar negeri; di sini adalah Tanah Air kami, tidak masalah jika kami mati atau musnah, kami tidak akan menyerah atau lari ke negara lain. Kami siap untuk mati berdiri sama seperti Pohon-hidup.”

Mendekati tengah malam, kami akhirnya berpisah [tamu kembali ke hutan]. Pastor Locatelli menemani Komandan Kay Rala Xanana Gusmão kembali melalu kebun dan semak dan segera kembali lagi ke hutan. Kami pun kembali ke kamar tidur kami masing-masing.

Pagi-pagi buta kami kembali lagi ke Dili. Sementara itu, di Kolese Fatumaca, tidak ada seseorang pun yang mendengar tentang adanya pertemuan yang terjadi pada malam itu. Para tentara yang ada di Baucau pun tidak tahu sama sekali adanya pertemuan malam itu.

Seminggu kemudian, Pastor Locatelli datang ke Lecidere [tempat tinggal Uskup Belo di Dilli], memberitahu bahwa ada seorang pekerja kebun di Fatumaca yang memberitahukan memberitahukan kecurigaannya kepada para pastor dengan kata-kata seperti ini: “Tadi pagi kami melihat ada bekas kaki di kebun; tadi malam kami melihat ada orang yang mengenakan pakaian penutup wajah, mungkin orang itu lewat di kebun ini…..”

Inilah pertemuan yang kami lakukan bersama Komandan Kay Rala Xanana Gusmão, 25 tahun yang lau di mana kami bertemu dengan Komandan Kay Rala Xanana Gusmão.

Porto, 25 April 2011

Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo

Sumber: http://forum-haksesuk.blogspot.co.uk/2011/04/tinan-25-liu-ba-loron-25-fulan-abril.html?m=0

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s