Sopan-Santun Mahasiswa dalam Berpakaian

College-Classroom
Keadaan mahasiswa di sebuah kelas.

Seorang rekan dosen belum lama bercerita. Dia “terpaksa” menegur dengan keras bahkan mengeluarkan seorang mahasiswa dari kelas karena berpakaian kurang sopan. Saya pun penasaran dan bertanya, “Pakaian yang kurang sopan yang bagaimana?” Rekan dosen yang adalah seorang perempuan itu menjawab, katanya, “Mahasiswi itu mengenakan celana jeans yang ketat, baju kaus dengan pusar kelihatan. Meskipun di luarnya ada jaket, tetap saja pusarnya kelihatan.”

Sikap dan tindakan sang dosen ini tentu menarik dan pantas dicontoh. Pertama-tama karena dia seorang perempuan dan memiliki kepekaan, bahwa para mahasiswi yang berpakaian kurang sopan dapat mencitrakan harga diri perempuan pada umumnya. Selain itu, pada level mahasiswa, selalu berpakaian sopan dapat menjadi semacam latihan dan pembiasaan, agar kelak di kemudian hari mereka tetap malakukan hal yang sama. Alasan lainnya, seharusnya para mahasiswi bisa membedakan situasi di mana mereka berada dan jenis pakaian apa yang seharusnya dikenakan.

Diam-diam saya bertanya, “Apakah para dosen yang cowok juga akan berani bertindak seperti ibu dosen itu, menegur bahkan tidak mengizinkan seorang mahasiswi mengikuti kelasnya jika berpakaian kurang sopan?” Sebagai dosen (laki-laki), seingat saya, belum pernah saya mengeluarkan mahasiswi dari kelas karena berpakaian kurang sopan. Kalau tidak mengizinkan mahasiswi mengikuti kuliah karena terlambat masuk kelas itu sudah sering aku lakukan. Jika begitu, apakah tidak pernah ada mahasiswi yang berpakaian kurang sopan di kelas saya? Tentu ada. Cukup banyak mahasiswi yang berpakaian kurang sopan di kelas, umumnya mengenakan rok yang terlalu pendek sehingga kalau duduk, mereka kesulitan menutup aurat.

Apa Kriterianya?

Jika begitu keadaannya, apakah mereka harus dikeluarkan dari kelas? Pertanyaan ini kelihatannya sepeleh, tetapi sebenarnya mengandung implikasi moral yang serius. Apa alasan pembenar (justifikasi) bagi seorang dosen ketika mengusir mahasiswi dari kelas karena berpakaian kurang sopan? Ada yang bisa menjawab, bahwa itu tergantung pada peraturan. Apakah di kampus itu ada peraturan atau tidak yang mengatur mengenai sopan-santun berpakaian? Di kampus saya atau di kampus lain yang juga saya mengajar, memang tidak ada peraturan yang terlalu detail, yang mengatur bagaimana seorang mahasiswi seharusnya berpakaian. Misalnya, seperti apa pakaian mahasiswi dan mahasiswa, sependek apa roknya, seketat apa celananya, dan sebagainya. Jadi, soal sopan santun dalam berpakaian agaknya harus dibuat lebih rinci lagi.

Meskipun demikian, ada juga orang yang berpendapat bahwa kampus atau perguruan tinggi seharusnya memiliki semacam aturan berpakaian yang sopan. Coba kita simak salah satu tulisan di blog ini. Dengan alasan bahwa etika etika adalah “adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik, dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk”,  penulis blog ini berpendapat bahwa harus ada regulasi yang ketat dalam cara mahasiswa dan mahasiswa berpakaian. Demikianlah, dia mengusulkan aturan yang terkait dengan sopan santun berpakaian, katanya: Berpakaian yang rapi dan sopan. Jika di dalam kelas, kita harus memakai baju berkerah, memakai celana panjang dan memakai sepatu. “ (Baca: http://giriayoga.com/2012/04/20/etika-mahasiswa-di-dalam-kelas-didalam-kampus-dan-diluar-kampus/).

Menarik juga memperhatikan Kode Etik Mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (http://geo.ugm.ac.id/kemahasiswaan/kode-etik-mahasiswa-fakultas-geografi/). Di bagian keempat dari kode etik itu tercantum aturan yang cukup rigid mengenai penampilan dan tata berpakaian mahasiswa. Di situ antara lain dikatakan bahwa Dalam melaksanakan kegiatan di kampus mahasiswa diwajibkan memenuhi etika dan norma umum serta menjalankan etika dan norma khusus yang berlaku di Fakultas. 1.Memegang teguh sopan santun dalam bergaul dengan dosen, karyawan/tenaga kependidikan, dan sesama mahasiswa. 2.Berbusana rapi dan sopan: (a) memakai pakaian yang rapi, bersepatu; (b) tidak memakai baju/kaos tanpa lengan dan atau krah; (c) tidak berpakaian ketat dan rok mini bagi mahasiswa perempuan; (d) tidak berpakaian dengan menggunakan bahan yang tembus pandang/transparan; (e) tidak menutupi sebagian besar muka/wajah.

Memang aturan atau kode etik penampilan mahasiswa fakultas geografi UGM tampak lebih rigid, karena sudah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan pakaian yang sopan dan tidak sopan. Dalam arti itu, tindakan yang diambil oleh rekan dosenku itu dapat dipahami, bahwa ada rujukan peraturan yang bisa digunakan sebagai patokan.Tetapi apakah dengan meregulasikannya, masalahnya berhenti sampai di situ?

Dua Pertanyaan Filosofis

Saya sendiri hanya bisa mengajukan beberapa pertanyaan reflektif-filosofis untuk kita renungan bersama. Pertama, bukankah sopan-santun itu tidak bisa ditentukan secara rigid? Siapa yang harus mendefinisikan mana yang sopan dan mana yang tidak sopan? Jangan-jangan kita berangkat dari nilai yang terlalu patriarkal mengenai kesopanan. Para penganut utilitarisme akan mengatakan bahwa sejauh itu tidak menimbulkan kecabulan dan tidak merugikan orang lain, maka tidak bisa diregulasi. Dalam arti itu, pertanyaan lainnya adalah apakah ketidaksopanan berpakaian sungguh-sungguh merugikan kepentingan mahasiswa lain di dalam kelas itu atau tidak? Bagi kaum utilitaristik, kerugian itu harus dapat terukur, jadi bukan sekadar perasaan dirugikan atau tidak dirugikan.

Kedua, sejauh mana kami para dosen menyesuaikan diri dengan nilai dan norma yang sedang berubah di masyarakat? Tentu tidak harus mengizinkan para mahasiswi menggunakan hot pants di kelas, tetapi apakah pakaian yang “tidak terlalu pendek”, yang memang akan menampakkan pusar atau bagian belakang seseorang hanya ketika dia menunduk, apakah itu harus dikategorikan sebagai tidak sopan? Tentu saya tidak bermaksud mengatakan bahwa nilai dan norma “baru” yang sedang diadopsi mahasiswa itu semuanya baik. Sikap selektif tetap dibutuhkan. Yang harus kita lakukan mungkin mendialogkannya dengan para mahasiswa, dan itu penting untuk mengikutsertakan mereka sebagai pihak yang opininya pantas didengarkan. Ini tentu berbeda dengan larangan merokok atau menggunakan narkoba di kampus, hal yang jelas-jelas merugikan lingkungan kampus dan mahasiswa secara keseluruhan dan segi kerentanan keterjangkitan penyakit.

Sebagai masukan saja, memiliki peraturan yang detail dan rigid mengenai cara mahasiswa dan mahasiswi berpakaian itu bagus. Akan lebih bagus lagi jika ada kesepahaman di antara para mahasiswa dan pengelola kampus bahwa regulasi semacam ini tohk baik dan menguntungkan semua pihak. Dalam arti itu, dialog kedua belah pihak sangat dibutuhkan.[]

2 thoughts on “Sopan-Santun Mahasiswa dalam Berpakaian

  1. evadanuharta Agustus 19, 2013 / 9:26 am

    Terimakasih Anda sudah menyusun tt etika mahasiswa. kebetulan saya diminta memberikan ceramah tentang grooming mahasiswa. artikel anda saya ambil sebagai penambahan. semoga Anda akan menyusun artikel lain tentang mahasiswa ataupun tentang wanita karier.

    • Jeremias Jena Agustus 26, 2013 / 3:52 pm

      Hi Miss Eva,
      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Saya senang bahwa tulisanku ada yang bermanfaat. Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s