Ketika Kita Dikuasai Candu

The_Fix_(Damian_Thompson)_-_Cover
Buku teranyar The Fix, karya Damian Thompson.

Mendengar kata “adiksi”, apa yang terlintas dalam benak kita? Spontan kita mengatakan bahwa itu artinya “kecanduan”. Jika begitu, kita langsung menghubungkannya dengan kecanduan alkohol, narkoba dan jenis obat-obatan lainnya. Lalu kecanduan apa lagi? Sebenarnya ada 2 konsep mengenai kecanduan, yakni konsep lama dan konsep baru. Kecanduan dalam konsep lama meliputi berbagai jenis kecanduan seperti minuman alkohol, minuman bersoda, judi, narkoba dan jenis-jenis obat lainnya. Konsep baru meliputi kecanduan makanan-makanan “sugared” dan “junk”, tetapi juga pornografi internet atau bahkan kebiasaan ritual selalu mengecek iPhone, facebook, twitter dan media sosial lainnya.

Damian Thomson, seorang kolumnis Daily Telegraph di London belum lama ini menerbitkan sebuah buku yang sangat menarik, berjudul The Fix. Sebagaimana tampak dari anak judul, yakni How Addiction is Invading Our Lives, buku ini menjelaskan secara meyakinkan bagaimana berbagai candu masuk, merasuki dan menguasai hidup kita. Tesis yang diusung buku ini sebetulnya sangat sederhana. Thomson berargumenati, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang dikuasai oleh candu, entah dalam bentuknya yang lama maupun baru. Dan itu terjadi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Menarik bahwa Thompson memahami “kecanduan” sebagai “penggantian yang terus-menerus dan bersifat progresis benda atau barang atas manusia”. Dua makna dasar terungkap di sini, yakni bahwa benda, barang atau alat dalam kurun 40 tahun terakhir ini telah mengganti peran dan/atau kedudukan manusia. Juga bahwa pergantian peran itu terjadi secara terus-menerus dan progresif. Artinya, berkembang terus ke depan. Apakah kita setuju dengan definisi semacam ini? Mereka yang setuju akan mengatakan bahwa memang benar bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sulit sekali mengendalikan dirinya. Bahwa manusia semakin menemukan dirinya dalam kultur tanpa kehadiran agama atau orangtua yang terus mengingatkan untuk berperilaku baik. Ini terutama nampak jelas dari bagaimana kita kecanduan teknologi sosial media, ketika kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam chatting, surfing, updating, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka yang tidak setuju langsung mengatakan bahwa definisi itu terlalu luas. Bahwa dengan definisi itu kita praktis bisa memasukkan semua hal yang kita senangi sebagai kecanduan.

Thompson1
Damian Thompson dan daftar karya-karyanya.

Terlepas dari perdebatan mengenai definisi atau tesis yang diangkat buku ini, ada hal positif yang bisa kita pelajari. Thompson menghembuskan sebuah harapan, bahwa kecanduan yang dia maksudkan dalam buku ini bukan suatu penyakit. Dengan kata lain, kecanduan-kecanduan, baik dalam bentuk lama maupun baru, tentu bisa diatasi. Tetapi kita tahu, masalahnya tidak semudah itu, bukan? Jika saya kecanduan alkohol, judi, atau pornografi, upaya untuk membebaskan diri dari jenis kecanduan ini pasti berbeda dengan mereka yang kecanduan “junk food” atau minuman bersoda. Thompson sendiri tentu sangat sadar.

Karena itu, dia mengatakan bahwa memang di antara kita ada yang sangat rentan (more vulnerable), dalam arti lebih mudah menjadi “korban” dari benda-benda yang menyebabkan kecanduan tersebut. Tetapi ada juga kita yang lebih kuat menghadapinya. Yang penting, menurut Thompson, kita berusaha untuk terbuka dan mengakui, apakah kita adalah tipe orang yang lebih rentan atau lebih kuat. Dia menggunakan contoh mereka yang kecanduan alkohol. Daripada menyalahkan masa lalunya atau menyalahkan orangtuanya karena mewariskan kepadanya DNA kecanduan alkohol, para pecandu alkohol sebetulnya bisa membuka diri kepada komunitas tertentu yang memang secara sukarela bekerja untuk menyelamatkan para pecandu alkohol. Hanya dengan cara inilah seseorang bisa menyelamatkan diri dari alkohol. Demikian pula dengan jenis kecanduan lainnya. Masalah di Indonesia tentu lebih rumit. Kita belum memiliki banyak jaringan sosial yang bisa membantu orang-orang yang kecanduan. Dalam arti itu, para pecandu di Indonesia lebih rentan.

Sebagai seorang wartawan, Thompson menulis buku ini sebagai refleksi atas pengaamannya menemukan banyak sekali kasus orang kecanduan. Dia bahkan menarasikan kisah beberapa sahabatnya, sama seperti dirinya, yang kecanduan alkohol. Bahkan salah seorang temannya mengakhiri hidupnya secara tragis dengan cara bunuh diri karena merasa bahwa orang-orang di sekitar tidak mau membantu dia keluar dari kecanduan itu.

Thompson mengingatkan kita bahwa teknologi modern berpotensi membuat kita kecanduan (ingat definisi kecanduan yang dia kemukakan di atas). Dia memberi contoh, orang ribut soal obat-obat legal dan tidak legal, bahwa yang tidak legal harus dimusnahkan. Tetapi orang lupa bahwa obat-obatan semacam itu sangat mudah dijumpai di sekitar kita.  Karena itu, perdebatan dan distingsi semacam itu tidak relevan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling membantu untuk menciptakan semacam pertahanan dalam diri kita untuk bisa menghadapi masalah-masalah ini.

Barangkali ini menjadi alasan mengapa bab terakhir dari buku ini diberi judul “Bebaskan kami dari segala godaan”. Judul bab ini sama dengan doa Bapa Kami dari tradisi Kristen, yakni “Janganlah masukan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat”. Dalam arti ini mencoba menebak pikiran Thompson yang seolah-olah mengatakan, bahwa pemerintahan yang konstitusional dan demokratis di seluruh dunia ternyata tidak berhasil melindungi warga negaranya dari berbagai macam kecanduan. Daripada mengharapkan perlindungan pemerintah, baik juga kalau kita berusaha menciptakan pertahanan dalam diri kita masing-masing, sambil berdoa semoga Tuhan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi segala yang jahat di muka bumi ini. Tentu ini bukan sebuah keputusasaan, tetapi sikap yang dewasa, bahwa pertolongan Tuhan memang dibutuhkan bagi kita manusia yang lemah dan rapuh ini.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s