MENYOAL POLITIK CERDAS SBY

Jargon-jargon “politik yang cerdas” atau “politik yang santun” menjadi populer berkat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Belakangan politik yang cerdas dan santun kembali ditegaskan SBY, misalnya dalam perayaan Cap Go Meh di arena Pekan Raya Jakarta (25/2/2013) ketika SBY mengatakan, “Kita harus mengedepankan politik yang cerdas, mendidik, politik yang tidak boleh hadirkan kekerasan.” Dan di hadapan para elit politik, SBY menegaskan bahwa siapapun boleh bersaing, tetapi harus secara sehat, cerdas, santun dan demokratis (SP 23/3/2013).

Apa makna politik yang cerdas? Apakah itu juga berarti politik yang etis?

Politik demi Kesejahteraan Rakyat

Bagi SBY, politik yang cerdas memang dibutuhkan menghadapi pemilu 2014. Pemilu presiden dan anggota dewan yang menyita waktu, dana, dan perhatian bisa membuat orang lupa tugas mensejahterakan masyarakat. SBY tampak menegaskan bahwa hingar-bingar politik yang mulai terasa sekarang tidak boleh mengendorkan semangat kita dalam mensejahterakan masyarakat. SBY pernah mengatakan, “Meski ini tahun politik, mari kita utamakan pereknomian, menjaga kebersamaan, dan menumbuhkan pereknomian. Kita harus jaga keamanan dan stabilitasnya.”

Dalam arti itu, politik cerdas cara SBY adalah politik yang memajukan perekonomian, politik yang demokratis, menghormati dan menjunjung tinggi pluralitas, menjaga keamanan dan ketertiban, serta yang mendidik.

Apa makna sesungguhnya dari “kecerdasan politik” dan terutama kata “cerdas” itu sendiri? Bukankah manipulasi atau menggunakan orang lain sebagai alat demi tujuan tertentu juga disebut cerdas? Apakah kecerdasan terbatas pada kemampuan seseorang memaksimalkan fungsi nalarnya untuk mencapai sesuatu? Dihubungkan dengan politik, bukankah maksimalisasi fungsi nalar bermakna peyoratif ketika kecerdasan dipandang sebagai upaya memanipulasi orang dan/atau kesadaran publik demi kekuasaan tertentu? Daripada pusing menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada pendapat yang mengatakan bahwa kata “cerdas” tidak punya muatan etis. Kitalah yang memberi muatan etis ke dalam “kecerdasan” dan “politik yang cerdas”. Apakah memang benar demikian?

Tiga Kewajiban Moral

Biasaya orang melibatkan tiga nalar dalam setiap komunikasi manusia, yakni nalar kognitif-instrumental, nalar moral-praktis, dan nalar estetik-ekspresif. Nalar kognitif-instrumental dipraktikkan dalam wilayah ilmu pengetahuan dengan eksperimentasi dan konstruksi teori sebagai karakter utamanya. Jenis nalar ini mengutamakan kemampuan prediksi dan kontrol dengan dukungan data dan kerja ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jenis nalar moral-praktis menjadi penanda utama komunikasi politik. Artinya, komunikasi politik tidak bisa melepaskan diri dari nalar yang bersifat praktis dan etis. “Praktis” karena ada keputusan politik yang diambil dan siap diaplikasikan demi kemaslahatan masyarakat. Dan “etis” karena keputusan politik yang praktis itu diambil dalam koridor etika politik yang menghormati martabat manusia. Jenis nalar estetik-ekspresif umumnya muncul dalam karya seni dan literatur.

Bagaimana dengan politik cerdas cara SBY? Seperti apakah nalar moral-praktis dari politik cerdas dan santun SBY? Tampaknya SBY mau menonjolkan jenis komunikasi politik yang praktis dan etis. Itu artinya netralitas kata “cerdas” sebagaimana dibayangkan sebagian orang tidak bisa diterima, apalagi ketika itu dihubungkan dengan praktik politik yang hakikatnya adalah demi kesejahteraan rakyat.

Jika tafsir atas politik cerdas cara SBY ini benar adanya, dua kesimpulan bisa ditarik. Pertama, politik yang cerdas sebagai politik yang praktis mau menegaskan bahwa praktik politik tidak boleh melupakan tujuan utamanya, yakni mensejahterakan masyarakat. Apa pun kegiatan yang dilakukan, kita tidak boleh melupakan tujuan utama politik ini. Bahwa kemudian harus ada keadaan yang aman dan kondusif serta penghormatan kepada keragaman sosial dan budaya, itu hanyalah kondisi yang dibutuhkan demi mewujudkan politik yang praktis tersebut.

         Kedua, komunikasi dan praktik politik seharusnya adalah politik yang etis. Bahwa politik dijalankan semata-mata demi mensejahterakan masyarakat, dan itu harus dilaksanakan bukan dengan mengeksploitasi atau menjadikan mereka sebagai alat kekuasaan, tetapi sebagai tujuan bagi dirinya. Dengan kata lain, praktik politik yang cerdas hanya bisa disebut etis jika masyarakat tidak dipecah-belah dan diperalat untuk kepentingan politik meraih kekuasaan.

Kedua makna politik yang cerdas ini mengandung kewajiban moral serius yang harus direalisasikan SBY dan pemerintahannya. Pertama, kekerasan dan pembunuhan atas empat tahanan polisi di Sleman, Yogyakarta dan berbagai jenis kekerasan lain yang merendahkan martabat manusia harus diusut tuntas. Jika tidak, kesan bahwa kekerasan sengaja diciptakan sebagai alat untuk menumbuhkan political trust terhadap kelompok tertentu yang memiliki kepentingan kekuasaan dalam pemilu 2014 akan sulit untuk tidak dipercaya.

Kedua, kekerasan sosial yang atas nama agama, kebencian etnis, atau tindakan main hakim sendiri karena masyarakat tidak percaya lagi pada kewibawaan pemerintah dalam menegakkan hukum justru menjadi ancaman serius bagi kecerdasan politik SBY. Politik cerdas yang etis itu harus mampu mengayomi dan menciptakan rasa aman, dan itu mengandaikan adanya keberanian dalam penegakan hukum.

Ketiga, jika SBY bersedia menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, politik yang cerdas dan santun yang diagung-agungkan itu akan runtuh dengan sendirinya. Pemerintahan diprediksi tidak akan efektif ketika perhatian SBY terpecah antara menjalankan roda pemerintahan dengan upaya meningkatkan elektabilitas Partai Demokrat.

Kegagalan merealisasikan ketiga kewajiban moral ini hanya akan menghapus watak politik yang cerdas dan santun dari tindakan politik SBY.[]

Pernah dimuat di Harian Suara Pembaruan, 30 Maret 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s