MENYELAMATKAN BUMI

DSCF3977

Judul                   :    Satu Bumi. Etika Bagi Era Globalisasi

Penulis                :    Peter Singer

Penerjemah        :    Pranoto Iskandar

Penerbit              :    IMR Press, 2012

Tebal                   :    xxxii + 197

Buku “Satu Bumi” (One World) karya Peter Singer adalah contoh paling sempurna sejauh ini tentang bagaimana mengaplikasikan teori etika utilitarianisme preferensi. Masalah-masalah praktis yang dibahas dalam buku ini – kerusakan bumi dan tanggung jawab manusia, perdagangan bebas dan peran World Trade Organization, hukum, dan solidaritas antarbangsa – hanya bisa dipahami secara memadai dalam perspektif etika utilitarianisme preferensi, meskipun dengan gaya bahasa yang keluar dari pakem telaah filosofis.

Utilitarianisme Preferensi

Utilitarianisme preferensi sebenarnya adalah sintesis atas utilitarianisme tindakan dan utilitarianisme peraturan. Utilitarianisme sendiri adalah pandangan yang menegaskan bahwa suatu tindakan adalah baik secara moral jika tindakan moral dimaksudkan untuk memajukan kepentingan sebesar-besarnya orang. Peter Singer membela pandangan ini, karena bagi dia, tindakan moral tidak bisa membebaskan dirinya dari manfaat, kegunaan, atau konsekuensi. Kenyataannya, Peter Singer memang mengklaim dirinya sebagai penganut utilitarisme (The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology, 1981, hlm. 101, Writings on an Ethical Life, 2000, hlm. 119).

Meskipun demikian, Peter Singer tidak ingin jatuh, baik ke dalam utilitarianisme tindakan maupun utilitarianisme peraturan. Utilitarianisme sendiri sebagai teori etika adalah baik karena menegaskan pentingnya memperhitungkan dampak suatu tindakan moral. Hanya saja, menurut Peter Singer, utilitarianisme klasik (tindakan maupun peraturan) bersifat sempit, karena mementingkan kenikmatan dan kebahagiaan pelaku moral (subjek yang bertindak) dalam jangka pendek. Peter Singer ingin melanjutkan proyek utilitarianisme dengan menekankan pentingnya mempertimbangkan kepentingan dari pihak-pihak yang terkena dampak tindakan moral sebelum menentukan tindakan moral mana yang harus diambil.

Demikianlah, Peter Singer mengusulkan utilitarisme preferensi sebagai jalan keluar. Posisi etika ini dijelaskan secara sederhana demikian. Pertama, setiap pengambilan keputusan moral harus dilakukan dengan mempertimbangkan sejauh mana realisasi keputusan moral tersebut memajukan kebahagiaan sebesar-besarnya orang. Kedua, kepentingan moral patient mana yang keberpihakan padanya membawa keuntungan sebesar-besarnya bagi orang lain hanya bisa ditentukan setelah kepentingan seluruh pihak yang terkena dampak tindakan sudah diperhitungkan secara rasional. Ketiga, berbagai kepentingan yang terkena dampak tindakan moral dikalkulasi secara setara (equal) dan imparsial. Maksudnya, berbagai kepentingan dikalkulasi tanpa membeda-bedakan apakah itu adalah kepentingan orangtua, saudara, sepupu, rekan kerja, atau kepentingan mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita. Dan ini hanya mungkin dilakukan jika kalkulasi moral yang utilitaristik tersebut dilakukan secara murni rasional dan imparsial. Keempat, hasil akhir dari kalkulasi moral itu adalah menimbang dampak tindakan manakah yang membawa keuntungan bagi sebesar-besarnya orang.

Berangkat dari latar belakang pemahaman seperti inilah kita mencoba memahami gagasan moral yang diusung Peter Singer dalam bukunya Satu Bumi. Keempat tema yang ada dalam buku ini sangat menarik dan dan dapat dibaca secara mandiri masing-masing babnya. Untuk membantu pembaca “menikmati” isi buku ini dan mendorong siapa pun membaca sendiri buku ini, saya hanya akan mengulas tema pertama – kerusakan alam (hlm. 16–51) – sekaligus menunjukkan bagaimana Peter Singer menerapkan posisi moralnya sebagai pendukung utilitarianisme preferensi.

Kerusakan Alam, Siapa Bertanggung Jawab?

Bab pertama buku ini dimulai dengan diskusi mengenai dunia dan konstelasi kekuasaan yang sedang berubah. Perubahan itu sangat terasa, terutama sejak aksi terorisme terhadap menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 yang menewaskan ribuan orang tak berdosa. Tragedi itu, menurut Peter Singer, menegaskan sekali lagi kesadaran etis, bahwa dunia harus ditata dan dikelola secara bersama. Bahwa masalah kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi manusia dan alam, bahkan penyebaran ideologi-ideologi fanatik dan sempit harus menjadi masalah kita bersama. Aksi terorisme itu menyadarkan kita semua akan pentingnya “kepedulian altruistik” yang sanggup mempromosikan “keadilan global”, rasa akan kesatuan sebagai komunitas global (hlm. 8-9).

Dengan kata lain, bab pertama buku ini digunakan Peter Singer untuk menyadarkan pembaca tentang pentingnya memiliki kesadaran moral yang menjadikan semakin banyak orang – bahkan seluruh sentient being – sebagai moral patient. Dalam bukunya The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology (1981),           proses terbentuknya etika global terjadi secara evolutif dan bertahap sejalan dengan semakin imparsialnya nalar manusia dalam mengambil keputusan moral. Bahwa sudut pandang utilitarianisme preferensi akan mampu memperluas lingkaran wilayah moral sampai pada tahap di mana kepentingan seluruh umat manusia harus diperhitungkan dalam setiap pengambilan tindakan moral. Hanya saja Peter Singer mau menegaskan dalam bab pertama buku ini, bahwa tidak hanya aksi terorisme, tetapi juga kerusakan alam (bab 2), ketidakadilan tata kelola ekonomi (bab 3), dan pelanggaran HAM (bab 4) mempercepat kesadaran moral kita untuk mewujudkan apa yang disebutnya sebagai “satu komunitas” (bab 5). Sebenarnya gagasan Peter Singer tentang satu komunitas itu didasarkan pada sikap altruis yang dihayati sebegitu rupa bukan sebagai tindakan karitatif, tetapi sebagai sebuah kewajiban moral. Itulah sebabnya dalam proposal mengenai keselamatan dunia dari kehancuran ekologis, misalnya, Peter Singer tidak akan mengusung pandangan mengenai penyelamatan bagian bumi yang paling rusak oleh negara-negara maju sebagai sebuah tindakan karitatif bagi negara-negara miskin.

Pertanyaannya, jika semua penghuni bumi ini memiliki tanggung jawab yang sama terhadap upaya penyelamatan dunia, apakah adil jika negara-negara kaya dan yang memiliki andil paling besar bagi kerusakan alam memiliki tanggung jawab yang sama dengan negara-negara miskin? Atau, apakah ada prinsip keadilan lain yang dapat “memaksa” negara-negara kaya dan penghancur lingkungan paling besar untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar?

Bagian pertama dari bab 2 terutama mengacu kepada Third Assesment Report (2001) yang memprediksi kehancuran bumi jika kerusakan lapisan ozon tidak bisa diperbaiki. Berbagai data pun dibeberkan, mulai dari meningkatnya pemanasan global sejak tahun 1990-an, naiknya permukaan air laut karena melelehnya es di kutub, perubahan iklim yang ekstrem, menyebarnya berbagai penyakit tropis yang mematikan, menurunnya produksi pangan hingga hilangnya pulau-pulau kecil di Pasifik. Bagi Peter Singer, “Semua ini memaksa kita untuk berpikir secara berbeda terkait etika” (hlm. 20). Jadi, pertanyaan apakah ada orang/pihak yang lebih bertanggung jawab atas kerusakan alam ini dijawab dengan refleksi etis yang menunjukkan tanggung jawab yang adil negara-negara penyumbang kerusakan terbesar atas alam.

Bagi Peter Singer, meskipun masih bersifat terbatas, KTT Rio Jenairo tahun 1992 dan Protokol Kyoto tahun 1997 menjadi bentuk konkret awal dari tanggung jawab dunia atas kerusakan alam. Hanya saja, dan ini yang menjadi kritik sangat tajam Peter Singer atas sikap Amerika Serikat, Protokol Kyoto yang seharusnya “memaksa” negara-negara kaya mengurangi emisi gas rumah kaca tahun 2012 justru tidak dipatuhi oleh Amerika Serikat sendiri yang adalah salah satu negara penyumbang emisi terbesar yang merusak lapisan ozon (hlm. 27). Padahal komitmen negara-negara di dunia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dapat menjadi langkah awal menyelamatkan bumi dari kepunahan.

Terlepas dari setuju atau tidaknya Amerika Serikat atas Protokol Kyoto, komitmen negara-negara di dunia pasca Kyoto adalah menyelamatkan bumi dengan cara apapun. Pertanyaannya, prinsip etika apa yang dapat digunakan sebagai penjustifikasi bagi upaya penyelamatan bumi? Peter Singer mencoba mendiskusikan pertanyaan ini dengan mengevaluasi prinsip-prinsip etika yang sudah ada sebelum menawarkan pendekatannya sendiri.

Distribusi yang Adil

Untuk menjelaskan siapa yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan bentuk konkret kewajiban moral apa yang harus diemban oleh perusak lingkungan tersebut, Peter Singer merujuk ke prinsip keadilan distributif yang dikembangkan oleh Robert Nozick yang membedakan antara prinsip-prinsip yang bersifat “kesejarahan” dan prinsip-prinsip yang mengacu semata-mata kepada waktu di mana terjadinya sesuatu (hlm. 27). Prinsip kesejarahan dalam pemikiran Nozick sebagaimana dipahami Peter Singer menegaskan bahwa suatu tindakan hanya bisa disebut adil jika kita sudah memahami situasi yang terjadi di masa lalu, mengapa suatu pembagian hak terjadi demikian, apa asal usul dari prinsip penjustifikasi keadilan, dan sebagainya. Jika sekarang dirasa pembagian di masa lalu itu tidak adil, lalu apa kompensasinya demi tercapainya keadilan? Di lain pihak, prinsip yang semata-mata mengacu kepada waktu tertentu saja (time-slice) akan mempertimbangkan distribusi yang adil tanpa mengacu kepada praktik distribusi keadilan sebelumnya (dalam sejarah).

Jika distingsi keadilan distributif ini diterapkan dalam menentukan siapa yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan apa konsekuensinya, maka menurut Peter Singer, negara-negara maju (AS, Kanada, Australia, dan negara-negara Eropa Barat) adalah penyebab paling utama dari kerusakan alam. Mengacu kepada hasil pengukuran emisi karbon yang dilakukan oleh para ahli selama tahun 1950 – 1986, Peter Singer menunjukkan bahwa AS yang jumlah penduduknya hanya 5 persen total penduduk dunia telah menyumbang 30 persen total emisi dunia. Sementara India dengan populasi 17 persen penduduk dunia menghasilkan emisi kurang dari 2 persen. Bahkan bisa dikatakan bahwa “kontribusi negara-negara berkembang atas gas rumah kaca di atmosfer bumi tidak mampu menyamai tingkat yang telah dihasilkan oleh negara-negara maju sampai kira-kira tahun 2038” (hlm 33). Dengan kata lain, “negara-negara maju telah merusak alam.”

Menurut Peter Singer, prinsip keadilan yang hanya menonjolkan dimensi sejarah tetap akan merugikan dunia. Prinsip ini menegaskan bahwa negara-negara maju harus mengkompensasi kerugian, misalnya dengan menanam kembali pohon-pohon yang dapat menyerap gas karbondioksida. Meskipun demikian, negara-negara maju itu pun telah menebang pohon dalam jumlah sangat besar sehingga kompensasi tersebut tetap tidak bisa menyelamatkan alam. Prinsip ini sendiri mengandung kelemahan karena dengan kompensasi – yang de facto tidak memecahkan masalah – juga menyerukan perlunya melupakan kerusakan di waktu lampau dan memulai sesuatu yang baru, setidak-tidaknya sejak tahun 1990-an. Usul ini jelas hanya akan menguntungkan negara-negara maju yang terus saja membuang emisi karbonnya ke udara.

Pendekatan yang menonjolkan distribusi yang adil hanya dalam waktu tertentu saja (time-slice) tentu tidak ingin melupakan distribusi keadilan di masa lampau. Meskipun demikian, pendekatan ini mau mengusahakan distribusi yang adil hanya di masa kini. Dengan menjelaskan 3 pendekatan yang bisa ditempuh, Peter Singer menunjukkan keperpihakannya pada teori etika tertentu dalam mengatasi kerusakan alam.

Prinsip etika yang pertama menegaskan pentingnya bagian yang setara untuk setiap orang (hlm. 34-36). Kesetaraan ini tidak dimaksud sebagai berapa ton karbon per orang yang boleh dibuang ke atmosfer mengingat jumlah populasi yang berbeda antarnegara serta banyaknya gas emisi yang selama ini telah dibuang ke atmosfer bumi. Karena itu, jalan keluar yang paling mungkin adalah menghitung jatah emisi per kapita dibandingkan dengan prediksi pertambahan jumlah penduduk dalam 50 tahun ke depan. Konkretnya, negara-negara yang mampu mengurangi laju pertumbuhan penduduknya dapat diberi penghargaan berupa peningkatan jatah pembuangan emisi karbon per kapita. Sebaliknya, negara-negara yang gagal mengendalikan jumlah penduduknya akan dikurangi jatah pembuangan emisi per kapita (hlm. 36). Peter Singer sendiri setuju dan mendukung pendekatan ini.

Prinsip etika kedua berhubungan dengan bagaimana “membantu mereka yang paling dirugikan”. Jika yang paling dirugikan adalah negara-negara berkembang, orang bisa saja berpikir bahwa kemajuan ekonomi di negara-negara maju dapat membuka kesempatan bagi negara-negara berkembang tersebut untuk ikut memajukan perekonomiannya. Prinsip ini mengizinkan negara-negara membuang emisi karbon ke udara sesuai dengan proporsi produk domestik brutonya. Bahwa kemajuan ekonomi negara-negara dapat memampukan negara-negara tersebut. Pendekatan ini, menurut Peter Singer, sedikit banyak berutang pada teori keadilan John Rawls, bahwa ketidaksetaraan dalam akses kepada sarana publik – atau dalam kasus ini adalah akses kepada sumber daya alam –bisa dibenarkan secara etis jika tindakan-tindakan tersebut membawa keuntungan bagi orang yang paling tidak beruntung dalam masyarakat (hlm. 36-37).

Menurut Peter Singer, pendekatan ini gagal karena tidak memperhitungkan jurang antara yang kaya dan miskin sebagai kenyataan sosial yang nyaris mustahil dipecahkan tanpa keberpihakan pada kesetaraan. Pendekatan ini juga lupa bahwa pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di negara-negara maju dengan pasar yang sebagian besarnya terkonsentrasi dalam negara itu sendiri justru akan menyulitkan direalisasikannya pendekatan keadilan Rawlsian ini. Dalam kaitannya dengan porsi pembuangan emisi karbon ke udara, misalnya, kemajuan perekonomian negara-negara miskin tersebut tidak akan pernah bisa dibendung (hlm 38-39).

Pendekatan ketiga yang diacu Peter Singer adalah prinsip kesejahteraan terbesar. Prinsip ini jelas mendasarkan diri pada etika utilitarianisme yang menjustifikasi suatu tindakan sebagai benar secara moral jika mendatangkan keuntungan bagi sebagian besar orang. Dalam arti itu, menurut Peter Singer, baik pendekatan pertama maupun kedua dapat disetujui oleh utilitarianisme sejauh itu membawa manfaat bagi sebagaian terbesar orang. Masalahnya, bagaimana menghitung kesejahteraan neto bagi sebagian terbesar orang? (hlm 40). Bagi Peter Singer, ini bukanlah jalan keluar terbaik dalam mengatasi kerusakan alam, karena “… ada banyak alasan kemanfaatan (utilitarian) bagi penanganan emisi gas rumah kaca, tapi cara apa yang mampu mendorong tercapainya keuntungan bersih terbesar?” (hlm. 40).

Kesetaraan Bagi Setiap Orang

Peter Singer menawarkan proposal penyelesaian krisis lingkungan berdasarkan pendekatan kedua, yakni pentingnya kesetaraan bagi setiap orang (hlm 42-47). Keberpihakan ini nyata dalam analogi pemanfaatan tong sampah raksasa untuk membuang sampah sebagai atmosfer bumi (hlm 28-30). Andaikan atmosfer bumi ini sebuah tong sampah raksasa, persoalan keadilan distributif tidak akan muncul ketika sampah-sampah yang dibuang manusia belum menimbulkan masalah bersama. Dalam konteks ini orang belum mempersoalkan ketidaksetaraan dalam membuang sampah ketika ada orang yang membuang lebih banyak dari yang lainnya. Masalah baru akan muncul ketika tong sampah raksasa itu tidak mampu lagi menampung dan mengolah sampah-sampah, ketika tong sampah koyak dan mengeluarkan bau busuk, dan menyebarkan berbagai penyakit. Di sinilah muncul apa yang disebut “tragedi bersama” (hlm 29), di mana “karena tong sampah milik kita bersama secara bersama-sama, maka penggunaan tanpa batas untuk saat ini merupakan perampasan atas hak orang lain untuk memanfaatkan tong dengan cara yang sama yang pada akhirnya hanya mampu menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh seorang pun di antara kita” (hlm 29).

Konkretnya, bagi Peter Singer, tidak mungkin terjadi kesetaraan dalam hal jumlah emisi gas yang akan dibuang ke udara. Kesetaraan justru terletak pada hak yang sama untuk mengakses dan memanfaatkan atmosfer bumi. Karena itu, para pengakses yang menyebabkan kerusakan atmosfer bumi sehingga mencegah negara lain memanfaatkan hal yang sama telah berlaku tidak adil.

Ada dua jalan keluar konkret yang ditawarkan Peter Singer. Pertama, negara-negara maju yang merusak alam harus mengganti rugi kerusakan itu dan berkomitmen untuk memperbaikinya. Prinsip etis yang diusung berbunyi: “Kamu yang merusak, kamu juga yang memperbaiki.” Bagi Peter Singer, kesepakatan yang dicapai melalui konvensi-konvensi internasional seperti Protokol Kyoto sebenarnya menjadi cara terbaik “mendikte” negara-negara maju untuk tidak sewenang-wenang merusak alam.

Kedua, memberikan jata metrik ton karbon yang lebih besar untuk dilepaskan ke atmosfer bumi jika negara-negara mampu menekan laju pertumbuhan penduduk sampai dengan tahun 2050 sesuai prediksi demografi PBB. Jika jalan ini dicapai, laju pertumbuhan ekonomi tetap tinggi dengan risiko kehancuran atmosfer bumi yang lebih kecil karena telah berkurangnya jumlah penduduk bumi.

Penutup

Kembali ke klaim awal tulisan ini, bahwa Peter Singer menggunakan pendekatan etika utilitarianisme preferensi dalam menganalisis krisis lingkungan hidup dan menawarkan solusi menyelamatkan bumi dari kepunahan. Padahal Peter Singer sendiri menunjukkan keberpihakannya pada apa yang disebut prinsip kesetaraan bagi setiap orang dalam hal akses kepada sumber daya alam. Apakah ini yang disebut pendekatan etika utilitarianisme preferensi?

Salah satu prinsip yang diusung Peter Singer dalam kalkulasi tindakan moral berdasarkan etika utilitarianisme preferensi adalah kesetaraan. Bagi Peter Singer, kepentingan setiap orang yang terkena dampak tindakan memang harus dipertimbangkan secara setara (equal consideration), tetapi memperlakukan orang tidak pernah bersifat setara (not equal treatment). Di sini jelas bahwa kepentingan negara miskin atau negara kaya dalam mengakses dan memanfaatkan alam dan seluruh isinya harus dipertimbangkan secara setara. Meskipun demikian, perlakuan terhadap negara-negara tidak pernah bersifat setara. Itulah sebabnya, negara yang paling banyak merusak atmosfer bumi, dialah yang seharusnya memikul tanggung jawab lebih besar dalam mengkompensasi dan menyelamatkannya.

Hal yang baru dalam pemikiran Peter Singer mengenai etika lingkungan dalam buku ini terletak pada proposalnya mengenai mengalokasikan jatah pembuangan emisi karbon ke atmosfer bumi berdasarkan kemampuan negara dalam mengontrol dan mengendalikan laju pertumbuhan penduduknya sampai tahun 2050. Meskipun tampak baru, kalkulasi semacam ini masih dalam kerangka logika utilitarianisme preferensi.[]

Yeremias Jena, M.Hum, M.Sc (menulis tesis magister filsafat tentang pemikiran utilitarisme Peter Singer dan menulis tesis master of science in bioethics mengenai pemikiran Peter Singer mengenai manusia sebagai person dan implikasi medisnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s