Tamatnya Karier Politik Hary Tanoe?

Mengejutkan bahwa beberapa media online pagi ini memberitakan isu mundurnya Hary Tanoesoedibjo (HT) dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang ikut dia besarkan. Menarik mencermati isu ini karena sepak terjang pebisnis ini dalam dunia politik cukup menyedot perhatian publik. Ketika pertama kali hadir dalam Rapat Nasional Partai Nasdem pada Bulan November 2011, publik langsung menghubungkannya dengan keinginan untuk terjun di dunia politik yang sebenarnya sudah santer terdengar sejak bulan Oktober 2011. Benar saja, HT resmi menjadi anggota Partai Nasdem dan didapuk sebagai Ketua Dewan Pakar Partai yang didirikan Surya Paloh tersebut.

Ketika berita mundurnya HT dari Partai Nasdem diembuskan Prof. Yusril Ihza Mahendra di Twitternya, orang pun tidak bisa tidak menghubungkan hal ini dengan kisruh yang sedang terjadi di tubuh Partai Nasdem. Sedang terjadi gesekan sangat keras di dalam tubuh partai itu ketika harus menentukan siapa ketua umum. Kita tahu, Surya Paloh adalah tokoh sentral dalam partai ini sejak masih berbentuk Ormas Nasdem. Bisa dikatakan, Partai Nasdem identik dengan Surya Paloh. Karena itu, ketika partai ini digawangi oleh Rio Patrice Capella, publik sebenarnya tahu, bahwa posisi ini hanyalah akal-akalan Surya Paloh. Skenarionya, jika Partai Nasdem lolos verifikasi dan menjadi salah satu partai peserta pemilu 2014, Patrice Capella seharusnya tahu diri dan memberikan kursi itu ke sang pendiri. Apalagi, sebagaimana kita ketahui, minat Surya Paloh menjadi calon presiden RI tidak pernah surut. Partai Nasdem didirikan hanya sebagai kendaraan politik untuk mencapai cita-cita dimaksud.

Di sinilah kita seharusnya memahami mundurnya HT dari Partai Nasdem. Pertanyaan apa alasan HT memilih mundur sudah bisa ditebak, bahwa kans menjadi ketua umum partai tersebut sudah hampir pasti tertutup. Tidak ada peluang bagi HT untuk menduduki kursi nomor satu di partai tersebut. Jika analisis ini benar, kita tentu bisa merekonstruksi alasan keterlibatan HT dalam bidang politik. HT tentu memiliki satu pertimbangan ketika masuk ke Partai Nasdem, bahwa partai ini akan menjunjung tinggi proses-proses yang demokratis. Jika proses demokratis dihormati dan dijunjung tinggi, semua kader memiliki kans yang sama untuk menjadi ketua umum. Kalkulasi HT, kans menjadi ketua umum pasti terbuka lebar.

Pilihan mengundurkan diri tentu menjadi kritik amat keras bagi tertutupnya proses demokratis memilih ketua umum di Partai Nasdem. Dari logika Surya Paloh dan kubu-kubunya, menduduki kursi ketua umum menjadi semacam kelaziman jika menilik alasan mengapa partai ini didirikan dan siapa yang mendirikan. Dan jika Surya Paloh sudah mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk membesarkan partai ini, wajarlah dia mengincar kursi nomor satu. Apalagi nanti di AD/ART bisa diatur dan dikendalikan supaya yang menjadi calon presiden dari partai adalah sang ketua umum. Sekali lagi, dalam logika semacam ini kita bisa mengerti interest politik Surya Paloh menduduki kursi ketua umum.

Dari perspektif logika ini pula kita mencoba memahami pilihan politik HT. Jika dia mengundurkan diri hanya karena tertutup kemungkinan menduduki kursi nomor satu ketua umum, maka sebenarnya incaran tertinggi sang penguasa grup MNC ini tentunya adalah maju sebagai calon presiden. Dengan kata lain, sebenarnya baik Surya Paloh maupun HT sebenarnya sama-sama ingin maju sebagai calon presiden RI pada pemilu 2014. Dalam arti itu, minat politik ternyata identik dengan naluri kekuasaan.

Analisis semacam ini tentu menarik, tetapi yang lebih menarik bagi saya adalah menelisik motivasi politik para petinggi partai. Pertama, menutup atau membatasi proses demokrasi di dalam tubuh partai karena kalkulasi ekonomi – siapa yang selama ini membiayai partai – justru membahayakan perjalanan demokrasi di negeri ini. Saya tidak bisa membayangkan memiliki pemimpin semacam ini, yang ketika menjadi presiden akan menomorduakan proses-proses demokrasi demi alasan lain. Bagi saya, kecenderungan semacam ini sebenarnya juga adalah bibit bagi bertumbuhnya otoritarianisme.

Kedua, kisruh ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat untuk memilih manakah calon pemimpin yang nantinya benar-benar memajukan kepentingan dan kesejahteraan rakyat dan calon pemimpin mana yang motivasi kekuasaannya hanya demi kepentingan diri dan golongan. Watak politik yang dipertontonkan baik oleh Surya Paloh maupun HT menjadi pelajaran sangat berarti untuk menimbang seperti apakah pemimpin republik ini pada pemilu 2014.

Tantangan yang dihadapi HT tentu terlalu berat. Jika memang dia ingin maju sebagai calon presiden, sudah saatnya dia belajar dari Surya Paloh untuk mendirikan partai baru yang akan menjadi kendaraan politiknya di pemilihan umum 2019. Atau mungkin pilihan-pilihan politik lain, tetapi waktu menjelang pemilihan umum 2014 sudah di depan mata, sehingga berbagai langkah cepat harus segera ditempuh, termasuk segera menyatakan secara jelas apakah benar mengundurkan diri atau tidak. Untuk yang terakhir ini, semoga menjadi jelas dalam beberapa hari ini.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s