Kontroversi Euthanasia di Belgia Kembali Mencuat

mark-eddie_2451635b
Kedua bersaudara kembar, Marc dan Eddy Verbessem yang meminta dieuthanasia.

Praktik euthanasia di Belgia kembali menghebohkan dunia. Dua orang kembar identik akhirnya dieuthanasia sebelum Natal 2012 dengan alasan yang sudah terlalu sering dikritik, yakni “mengalami penderitaan yang sudah tidak bisa ditanggung lagi”. Sebagaimana diberitakan media massa, para dokter di Belgia mengumumkan, bahwa mereka telah mengeuthanasia Marc dan Eddy Verbessem (45 tahun) pada tanggal 14 Desember 2012 di Brussels University Hospital. Keduanya adalah kembar identik yang terlahir dengan cacad pendengaran (tuli). Tidak hanya itu, karena mereka juga mulai mengalami kebutaan dan tidak memiliki apa-apa lagi untuk hidup. Menurut para dokter, inilah alasan yang mendorong keduanya meminta untuk dieuthanasia. Seperti ditegaskan David Dufour, seorang dokter lokal yang menangani mereka, kedua saudara kembar itu mengalami apa yang disebut “hidup yang tidak tertanggungkan lagi” (unberable life).

Sebagaimana ditegaskan oleh UU Belgia tentang Euthanasi (28 Mei 2002), euthanasia hanya bisa dibenarkan (tidak dianggap sebagai tindakan kriminal) jika (1) pasien yang meminta euthanasia sudah mencapai usia matang; (2) permintaan euthanasia dilakukan secara sukarela (tanpa paksaan), dipertimbangkan secara saksama, diminta berkali-kali dan tanpa paksaan apa-apa dari luar; (3) secara medis pasien (yang meminta euthanasia) berada dalam kondisi yang sia-sia (tidak mungkin akan sembuh), sedang mengalami penderitaan yang tak-tertanggungkan secara fisik maupun psikis yang disebabkan baik oleh sakit atau kecelakaan. Dalam konteks UU ini tentu praktik euthanasia atas kedua saudara kembar Verbessem itu tidak bisa dipersalahkan secara legal.

Ini diperkuat oleh “kesaksian” David Dufour, dokter lokal yang menangani mereka. Dokter ini memberikan kesaksian, katanya, “Keduanya tampak sangat bahagia. Ini adalah pembebasan dari penderitaan ketika kita melihat bagaimana mereka mengakhiri penderitaan mereka. Mereka bersama-sama menikmati secangkir kopi di aula, itu berjalan dengan baik dan [mereka terlibat dalam] sebuah percakapan yang kaya. Perpisahan dengan orangtua dan saudara-saudara mereka tampak sangat damai dan indah. Di akhir perpisahan itu [sebelum dieuthanasia] ada lambaian tangan dan mereka akhirnya berangkat [maksudnya mati]”.

Euthanasia kedua saudara kembar ini, bagaimana pun, telah memicu perdebatan dan kontroversi. Hal yang paling dikritik adalah bahwa keduanya bukan sedang berada dalam kondisi “sakit terminal”, juga tidak sedang menderita secara fisik. Bahwa ada penderitaan secara psikis mungkin bisa dibenarkan, karena keduanya buta dan didiagnosis akan mengalami kebutaan. Dalam arti itu, penderitaan psikologis sebenarnya sama seperti yang dialami umumnya orang yang sedang sakit. Tetapi mengapa permintaan mereka untuk dieuthanasia justru diloloskan para dokter? Bahkan seorang dokter lokal yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa praktik semacam itu bukanlah yang dimaksudkan oleh UU ketika mendefisinikan apa yang dimaksud dengan “penderitaan tak-tertahankan” (unberable suffering).

Ini juga yang menjadi inti kritik Prof. Chris Gastman, ahli etika terapan dari Katholieke Universiteit Leuven (KUL). Prof. Gastman mengkritik kematian ini sebagai tanggapan yang buruk atas ketidakmampuan (disability). Menurut Prof Gastman, “Apakah ini adalah satu-satunya tanggapan yang manusiawi yang bisa kita berikan dalam situasi semacam itu? Saya merasa tidak nyaman sebagai seorang etikawan. Dewasa ini tampaknya hanya euthanasia yang menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri hidup. Dan menurut saya ini bukanlah hal yang baik. Dalam masyarakat yang semakmur seperti masyarakat kita [Belgia], kita seharusnya menemukan cara lain, cara yang lebih manusiawi [caring] untuk menanggapai kerapuhan manusia.”

Tentu kritik Prof Gastman dan pengkritik-pengkritik lainnya ini pasti ditolak oleh para dokter dan pendukung hak kematian berbahagia. Profesor Wim Distelmans, aktivis dari kelompok hak untuk mati yang juga seorang dokter yang ikut menangani kasus ini justru berpendapat bahwa praktik euthanasia atas kedua saudara kembar ini sudah benar secara prosedural dan hukum. Praktik ini didasarkan atas permintaan pasien sendiri secara bebas, dan kedua pasien sedang berada dalam penderitaan yang tak-tertahankan yang tidak mungkin akan disembuhkan.

Selain terdapat perbedaan persepsi mengenai “penderitaan tak-tertahankan”, euthanasia atas kedua saudara kembar ini pun terkesan ditutupi dari liputan wartawan. Insan media sendiri baru mengetahuinya beberapa hari setelah kedua saudara kembar itu sudah menjadi mayat. Hal yang lebih mengejutkan lagi bagi publik adalah pernyataan pemerintah Belgia sendiri, bahwa praktik semacam ini seharusnya juga diperluas kepada anak-anak (the minors) dan orang lanjut usia yang menderita dementia supaya dieuthanasia. Pemerintah bahkan berencana untuk mengamandemen UU agar euthanasia bisa dipraktikkan terhadap anak-anak (cacad) dan orang lanjut usia yang menderita dementia.

Apa yang dibela para dokter yang menangani kasus ini tidak serta-merta menghentikan kritik dunia atas praktik euthanasia di Belgia. Sebuah laporan yang terbit tahun lalu yang berusaha mengevaluasi praktik euthanasia di Belgia setelah 10 tahun, misalnya, mengatakan bahwa praktik euthanasia di negara kecil nan mungil ini telah mengalami penyederhanaan dan pendangkalan makna. Setelah 10 tahun dipraktikkan dan sudah mengeuthanasia sekitar 5,500 orang, tak satupun kasus yang dilaporkan ke polisi sebagai penyalahgunaan. Artinya, semuanya sesuai prosedur perundang-undangan yang berlaku. European Institute of Bioethics justru mempertanyakan hal ini. Apakah benar bahwa tidak ada penyalahgunaan praktik euthanasia selama sepuluh tahun terakhir?

Pertanyaan Institusi Bioetika Eropa ini tidak hanya kritis tetapi serius untuk ditanggapi. Pertanyaan ini berangkat dari asumsi bahwa penyalahgunaan praktik euthanasia pasti ada, terutama karena sulitnya mendefinisikan dan menentukan indikator “penderitaan yang tak-tertahankan”. Apakah penderitaan tak-tertahankan menurut pasien benar-benar merupakan penderitaan yang tertahankan, atau sebetulnya hanyalah ungkapan hati agar mereka lebih diperhatikan (caring) karena keadaan yang mereka alami sekarang? Harap diingat, korps dokter tidak akan membahayakan diri dan rekannya sendiri dengan melapor ke kepolisian bila terjadi penyalahgunaan praktik euthanasia. Karena itu, masuk akal jika tidak pernah ada laporan penyalahgunaan yang berujung pada tindakan kriminal.

Pertanyaan kritik lain menyangkut peran yang dijalankan para dokter. Apakah para dokter mengikuti saja apa yang diinginkan pasien, jadi pasien meminta apa pun harus dituruti (demi menghormati otonomi pasien), atau dokter bisa “merepotkan” dirinya mencari solusi lain selain euthanasia? Seperti yang dikemukakan Prof. Gastman, negara sekaya dan semakmur Belgia seharusnya menemukan cara lain yang lebih manusiawi dalam menangani warga negaranya yang meminta euthanasia, dan bukan sekadar mengikuti keinginan pasien. Dalam konteks ini kita bisa katakan bahwa para dokter di Belgia tampak tidak mau merepotkan dirinya dengan jalan keluar lain yang lebih manusiawi. Mereka merasa nyaman sebagai petugas kesehatan yang menyelenggarakan praktik profesinya berdasarkan ketentuan UU yang berlaku.

Sebagai catatan penutup harus dikatakan bahwa kepedulian akan kemanusiaan sebagai makhluk yang memiliki martabat tampak sangat rendah di Belgia. Sebagai alumni dari salah satu perguruan tinggi terkemuka di negara itu, saya tentu kecewa. Saya bisa membayangkan kekesalan Prof. Gastman (guru saya) dan beberapa profesor lain yang sebenarnya terus mengkritik praktik euthanasia di negara mereka, tetapi suara mereka sering kala nyaring dengan suara para dokter pendukung hak untuk mati. Harap diingat, UU yang mengatur euthanasia di Belgia diinisiatifi dan diperjuangkan oleh para dokter dan kelompok masyarakat yang pro hak untuk mati. Jika dokter yang menangani pasien yang meminta euthanasia adalah dokter yang pro hak untuk mati, bukankah mengizinkan euthanasia pada pasiennya merupakan realisasi paling nyata dari posisi moral sang dokter itu sendiri? Lalu, masihkah mereka membela diri?[]

3 pemikiran pada “Kontroversi Euthanasia di Belgia Kembali Mencuat

  1. apakah ada upaya dari Institusi Bioetika Eropa dan Berlgia sendiri untuk mengubah dan menjelaskan frase “sakit atau penderitaan yang tak tertahankan” ? Apakah kasus serupa pernah terjadi di indonesia? dan bila pernah ada, bagaimana tanggapan dari pemerintah, agama2, dan himpunan etikawan indonesia sendiri?

    Terimakasih.

    1. “sakit atau penderitaan tak-tertahankan” (unberable life) tetap menjadi syarat bagi permintaan euthanasia di Belgia. Masalahnya adalah bagaimana memastikan bahwa suatu penyakit itu telah mencapai level unberable. Tentu mereka melibatkan tim dokter. Tetapi, apakah bisa dibenarkan secara etis jika dokter yang dilibatkan itu adalah mereka yang pro euthanasi? Inilah masalah yang dihadapi Belgia. Apakah pernah terjadi di Indonesia? Sejauh saya ketahui, belum pernah terjadi di Indonesia.
      Terima kasih karena sudah membaca blog saya. Salam!

    2. Frase itu tetap dipertahankan. Tantangan mereka adalah memastikan bahwa frase itu tidak disalahgunakan atau tidak membuka peluang bagi adanya slippery slope. Tapi saya kira itu akan sulit. Langkah ekstrem adalah melarang sama sekali euthanasia. Gerakan menghidupkan palliative care di Belanda, misalnya, saya kira sebagai upaya positif mengurangi euthanasia. Mudah2an berhasil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s