SALING MEMBENCI ATAS NAMA AGAMA

Tribunnews.com baru saja memberitakan Press Release The Wahid Institute yang mengatakan bahwa umat Kristiani paling banyak menderita akibat tindakan diskriminatif dan intoleransi selama tahun 2012. Ketika tulisan ini dibuat (pukul 16:40 WIB), sudah lebih dari 600 pembaca yang memberi komentar. Statistik korban pelanggaran kebebasan beragama selama tahun 2012 adalah sebagai berikut:

Kristen/Katolik: 37
Kelompok terduga sesat: 25
Individu: 14
Jemaat Ahmadiyah Indonesia: 13
Syiah: 4
Pelaku usaha: 2
Kepercayaan lokal: 2
Lembaga pendidikan: 2
Narapidana: 1

Kalau Anda ingin melihat bagaimana orang saling memfitnah atas nama agama sebagai tanggapan terhadap berita tersebut (akses melalui Yahoo Indonesia), ini termasuk salah satu berita yang bisa menjadi contoh. Saya sendiri merasa muak membaca komentar-komentar tersebut. Orang saling mencaci maki, mengejek dan mempermalukan agama lain, dan sebagainya. Saya lalu bertanya: jika agama memang mengajarkan kebencian, rasa saling permusuhan, atau bahkan hasutan secara terang-terangan untuk membenci agama lain, mengapa manusia harus beragama daripada tidak beragama?

Saya bukan seorang ateis, bukan juga penganut Kristen fundamentalis. Saya hanyalah seorang Katolik yang mempelajari filsafat dan hampir semua materi teologi yang harus dipelajari di Seminari Tinggi. Dari situ saya berpikir, Tuhan yang maha pengasih dan penyayang adalah Dia yang merangkum dan memeluk semua orang dalam genggaman kasihNya. Mustahil Tuhan yang demikian mengajarkan kebencian, permusuhan, apalagi menginginkan pemusnahan orang lain yang berbeda agama. Keesaan Tuhan justru terletak pada kesediaanNya untuk menjadi Tuhan bagi siapa saja, karena pilihan bebasNya untuk menciptakan manusia dan semesta alam. Dan Tuhan tidak pernah berpaling atau menyesal pada pilihanNya, bahkan ketika ada ciptaanNya yang berdosa dan berpaling dari cinta kasihNya.

Saya mengagumi George Santayana, filsuf dan penulis besar dari Spanyol yang kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat. Dalam salah satu bukunya dia mengatakan secara sangat sederhana tetapi mengena: “Deep knowledge brings to faith”. Apa yang Santayana maksudkan sebenarnya sangat sederhana. Semakin orang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam, semakin dia menyadari bahwa dia tidak tahu banyak hal. Semakin kesadaran itu meningkat, orang itu semakin memiliki keyakinan dan kepercayaan pada sesuatu yang kekal, the infinite, sesuatu yang misterius, bahwa ada realitas yang mengenainya tidak pernah bisa diselami secara total. Dalam konteks ini, Santayana sebenarnya menegaskan sekali lagi apa yang dikatakan Socrates lebih dari 2500 tahun lalu, bahwa “satu-satunya hal yang saya ketahui adalah saya tidak mengetahui apa-apa” (the only thing that I know is that I know nothing).

Kalau begitu, mengapa manusia saling menyerang dan memfitnah atas nama agama? Ada beberapa hipotesa yang bisa diajukan. Pertama, agama sebagai pengejawantahan kehendak Ilahi (the embodiment of the spirit) tidak mengajarkan kebencian. Meskipun demikian, agama di tangan orang-orang yang memiliki kebencian kepada sesama dapat menggunakan posisinya entah sebagai pemimpin umat atau penceramah untuk menyebarkan gagasan kebencian dan permusuhan kepada orang lain yang berbeda. Sayang bahwa ini dilakukan dengan mengatasnamakan agama.

Kedua, pemahaman agama seharusnya terjadi dalam semangat “exploring”, semangat lintas ilmu. Agama seharusnya dipahami secara kritis, tidak harus berdasarkan disposisi ilmiah bahwa agama dan ajaran-ajarannya harus ditolak, tetapi sebagai cara memperdalam kecintaan kita pada agama itu sendiri. Dalam arti itu saya memiliki keyakinan bahwa beriman secara rasional adalah tuntutan dari dalam diri kita sebagai makhluk rasional. Kita berusaha memahami rahasia Allah – dengan akal budi kita – bukan dengan maksud menegasi eksistensi Tuhan, tetapi dengan kerendahan hati dan keterbukaan untuk mengetahui. Dan kita membiarkan diri kita sebagai medium Tuhan menyatakan diriNya persis ketika akal budi kita tidak sanggup memahami seluruh rahasiaNya. Jadi, bahwa kita tidak mampu mengetahui seluruh rahasia Allah tidak lantas berarti kita tidak boleh bersikap kritis atasNya. Justru sikap kritis itu boleh, karena sejarah menunjukkan bahwa agama dan ajaranNya dapat disalahgunakan sebagai alat bagi segelintir orang demi mewujudkan proyek ideologisnya.

Ketiga, berhadapan dengan tokoh atau pihak yang menyebar kebencian, umat beriman seharusnya mengambil sikap tegas: menolak agama dan ajaranNya. Untuk hal ini, saya berpendirian bahwa lebih baik tidak beragama (atau mungkin lebih tepat menjadi agnostik) daripada mengimani Tuhan yang menginginkan darah sesamaKu. Tuhan yang maha baik tidak mungkin pada saat yang bersamaan menginginkan darah orang lain.

Kembali ke berita tentang saling mencaci maki antarumat beragama sebagaimana saya sitir di atas. Saya sendiri menyayangkan sikap semacam itu. Semakin kita mencaci maki dan menyebar kebencian, kita justru semakin memupuk kebencian itu di dalam hati kita. Kebencian yang menumpuk pasti menuntut pelampiasan agar tidak merusak diri sendiri. Maka sudah bisa dipastikan, ketika kebencian meningkat, kita sebetulnya menyisakan bom waktu bagi kekacauan sosial yang mengerikan. Dan ini yang seharusnya kita takutkan.

Selamat Tahun Baru 2013. Tuhan semesta alam memberkati dan melimpahi Anda rezeki berlimpah kepada Anda dan keluarga Anda. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s