Menegakkan Disiplin kepada Mahasiswa

Siapa bilang seorang dosen akan mudah mengambil keputusan moral atas para mahasiswanya yang tidak disiplin? Pengalaman saya sebagai dosen selama kurang lebih 10 tahun terakhir membuktikan betapa sulitnya mengambil tindakan moral terhadap mahasiswa yang tidak disiplin tersebut.

Sejak awal semester ini saya menyadari bahwa salah satu kelas saya memiliki masalah dengan disiplin. Seperti biasa, di awal kuliah kami sudah sepakat bahwa keterlambatan yang bisa ditolerir tidak boleh lebih dari 20 menit. Bagi sebagian rekan dosen, toleransi ini sudah sangat moderat, karena ada dosen yang menerapkan prinsip zero tolerance, alias tidak ada keterlambatan sama sekali. Saya memberi toleransi keterlambatan 20 menit mengingat gerak mahasiswa berpindah dari satu kelas ke kelas lain atau dari satu gedung ke gedung lain ternyata makan waktu.

Masalahnya, apakah kesepakatan antara dosen dan mahasiswa ini benar-benar bisa dilaksanakan? Karena jawaban terhadap pertanyaan ini akan merefleksikan pilihan moral saya, maka saya akan membedakan dua hal penting. Pertama, refleksi saya sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta. Kedua, refleksi saya sebagai dosen honor (tidak tetap) di perguruan tinggi lainnya, juga di Jakarta. Bagi saya, kedua pembedaan ini penting dalam memahami posisi moral saya.

Sebagai dosen tetap, saya merasa bahwa menegakkan disiplin itu tidaklah sulit, terutama menegakkan disiplin. Di sini tidak hanya terbatas pada masalah keterlambatan masuk kelas, tetapi keterlambatan mengumpulkan tugas, perilaku menitip absen, menyontek, menjiplak karya orang lain, dan sebagainya. Sebagai dosen tetap, saya punya hanya satu kepentingan, yakni menegakkan disiplin. Penegakkan disiplin ini berangkat dari penghayatan saya pada nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh perguruan tinggi saya. Bagi saya dan teman-teman, seluruh proses pendidikan adalah pembentukan pribadi berpengetahuan dan berkarakter sekaligus.Ini yang mendorong kami tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang bermoral. Dalam menegakkan disiplin, sejauh demi keuntungan mahasiswa, kami tidak akan merasa takut kehilangan pekerjaan. Meskipun nanti mahasiswa yang tidak disiplin memberi nilai yang rendah kepada dosen – dalam survei kepuasan mahasiswa – kami toh tidak akan takut dan gentar. Sekali lagi, sejauh disiplin itu demi membentuk mahasiswa menjadi baik dan pintar. Saya dan teman-teman tentu yakin, bahwa mahasiswa yang dikirim oleh para orangtua dan dipercayakan pendidikannya kepada kami adalah orang-orang baik. Hanya segelintir mahasiswa yang masih punya masalah dengan disiplin. Dengan begitu, survei mengenai kepuasan mahasiswa kepada dosennya akan didominasi oleh kesan-kesan baik dari mayoritas mahasiswa yang sudah baik secara moral itu.

Tidak demikian halnya dengan peran saya sebagai dosen tidak tetap (honor) di perguruan tinggi lain. Sebagai gambaran, sejak 7 tahun terakhir saya memang mengajar juga di perguruan tinggi lain, terutama di sore dan malam hari seusai jam kerja di PT saya. Ada semacam pertimbangan kompromistis dari para dosen honor, bahwa  satu-satunya alasan supaya Anda dapat kelas untuk mengajar adalah apakah Anda disenangi oleh mahasiswa atau tidak. Celakanya, ukuran senang atau tidak senangnya mahasiswa itu diketahui lewat survei yang dilakukan online. Artinya, masih menurut logika ini, jika Anda terlalu menekankan disiplin, Anda akan tidak disenangi mahasiswa. Termasuk juga jika Anda terlalu pelit dalam memberi nilai. Jadi, logika ini sebenarnya mau mengatakan bahwa syarat untuk tetap menjadi dosen honor di perguruan tinggi adalah memuaskan keinginan mahasiswa.

Beberapa saat saya memang terpengaruh dengan cara berpikir semacam ini. Itu tampak dari bagaimana saya seringkali bersikap kompromistis terhadap disiplin mahasiswa. Konkretnya, jika ada mahasiswa yang terlambat masuk kuliah lebih dari 30 menit, saya kadang membiarkan saja. Demikian pula dengan keterlambatan mengumpul tugas atau kasus titip absen. Pengalaman saya menunjukkan bahwa sikap kompromistis ternyata menyulitkan saya untuk menegakkan disiplin. Misalnya, saya harus mengizinkan seorang mahasiswa mengikuti kuliah meskipun terlambat, karena di waktu lalu saya juga sudah mengizinkan mahasiswa lain yang melakukan kesalahan yang sama. Demikian juga dengan keterlambatan mengumpulkan tugas.

Saya lalu bertanya kepada diri saya sendiri: mengapa saya bersikap kompromistis dalam menegakkan disiplin? Mengapa saya tidak tegas dalam bersikap moral? Saya kira “ketakutan” tidak mendapat kelas karena mahasiswa memberikan feedback yang buruk kepada dosen menjadi semacam hantu yang menakutkan, dan itu ternyata ikut mempengaruhi cara saya berpikir. Sejujurnya, saya bersikap kompromistis selama beberapa semester sebelum tahun 2011. Tetapi kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Apa arti dari panggilan menjadi dosen kalau bersikap demikian?” “Bukankah Anda mengajar etika, tahu akan apa yang baik dan buruk secara moral, dan karena itu harus punya komitmen untuk menegakkan kebenaran?”

Terus terang pertanyaan ini mengusik dan mengganggu hati nurani saya. Akhirnya saya memiliki keberanian dan tekad untuk bersikap tegas dalam menegakkan moralitas. Apa yang saya lakukan di dua tahun terakhir menunjukkan bagaimana usaha saya mengubah sikap moral saya. Saya tidak lagi dihantui oleh ketakutan menegakkan disiplin karena dorongan untuk mendapat kesan positif dan feedback positif dari mahasiswa. Saya semakin yakin bahwa hanya mahasiswa yang buruk secara moral dan yang tidak suka akan disiplin saja yang akan memberi feedback negatif, dan itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yang lainnya akan memberi kesan positif, sehingga tidak ada alasan untuk takut tidak diberi kelas lagi di semester berikutnya.

Sebuah contoh konkret bisa saya berikan di sini, dan itu terjadi di perguruan tinggi tempat saya menjadi dosen honor tersebut. Salah satu dari dua kelas saya memang punya masalah dengan disiplin, terutama masuk kuliah tepat waktu. Dari pertemuan pertama saya sudah bisa membaca kecenderungan ini. Pertemuan kedua mulai kelihatan bahwa ada satu kelompok, semuanya sepertinya saling dekat satu sama lain, dan sama-sama terlambat masuk kuliah. Kali ini saya izinkan. Tetapi saya ingatkan lagi bahwa “pembiaran: itu tidak akan terulang lagi ke depannya. Minggu berikutnya mereka tetap terlambat. Di situlah saya sama sekali tidak mengizinkan mereka ikut kuliah. Akibatnya, seharusnya saya mengajar ke 49 mahasiswa, hari itu hanya ada 35 mahasiswa. Saya belum tahu, apakah minggu depan mereka akan terlambat lagi masuk kuliah. Yang jelas, jika terlambat lagi, mereka tetap tidak saya izinkan masuk. Dan kalau sudah absen 3 kali, mereka tahu bahwa mereka tidak akan diizinkan mengikuti ujian, baik UTS maupun UAS.

Saya belajar dari pengalaman saya sendiri akan 3 hal berikut. Pertama, mendidik harus dilaksanakan satu paket antara mentransfer ilmu dan membentuk karakter. Ketidakmampuan membentuk karakter hanya akan menyisakan satu dimensi bagi panggilan menjadi dosen, dan itu bukanlah profesi dosen yang sesungguhnya. Kedua, sikap kompromistis dalam menegakkan disiplin atau sikap tidak tegas dalam bertindak moral ternyata hanya akan menyulitkan diri sendiri. Di sini saya mengerti dengan baik apa artinya menjadi orang yang kuat secara moral, yakni orang yang selalu bertindak moral tanpa takut akan akibat-akibat yang ditimbulkan, sejauh dia benar. Dan itu menuntut saya menjadi orang yang harus memiliki keberanian moral. Ketiga, kepentingan pribadi atau hidden agenda ternyata dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan sikap moral. Dalam kasus saya, hidden agendanya adalah keinginan tampil sebagai dosen yang disukai mahasiswa, supaya dapat nilai baik, hasil survei mengenai dirinya baik, supaya bisa dapat kelas di semester depan. Memang ada masalah dengan cara institusi menilai dosennya, yakni dengan percaya begitu saja pada hasil feedback mahasiswa yang nota bene diberikan secara anonim. Meskipun demikian, saya belajar untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral, tidak peduli apakah penegakan moralitas itu diterima atau ditolak mahasiswa.

Barangkali seperti ini juga yang harus kita lakukan dengan penegakkan disiplin dan moral di negeri ini. Semakin kita bersikap kompromistis terhadap perilaku non moral, ternyata kita tidak hanya semakin jauh dari nilai-nilai moral, tetapi juga semakin tidak mampu bertindak secara moral. Apalagi jika sikap kompromi itu didasarkan pada kepentingan diri yang ingin kita raih, entah itu jabatan, kekayaan, atau semacamnya. Semoga Anda pun demikian.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s