KEMAMPUAN MENYESUAIKAN DIRI

Gadis itu bernama Florence. Energik, optimistik, dan selalu berpandangan jauh ke depan. Kesehariannya di lewati dengan hidup dalam keteraturan. Itu tampak sejak dia masih anak-anak. Orangtuanya memang mengakui, bahwa Florence seorang yang teratur hidupnya. Ia memiliki jadwal harian yang cukup padat dan ditaati secara ketat. Jika bukan hari libur, dia jarang menghabiskan waktu lebih dari sejam di depan televisi. Berbagai tugas sekolah selalu dikerjakannya tepat waktu. Demikian pula dengan pekerjaan-pekerjaan di rumah seperti membantu ibu membersihkan rumah, mencuci piring, merawat tanaman di taman, dan sebagainya. Hal yang paling tidak disukai Florence adalah ketidakteraturan hidup.

Di sekolah Florence dikenal sebagai siswi yang memiliki standar ekspektasi yang sangat tinggi. Dia menginginkan agar teman-temannya mandiri, terutama dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Dia jarang membantu teman-temannya yang nyata-nyatanya malas dan hanya ingin memanfaatkan kebaikan hatinya. Sementara rekan-rekannya yang memiliki prestasi akademik yang pas-pasan umumnya dibantunya. Sekali lagi, Florence sangat ingin agar standar hidup dan level pencapaian akademiknya juga menjadi standar hidup dan level akademik teman-temannya. Dia sendiri merasa tidak nyaman berada di antara rekan-rekan yang malas, parasit, dan sok pintar.

Standar pencapaian yang tinggi ini terus dibawanya hingga ke dunia kerja. Bekerja sebagai salah satu staaf akunting di sebuah perusahaan ternama, Florence selalu mengerjakan segala hal dengan sempurna. Celakanya, ada saja orang-orang di sekitar yang bermental pecundang, parasit, dan ingin bersembunyi di balik performance Florence. Maklum, kadang-kadang apa yang dikerjakan mewakili pekerjaan tim. Dan seperti biasa, Florence sering menjauhkan diri dari rekan-rekannya yang bersifat semacam itu.

Cara hidup seperti ini membuat Florence lambat-laun juga tidak disukai orang. Mereka menilai, Florence terlalu sombong, sok sempurna, tidak setia kawan, idealis, dan semacamnya. Semula Florence maksudkan, bahwa dengan menjauhi rekan-rekan yang malas adalah strategi untuk mendidik mereka agar bisa mendekati level kualitas dirinya, strategi itu lalu berubah menjadi hal yang negatif. Padalah dia sendiri sebetulnya tidak suka jika dijauhi dan dimusuhi. Dia tidak ingin kehilangan teman-teman.

Florence pun mengganti pendekatan. Kali ini dia tidak sekeras sebelumnya. Standar hidupnya diturunkan dengan menyesuaikan diri sepenuhnya kepada keinginan orang-orang di sekitarnya. Florence berhenti menjadi dirinya sendiri dan membentuk dirinya seperti yang dikehendaki orang lain. Apa jadinya? Apakah strategi ini berhasil? Florence ternyata tidak menemukan apa yang dikehendakinya. Karakternya yang perfeksionis dan standar kesempurnaan yang relative tinggi rupanya sulit dikompromikan dengan cara hidup orang kebanyakan. Yang terjadi kemudian adalah rasa tertekan, frustrasi, rasa tidak puas, dan semacamnya. Jadi, keadaannya sebenarnya tidak berubah, yakni antara mempertahankan secara ketat standar hidupnya dan membiarkan orang lain mengikuti standar hidup itu di satu pihak dengan mengikuti sama sekali standar hidup orang lain di lain pihak.

Perlahan-lahan Florence menyadari bahwa cara hidup demikian justru merugikan dirinya sendiri. Dia mengakui, bahwa memang semula dia menginginkan hidup dan realitas di sekitarnya berubah sesuai dengan idealismenya, hal yang ternyata mustahil terjadi seratus persen. Juga tidak mungkin menghilangkan jati diri dan menjadi sepenuhnya seperti kemauan khalayak. Dia sadar, bahwa mengubah diri sesuai ekspektasi orang ternyata juga menyakitkan. Semakin menyesuaikan diri, dia justru mengalami semakin sakit hati. Keadaan tetap tidak berubah seperti yang dia inginkan.

Di titik tertentu, ketika Florence sedang berusaha menemukan cara terbaik merajut dan merancang kehidupannya, dia sampai pada sebuah kesadaran, bahwa dirinya harus menjadi jujur dengan dirinya sendiri serta ekspektasi-ekspektasinya. Dia menemukan kebijaksanaan ini, katanya, “Saya belajar untuk menerima hal-hal yang saya sendiri tidak bisa mengubahnya sembari mengubah hal-hal yang bisa saya ubah.” Kesadaran inilah yang membawa dia kepada sikap realistis, bahwa hal baik dan buruk terjadi di dunia ini. Bahwa tidaklah mungkin memaksakan hanya kebaikan yang terjadi di dunia ini. Juga sebaliknya, membiarkan seluruh keburukan terjadi di dunia ini justru merusak dan menghancurkan manusia sendiri.

Manusia dilengkapi kemampuan menyesuaikan diri. Terhadap hal yang tidak sanggup dia ubah, dia akan menyesuaikan diri, tetapi dengan optimisme dan pengharapan, bahwa akan datang kesempatan di mana hal-hal tertentu akan bisa diubah.

KUTIPAN:

“Berbahagialah hati yang dapat melentur; ia tidak akan pernah bisa hancur” (Albert Camus)

“Tuhan tidak menghendaki kamu melakuan sesuatu hal apa pun; Dia hanya ingin menyempurnakan kamu” (Kebijaksanaan orang Kristiani)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s