Ketika Filsuf Galau di Busway

 

Sore hari, sekitar pukul 14:30 Wib, di hari Jumat minggu terakhir bulan Juni 2012. Menyusuri jembatan panjang  busway yang menghubungkan halte busway Bendungan Ilir depan kampusku dengan halte Semanggi. Kaki ini tidak buru-buru melangkah, toh keesokan harinya libur. Pikirku, kadang-kadang harus berjalan perlahan-lahan dan menikmati kesendirian. Menurunkan irama langkah bisa jadi sebuah cara sederhana memperlambat detak jarum jam, setidaknya bagi caraku menghayati waktu. Pasalnya, melangkah secara perlahan di kota sebesar Jakarta itu sebuah keanehan persis ketika ribuan orang melangkah cepat-cepat dan cendrung berlari di jam sibuk. Memperlambat gerakan kaki bagiku sama saja dengan membiarkan diri menikmati musik atau berbaring di tempat tidur tanpa memikirkan apa pun dan tiba-tiba terkejut kalau sudah dua jam berlalu. Ya, apalah artinya waktu.

Tidak seperti biasa, hari Jumat ini saya memilih berangkat kerja dengan menumpang busway. Sepeda motor tuaku kubiarkan terparkir di rumah. Bagiku, menumpang busway atau kendaraan umum lain itu baik dan menyenangkan, karena memaksa seseorang untuk berolahraga. Ini pelajaran berharga yang aku dapatkan ketika sebagai mahasiswa di Eropa, aku dipaksa banyak berjalan kaki, setidaknya dari kamar kos ke halte bis. Bagi saya, siapa pun yang menumpang kendaraan umum pasti dipaksa berolahraga karena dia harus berjalan dari rumahnya atau kosnya ke halte terdekat, ya kecuali kalau dia memaksa angkot menurunkan dia persis di depan rumahnya. Dan hal ini yang banyak kali dipraktikkan di Indonesia (lagian, angkot kan tidak ada haltenya). Apalagi jika berjalan di sepanjang jembatan penyeberangan dari halte busway Bendungan Ilir ke Semanggi, duh, panjang banget. Istriku pernah sumpah serapa tidak akan mau berjalan lagi di jembatan penyeberangan ini, katanya terlalu panjang. Tapi sekali lagi, kalau diniatin sebagai cara jitu berolahraga, ya tidak ada masalah.

Tidak terlalu lama menunggu kedatangan busway dari arah Cawang ke Grogol. Tumben, kali ini banyak kursi kosong sehingga bisa duduk. Saya beruntung. Ketika kendaraan merayap perlahan hinggah Grogol, saya bisa menikmati sejuknya pendingin udara dalam busway sambil mendengarkan lagu-lagu slow nan romantis dari speaker radio yang persis ada di atas kepalaku. Mataku perlahan kukatupkan sambil berharap bisa tertidur.

Tetapi tiba-tiba saja intro musik sebuah lagu membangunkan kesadaranku. Ya, itu lagu paling romantis dari semua lagu yang pernah aku sukai. Alunan musik nan lembut dan vocal suara yang prima dari Richard Marx segera memanjakan penumpang dengan lagu berjudul “Now and Forever”. Duh, lagu ini lagi yang diputar, begitu hati kecilku bereaksi. Maka segera terdengar kata-kata puitis yang menghipnotis keluar dari mulut Richard Marx berikut: Whenever I’m weary from the battles that rage in my head / You make sense of madness when my sanity hangs by a thread / lose my way but still you seem to understand / Now and forever I will be your man. Sometimes I just hold you/Too caught up in me to see/I’m holding a fortune that heaven has given to me/I’ll try to show you each and every way I can/Now and forever I will be your man/Now I can rest my worries and always be sure/That I won’t be alone anymore/If I’d only known you were there all the time/All this time/Until the day the ocean doesn’t touch the sand/Now and forever I will be your man/Now and forever I will be your man.

Itulah kekuatan sebuah lirik lagu, puisi, atau bahkan doa. Dia membangkitkan imajinasi, membawa kesadaran ini pergi jauh, keluar dari ruang dan waktu kini, membawa seseorang ke waktu lain di masa lampau, ke momen di mana sebuah pengalaman sangat personal pernah terjadi. Lagu itu jelas mengisahkan sebuah pengertian dari seorang kekasih. Rasa cinta mendalam kini diekspresikan kepada sang kekasih sebagai tanda dia yang dikasihi memberi cintanya tanpa kondisi. Begitulah, ketika seseorang sedang galau (Whenever I’m weary from the battles that rage in my head), dia yang dikasihi justru hadir dan memberi pengertian. Meskipun aku kehilangan arah dan tujuan hidup, sang kekasih toh tetap memahami dan menerima apa adanya (lose my way but still you seem to understand). Itulah pengalaman amat berharga yang meyakinkan seseorang, bahwa dirinya si lelaki yang tepat untuk sang pujaan (Now and forever I will be your man), sekarang dan selamanya.

Sang kekasih pun memberikan keyakinan pada dirinya sendiri, bahwa jika dia yang dikasihi menerima dirinya apa adanya, maka keputusan untuk menjadi “si lelaki” buat dirinya akan menjadi sebuah pilihan kekal. Itulah cinta sejati yang tidak akan lekang dimakan usia, kasih murni yang mampu menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, bahkan ketika lautan tidak lagi mencumbu bibir pantai (Until the day the ocean doesn’t touch the sand/Now and forever I will be your man). Itulah keyakinan cinta, bahwa kasih yang dibangun antardua insan yang saling memberi diri apa adanya mampu bertahan di tengah berbagai godaan, cobaan, dan kesulitan hidup. Ah, imajinasi ini begitu liar, membawaku jauh ke masa lebih dari sepuluh tahun lalu. Kenangan itu meyakinkanku bahwa cinta yang dirajut dan bertahan hingga kini sungguh sebuah pilihan bahwa sekarang dan selamanya, aku harus tetap menjadi “lelaki untuk si dia”.

Filsuf Boleh Galau

Apa urusannya dengan seorang filsuf? Apakah seorang filsuf tidak boleh galau atau cengeng? Hahaha, orang berlebihan menganggap filsuf sebagai sosok pemikir yang cool, tidak terpengaruh oleh hempasan emosi dan kecengengan, karena pikiran rasionalnya mengontrol perilakunya. Per definisi, filsafat cenderung diposisikan sebagai ilmu yang dengan kemampuan rasionalnya, mampu mengambil jarak terhadap realitas. Berfilsafat sama artinya dengan mempertanyakan realitas, mengambil jarak, memahami realitas itu dan memaknakannya secara kurang lebih objektif. Dalam arti itu, filsafat dianggap sebagai ilmu yang memberangus emosi, perasaan, imajinasi, dan semacamnya.

Jika dipahami dalam artian itu, saya bisa dianggap sebagai seorang filsung yang cengeng, galau, subjektif, dan semacamnya. Tetapi apalah artinya distingsi atau pembedaan semacam itu? Bukankah filsafat hanyalah alat atau cara bernarasi? Jika dipahami demikian, maka pengalaman terbuai dalam lantunan lagu “Now and Forever” harus dianggap sebagai salah satu cara berfilsafat. Mengeksis dalam ruang imajinatif yang membawaku ke sebuah keabadian waktu di masa lampau, yang memberi keyakinan akan dimensi “objektif” sebuah pengalaman cinta justru merupakan cara mengada. Itulah cara menarasikan pengalaman hidup dalam dimensinya yang paling segar. Filsafat tanpa emosi dan imajinasi hanya akan memiskinkan pengalaman itu sendiri. Bahasa filsafat yang kering tidak menginspirasi kehidupan.

Ya, seorang filsuf yang naik busway di suatu sore, membiarkan diri terperangkap masuk dalam sebuah keabadian waktu, bercumbu dengan pengalaman yang sangat personal, segar, menembus ruang dan waktu, dan lalu memaknakannya kembali dalam sebuah narasi hermeneutis. Memang terdengar ada pemaksaan atau pengebirian realitas karena terbatasnya bahasa pengungkap. Tetapi paling tidak, sebuah perspektif telah disodorkan, bahwa berfilsafat dapat terjadi kapan saja, tidak harus dari balik meja atau rak-rak buku di perpustakaan yang kering dan miskin imajinasi.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s