ORGAN TUBUH TKI HILANG DI MALAYSIA?

Reaksi keras keluarga korban tiga TKI asal NTB yang organ tubuhnya diduga dicuri pasca penembakan oleh kepolisian diraja Malaysia dapat dipahami. Pertama, meskipun penjualan organ tubuh – terutama ginjal, hati, jantung, paru-paru, dan pankreas – masih menjadi topik perdebatan di banyak negara, menjual organ tubuh tanpa persetujuan pendonor (informed consent maupun presumed consent) adalah salah secara hukum dan moral. Kedua, secara etis, penjualan organ tubuh tanpa persetujuan pendonor tidak hanya menghancurkan identitas dan integritas tubuh, tetapi juga mereduksikan tubuh hanya sebagai komoditas.

Meskipun belum bisa dibuktikan apakah ada penjualan organ tubuh ketiga TKI asal NTB tersebut, pembacaan atas kelangkaan organ tubuh untuk transplantasi di Malaysia saat ini dapat memberi petunjuk kemungkinan adanya pasar ilegal. Jika terbukti ada perdagangan organ tubuh secara ilegal, praktik semacam ini akan menjadi tamparan keras bagi pemerintah Malaysia yang sejak lima tahun terakhir gencar mengkampanyekan donasi organ tubuh secara sukarela.

Jual Beli Organ Tubuh

Situs Wikipedia (edisi Bahasa Inggris) mencatat bahwa tiga negara yang paling banyak mempraktikkan penjualan organ tubuh secara ilegal adalah Moldova, Brazil, dan India, kemudian ada Pakistan, China, Yordania, Filipina, dan Israel. Menarik bahwa Malaysia tidak disebut, sementara Indonesia dituding termasuk negara yang memiliki pasar ilegal organ tubuh manusia. Pada tanggal 27 Juni 2008, Sulaiman Damanik, seorang WNI didakwah bersalah oleh Pengadilan Singapura karena menjual salah satu organnya kepada warga Singapura seharga lebih dari 20 ribu US Dollar.

Apakah dengan begitu dapat disimpulkan bahwa tidak ada perdagangan ilegal organ tubuh manusia di Malaysia? Pada bulan September 2011, otoritas Bangladesh menuding salah satu Rumah Sakit di Selangor terlibat dalam perdagangan organ tubuh dengan korban warga negara Bangladesh. Malaysian Society of Transplantation, dan terutama Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Liow Tiong Lai, membantah keras hal ini (Malaysian Society of Transplantation, 27 September 2011).

Data statistik Malaysia menunjukkan bahwa sampai bulan September 2010, terdapat 10.000 pasien yang berada di daftar tunggu penerima donasi ginjal, 7 pasien jantung, dan 4 pasien paru-paru. Berkat kampanye gencar yang dilakukan Malaysian Society of Transplantation, sudah ada 146.362 pendaftar yang bersedia mendonorkan bagian tubuhnya secara suka rela ketika meninggal dunia. Meskipun demikian, realisasinya baru mencapai 300 orang. Itu artinya kelangkaan organ tubuh di Malaysia masih sangat tinggi.

Sekali lagi data-data ini tidak langsung menunjukkan adanya praktik ilegal penjualan organ tubuh di Malaysia, termasuk kemungkinan ketiga TKI asal NTB menjadi korbannya. Meskipun demikian, kita mendapat gambaran bahwa kelangkaan ketersediaan organ tubuh dapat memicu terjadinya perdagangan gelap seperti yang terjadi di Cina dewasa ini. Tentu kita tidak berharap bahwa kepolisian diraja Malaysia membunuh secara sewenang-wenang para penjahat Indonesia dan mengambil organ tubuhnya untuk dijual, sama seperti praktik di Cina di mana 90 persen ketersediaan organ untuk transplantasi berasal dari narapidana yang dihukum mati (Nicholas Bequelin, 2007).

Melalui Malaysian Society of Transplantation, pemerintah Malaysia gencar mengkampanyekan donor organ tubuh secara sukarela demi membantu sesama. Dan, sebagai negara yang sudah mengamandemen Deklarasi Istanbul tentang Organ Trafficking and Transplantation (2008), Malaysia wajib mencegah perdagangan ilegal organ tubuh. Komitmen pemerintah Malaysia untuk menyelidiki apakah ada pencurian organ tubuh ketiga TKI asal NTB menjadi pertaruhan kredibilitas negara itu di mata internasional.

Pelanggaran Etis Serius

Tidak mudah memahami perdebatan etika seputar donasi dan perdagangan organ tubuh. Tiga posisi moral mewarnai perdebatan ini (Peter Singer dan Helga Kuhse, 2001). Pertama, kaum konservatif yang menolak sama sekali donasi dan transplantasi organ tubuh, sama seperti mereka juga menolak aborsi, kontrasepsi, euthanasia, kloning, dan sebagainya. Dengan dukungan pandangan agama dan teologi tertentu, kelompok ini memosisikan manusia sebagai pribadi yang utuh, yang karenanya, kehilangan satu organ tubuh berarti kehilangan identitas dan makna hidup.

Kedua, kelompok liberal yang beranggapan bahwa organ tubuh adalah milik individu. Mendasarkan diri pada otonomi individu, kelompok ini berpendapat bahwa menjual atau tidak menjual, mendonasi atau tidak mendonasi organ tubuh adalah hak prerogatif individu. Celakanya, pandangan kelompok ini sering jatuh ke dalam komersialisasi organ tubuh persis ketika kelompok masyarakat miskin beranggapan bahwa penjualan organ tubuhnya adalah cara untuk keluar dari kemiskinan dan kemelaratan hidup.

Ketiga, kelompok utilitaris yang menolak perdagangan tubuh karena pembelaan mereka atas tindakan altruis manusia demi kebaikan lebih banyak orang. Bagi mereka, organ tubuh harus didonasikan secara sukarela kepada orang yang membutuhkan, yang status kesehatan atau kesembuhannya dapat mendatangkan keuntungan bagi lebih banyak orang. Pandangan ini jatuh ke dalam kalkulasi untung rugi dengan membiarkan kelompok kecil masyarakat menikmati kebaikan hati orang lain atas nama kepentingan umum.

Kampanye yang dilakukan Malaysian Society of Transplantation mengindikasikan bahwa negara itu condong pada posisi kaum utilitaris. Jika asumsi ini benar, kritik utama terhadap pendekatan ini terletak pada bagaimana mendisrtibusikan organ yang sudah disimpan di klinik-klinik transplantasi itu? Bukankah kriteria mendahulukan kepentingan mereka yang kesehatan dan keselamatannya membawa keuntungan bagi lebih banyak orang itu justru merugikan mereka yang lebih parah (vulnerable) kondisi kesehatannya? Bukankah pendekatan utilitaristik dapat mengarah kepada penghalalan cara mendapatkan organ tubuh demi kepentingan kelompok tertentu (termasuk misalnya ”mencuri” organ tubuh para penjahat setelah ditembak mati)?

Dalam kasus tiga TKI asal NTB, jika telah terjadi pencurian organ tubuh, pemerintah Malaysia melanggar salah satu kode etik yang sangat dijunjung tinggi dalam profesi kedokteran: prinsip persetujuan pasien (informed consent). Melanggar prinsip ini tidak hanya melawan kebebasan dan otonomi individu, tetapi memosisikan tiga TKI kita sebagai objek. Kalau sekarang kita marah, itu karena negara serumpun itu tidak menghormati ketiga anak bangsa kita sebagai manusia.[]

Satu pemikiran pada “ORGAN TUBUH TKI HILANG DI MALAYSIA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s