Rendahnya Rasa Empati Calon Dokter

Kita pantas cemas membaca hasil penelitian Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) tentang rendahnya empati para calon dokter Indonesia. Hampir 60 persen mahasiswa fakultas kedokteran tahun pertama (penelitian terhadap mahasiswa angkatan 2008 di Universitas Indonesia) tidak layak menjadi dokter karena tidak memiliki kemampuan empati (AIPKI, 2012). Dalam rangka merevisi kurikulum pendidikan kedokteran Indonesia yang sekarang sedang berjalan, AIPKI kemudian mengusulkan kuliah bioetika sebagai medium pembentukan rasa empati para calon dokter. Mengapa calon dokter kehilangan rasa empati? Apakah humaniora kedokteran dan bioetika sanggup menjadi “dewa penyelamat”?

Bukan Fakta Baru

Di Amerika Serikat, misalnya, rendahnya empati terhadap pasien telah menimpa para dokter. Temuan Lown Beth A., Rosen Julie, Marttila John (Jurnal Health Affairs, Februari 2011), menunjukkan menurunnya rasa empati para dokter. Penelitian terhadap 800 pasien dan 510 dokter menunjukkan bahwa hanya 53 persen pasien dan 58 persen dokter yang mengakui bahwa pelayanan kesehatan masih memperhatikan pendekatan kemanusiaan dan sikap bela-rasa (compassion). Padahal, penelitian menunjukkan bahwa seorang dokter yang sanggup menunjukkan rasa empati dan memiliki sikap bela-rasa, meskipun dalam waktu kurang dari satu menit, mampu mengurangi rasa khawatir dan ketakutan, terutama para pasien terminal (Linda A. Forgarty dkk, 2009, 371-379). Jadi, bisa dibayangkan apa jadinya jika dilayani oleh dokter yang tidak memiliki empati dan bela-rasa.

Sudah sejak Hippocrates (460-370 SM), profesi kedokteran dipahami sebagai panggilan khusus untuk menyembuhkan, mengajar, dan menjadi model bagi masyarakat. Untuk itu, mereka dituntut tidak hanya mempraktikkan keahlian medikal, tetapi juga keterampilan manusiawi yang peduli, peka terhadap penderitaan dan rasa khawatir pasien, pemberi pengharapan, penyemangat, dan teladan dalam mengubah cara hidup yang lebih sehat (Richard Colgan, 2009: 13-22). Dalam konteks ini, relasi dokter–pasien dimaknakan lebih sebagai kesempatan untuk mengalami tidak hanya kesembuhan, tetapi juga relasi antarmanusia yang saling meneguhkan dan menguatkan (Anne H. Bischop dan John R. Scudder, Jr., 1985, 10-14).

Jika begitu, tampaknya ada yang hilang dari profesi kedokteran dewasa ini. Sebagai seorang dokter dan filsuf, Edmund D. Pellegrino berpendapat bahwa sejak Perang Dunia II profesi kedokteran telah kehilangan dimensi seni (art) karena menekankan hanya dimensi teknikalitas. Profesi kedokteran direduksikan kepada biologi terapan yang memberikan keyakinan berlebihan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan sanggup menyembuhkan segala macam penyakit. Akibatnya, hubungan dokter–pasien dipersempit menjadi sekadar healing encounter, dan bukan ethical encounter (Anne H. Bischop, 1985, 8-30).

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan adanya ketercerabutan medicine as art dari scientific medicine karena keyakinan berlebihan pada evidence based medicine (EBM) sebagai dewa penyembuh. Dalam tulisan berjudul “Catastrophe and caregiving: the failure of medicine as an art” yang terbit di Lancet (Vol 371, Januari 2008), Arthur Kleinman berpendapat bahwa lenyapnya “medicine as art” disebabkan oleh sistem pendidikan di fakultas kedokteran sendiri yang sengaja menghilangkan dimensi humaniora. Dia berpendapat bahwa ini terjadi karena “medicine as art” telah dikuasai oleh “technical scientific skill of diagnosis and treatment.” Para mahasiswa tidak lagi memiliki kesempatan membangun kepekaan manusiawi seperti empati, simpati, bela-rasa, solidaritas, dan semacamnya. Konsekuensinya, dokter yang dihasilkan memperhatikan hanya aspek teknis dalam mendiagnosa dan menyembuhkan (hanya dimensi cure) tanpa rasa kemanusiaan (dimensi care). Sebagian dokter malah menganggap kepedulian, empati, bela-rasa dan semacamnya sebagai hal yang aneh. Bagi mereka, empati, simpati, solidaritas, bela-rasa dan semacamnya bukanlah bagian integral dari profesi kedokteran.

Kegundahan AIPKI pun memiliki dasar yang kuat. Disadari bahwa sistem pendidikan di fakultas kedokteran selama ini yang terlalu menekankan dimensi saintifik dan menganaktirikan humaniora hanya akan menghasilkan dokter tanpa rasa simpati dan kepedulian sosial. Jika AIPKI mengusulkan kuliah bioetika sebagai jalan keluar, apakah ilmu ini sanggup memikul beban pembentukan “medicine as an art”?

Peran Humaniora Kedokteran

Sebagai ilmu baru yang belum berumur lima puluh tahun, bioetika mengalami perkembangan yang sangat pesat. Meskipun ribuan buku dan jutaan paper telah dipublikasikan, pertanyaan apakah bioetika sanggup memikul tanggung jawab mengembalikan “medicine as an art” ke jantung profesi kedokteran masih menjadi perdebatan serius (Ruth Macklin, 2010). Penekanan berlebihan pada aspek relasi dokter–pasien berdasarkan empat prinsip bioetika (autonomy, beneficence, non-maleficence, justice) hanya akan mereduksikan bioetika sebagai instrumen pemecahan masalah etika biomedis di rumah sakit. Jika ini terjadi, bioetika dikerdilkan dari dimensi-dimensi lainnya yang juga penting semisal kesehatan masyarakat dan etika kesehatan masyarakat, stigmatisasi sosial berdasarkan penyakit, ketidaksetaraan akses pelayanan kesehatan karena gender atau ras, dan sebagainya (Angus Dawson: 2010, 218-225).

Tentang apakah bioetika sanggup membentuk karakter dokter yang penuh empati dan berbela-rasa, penulis mengajukan dua catatan kritis. Pertama, bioetika dapat menjadi sarana pembentukan kepribadian dokter yang memiliki empati dan berbela-rasa jika cakupannya diperluas dengan pendekatan-pendekatan bioetika dari tradisi lain. Refleksi bioetika yang selama ini nyaris dikuasai oleh tradisi Amerika Serikat dengan empat prinsip bioetikanya (autonomy, benevolence, non-maleficence, justice) memiliki keterbatasan karena tidak mampu menjawab isu-isu seputar kebijakan publik di bidang kesehatan, penyebaran penyakit menular lintas negara, diskriminasi akses terhadap pelayanan kesehatan, kelangkaan obat, kelompok lanjut usia, dan sebagainya. Bioetika dapat diajarkan di fakultas kedokteran dengan catatan tradisi lain seperti etika personalisme Eropa yang menekankan manusia sebagai pribadi dan mahkluk historis harus diakomodasi ke dalam keempat prinsip bioetika Amerika Serikat itu plus nilai-nilai budaya, tradisi keagamaan, pandangan hidup, filsafat tentang sakit dan penderitaan, dan sebagainya yang khas Indonesia. Bioetika hanya bisa menjadi medium pembentukan karakter dokter yang empatik jika prinsip-prinsipnya dibaca dan diterapkan dalam konteks budaya kedokteran Indonesia.

Kedua, mengikuti William E. Stempsy (2007, 373-383), penulis berpendapat bahwa humaniora kedokteran lebih cocok dikembangkan di fakultas kedokteran dengan bioetika sebagai salah satu materi ajar. Jalan keluar ini akan menyelamatkan bioetika dari beban berlebihan yang harus dipikulnya. Selain itu, humaniora kedokteran adalah disiplin lintas ilmu yang melingkupi tidak hanya filsafat kedokteran, tetapi juga sejarah, literatur, seni, agama, sosiologi dan antropologi kedokteran, psikologi kesehatan, public speaking, drama, tari, mengarang, live-in, dan sebagainya. Dalam ranah humaniora kedokteran inilah bioetika bisa memfokuskan diri pada etika biomedis, sementara disiplin ilmu lain mendukung pembentukan karakter dokter yang simpatik dan humanis itu. Tentu dengan pendekatan yang mengkombinasikan konten (kognitif) dengan aspek afektif dan psikomotorik.[]

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Harian Suara Pembaruan, 14 April 2012 (hlm. 4).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s