TIDAK ADA YANG KEBETULAN

Sudah beberapa kali saya mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Jakarta, Mgr. Dr. Ignatius Suharyo, Pr. Terakhir adalah pada tanggal 31 Januari 2012, pada pesta peringatan Santo Yohanes Bosco di Paroki Sunter, Jakarta Utara. Salah satu refleksi yang diangkat Bapak Uskup dan yang terus menjadi bahan pemikiran saya, adalah penolakannya terhadap “aspek kebetulan” dalam hidup manusia, terutama jika dilihat dari kaca mata iman (Katolik). Apa maksudnya?

Contoh yang diberikan Mgr. Suharyo dapat menjadi pintu masuk memahami pemikiran dan refleksi imannya. Bapak Uskup bercerita bahwa suatu ketika, dalam sebuah penerbang ke suatu tempat, dia bertemu dengan seseorang yang kemudian mengenalnya sebagai seorang imam (pastor) Katolik. Ketika tahu bahwa Mgr. Suharyo adalah seorang pastor, orang itu berkata, “Romo, kebetulan saya juga seorang Katolik.”

Mengomentari pengalaman itu, Bapak Uskup menekankan bahwa tidak ada kebetulan dalam pengalaman manusia, terutama jika dilihat dari kaca mata iman. Kalau begitu, apakah ada dessain Ilahi dalam setiap pengalaman manusia? Apakah ada semacam “takdir” atau rencana dan penyelenggaraan Ilahi dalam setiap langkah dan pengalaman manusia, sekecil apa pun? Jika benar, apakah manusia tinggal menjalankan saja rencana atau takdir Ilahi itu? Sejauh mana takdir Ilahi itu tidak bertentangan dengan kebebasan manusia?

Kesempatan berbuat baik

Supaya tidak salah sangka, Bapak Uskup tidak membahas pertanyaan-pertanyaan ini, apalagi merefleksikannya secara filosofis, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tersebut lebih menyangkut persoalan filsafat, tepatnya masalah kebebasan dan predestinasi. Bagi Bapak Uskup, Tuhan memiliki rencana bagi setiap orang, dan rencana itu adalah kebaikan. Manusia dipanggil untuk melakukan kebaikan. Pengalaman bertemu dengan orang lain, entah dengan rekan seiman atau berbeda iman, harus dilihat sebagai momentum rahmat, saat “suci” atau kesempatan agung di mana manusia dipanggil untuk berbuat baik bagi sesama. Karena itu, setiap pengalaman atau setiap perjumpaan seharusnya dihayati sebagai saat di mana Tuhan dialami bersemayam dalam hati kita. Bahwa Tuhan yang adalah sumber kebaikan dalam diriku memancarkan kebaikan keluar, bertemu dengan kebaikan yang dipancarkan oleh orang lain yang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan bersama-sama memancarkan kebaikan bagi masyarakat dan semesta.

Barangkali dalam pemikiran seperti inilah kita mengerti dengan baik mengapa sapaan, salam, senyuman, atau “say hi” kepada orang yang kita jumpai, entah sudah dikenal atau belum, menjadi simbol keterbukaan diri kepada ekspresi kebaikan Tuhan itu. Di sini saya teringat sebuah kisah yang sudah lama sekali saya baca. Suatu waktu, seorang pemuda yang biasanya ceria, murah senyum, dan suka menyapa orang, mendapatkan dirinya dalam sebuah angkutan umum yang pengap dan sunyi. Di dalam angkot itu, tidak ada satu orang pun yang menyapa atau tersenyum pada orang lain. Setiap orang sibuk memainkan handphone mereka. Ada yang chatting, ada yang bermain game, mendengar musik atau membuat phone call. Dasarnya tidak suka  berdiam diri dan ingin berkomunikasi dengan orang di sekitarnya, sang pemuda itu pun berteriak, katanya, “Hei, apakah ada orang di dalam angkot ini?” Sontak orang-orang pun terkejut. Mereka melihat ke arah pemuda itu. Ada yang tersenyum, ada yang sinis, ada yang cuek tidak peduli, ada yang menyilangkan jari telunjuk di dahinya (“sinting kali ya orang ini”). Tetapi tidak bagi seorang ibu yang duduk persis di hadapannya. Sambil tersenyum, ibu itu berkata kepada pemuda itu, “Hai anak muda, apa kabar?”

Itulah awal dari dialog antar si pemuda dengan ibu yang duduk di hadapannya. Angkutan umum terus melaju dan si pemuda itu pun terus ngobrol dengan ibu yang baru saja dikenalnya dalam angkot itu. Mereka berbicara banyak hal, tidak fokus pada satu masalah saja. Ya, pembicaraan yang ringan dan santai. Apa yang dibicarakan itu tidak penting dalam pengalaman singkat itu, yang penting adalah sapaan, teguran, dan keterbukaan untuk berelasi dengan orang lain. Dan karena angkot itu begitu kecil sementara sang ibu dan pemuda itu terus mengobrol, suara mereka pun mengusik orang lain yang ada di sekitar mereka. Jika sebelumnya orang-orang di angkot itu sibuk dengan diri sendiri, suara obrolan kedua orang itu begitu mengganggu mereka sehingga mereka “terpaksa” ikut ngobrol juga dengan penumpang lain yang ada di samping atau di depan mereka. Ya, begitulah yang terjadi sampai semua penumpang yang ada dalam angkot itu pun berbicara satu sama lain.

Pengalaman perjumpaan tidak pernah merupakan kebetulan. Pengalaman itu adalah kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama. Dengan berbuat baik, seseorang tidak hanya menguntungkan orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Dan itu mengandaikan setiap orang berani membuka diri, berani menanggalkan urusan pribadi masing-masing dan mulai menyapa orang lain. Pemuda dalam angkot itu menyatakan hal yang sangat sederhana, bahwa membuka diri harus dimulai dari kita. Inisiatif membuka diri itu harus dimulai dari kita masing-masing. Kita tidak harus menunggu orang lain datang dan menyapa. Kitalah yang memulai duluan. Bahwa kemudian sapaan atau kehendak baik kita ditolak, itu sudah merupakan konsekuensi dari niat dan keinginan berbuat baik. Semuanya pasti ada konsekuensinya.

Manusia tetap bebas

Kembali ke pertanyaan filosofis yang saya ajukan di atas, apa jawabannya? Bagi saya, rencana dan penyelenggaraan Ilahi selalu ada dan menyertai hidup manusia. Setiap pengalaman memang bukan suatu kebetulan, dan dalam hal ini saya setuju sepenuhnya pada refleksi dan pemikiran Mgr. Suharyo. Meskipun demikian, seturut pemahaman saya yang bukan teolog atau ahli kitab suci, Tuhan tidak pernah bersifat sewenang-wenang. Tuhan tidak mau mengambil kembali kebebasan yang sudah Dia berikan kepada manusia. Tuhan menghormati kebebasan manusia. Karena itu, rencana dan penyelenggaraan Ilahi ditampakkan Tuhan kepada kita sebagai ”tawaran” yang mendorong kita untuk berbuat baik. Manusialah yang harus menanggapi tawaran itu. Manusialah yang harus mengatakan ”ya” pada tawaran itu dan membuka diri menjadi sarana bagi terealisasinya kebaikan ilahi. Di titik inilah terdapat perbedaan antara setiap manusia. Ada yang berwatak seperti si pemuda dalam angkot itu yang selalu siap dan membuka diri bagi kebaikan Tuhan. Tetapi ada dari kita yang bersikap dingin, cuek, dan tidak peduli. Ada juga manusia yang menolak melakukan kebaikan Tuhan dengan menutup diri bahkan membunuh dan mencelakakan orang lain. Itulah sebabnya, bagi saya, penyelenggaraan ilahi atau takdir itu sama sekali bertentangan dengan kebebasan manusia.

Tidak ada yang kebetulan. Benar demikian. Tetapi bagi mereka yang menutup diri dan membenci orang lain, hidup ini selalu dilihat sebagai rangkaian kejadian penuh kebetulan, dan bukan sebuah kisah utuh ketika Tuhan menunjukkan cinta kasih-Nya kepada manusia. Terima kasih, Mgr. Suharyo, karena sudah memicu pemikiran saya sejauh ini. Salam.

Pluit, 15 Februari 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s