Membawa anak-anak kepada Allah – Cara Mendidik Don Bosco

Meskipun tidak menikah dan tetap menjadi seorang pastor seumur hidup, dapat dikatakan bahwa Don Bosco (1815-1888) memiliki bakat alamiah sebagai orangtua. Terhitung hampir selama setengah abad kerasulannya di Keuskupan Turin, Italia, sebagai imam, Don Bosco tampil sebagai sosok seorang ayah yang luar biasa bagi ratusan anak-anak gelandangan.

(Istilah “Don” yang digunakan Yohanes Bosco di depan namanya dalam Bahasa Italia digunakan khusus untuk menyebut seorang pastor). Dewasa ini kaum profesional dalam bidang kehidupan keluarga tetap menganggap Don Bosco sebagai contoh menakjubkan dari sosok yang memelihara dan membesarkan anak-anak. Contoh atau teladan yang ditunjukkan Don Bosco dan ajaran-ajarannya mengenai bagaimana memelihara dan membesarkan anak-anak tetap tinggal sebagai warisan yang tak lekang  dimakan usia. Dan karena masalah-masalah yang dihadapi adalah masalah khas dalam bagaimana memelihara dan membesarkan anak-anak di zaman modern, apa yang diajarkan dan dilakukan Don Bosco tetap cocok dengan persoalan yang dihadapi keluarga-keluarga di abad 21 ini. Apa yang dilakukan Don Bosco dan ajaran-ajarannya membawa pembaruan dan pengharapan dalam mendidik anak-anak dan kaum muda.

Pada tahun 1841, Don Bosco pertama kalinya datang ke Turin sebagai seorang pastor muda dengan maksud untuk belajar teologi. Di kota inilah dia berjumpa dengan anak-anak muda yang kesepian tanpa keluarga atau rumah. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai tukang bangunan atau kuli bangunan di proyek-proyek konstruksi yang pada waktu itu berkembang pesat di kota ini. Turin di tahun-tahun ini sedang berkembang sangat pesat sebagai sebuah kota metropolitan. Pengalaman perjumpaan ini mendorong atau mungkin tepatnya mendesak Don Bosco untuk membuat sesuatu demi anak-anak muda tersebut. Dia mulai mengumpulkan mereka pada hari Minggu dengan mengorganisir beberapa pertandingan, pertunjukkan, piknik, doa, dan pelajaran katekismus. Segera setelah itu Don Bosco mulai menampung mereka di rumah ibunya, menyediakan dan memberi mereka makanan, pakaian dan kenyamanan layaknya di sebuah rumah keluarga. Selama lima belas tahun Don Bosco memainkan peran sebagai seorang ayah bagi ratusan anak-anak gelandangan. Memasrahkan dirinya pada kehendak dan penyelenggaraan Ilahi, Don Bosco membangun asrama, sekolah, bengkel-bengkel bagi anak-anak muda gelandangan itu. Di tempat itulah anak-anak muda diberi kesempatan untuk belajar bekerja demi memasuki dunia kerja. Dia juga membangun gereja tempat anak-anak belajar mencintai dan berdialog dengan Tuhan. Don Bosco memberikan segalanya kepada anak-anaknya, tetapi melebihi semuanya itu adalah cinta kebapaannya.

Dipanggil untuk mengasuh dan mendidik anak-anak bagi Allah

Sewaktu masih sebagai seorang anak (waktu itu usianya baru 9 tahun), Don Bosco menyadari bahwa dirinya dipanggil Allah untuk melayani kaum muda. Panggilan Allah itu datang kepadanya dalam sebuah mimpi. Dia mendapatkan dirinya berada di sebuah lapangan teramat luas, dikelilingi oleh anak-anak yang sedang berteriak dan berkelahi. Keadaan pada waktu itu kacau sekali. Menyadari keadaan demikian, Don Bosco berusaha menenangkan anak-anak bengal itu. Dia mencoba menenangkan mereka, pertama-tama dengan cara persuasif. Dia berusaha memengaruhi mereka supaya berhenti berkelahi. Tetapi ketika cara lembut dan persuasif ini tidak membuahkan hasil, Don Bosco kemudian mencoba menghentikan mereka dengan paksaan. “Jangan gunakan kekerasan,” kata seorang asing yang dia sendiri tidak pernah kenal sebelumnya. “Jadilah lembut jika kamu ingin memenangkan hati dan persahabatan mereka.” Selepas mendengar kata-kata dari seorang perempuan yang tidak dia kenal itu, tiba-tiba Don Bosco melihat bagaimana anak-anak muda yang tadinya berkelahi dan mengeluarkan kata-kata kasar itu, kini berubah menjadi binatang buas. Herannya, binatang-binatang buas itu berubah menjadi domba-domba dan berada di sekitar Don Bosco. Tak lama kemudian, terdengar suara seorang perempuan yang memberi perintah kepada Don Bosco, katanya, “Bangunlah, ambillah tongkatmu dan berbegaslah membawa mereka ke pada rumput.” Mimpi ini menjadi awal mula kesadaran Don Bosco akan panggilan sucinya untuk pertama-tama menjadi Bapak bagi ratusan bahkan ribuan kaum muda miskin, gelandangan, dan terpinggirkan. Menjadi imam adalah sarana di tangan Allah untuk membebaskan diri dari berbagai okupasi duniawi demi memusatkan perhatian hanya pada keselamatan jiwa kaum muda.

Sama seperti Don Bosco, para orangtua di seluruh dunia, menyadari panggilan yang sama untuk mendidik dan membesarkan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Ini juga yang menjadi keyakinanku, hingga sekarang. Sebelas tahun silam, ketika menemukan perempuan kekasih jiwaku yang sekarang masih menjadi istriku, saya dan istriku sungguh yakin, betapa Allah mengundang kami untuk membuka diri bagi kerja sama dengan kehendak Allah demi mendidik dan membesarkan anak-(anak) kami yang bakal Tuhan berikan. Meskipun demikian, menyadari diri sebagai pasangan yang masih lemah, penuh kekurangan dan dosa, kami senantiasa bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita menerima dan mempertahankan panggilan sebagai orangtua ini secara serius dan bertanggung jawab? Apakah kami menampilkan diri sebagai serigala yang siap menerkam anak-(anak) jika mereka melakukan kesalahan, atau menjadi orangtua yang lemah-lembut dan penuh kasih sayang?

Mengungkapkan dan menyatakan cinta

Dari Don Bosco,  kita dapat belajar banyak, terutama belajar bagaimana mengungkapkan cinta bagi anak-anak kita dalam cara yang tepat yang membuat mereka merasa sungguh-sungguh dicintai. Don Bosco memenangkan hati dan kepercayaan kaum muda dengan cara berada bersama dengan mereka. Mereka tahu betul betapa Don Bosco menunjukkan ketertarikannya yang tidak dibuat-buat kepada mereka, karena dia mengungkapkan afeksi (cinta)nya kepada mereka. Cinta tidak dikatakan atau diobral, tetapi dinyatakan, dan orang yang dicintai merasakan bahwa dirinya memang dicintai. Don Bosco menyediakan waktu untuk kaum muda. Dia bermain bersama mereka, berinteraksi sambil menanyakan bagaimana hidup mereka, peka dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Misalnya, di malam ketika Don Bosco sedang makan malam, anak-anak akan datang dan berkumpul di sekitar dia. Sembari mengunyah makanan, anak-anak muda akan mengelilingi dia. Don Bosco pun bercanda dengan mereka dan bersenda-gurau dengan anak-anak muda itu. Dan mereka pun menikmati kasih sayang kebapakan ini sampai Don Bosco meminta mereka pergi tidur ketika hari menjadi semakin malam.

Dalam praktik, saya dan istri pun berusaha mempraktikkan cara Don Bosco mendidik dan membesarkan anak-anak. Meskipun belum sesukses yang dilakukan Don Bosco, kami mencoba berkumpul bersama putri kami, seusai makan malam misalnya. Daripada menonton televisi, kami biasanya bercanda dan sekadar bersenda-gurau, dan sebagainya. Memang masih ada keinginan untuk menyertakan sharing kitab suci atau bacaan rohani dalam acara itu, dan itu baik kalau dilakukan di tengah-tengah senda-gurau, sehingga menghindari kesan formal. Sekali lagi, meskipun belum dipraktikkan sepenuhnya, ke depan keluargaku masih akan berusaha keras mewujudkannya.

Menghabiskan waktu bersama keluarga (istri dan anak-anak) sungguh menjadi momen penuh berkat di mana kasih Allah dapat dicurahkan. Sama seperti yang dipraktikkan Don Bosco kepada anak-anak, di mana kasih Allah tercurah kepada mereka melalui dirinya, kami suami istri juga yakin bahwa kasih Allah tercurah kepada anak kami, melalui kami. Di hari minggu atau hari libur, suasana keakraban selalu kami bangun, entah dalam keceriahan menyiapkan makanan di dapur atau sekadar menghabiskan waktu bersama di luar rumah. Itu sungguh menjadi moment untuk merasakan kasih Allah. Model dan prototipenya telah ditunjukkan Don Bosco, lebih dari seratus tahun silam.

Gembala berhati lembut

Don Bosco membesarkan anak-anak gelandangan dengan penuh kelembutan. Dia berjuang keras untuk menghindari kekerasan, disiplin yang kaku dan kasar. Dia memengaruhi perilaku anak-anak muda dengan cara mendorong bertumbuhnya tanggung jawba pribadi. Dia mendampingi mereka dengan kelembutan sehingga mengurangi peluang bagi tindakan-tindakan tidak disiplin dan perilaku tak-terpuji lainnya. Dia pun mendorong dan memengaruhi mereka untuk berubah. Ketika perilaku anak-anak perlu koreksi, Don Bosco mementingkan belas-kasihan dan bukan hukuman. Dan dia mengajarkan pendekatan ini kepada kita para pengikutnya, katanya:

Marilah kita menjadikan anak-anak ini sebagai anak-anak kita sendiri. Janganlah kita tidak menguasai dan memerintah mereka, kecuali itu dengan tujuan untuk melayani mereka secara lebih baik lagi. Ini juga yang menjadi metode yang digunakan Tuhan Yesus bersama para murid-Nya. Dia tidak menaruh dendam karena ketidaktahuan mereka atau karena kekerasan hati dan ketidaksetiaan mereka. Dia memperlakukan para pendosa dengan hati yang lemah-lembut dan kasih yang menyebabkan orang tertentu merasa terkejut dan tidak nyaman, yang lain memandang-Nya sebagai skandal, dan yang lain lagi melihat-Nya sebagai wujud belas-kasih Allah. Dan demikianlah Dia memenangkan kita dnegan kelembutan dan kerendahan hati.

Anak-anak itu bukan orang lain. Mereka anak-anak kita. Karena itu, dalam mengoreksi kesalahan yang mereka lakukan, kita seharusnya mengesampingkan semua kemarahan dan balas dendam, perlahan-lahan agar sifat-sifat semacam itu perlahan-lahan berkurang dan hilang dari hidup kita. Dalam hidup kita seharusnya tidak ada kecurigaan, rasa permusuhan, balas dendam atau kebencian yang tersorot dari pandangan mata kita. Jangan biarkan apa yang diucapkan semata-mata gerakan bibir yang menutupi hati penuh kebencian. Kita seharusnya mempraktikkan belas-kasihan dalam kehidupan kita dewasa ini dan berharap untuk terus mempertahankannya di masa depan. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi ayah yang baik yang kesenangannya hanyalah mengoreksi dan mendidik anak-anak dalam kelembutan dan kasih.

Membaca ulang apa yang ditulis sebagai warisan Don Bosco kepada kita ini, kadang-kadang saya menjadi malu sendiri. Saya dan istri sangat bersyukur, bahwa sampai saat ini belum pernah sekali pun kami mendidik anak kami dengan kekerasan. Meskipun demikian, ketidaksabaran kadang membuat kami mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, terutama ketika anak tidak menunjukkan prestasi yang seperti diharapkan. Dalam konteks itu, model pendidikan Don Bosco akan tetap menjadi ideal yang harus ditiru dan dipraktikkan. Tidak mudah memang, karena anak-anak harus mengalami bahwa mereka dicintai. Meskipun demikian, disiplin tanpa kekerasan dan koreksi perilaku dengan hati yang lembut akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk merasakan kehadiran Tuhan Yesus.

Pembentukan di dalam iman

Don Bosco mengatakan bahwa dia ingin mempersiapkan kaum muda supaya meeka menjadi anak-anak yang pantas di hadapan Allah. Dia meminta kepada Tuhan supaya menjadikan dirinya peduli hanya pada keselamatan jiwa-jiwa dan membiarkan Allah mengambil segala yang lainnya. Inilah ekspresi iman yang menjaga seluruh perhatian dan ziarah batin Don Bosco menuju Allah. Dia membaktikan seluruh hidupnya untuk memenangkan kepercayaan anak-anak muda karena hanya dengan demikian dia dapat menyiapkan mereka untuk hidup secara efektif dalam kehidupan kekristenan.

Untuk itu, Don Bosco mengajarkan iman Katolik kepada mereka. Dia menulis katekismus sederhana untuk anak-anak, mengajarkan mereka ajaran dasar Katolik dan mendorong mereka untuk mempraktikkannya. Dia tidak suka memberikan ajaran iman yang panjang-panjang. Ketika berada bersama anak-anak, Don Bosco suka menyelipkan kata-kata yang merupakan ajaran Gereja Katolik kepada kaum muda dengan maksud agar mereka bisa membantu teman-teman lainnya agar bisa hidup baik di hadirat Allah.

Suatu kali, ketika penyakit kolera menyerang kota Turin, Don Bosco mengorganisir anak-anak ke dalam kelompok-kelompok untuk merawat orang sakit dan menguburkan mereka yang meninggal. Don Bosco juga membantu anak-anak memilah-milah dan menentukan arah hidup mereka, memperkenalkan mereka dengan pilihan hidup tertentu, entah itu profesi tertentu di dunia atau panggilan menjadi pastor.

Salah satu tanggung jawab saya dan istri saya adalah memperkenalkan iman Katolik kepada putri kami. Dalam pengalaman kami, menghadiri perayaan Ekaristi di hari minggu itu memang baik dan perlu, tetapi tidak cukup. Kami beruntung bisa menyekolahkan anak kami di sekolah Katolik, milik sebuah paroki. Dengan demikian,anak kami dekat dengan Gereja, membuka diri bagi ajaran Gereja, dan diharapkan di masa depan tetap akan mengasihi Ibu Gereja. Kalau kami tidak ke Gereja, anak kami biasa bertanya, mengapa tidak ke Gereja. Bagi kami, ini adalah cara Tuhan mengingatkan kami, bahwa keterbukaan dan pasrah pada kehendakNya adalah di atas segala-galanya. Anak kami pun sudah bisa memimpin doa, mengucapkan doa spontan, mengerti beberapa ajaran dasar Gereja Katolik. Kami berusaha untuk melibatkan anak kami dalam kegiatan-kegiatan kerohanian seperti doa di lingkungan. Meskipun kadang tidak berhasil, tetapi tujuan kami tetap satu: menjadikan putri kami mengalami kehidupan komunitas bersama rekan-rekan seiman. Terima kasih Don Bosco.

Sitem Don Bosco

Suatu ketika ada orang meminta Don Bosco untuk mengeksplisitkan sistem yang dia gunakan dalam mendidik kaum muda. Mereka takjub, mengapa Don Bosco sangat sukses dalam mendidik mereka. “Sistem saya! Sistem saya!” jawab Don Bosco. “Tetapi saya sendiri tidak tahu apa sistem saya! Saya memiliki hanya satu kekuatan – terus maju dan melangkah selama Allah dan keadaan menginspirasi saya.” Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada kekuatan Roh Kudus dalam membimbing dia mendidik kaum muda.

Model iman inilah yang seharusnya juga menginspirasi kita sebagai orangtua. Kita sering menemukan tantangan-tantangan yang dibawa anak-anak kita dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan dalam menjawab tantangan-tantangan itu. Dalam situasi demikian, sistem pendidikan Don Bosco kiranya menjadi cocok dan sesuai dengan kebutuhan kita di zaman ini. Sistem Don Bosco adalah berdoa dan kemudian bertindak, memohon kepada Tuhan agar mengarahkan dan menjadi pemandu bagi seluruh usaha kita. Pendekatan ini berhasil karena itu merupakan bagian dari rencana Allah bagi kehidupan keluarga Kristiani.

Anak-anak kita bukanlah milik kita. Mereka milik Allah. Dia mempercayakan anak-anak itu kepada kita agar kita bisa mendidik dan membesarkan mereka dalam keluarga yang shakinah. Allah juga menganugerahkan kepada kita semua rahmat yang dibutuhkan agar bisa menjalankan misi ini. Demikianlah, dalam doa-doa harian kami, kami hanya mendoakan juga anggota keluarga kami, tetapi juga berdoa kepada Roh Kudus. Kami meminta anugerah dan berkat dari Roh Kudus agar berkat itu tinggal dalam hidup kami, yang dapat memimpin keluarga kami, atau bimbingan dalam menyelesaikan masalah-masalah sulit dalam keluarga. Dalam pekerjaan pun kami merasa bahwa sistem Don Bosco tetap penting dan cocok. Don Bosco mengajarkan kami untuk mempercayakan seluruh hidup pada penyelenggaraan Allah yang mengarahkan kami ke arah yang benar.

Sistem Don Bosco juga memiliki kekuatan yang lain, yakni kekuatan yang menyemangati setiap aspek dari kasih kebapaannya. “Saya telah berjanji kepada Tuhan,” demikian Don Bosco menulis, “bahwa sampai nafasku yang terakhir, saya akan tetap hidup bagi anak-anak muda saya yang miskin. Untuk kalian saya belajar, untuk kalian saya bekerja, saya juga siap memberikan hidupku bagi kalian. Ingatlah bahwa apa pun aku, saya telah menjadi segalanya bagi kamu, siang dan malam, pagi dan petang, di setiap kesempatan.” Para orangtua yang ingin membesarkan anak-anak mereka bagi Allah, cara mendidik Don Bosco akan merangkul panggilan mereka dengan pengabdian dirinya yang utuh dan kenal lelah.[]

——————————

Tulisan ini diolah dari karangan Bert Ghezzi dan diaplikasikan dengan kondisi dan pengalaman hidupku dan keluargaku. Terima kasih untuk Bert Ghezzi. Selamat Hari Don Bosco. Selamat kepada rekan-rekanku, para frater, bruder, diakon, imam, dan suster Salesian. Viva Don Bosco.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s