JURU DAMAI

Tahun 2012 tidak hanya membawa harapan dan optimisme, tetapi juga kewaspadaan, ketakutan bahkan ketidakpastian akan kehidupan yang damai dan berkeadilan. Di dunia Arab, Mesir menjadi pelopor peralihan rezim dari otoritarianisme ke demokrasi yang segera diikuti negara-negara lain, meskipun menyisakan persoalan internal seputar kehidupan bersama yang damai antarberbagai kelompok etnis dan agama ketika kelompok tertentu “memaksakan” ideologi agama sebagai landasan politik bernegara. Ada optimisme besar bahwa demokrasi akan berkembang di dunia Arab yang selama ini dicap sebagai anti demokrasi.

Di lain pihak, muncul semacam ketakutan memasuki tahun 2012. Satu dekade terakhir orang memprediksi bahwa tahun 2012 adalah periode akhir kehidupan di dunia. Alam semesta akan menyongsong kesudahannya, demikian orang merujuk ke penanggalan kebudayaan Maya. Penanggalan suku Maya –umumnya tinggal di hutan-hutan dan pegunungan Guatemala dan Meksiko – memprediksi bahwa dunia ini memasuki sebuah “siklus besar” yang ditandai oleh terjadinya bencana alam bahkan akhir hidup bumi. Siklus besar dalam Kalender Maya akan terjadi setiap 1.872.000 hari, dimulai dari tanggal 13 Agustus 3113 SM (atau tanggal 14 Agustus 3114 menurut penanggalan Yulian). Disebut ”siklus besar” karena di akhir dari perhitungan itu adalah akhir kehidupan alam semesta dan isinya. Jika dihitung dari tanggal tersebut, maka akhir alam semesta dan segala isinya akan jatuh pada tanggal 21 Desember 2012.

Meskipun tidak ada alasan yang cukup meyakinkan mengapa perhitungan ”siklus besar” dimulai pada tanggal 13 Agustus 3113, kita terlanjur mempersepsi tahun 2012 sebagai tahun akhir kehidupan. Memasuki tahun baru berarti memasuki tahun kiamat.

Mereka yang optimis dan percaya pada masa depan kehidupan manusia yang lebih baik mencoba memahami prediksi suku Maya ini secara lebih positif. Ada yang mengatakan bahwa peringatan itu mendesak kita untuk mengubah cara kita mengelola bumi persis ketika berbagai krisis lingkungan hidup mengancam kepunahan spesies manusia sendiri. Menipisnya lapisan ozon karena efek rumah kaca barangkali menjadi salah satu fakta paling objektif yang mendesak perlunya mengubah cara memperlakukan alam dari eksploitasi kepada pengolahan, perawatan dan perlindungan. Ada juga yang mengatakan bahwa orang Maya mengingatkan kita untuk mendefinisikan kembali tanggung jawab kita sebagai manusia ketika Tuhan mempercayakan alam semesta dan isinya ini di bawah pengelolaan manusia. Sudah saatnya kita mempertanggungjawabkan perintah Tuhan untuk menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, semua binatang dan tetumbuhan di atas muka bumi. Bahwa manusia harus memastikan bahwa alam semesta dan isinya tidak akan hancur jika bukan karena kehendak dan kuasa Tuhan sang penguasa alam semesta.

Kaum muda sebagai juru damai

Paus Benediktus XVI mengawali tahun 2012 dengan mendedikasikan tanggal 1 Januari sebagai hari perdamaian dunia. Sri Paus sadar betul bahwa dunia sedang berada dalam periode senja kala. Eropa sendiri sedang mengalami krisis ekonomi yang bisa berujung pada perpecahan, instabilitas, bahkan juga konflik antarnegara. Sementara belahan dunia lain seperti di Mesir, Israel, Palestina, Nigeria, bahkan Indonesia, masih terjadi kekerasan atas nama etnis dan agama. Itulah keadaan dunia yang menurut Benediktus XVI sedang diselimuti oleh bayang-bayang kelam dan kegelapan (“shadow that obscure the horizon of today’s world”).

Ada paralelisme antara pemahaman orang Maya mengenai akhir kehidupan dan kiamat dengan permenungan seorang Benediktus XVI. Bahwa dunia dan segala isinya akan segera menuju kepunahan jika cara kita mengelola kehidupan dan mengatur dunia tidak mengalami perubahan. Konsumsi energi berlebihan, konsumerisme mencapai titik tertinggi ketika kosa kata ”cukup” (enough) hilang dari kesadaran kolektif manusia, serta nafsu mengeksploitasi habis alam semesta tidak pernah surut. Di lain pihak, hasrat menjadikan orang lain sebagai objek politik pun terus membara dalam diri segelintir penguasa tiran. Tetapi berbeda dengan cara pandang suku Maya, Benediktus XVI memberi harapan akan masa depan yang baik dan manusiawi sejauh setiap orang menjunjung tinggi perdamaian.

Harapan akan kehidupan yang semakin baik, adil, damai, dan sejahtera ada di pundak kaum muda. Benediktus XVI meyakini hal ini sehingga dia memberi tanggung jawab kepada kaum muda sebagai tanda dan sarana perdamaian. Berbeda dengan Publius Flavius Vegetius Renatus yang mengatakan bahwa ”perdamaian hanya bisa dicapai melalui kekuatan senjata” – seruannya yang terkenal sampai sekarang berbunyi ”si vis pacem, para bellum” atau ”jika menginginkan perdamaian, bersiap-siaplah untuk perang” – Benediktus XVI justru menyerukan pentingnya mendidik kaum muda kepada perdamaian. Jelas bagi Benediktus XVI, jika menginginkan perdamaian, satu-satunya jalan adalah mendidik kaum muda kepada perdamaian. Secara lugas, Benediktus XVI berseru, “I would like to underline the fact that, in the face of the shadows that obscure the horizon of today’s world, to assume responsibility for educating young people in knowledge of the truth, in fundamental values and virtues, is to look to the future with hope.

Di sinilah sebenarnya terletak urgensi mendidik kaum muda kepada perdamaian. Tanggung jawab semua orang yang terpanggil untuk mewujudkan perdamaian dunia adalah mendidik kaum muda untuk memiliki pengetahuan yang memadai dan terbuka kepada kebenaran serta menerima nilai-nilai fundamental yang menjadi landasan kehidupan bersama. Dalam pemikiran Benediktus XVI, kaum muda harus dididik dalam semangat pluralisme sehingga mereka belajar “the importance and the art of peaceful coexistence, mutual respect, dialogue and understanding.” Tampak jelas, kaum muda hanya akan menjadi “peace builder” hanya jika mereka sudah memiliki pengetahuan tentang perdamaian sekaligus kecakapan akan hidup bersama orang lain secara damai, kebiasaan untuk saling menghormati, dialog dan pemahaman timbal-balik.

Kita ditantang

Dalam konteks Indonesia, tantangan yang kita hadapi bermata ganda. Di satu pihak, kita punya tanggung jawab besar mendidik kaum muda di sekolah-sekolah Katolik untuk memiliki kecakapan hidup bersama dalam masyarakat yang plural sebelum mereka menjadi pembawa damai bagi masyarakat. Tetapi, di lain pihak, kita juga terpanggil untuk mendidik publik yang plural dengan aneka kepentingan ideologi politik ini agar memiliki kepedulian yang sama akan perdamaian. Bahwa perdamaian hanya bisa terwujud di Republik ini jika semua orang mau mewujudkannya secara bersama (coexistence), terlepas dari agama dan suku apa pun.

Di kutub kedua itulah tantangan terberat mewujudkan perdamaian di Indonesia. Ketika berbagai kelompok mencoba “memaksakan” ideologi keagamaannya untuk dijadikan sebagai ideologi hidup bernegara, sanggupkah kita mengusahakan sebuah kehidupan bersama yang damai, adil, dan sejahtera atas dasar nilai-nilai kemanusiaan universal? Mampukah kita menjadi “peace builder” seperti diimpikan Benediktus XVI? Pilihan ini terasa berat, tetapi kita tidak punya jalan lain selain mengusahakan dan membangun perdamaian. Menghindari pilihan menjadi “peace builder” sama saja dengan membiarkan kehidupan ini hanya sampai pada pintu gerbang tanggal 21 Desember 2012, ketika langit dan bumi kembali menyatu dan ketika kegelapan yang dahulu telah dipisahkan dari yang terang oleh Sang Pencipta, dibiarkan kembali bersetubuh. Saya yakin, kita tidak ingin menghadapi kiamat seperti itu.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s