MEMBUNUH BAYI YANG TAK BERDOSA

Ibu hamil dengan usia kandungan 32 minggu akan tampak seperti ini.
Ibu hamil dengan usia kandungan 32 minggu akan tampak seperti ini.

Dengan perkembangan teknologi kesehatan yang semakin canggih pasca Perang Dunia II, haruskan kita ragu dan skeptis bahwa para dokter dan pelayan kesehatan sanggup menyelesaikan seluruh masalah kesehatan dan penyakit yang dihadapi manusia? Cukup banyak literatur di bidang kesehatan, terutama yang berfokus pada hilangnya “sentuhan manusiawi” dari para dokter atas pasiennya yang memperlihatkan bahwa memang teknologi kesehatan sejak abad ke-20 berkembang menjadi semakin canggih. Ada harapan besar, bahwa teknologi-teknologi tersebut sanggup memecahkan persoalan kesehatan dan penyakit yang diderita manusia.

Optimisme ini beralasan karena sesuai dengan pandangan tradisional masyarakat, terutama dari perspektif pasien yang melihat bahwa para dokter memang pantas dipercaya sebagai pihak yang sanggup menyembuhkan penyakit dan menghapus penderitaan manusia. Sebuah tulisan di British Medical Journal (BMJ) yang terbit sudah cukup lama (5 Mei 2001. Lihat: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1120219/pdf/1073.pdf) menggambarkan bagaimana persepsi masyarakat awam mengenai peran dan profesi dokter. Umumnya masyarakat meyakini bahwa (1) kedokteran modern mampu melakukan banyak hal yang menakjubkan, terutama kesanggupannya memecahkan berbagai penyakit dan problem kesehatan; (2) dokter adalah pribadi dan profesi yang sanggup melihat ke dalam diri seseorang dan mengungkapkan apa yang salah di sana; (3) dokter harus mengetahui segala sesuatu mengenai seseorang agar dapat memberikan pemecahan masalah secara tepat; (4) dokter sanggup memecahkan masalah-masalah pasien, termasuk masalah-masalah sosial.

Bayi kembar usia 28-32 minggu.

Meskipun demikian,  profesi kedokteran semakin menyadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan tidak serta merta berarti kesanggupan menyelesaikan seluruh masalah. Merujuk ke BMJ edisi yang sama, kalangan dokter justru semakin menyadari bahwa (1) kedokteran modern yang dilengkapi dengan teknologi canggih tetap saja memiliki keterbatasan; (2) bahkan dapat menyebabkan musibah; (3) karena itu para dokter mengambil posisi yang lebih realistis bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi pasien, apalagi masalah sosial. (4) Posisi yang semakin realistis itu menyadarkan para dokter bahwa “I don’t know everything, but I do know how difficult many things are.” Karena itu, mereka mengambil posisi etika yang jelas untuk (5) selalu berdiri di garis pemisah antara berbuat yang baik (doing good) dan menghindari kesalahan (do no harm). Dan mereka dituntut untuk menjunjung tinggi “berbuat baik” dan “menghindari kejahatan” pada pasien.

Dalam kerangka pemikiran yang sangat sederhana inilah saya mencoba memahami sebuah tragedi yang belum lama ini terjadi di sebuah rumah sakit bersalin di Melbourne, belum lama ini (lihat: http://www.mercatornet.com/articles/view/a_hospice_in_the_womb).  Sebagaimana diberitakan media massa di Australia, bulan lalu (November 2011), seorang bayi sehat terbunuh melalui suntikan mematikan (lethal injection) yang semula dimaksudkan untuk membunuh saudara kembarnya dalam rahim itu. Kisahnya, seorang ibu tengah hamil besar, mengandung bayi kembar dengan usia kandungan 32 minggu. Hasil analisa kesehatan yang dilakukan sonografer menunjukkan bahwa salah satu dari kedua bayi itu didiagnosa mengalami gangguan kesehatan yang mematikan. Sang bayi didiagnosa dengan kelainan jantung yang parah yang dapat menyebabkan kematian segera setelah sang bayi dilahirkan. Meskipun demikian, keadaan kesehatan bayi itu tidak membahayakan si kembarannya maupun sang ibu (Lihat juga: http://www.heraldsun.com.au/news/more-news/medical-bungle-at-royal-womens-hospital-kills-healthy-fetus/story-fn7x8me2-1226204091220).

Posisi yang biasanya diambil dalam pendekatan kedokteran yang baku adalah mengaborsi si bayi yang sakit itu demi menyelamatkan bayi yang masih sehat dan tentu saja juga sang ibu. Posisi ini juga yang diambil oleh rumah sakit persalinan tempat si ibu yang malang itu memeriksakan kandungannya. Apa yang terjadi? Seorang sonografer mengambil tindakan medis dengan memberikan suntikan mematikan (lethal injection) kepada bayi, membunuh bayi yang sakit itu dan mengeluarkannya dari rahim sang ibu sambil membiarkan bayi sehat tetap berada di sana. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sang bayi sehatlah yang justru disuntikkan dengan lethal injection. Sebuah suntikan mematikan telah membunuh bayi yang sehat. Menyadari kesalahan ini, para petugas rumah sakit langsung melakukan pertolongan cepat. Sang ibu langsung dioperasi sesar. Ibu yang malang itu kehilangan kedua buah hatinya.

Berita ini langsung memicu perdebatan media massa di Australia. Ada dokter spesialis kandungan yang berpendapat bahwa tindakan yang dilakukan sonografer itu tergolong ceroboh. Menurutnya, usia kandungan 32 minggu itu memungkinkan dilakukannya kelahiran yang dipercepat. Jika tindakan medis ini diambil (kelahiran dipercepat dan tentu dirawat di bagian Intensive Care Unit), maka 99 persen bayi yang sehat akan selamat. Sementara itu, bayi yang sakit tidak perlu dibunuh, karena dia akan meninggal dunia secara alamiah (nature takes its course).

Tampak jelas perbedaan pertimbangan medis. Para dokter di rumah sakit tersebut, terutama sonografer, mengambil tindakan medis dengan berpatokan pada standar tindkan medis baku. Artinya, jika standar tindakan medis mendefinisikan tindakan medis tertentu untuk kasus tertentu, maka tindakan seperti itu yang seharusnya diambil. Dalam arti itu, sang sonografer justru akan dipersalahkan jika mengambil tindakan yang berbeda dengan tindakan medis standar. Tetapi bagaimana dengan keselahan injeksi yang menyebakan kematian? Mengapa para dokter spesialis lain berpendapat berbeda? Bukankah para dokter dituntut juga untuk menimbang kasus medik secara komprehensif, menakar keuntungan dan kelemahan setiap tindakan medis dan mengambil tindakan medis yang paling baik bagi pasien? Dapatkah tindakan sonografer dibenarkan secara etis karena sudah disetujui sang ibu?

Menghadapi kasus semacam ini, apakah kita masih percaya bahwa dokter sanggup menyelesaikan banyak masalah kesehatan, terutama karena didukung oleh teknologi kesehatan yang semakin canggih? Saya tentu tetap menaruh harapan besar pada kemajuan teknologi kesehatan dan profesionalitas dokter dalam bekerja. Saya juga berada pada posisi para dokter dewasa ini yang semakin realistis menyadari bahwa “I don’t know everything, but I do know how difficult many things are.” Ya, masalah kesehatan tidak semata-mata urusan kemampuan menyembuhkan penyakit. Masalah kesehatan menjadi semakin rumit, dan karena itu perlu penanganan secara komprehensif. Kembali ke kasus di atas, kalau saja para tim dokter yang menangani sang ibu dengan kandungan kembar itu mempertimbangkan masak-masak tindakan medis yang akan diambil, medical error dapat diminimalisir. Kasus ini menyentuh persoalan etis, utamanya etika kedokteran. Karena itu, memutuskan tindakan medis tanpa disposisi Hospital Ethics Committee (HEC) harus dikecam sebagai tindakan pelanggaran kode etik.

Sebagai pribadi saya berharap, semoga tidak ada lagi korban berikutnya di masa yang akan datang.

Sumber:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s