CINA DAN PERAMPASAN ORGAN TUBUH

Donasi organ (organ donation) dalam dunia kesehatan masih menimbulkan perdebatan. Kelompok yang pro beralasan bahwa praktik organ donation tidak bertentangan dengan prinsip etika sejauh organ donation dilaksanakan secara transparan dan sukarela. Bahkan prinsip sukarela menunjukkan adanya sikap altruistik yang sangat tinggi dari pihak pendonor, sejauh dia menghendaki agar bagian dari tubuhnya digunakan untuk menyelamatkan orang lain. Demikianlah, anggota keluarga tertentu mendonorkan salah satu ginjalnya untuk menolong anggota keluarganya yang menderita gagal ginjal, dan sebagainya. Tentu sikap altruistik tertinggi adalah mendonorkan bagian tubuh tanpa memedulikan siapa penerimanya.

Dalam konteks ini, banyak negara Barat misalnya, memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur donasi organ. Kondisi-kondisi yang harus dipenuhi supaya tidak terjadi perdagangan organ tubuh atau donasi karena dipaksa adalah dengan menerapkan donor organ tubuh secara sukarela dan setelah meninggal dunia. Negara yang memiliki kebijakan ini akan mendata warganya dan mendaftar siapa yang akan mendonorkan bagian dari organ tubuhnya, dan itu dinyatakan dalam kartu identitas tertentu. Ketika seseorang meninggal dunia, seluruh prosedur kesehatan akan segera diterapkan sehingga organ tubuh yang akan didonorkan itu segra diambil dan dipergunakan untuk menolong orang lain.

Sementara itu, ada juga kelompok lain dalam masyarakat yang tidak setuju sama sekali dengan donor organ. Mereka berpendapat bahwa identitas manusia itu bersifat utuh. Tubuh yang menerima jantung, ginjal, kornea mata, atau bagian organ lainnya dari orang lain telah kehilangan identitas dirinya. Mereka yang beragama akan menambahkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam keutuhannya. Setiap campur tangan manusia terhadap kehidupan manusia, sekecil apapun, akan melanggar prinsip kehidupan dari Tuhan. Bahwa Tuhanlah yang menciptakan, segalanya berada di bawah kehendak dan pengendalianNya, dan akan berpulang kepadaNya.

Ketersediaan organ selalu terbatas, sementara itu orang yang membutuhkan sangat banyak. Ada yang telah antri bertahun-tahun dan belum mendapatkan donasi organ. Negara-negara Barat memiliki peraturan yang jelas dan tegas, yang mengatur siapa yang harus dilayani. Tidak dibenarkan menolong seseorang karena orang itu memiliki uang cukup untuk menyogok petugas kesehatan. Prinsip sederhana yang dijunjung tinggi adalah “first come first serve”. Tentu pertimbangan lain juga penting, misalnya dari segi “kualitas kehidupan” dan “lamanya waktu yang tersedia untuk hidup”. Misalnya, jika si A adalah antrian nomor 1 untuk menerima donasi organ kornea, dan dia berusia 70 tahun. Sementara si B berada di urutan 2, berusia 50 tahun. Tentu ada pertimbangan bahwa si B bisa didahulukan, karena kualitas hidup dan lamanya waktu untuk hidup lebih lama (lebih dari 20 tahun jika usia harapan hidup adalah 70 tahun) dibandingkan dengan si A. Dalam praktik tentu tidak semudah ini, karena selalu saja ada perdebatan panjang.

Masalahnya menjadi lain ketika negara tertentu menerapkan kebijakan yang melanggar prinsip etis, misalnya mewajibkan warga negaranya melakukan donasi organ atau yang lebih buruk lagi adalah mengambil dan menyimpan bagian organ tertentu dari suku-suku minoritas dan dan para terpidana mati. Mengenai hal ini, berita mengejutkan datang dari Cina. Media Weekly Standard edisi 5 Desember 2011 melaporkan hasil investigasi Ethan Gutmann tentang bagaimana pemerintah Cina mengizinkan penyimpanan organ dari para terpidana mati dan suku-suku minoritas. Laporan investigasi itu menyebutkan bahwa dua pertiga dari semua transplantasi organ di Cina berasal dari para penjahat yang dihukum mati. Itu berarti setelah hukuman mati, bagian dari organ tubuh mereka diambil dan disimpan untuk kemudian dipakai mendonorkan kepada orang lain yang membutuhkan.

Tidak jelas dalam laporan itu, siapakah para terpidana mati itu. Meskipun demikian, ada klaim bahwa banyak sekali organ tubuh dari anggota Falun Gong yang diambil dan disimpan untuk kepentingan donasi. Untuk diketahui, suku ini termasuk salah satu suku tradisional yang ada di bawah tekanan dan penjajahan pemerintah Cina. Sebagaimana diketahui, Falun Gong merupakan gerakan spiritualitas yang melatih keseimbangan jiwa dan raga, mengolah kemampuan diri dan semacamnya yang berkembang pesat sekitar tahun 1990-an. Gerakan ini kemudian dilarang pemerintah. Siapa yang ketahuan mempraktikkannya akan ditangkap dan dihukum mati sebagai tahanan politik.

Reporter Ethan Gutmann sendiri dalam Weekly Standard mewawancarai beberapa anggota suku Uighur yang menjadi tawanan pemerintah dan sekarang tinggal di daerah Barat. Mereka bersaksi bahwa beberapa anggota suku mereka yang dipenjarakan dipaksa untuk diambil organ tubuhnya. Umumnya mereka adalah tahanan politik karena melawan pemerintah pusat.

Supaya diketahui, suku Uighur ini sebenarnya adalah kaum minoritas yang menghuni daerah Xinjiang, daerah bagian Barat Cina. Mereka tidak termasuk etnis Cina. Mereka adalah orang-orang keturunan Turki, mayoritas beragama Islam. Sedikit dari mereka juga ikut menjadi bagian dari jaringan terorisme. Di waktu lampau, pemerintah Cina selalu berusaha untuk memindahkan mereka dari wilayah yang sekarang mereka diami. Tahun 1990-an, terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan ratusan dari mereka terbunuh dan yang lainnya ditangkap.

Melalui penelusuran investigatif, Ethan Gutmann menemukan bahwa para tahanan politik itu dibunuh dengan menyuntikkan anticoagulant kepada mereka. Para algojo menembakkan sebuah peluruh di sebelah kanan dari dada mereka. Ini menyebabkan mereka tidak sadar, tetapi masih hidup. Pada saat ini, organ tubuh mereka segera dipindahkan, tanpa anesthesia, untuk memastikan bahwa organ-organ itu masih segar. Organ-organ ini kemudian segera ditransplantasikan ke pasien-pasien yang membutuhkan. Para pasien ini umumnya adalah orang-orang penting Partai Komunis.

Apakah tindakan semacam ini bisa dibenarkan secara etis karena para tahanan itu adalah kriminal? Dengan kata lain, apakah praktik semacam ini dibenarkan saja mengingat status mereka sebagai penjahat? Gutmann mewawancarai seorang polisi dari suku Uighur yang kemudian mengatakan bahwa donasi organ telah dianggap sebagai hal biasa di Cina. Umumnya organ-organ itu diambil dari kelompok pemuda yang melakukan demonstrasi menentang pemerintah Cina. Seorang dokter keturunan Uighur bahkan bersaksi bahwa “mengambil bagian organ tubuh dari para tahanan adalah hal yang wajar. Apalagi organ-organ itu bisa diekspor ke negara-negara lain yang membutuhkan, dan memang permintaannya selalu tinggi.

Gutmann menulis, “Ada sekitar 3 juta orang dari kelompok Falun Gong yang waktu itu ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Cina. Dari jumlah itu, sekurang-kurangnya terdapat 65 ribu orang yang organnya diambil ketika jantung mereka masih berdetak, sebelum tahun Olimpiade 2008. Sejumlah kecil dari kelompok orang Kristen dan orang Tibet juga mengalami nasib yang sama.” Bagi Gutmann, inilah praktik yang tidak ubahnya holocaust.

Cina sekarang semakin berkembang menjadi salah satu negara adikuasa. Seluruh mata memandang ke apa yang mereka perbuat. Apakah pembangunan ekonomi yang terus mereka giatkan diikuti pula dengan penghormatan kepada hak asasi manusia?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s