TERINGAT 11 NOVEMBER 2000

Hari ini, 11 November 2011. Aku jadi teringat kejadian 11 tahun yang lalu. Waktu itu saya berusia 31 dan perempuan yang saya nikahi dan sekarang masih tetap istriku berusia tiga tahun lebih muda dariku. Di tengah situasi ekonomi yang masih karut-marut di Republik ini pasca lengesernya Orde Baru, kami melangsungkan pernikahan suci di Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat.

Sebagai anak perantauan, saya tentu merasa senang bahwa bisa mengumpulkan sedikit uang demi membiayai sendiri pernikahan itu. Padahal waktu itu belum memiliki pekerjaan yang cukup mapan dan menjanjikan secara ekonomi. Sejak keluar dari sebuah padepokan suci dan tidak melanjutkan kuliah teologi di Manila, Filipina, saya harus berjuang mempertahankan hidup di kota Jakarta yang sebenarnya tidak asing bagi. Saya merantau ke Jakarta bukan atas inisiatif sendiri, tetapi karena ”dikirim” untuk belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Itu tahun 1991. Karena itu, Jakarta sebarnya tidak asing bagiku.

Meskipun demikian, ketika balik dari Manila dan mulai mencari pekerjaan di Jakarta tahun 1998, tampaknya kota ini begitu kejam dan tidak bersahabat. Tidak ada pekerjaan yang tersedia bagi seorang sarjana filsafat, pikirku. Padahal, saya harus bisa hidup. Tuntutan mendasar akan survival inilah yang mendorong saya bekerja apa saja yang bisa dikerjakan. Saya masih teringat bagaimana susahnya mengajar di lembaga kursus Bahasa Inggris yang kelasnya jauh di bawah LIA. Sebut saja LPIA dan semacamnya. Saya pun tidak segan dan malu-malu menjadi guru Bahasa Inggris untuk anak-anak SDN Cikokol 5, persis di samping terminal Cikokol, Banten. Mengajar dengan honor yang lumayan bagus adalah mengajar Bahasa Inggris di salah satu perusahaan di Balaraja.

Di awal tahun 2000, sekitar bulan Maret, saya berhenti mengajar karena diterima bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan buku pelajaran di daerah Jakarta Timur. Sekali lagi, gaji yang diterima sangat tidak menjanjikan, tetapi saya memutuskan untuk menerimanya, karena ada penghasilan tetap setiap bulan. Penghasilan tetap? Berapa sih? Ketika wawancara, saya ditanya mau meminta gaji berapa? Saya bilang bahwa saya ikut saja skema gaji di perusahaan tersebut. Lalu saya ditawari gaji pokok 525 Ribu Rupiah plus uang transportasi, jadi saya akan terima sekitar 750-an ribu rupiah setiap bulan.

Wah, kecil sekali ya, tetapi tahun 2000 itu rasanya dengan uang segitu masih bisa hidup. Saya kos di daerah Setia Kawan, tidak jauh dari Terminal Grogol. Sebulan harus bayar 150 ribu Rupiah. Berarti masih ada sisa untuk hidup. Tentu saya tidak boleh boros, karena juga memikirkan untuk segera menikah, kalau bisa tahun 2000 itu juga. Maklumlah, tahun 2000 memang banyak orang memilihnya sebagai tahun hoki untuk menikah. Meskipun tidak di tanggal 1 Januari 2000, saya pikir menikah di tahun 2000 toh ada maknanya juga. Hitung-hitung, pengantin milenium.

Gadis yang sekarang istriku sebenarnya sudah menjadi  pacarku sejak beberapa bulan terakhir di tahun 1999. Tentu bukan pacar pertama setelah keluar dari padepokan suci itu. Sebelumnya sempat kembali merajut kasih dengan pacar lama yang waktu itu bekerja di sebuah Rumah Sakit di Surabaya, tetapi selain jarak, ada beberapa prinsip fundamental yang akhirnya harus memisahkan kami. Sementara pacarku yang sekarnag istriku itu bekerja di sebuah sekolah Kristen di daerah Jakarta Barat. Karena orangnya baik, saya merasa cocok dan yakin bahwa itulah orang yang dipercayakan Yang Maha Kuasa kepadaku.

Kembali ke urusan menikah di tahun 2000. Saya dan pacar saya waktu itu sepakat untuk tidak membebani orang tua. Kami membuat kalkulasi sederhana, bahwa sebuah perkawinan sangat sederhana yang akan kami langsungkan menjelang akhir tahun 2000 itu menelan biaya sekitar 12-15 juta Rupiah. Karena itu, sejak akhir akhir tahun 1999 dan selama tahun 2000, kami harus menabung supaya target tercapai. Sebagai editor, saya menerima pekerjaan tambahan menjadi penerjemah atau editor lepas yang bisa saya kerjakan dari kos di waktu malam atau pada hari Sabtu dan Minggu. Sementara pacarku memberi les privat satu hari ke 2-3 anak. Saya masih ingat, pulang dari sekolahnya, dia langsung memberi les privat dari sore sampai malam, di daerah Meruya. Begitu seterusnya sampai uang sejumlah yang direncanakan itu terkumpul.

Kami pun mengurus pernikahan kami, mulai dari menghubungi gereja, memenuhi semua persyaratan yang dimintakan, mengikuti kursus perkawinan, sampai akhirnya melangsungkan pernikahan suci tanggal 11 November 2000. Upacara pernikahan di Gereja Maria Bunda Karmel itu sangat sakral. Keluarga dekat semuanya pada datang, termasuk teman-teman dan saudara dekat yang ada di Jakarta. Keluarga besar dari kedua belah pihak pun hadir semua. Seusai pemberkatan oleh imam dalam Perayaan Ekaristi Kudus, kami pun akhirnya kembali ke rumah mertua saya, beristirahat sejenak sebelum resepsi pernikahan di sore sampai malam hari.

Sebagai orang Lembata (NTT), perkawinan termasuk salah satu momen penting yang harus dimeriahkan. Meskipun uangnya terbatas, kami bisa menyelenggarakan pernikahan yang cukup meriah dalam pengertian orang Indonesia Timur. Ada makanan cukup, ada musik khas Lamaholot, ada tuak, dan tentunya ada joget. Ya, begitulah kami menyelenggarakan pernikahan dan merayakan persatuan kami sebagai suami istri. Keluarga senang dan berbahagia. Kami pun bersyukur, bisa memasrahkan diri sebagai pasangan suami istri baru bagi kemuliaan Kerajaan Tuhan.

Hari ini, ketika teringat apa yang terjadi 11 tahun yang silam, saya dan istri hanya terdiam, merenung dan bersyukur. Sebelas tahun telah berlalu ketika putri kami sudah duduk di kelas 5 SD. Tidak nyangka, sebuah perjalanan hidup penuh liku, penuh suka dan duka telah dilewati. Perjalanan itu masih panjang, dan kami tahu itu. Tetapi dengan ketekunan, melalui doa dan bantuan orang-orang sekeliling, semuanya bisa berjalan sesuai harapan.

Terima kasih Tuhan, terima kasih segalanya. Terima kasih buat semua saja yang telah ikut menemani perjalanan hidup kami. Semoga kita semua saling meneguhkan, saling membantu dan mengingatkan, agar sanggup membentuk keluarga yang taat dan takut akan Tuhan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s