Hedonisme Tidak Pernah Menjadi Mawar

Hedonisme sebagai jalan niscaya mencapai kebahagiaan? Sumber gambar: http://www.duanereedgallery.com/Artists%20Pages/jackson/jacksondhedonism.html

Hedonisme diturunkan dari kata dasar bahasa Yunani, yakni hēdonē (ἡδονή) yang artinya ”kenikmatan” (pleasure). Sebagai sebuah pemikiran (isme), hedonisme tentulah pemikiran mengenai kenikmatan. Kamus mana pun mendefinisikan hedonisme sebagai doktrin atau ajaran bahwa kenikmatan (pleasure) atau kebahagiaan (happiness) adalah kebaikan tertinggi dalam hidup. Konsekuensi logisnya jelas: siapa pun yang tujuan hidupnya mencapai kebahagiaan seharusnya mengejar dan mengalami kenikmatan sebesar-besarnya.

Meskipun memiliki pandangan berbeda mengenai doktrin kenikmatan,  tampaknya setiap budaya memberi ruang bagi bertumbuhnya ajaran yang satu ini. Ada budaya yang pro atau mendukung berkembangnya kenikmatan sebagai tujuan tertinggi hidup manusia, sementara ada pula yang menentangnya. Sebagai salah satu kebudayaan tertua di dunia, orang Mesir pun memiliki pandangan yang unik mengenai doktrin kenikmatan. Sebuah puisi bertahun 4200 SM, berbunyi:

”Ikuti saja hasrat-hasratmu sejauh Anda akan hidup. Penuhilah semua keinginanmu di dunia ini sesuai dengan apa kata hatimu. Ingatlah, seseorang tidak akan membawa harta benda miliknya ketika dia mati. Ingatlah, tidak ada seorang pun yang pernah mati dan kembali lagi.”
Puisi ini jelas menggambarkan pandangan orang Mesir mengenai kenikmatan. Karena tidak ada orang yang bisa membawa kekayaannya ketika mati, maka orang harus menikmati hidup dan kekayaannya di dunia ini. Apakah orang tidak takut akan hukuman atau semacam siksaan setelah hidup ini karena dirinya hidup dalam kenikmatan selama di dunia? Puisi ini mengatakan bahwa tidak pernah ada orang yang pernah mati dan kembali lagi untuk bersaksi mengenai hal ini. Karena itu, kejarlah saja kenikmatan berdasarkan dorongan atau apa kata hati seseorang, dan bukan demi sesuatu ajaran di luar dirinya.

Apakah dengan demikian, semua kenikmatan harus dikejar dan dialami? Epicurus (341–270 SM), seorang filsuf Yunani yang dihubung-hubungkan dengan doktrin hedonisme, justru berpendapat lain. Bagi dia, kebahagiaan terbesar yang dapat dicapai manusia adalah hidup dalam kenikmatannya. Meskipun demikian, bagi dia, mengejar dan memenuhi semua dorongan (hasrat) yang membawa kenikmatan justru dapat menghalangi seseorang mencapai kebahagiaan. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah mencapai semua kenikmatan, tetapi ”kenikmatan yang moderat (modest pleasure). Kenikmatan liar justru dapat menyebabkan apa yang disebutnya sebagai kekhawatiran (fear/ataraxia), sementara kenikmatan yang morerat menghasilkan “a state of tranquility and freedom from fear as well as absence of bodily pain (aponia).”

Pada Epicurus kita belajar, bahwa mengejar kenikmatan bukan tanpa batas. Bahkan, kenikmatan itu sendiri memiliki keterbatasan, sama seperti juga segala hasrat dan keinginan untuk menikmati sesuatu pun memiliki keterbatasan. Bahaya bagi tidak tercapainya kebahagiaan adalah kenikmatan tak-terbatas. Sementara itu, melalui pengetahuan yang benar mengenai bagaimana dunia ini bekerja dan tentang keterbatasan keinginan-keinginan manusia, niscaya kenikamatan yang dikejar (kenikmatan moderat) dapat membawa seseorang kepada kebahagiaan.

Bagi Epicurus, kenikmatan tertinggi yang seharusnya dikejar manusia karena mendatangkan kebahagiaan adalah kehidupan dalam ketenangan (tranquility) dan bebas dari rasa takut atau khawatir (freedom from fear). Dengan kata lain, kenikmatan mengejar kenikmatan memang bagian dari hidup manusia, tetapi kenikmatan yang pemuasannya mendatangkan rasa khawatir justru membelenggu. Kenikmatan semacam ini menghalangi manusia mencapai kebahagiaan.

Itulah sebabnya Epicurus mengajarkan pentingnya asketisme. Asketisme sendiri berasal dari kata bahasa Yunani áskēsis (ἄσκησις) yang artinya “latihan” atau “laku tapa”. Kata ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu melatih dan mengendalikan dirinya untuk membebaskan dirinya dari berbagai kenikmatan. Dalam pengertian filsafat Epicurus, asketisme dipahami sebagai “latihan” atau “pengolahan diri” yang melaluinya seseorang memilah-milah manakah kenikmatan yang mendatangkan kebahagiaan dan manakah kenikmatan yang membelenggu. Sekali lagi, bagi Epicurus, kenikmatan yang mendatangkan kebahagiaan hanyalah kenikmatan yang menimbulkan ketenangan dan keadaan tanpa atau bebas dari perasaan khawatir. Pengolahan diri melalui kemampuan olah pikiran (knowledge), melalui pertemanan (friendship), kehidupan yang berkeutamaan (virtuous life), dan hidup dalam pertarakan (temperate life) akan membawa seseorang kepada kebahagiaan. Karena itu, kebahagiaan tidak dicapai melalui kenikmatan tanpa batas, tetapi melalui kenikatan terbatas (simple pleasure).

Sebuah contoh. Siapa pun akan setuju bahwa sex memang mendatangkan kenikmatan. Apakah dengan demikian, para pemuja kenikmatan sex akan mengejar dan menikmatinya tanpa batas? Bagi Epicurus, menikmati sex tanpa batas justru menghalangi realisasi kebahagiaan. Sex tanpa batas hanya akan menghasilkan ketidaknikmatan dengan pasangan. Sementara sex yang terbatas akan memosisikannya sebagai realisasi dari sebuah persahabatan penuh kasih. Demikian pula contoh lain seperti kenikmatan yang ditimbulkan oleh makanan yang enak, dan sebagainya.

Apakah dengan demikian, kita setuju pada pandangan Epicurus mengenai kenikmatan terbatas atau kenikmatan moderat itu? Apakah kenikmatan (moderat) memang membawa kita kepada kebahagiaan? Apakah kenikmatan dapat menjadi sesuatu yang positif, katakan sebuah mawar? (sesuatu yang indah dan pantas dikejar).

Konflik internal

Entah itu hedonisme absolut atau moderat, selalu terjadi ketegangan atau konflik internal dalam diri pemuja kenikmatan itu sendiri. Konflik hebat tak-terhindarkan senantiasa terjadi di jantung kehidupan sang hedonis. Di awal dari buku kedua dari eposnya berjudul On the Nature of Things, Lucretius, sang penyair Epicurean membayangkan dirinya berdiri di atas sebuah tebing sambil memandang penderitaan seseorang yang ada di bawah sana. Lucretius menulis demikian:

Sungguh menawan, menonton dari bibir pantai angin menggulung laut

Menghancurkan kapal orang lain dalam sebuah perjuangan yang keras;
Bukan karena kesedihan manusia adalah penyebab kegembiraan
Terbebas dari kesulitan itulah kesenanganmu.

[How sweet, to watch from the shore the wind-whipped ocean
Toss someone else’s ship in a mighty struggle;
Not that the man’s distress is cause for mirth –
Your freedom from that trouble is what’s sweet].

Sementara itu, Shakespeare dalam karyanya berjudul The Tempest, memberikan potret lain. Ketika si Miranda yang tak-bersalah itu percaya bahwa dirinya melihat sebuah kapal yang sedang karam di lepas pantai di pulau mereka, ia pun berteriak kepada Prospero ayahnya, katanya:

“Oh, betapa aku sangat menderita,

Sependeritaanku dengan mereka yang yang saya lihat menderita!

Jiwa-jiwa yang malang, mereka tewas!”

Reaksi Lucretius tampak berbeda dengan tanggapan Miranda atas penderitaan orang-orang yang sedang terjebak dalam kapal yang sedang karam. Perbedaan antara kedua reaksi ini, pada akhirnya adalah perbedaan antara budaya hedonisme, bahkan pada keadaannya yang termulia, dan budaya yang menemukan makna penderitaan dalam bayangan Salib. Reaksi Miranda, tidak dapat dipungkiri, merupakan ungkapan budaya yang telah dipengaruhi oleh bayangan Salib sebagai simbol penderitaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa bahwa Lucretius adalah rakasa moral. Jika ada masalah dengan hedonisme, maka harus dikatakan bahwa Lucretiuslah orangnya yang menyebabkan terjadinya masalah itu. Lucretius mengikuti jejak pemikiran Epicurus gurunya yang bersikeras bahwa mengejar kenikmatan lahiriah adalah bagian dari martabat kita sebagai manusia. Lucretius tampak yakin tentang pentingnya mengendalikan diri secara keras dalam urusan seks, kesederhanaan dalam makanan dan minuman, dan nikmatnya percakapan bersama para sahabat. Mengenai hal ini, Lucretius menulis:

Di bawah naungan sebuah pohon yang tinggi di tepi sungai,
yang paling menyenangkan ketika cuaca tersenyum, dan musim
melukis kehijauan dengan dengan bunga-bunga nan segar dan rakus.

[in the shade of a tall tree by the riverside,
most pleasantly when the weather smiles, and the season
stipples the green with fresh and lusty flowers.]

Ia menyukai hewan, dan menyesalkan penumpahan darah mereka pada altar orang kafir. Ia tampaknya menyukai anak-anak, dan membayangkan seorang bayi yang baru lahir, seperti marinir merapat ke bibir pantai, meratap ”begitu cocok/demi dia yang begitu banyak penderitaan telah menantinya.” Dia merekomendasikan bahwa seorang pria menikahi seorang wanita bukan karena penampilannya, tapi demi menggenapi disposisi, dan mengatakan bahwa akan mudah bagi keduanya untuk belajar hidup bersama. Dia membenci perang, tidak kehilangan satu kesempatan pun untuk mengungkapkan bahwa agresi militer tidak hanya hampa manfaat, tetapi juga menghabiskan uang negara. Dan, sama seperti permusuhan pada umumnya,  permusuhan (inimicitia) selalu merupakan kebalikan dari Amicitia, yakni persahabatan, apa yang dalam pemikiran Epikurean merupakan sesuatu yang ideal.

Cicero, sang negarawan Romawi, justru mencemooh pandangan Epicurean yang mengusulkan orang untuk pensiun dari kehidupan publik. Bagi Cicero, menasihati orang untuk meninggalkan kehidupan publik demi mengejar kenikmatannya, apalagi mengatakan bahwa agresi militer hanya akan merugikan kehidupan negara,  justru hanya akan membahayakan kebaikan bersama. Agresi militer atau ikut dalam angkatan bersenjata justru merupakan upaya mengamankan kebaikan bersama. Mengikuti apa yang dikatakan Epicurus dan pengikut-pengikutnya, demikian Cicero, justru akan memberi peluang bagi hidupnya sang tiran, sang demagog, sang  penyembah-diri. Menjadi murid Epicurus, bagi Cicero, justru akan mematikan gerak hidup para penguasa yang baik, yang selalu memiliki energi yang cukup besar demi melayani orang lain dan melakukan hal-hal yang sering melampaui tugas mereka sebagai penguasa.

Tidaklah mudah membenarkan hidup yang tidak mendatangkan kesenangan, sama seperti tidak begitu mudah menjelaskan apa keuntungan mendasar dari sebuah pernikahan. Lucretius menulis beberapa sindiran yang paling pedas terhadap orang-orang bodoh dalam urusan pergolakan cinta, di mana karena ilusi, mereka percaya begitu saja bahwa teman gadis yang memiliki sifat boros harus dihindari karena akan merepotkan, dan sebagainya. Ini bukan potret yang lengkap dari ”misteri cinta” yang mengamini kata-kata Richard dari Santo Victor, yang mengatakan: ubi amor, ibi oculus (di mana ada cinta di situ ada mata).

Tidak dapat dipungkiri, bisa saja cinta melihat kecantikan yang asli dari wajah yang kurang sempurna. Mungkin juga pencari kesenangan itu buta. Apa yang terjadi ketika pernikahan seseorang mengalami kesulitan? Apa jadinya jika si anak adalah anak yang hilang? Bagaimana jika sang putri terbukti seorang pelacur? Lalu, apa yang tidak bisa diberikan hedonisme ketika sumber utama kepuasan dalam hidup telah rusak? Apakah kita harus menceraikan istri dan melupakan anak-anak?

Sukacita dan kebahagiaan selalu datang tiba-tiba. Ia penuh kejutan. Ketika dia menghampiri pintu rumah kita, ia harus diterima sebagai hadiah. Ini beda dengan kenikmatan yang sama sekali bukan sebuah kejutan. Sang hedonis selalu menjadi orang yang berlawanan dengan arah jarum jam. Dia juga melawan kerusakan tubuhnya sendiri. Ia harus menemukan kesenangan selagi nafasnya masih berdenyut. Dan ketika sedang sekarat, kaum hedonis berharap agar dirinya sanggup menghadapi segalanya dengan tenang supaya tidak mengganggu dirinya sendiri atau membebani orang di sekelilingnya dengan keluhan-keluhan. Dalam situasi demikian, sang hedonis pun berkata: ”Hei kalian semua, jauhkanlah isak tangis dari sini. Berhentilah menangis dan merengek-rengek, hai bajingan semuanya!” Tetapi ketika mengatakan itu, dia sendiri ibarat seorang tua renta yang sedang menangis menyesali waktunya yang sedang menyambut kesudahannya. Dia tidak lebih dari seorang yang setelah menikmati pesta di meja perjamuan dan tidak bersedia mengizinkan mereka yang lebih muda untuk mengisi perut mereka di meja perjamuan itu.

Sebuah kompetisi yang melelahkan di jantung kehidupan seorang pemuja kenikmatan. Kontrak sosial sebagaimana digambarkan Lucretius jauh sebelum Hobbes menegaskan dengan penuh wibawa dan benarlah demikian, bahwa dibutuhkan sebuah gencatan senjata, yakni sebuah kesepakatan bersama tentang pentingnya tidak saling menyakiti satu sama lain. Cinta selalu diadakan dalam kecurigaan. Kita tidak pernah mencari sesuatu secara bersama-sama, kecuali kita menemukan kenikmatan tertentu di dalam kehidupan orang lain. Persahabatan menghambakan diri pada kenikmatan, dan jika kenikmatan tidak menunjukkan batang hidungnya, maka tidak akan ada yang tersisa sebagai pegangan bersama. Sementara itu, orang berebut untuk sesuatu kesenangan yang dapat mereka capai, padahal tidak semua orang akan meraihnya.

Mereka yang jelek rupa, kaum lemah, sederhana, kaum miskin, para berdosa, mereka yang sedang lelah, yang sakit, yang sedang sekarat – sukacita melimpah akan menghampiri mereka yang mencarinya. Sementara para pemuja kenikmatan, mungkin saja mereka akan menemukan suka cita dan kegembiraan yang besar karena mereka telah mengejarnya, tetapi bisa saja kegembiraan yang besar itu disertai sakit hati menumpuk. Jika begitu, bukan kegembiraan besar yang telah mereka raih, tetapi hanya setumpuk kecil kesenangan. Kapan pun, para pemuja kenikmatan tidak akan pernah bisa memahami pilihan hidup Santo Damian dari Molokai atau Ibu Teresa dari Calcutta, atau sang ayah yang menunggu bertahun-tahun bagi kepulangan putranya yang hilang. Kebahagiaan dicapai dengan mengorbankan kesenangannya sendiri.

Kapan pun, hedonisme tetap sebuah duri. Dia tidak sanggup menjadi mawar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s