Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?

Leila Luliana da Costa Vieira tampak kegirangan ketika dimahkotai sebagai Miss Universe 2011.

Ketika orang Jawa Barat bersiap-siap menyambut kedatangan Leila Luliana da Costa Vieira ke bumi Priangan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat dan Suara Perempuan Jawa Barat melarang kedatangan Miss Universe 2001 tersebut (Kompas.com, 7 Oktober 2011). Menarik mengikuti alasan pelarangan sebagaimana dideteksi berikut.

Argumen Pertama: Kedatangan Miss Universe 2011 bertentangan dengan program Bandung sebagai kota agamis. Salah satu program itu mengatakan mengenai pentingnya mewujudkan Bandung bebas dari pornografi.

Argumen Kedua: Kehadiran Leila Luliana merupakan bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi. Orang MUI mengatakan, “Proses pemilihan Miss Universe itu sendiri saja sudah menginjak martabat perempuan. Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur.”

Argumen Ketiga: Suara Perempuan Jabar bersuara serupa. Kelompok ini khawatir kehadiran Leila Luliana akan berdampak buruk pada remaja Bandung. “Dia (Lopes) itu ikon. Kalau hanya kecerdasannya yang ditiru remaja, tidak masalah. Namun, kalau cara hanya penampilan fisiknya yang ditiru, bakal berdampak negatif bagi para remaja Bandung.” Pra remaja Bandung belum mampu memilah kelebihan ratu sejagat, yakni kecerdasan, perilaku, dan kecantikan. Remaja, ujarnya, latah untuk meniru kelebihan fisik saja, memamerkan bagian tubuh tertentu dengan berpakaian serba minim.

Pada tataran epistemologis, jelas sekali ”kesesatan berpikir” (fallacy of thinking) dari cara berpikir dan berargumentasi di atas. Argumen pertama berangkat dari premis bahwa “segala hal yang bermuatan pornografi tidak diizinkan masuk kota Bandung.” Leila Luliana sekarang dilarang masuk Kota Bandung. Pertanyaan mengapa harus dijawab dengan mengatakan bahwa ” Leila Luliana mengandung pornografi”.

Ada pertanyaan filosofis yang dapat diajukan ke dalam cara beragumentasi ini. Pertama, yang MUI Jawa Barat dan Suara Perempuan maksudkan sebagai ”mengandung pornografi” pada diri Leila Luliana? Jika itu dikaitkan dengan proses pemilihan Ratu Sejagat yang katanya ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”, kejadian itu adalah post factum di belahan dunia lain. Bagaimana sesuatu yang telah terjadi di masa lampau (beberapa waktu lalu) plus di negara lain masih diingat sebagai pornografi (tepatnya porno aksi), padahal porno aksi per definisi adalah ”tindakan vulgar yang membangkitkan birahi” yang seharusnya merupakan tindakan aktual (actus), saat ini, di sini, di hadapan kita? Dengan kata lain, ketika Leila Luliana tampil di hadapan kita sekarang dan tidak beraksi dengan tujuan membangkitkan birahi maka dia tidak bisa dikategorikan sebagai mengandung atau menyebabkan pornografi. Tampaknya orang yang mengatakan ini telah menyaksikan dan menonton proses pemilihan Ratu Sejagat sehingga dia berani menyimpulkan, ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”. Itu artinya, ketika bertemu dengan Leila Luliana saat ini, dia membangkitkan kembali ingatannya tentang proses pemilihan Ratu Sejagat beberapa waktu lalu di mana dia melihat bagaimana setiap bagian tubuh perempuan diukur, termasuk bagian tubuhnya Leila Luliana. Saya khawatir, yang membangkitkan birahi dan dikategorikan porno saat ini bukanlah Leila Luliana (asal dia memang tidak berbikini di muka umum), tetapi justru orang itu sendiri yang membiarkan dirinya ”dibirahikan” (to be seduced) oleh penampilan Leila Luliana beberapa waktu lalu di negeri orang (post factum).

Argumen kedua juga tidak luput dari kesesatan berpikir. Mengatakan bahwa kehadiran Leila Luliana adalah bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi mengandung loncatan berpikir. Bisa jadi argumentasinya dapat dirumuskan demikian: (1) pemerintah (Jawa Barat) punya program mewujudkan Jawa Barat sebagai kota agamis. (2) Salah satu indikator kota agamis adalah bebas dari pornografi. (3) Sekarang pemerintah mengizinkan Leila Luliana mengunjungi Jawa Barat demi mempromosikan pariwisata Bumi Priangan. (4) Padahal Leila Luliana ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornografi (atau tepatnya pornoaksi). (Kesimpulan): Jadi, pemerintah menyetujui pornografi.

Dihubungkan dengan kritik terhadap argumen pertama di atas, poin nomor 4 masuk dalam kategori epistemologi yang disebut ”keyakinan yang tak terbuktikan” (ujustified belief), karena unsur ”mengandung” atau ”menyebabkan” porno aksi adalah post factum, bukan aktus (bukan tindakan saat ini). Ada dua kesalahan dalam menalar dan menarik kesimpulan. Pertama, menyimpulkan sesuatu berdasarkan ”keyakinan yang tak terbuktikan” tidak pernah bisa benar. Jangankan ”keyakinan yang tak terbuktikan”, dalam epistemologi, keyakinan yang terbuktikan saja (justified true belief) dapat salah sebagai fondamen menarik kesimpulan, karena pentingnya kehadiran verifikator. Kedua, memaksakan unsur ke-4 – ”Padahal Leila Lulianamengandung’ atau ’menyebabkan’ pornografi (atau tepatnya pornoaksi)” – sama saja dengan menarik kesimpulan berdasarkan kesesatan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang pribadi atau orang), dan itu, jika tidak hati-hati, dapat mengarah ke fitnah.

Bagaimana dengan argumen ketiga? Argumen ketiga dengan sendirinya lemah jika argumen pertama dan kedua sudah lemah. Kekhawatiran itu berlebihan, lagi-lagi karena porno aksi yang dikhawatirkan itu bersifa post factum. Kalau pun remaja putri Jawa Barat tidak berhasil meniru unsur kecerdasan dan perilaku, argumen bahwa ”meniru kelebihan fisik saja” sebagai akibat dari kedatangan atau ketokohan Leila Luliana tampaknya berlebihan (hyperbolic). Lagi-lagi ini mengandaikan semua pihak setuju bahwa Leila Luliana ”mengandung” atau ”menyebabkan” porno aksi – hal yang sudah ditolak di atas. Kalau pun ini benar, prasyarat yang dirujuk untuk membangun argumentasi ini memang memenuhi unsur necessary dalam hukum berpikir, tetapi gagal memenuhi unsur ”memadai” (sufficient). Supaya memadai, kondisi bahwa Leila Luliana melakukan porno aksi haruslah merupakan justified true belief yang telah terverifikasi sebagai benar, jadi tanpa kehadiran ”penakluk” (no-defeater condition) dalam arti tanpa ada argumentasi sebaliknya yang membuktikan argumen kita sebagai salah.

Mengapa ”ngotot”?

Mengapa saya tiba-tiba “membuang” waktu sekitar satu jam sekadar memikirkan dan mengajukan refleksi dan argumentasi ini? Dua alasan sederhana bisa dikemukakan. Pertama, terlalu sering ruang publik dipenuhi dengan argumen dan pendapat yang menyesatkan, membingungkan, dan tidak mendidik. Berbagai pendapat yang dikemukakan tokoh masyarakat atau pun tokoh agama diposisikan seolah-olah memiliki kebenaran pada dirinya dan karena itu tidak perlu dibuktikan lagi. Celakanya, klaim mereka sering mendapat justifikasinya dalam premis-premis keagamaan yang pada dirinya sendiri masih perlu diklarifikasi.

Kedua, semakin jarang masyarakat kita berpikir secara lebih mendalam dan komprehensif. Ini mengandaikan seringnya refleksi, rujukan pada sumber terpercaya, kehendak untuk berpikir imparsial (objektif) lepas dari ranah epistemik (epistemic realm) tempat seseorang berpijak, dan yang terpenting adalah kemampuan untuk meragukan segala sesuatu, termasuk diri si subjek yang sedang meragukan. Jika pengamatan saya ini benar, maka ke depannya kita akan terus mendapat sajian pemikiran, pandangan, gagasan atau pun kritik yang tidak hanya menyesatkan, tetapi juga memandulkan kemampuan berpikir kritis kita. Semoga ini hanya kekhawatiran saya semata.

Tentu cara pandang berbeda dari rekan-rekan pembaca terhadap ”masalah” ini sangat diharapkan. Salam dan selamat beraktivitas!

Pluit, 7 Oktober 2011

Satu pemikiran pada “Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s