“Mengobral” Filsafat

Untuk apa belajar filsafat? Pertanyaan itu selalu saya ajukan setiap tahun kepada mahasiswa yang mempelajari Pengantar Filsafat. Tidak begitu mudah menjawab pertanyaan ini persis ketika mata kuliah filsafat dan humaniora pada umumnya semakin tidak mendapat tempat di berbagai perguruan tinggi di Republik ini. Jawaban apa yang disodorkan para mahasiswa atas pertanyaan itu, terutama dari mereka yang bukan mahasiswa filsafat? Daripada menunggu mahasiswa yang ternyata untuk merumuskan jawaban sangat sederhana pun sulit sekali, biasanya saya “mengobral” beberapa jawaban klise yang nyaris sama setiap tahun. Katanya, filsafat itu ilmu atau disiplin berpikir kritis, membantu seseorang memahami realitas, termasuk dirinya secara lebih mendalam dan komprehensif. Melalui konsep-konsep yang dihasilkan dari refleksi filosofis,  filsafat “mengantar” seseorang kepada kebijaksanaan. Belajar filsafat konon bukan untuk mencapai sebuah pengetahuan final mengenai perkara yang diperdebatkan, tetapi jawaban-jawaban yang sifatnya sementara. Setiap jawaban atas pertanyaan filosofis selalu merupakan titik tolak baru untuk berfilsafat.

Kembali pertanyaan yang sama yang saya ajukan tahun ini. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jawaban yang biasanya saya kemukakan tahun-tahun sebelumnya ternyata tidak keluar dari mulutku tahun ini. Saya tergagap! Tiba-tiba saya diingatkan oleh Epicurus (341-270), seorang filsuf Yunani Kuno yang hidup menjelang zaman masehi. Epicurus berkata, “Kata-kata seorang filsuf yang tidak menawarkan penyembuhan bagi penderitaan manusia adalah kata-kata kosong dan sia-sia” (dikutip dari Graham Higgin, Antologi Filsafat, Bentang, Yogyakarta: 2004, hlm. 33). Sekonyong-konyong kepalaku pusing dan perut terasa mual. Epicurus seperti menohok dan menyerang langsung ke pertahananku. Selama ini ternyata saya termasuk salah satu pengajar filsafat yang mewartakan kata-kata kosong dan sia-sia. Kalau begini terus, bisa jadi filsafat tidak punya masa depan di Republik ini, pikirku.

Ketika malam semakin larut dan mataku belum mau terpejam, pertanyaan tentang manfaat mempelajari filsafat dan kata-kata Epicurus seperti terus menghantuiku. Buku Antologi Filsafat yang masih tergeletak di atas meja belajarku itu kembali kubuka. Sebuah kutipan di halaman 44 memberi inspirasi untuk pencarian lebih jauh dan mendalam. Tentang filsafat, Philo dari Alexandria (k.l. 20 SM – 50 M) menulis, “Filsafat bukanlah pekerjaan yang sifatnya umum, juga bukan sesuatu yang dicari demi menonjolkan diri. Ia tidak berurusan dengan kata-kata, namun dengan fakta-fakta. Ia tidak dilakukan dengan tujuan memberikan hiburan dalam melewatkan hari dan menghilangkan kebosanan di waktu senggang. Ia membentuk dan membangun kepribadian, menata kehidupan seseorang, mengatur perilaku seseorang, menunjukkan padanya apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan, duduk di belakang kemudi dan menjaga diri tetap berada di jalur yang benar saat meluncur di tengah lautan yang ganas. Tanpa filsafat, tak seorang pun mampu mengarahkan kehidupan agar terbebas dari rasa takut atau kecemasan.”

Philo dari Alexandria memosisikan filsafat sebagai ilmu yang mengemban tugas mulia. Manusia mengarungi kehidupan yang ganas, terombang-ambing di lautan perubahan dan ketidakkekalan. Manusia dihadapkan pada realitas yang terus menjauhkan esensi dari upaya akal menangkapnya. Realitas yang tak-permanen dan terus menampakkan perubahan tidak hanya membingungkan tetapi juga mencemaskan. Semisal drama korupsi berjemaah yang diperankan oleh aktor-aktor terkenal selevel Muhammad Nazaruddin dan tokoh-tokoh lainnya yang sudah dijebloskan ke dalam penjara. Ketika korupsi terus berulang dan ketika proses peradilan menjadi panggung sandiwara, akal manusia seakan bertekuk lutut dan menyerah di hadapan berulangnya perilaku yang sama. Refleksi filosofis membantu kita menangkap esensi dari berulangnya perilaku tak etis itu ketika pertanyaan filosofis mengapa manusia terus jatuh dan terlibat dalam perilaku korup dikembalikan kepada hakikat manusia yang lemah, rapuh, tak berdaya menghadapi ketamakannya sendiri. Bahwa kerapuhan dan kelemahan manusia seharusnya tidak mendikte dan menggiring manusia itu sendiri selaku subjek, tetapi justru memampukan dia melampaui dimensi alamiahnya. Ada kata-kata bijaksana yang bisa kita adopsi ke dalam refleksi filosofis, “Dalam kelemahanku aku justru menjadi kuat.”

Ya, filsafat adalah ilmu yang mengajarkan sikap kritis dan reflektif karena subjek tidak mau terima begitu saja setiap realitas yang dihadapinya. Realitas dan pengalaman setiap orang yang mempraktikkan filsafat adalah realitas dan pengalaman yang sudah direfleksikan. Jenis realitas itu sudah menjadi realitasku, realitas si subjek yang menghadapi, memahami, dan memberi makna padanya. Dalam arti itu apa yang dikatakan Philo dari Alexandria benar adanya. Filsafat bukanlah ilmu tanpa faedah. Filsafat dengan kekuatan refleksinya justru membantu kita “membentuk dan membangun kepribadian, menata kehidupan, dan mengatur perilaku.”

Berfilsafat selalu berarti bersikap kritis dan rasional. Sikap semacam ini diandaikan menjadi semacam opsi menghayati kehidupan. Peran pragmatisnya bisa dirumuskan demikian: ketika kesempatan terbuka luas untuk melakukan tindakan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi proses peradilan, dan sebagainya, seseorang yang senantiasa membingkai kehidupannya dengan refleksi filosofis akan menantang dirinya dengan pertanyaan seputar justifikasi tindakan-tindakannya. Jika tindakan-tindakannya dianggap benar, bagaimana dia menjustifikasi atau mempertanggungjawabkannya secara moral? Prinsip-prinsip rasional apa yang dipakai sebagai dasar tindakannya yang sekaligus bersifat universal? Sebaliknya, mengapa seseorang memilih bertindak bertentangan dengan nilai dan norma moral?

Kalau kita sepakat bahwa tindakan korupsi dikategorikan sebagai jalan pintas meraih kekayaan materi, seorang yang belajar filsafat akan bertanya, “Mengapa manusia mau memilih jalan pintas tersebut?” J.McT. E. McTaggart, seorang filsuf Inggris abad ke-19 (1866 – 1925) memberi nasihat bijak, katanya, “Tidak ada jalan pintas menuju kehidupan yang baik, baik individu ataupun sosial. Untuk membangun kehidupan yang baik, kita harus membangun inteligensi, pengendalian-diri dan simpati” (Dikutip dari Graham Higgin, 2004, hlm. 176). Jalan pintas tidak hanya mencerminkan kemalasan berpikir dan kelemahan dalam mengarungi hidup, tetapi juga membuka ruang bagi menumpuknya rasa takut dan cemas. Celakanya, semakin kecemasan menguasai kehidupan, semakin jalan pintas ditempuh. Dan manusia pada akhirnya berhenti menjadi dirinya sendiri. Dia mentok dan berhenti pada level kehidupan yang tidak layak dihidupi.

Dan ketika malam kota Jakarta semakin larut dan sepi, saya pun terdiam seraya berharap, “Andai saja kehidupan manusia di Republik ini dikuasai oleh cinta akan kebijaksanaan dan gairah untuk meraih pengetahuan filosofis!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s