DAN SBY PUN MENANGIS LAGI

Ketika SBY menangis.

Sudah bisa ditebak apa reaksi pembaca Kompas.com (24 Juni 2011) ketika membaca berita berjudul “SBY Menangis, Rakyat Jepang Terharu”. Reaksi pro dan kontra tampak jelas dari postingan komen para pembaca. Ini bisa dipahami terutama jika dikaitkan dengan berita hukuman pancung TKI di Arab Saudi dan lambannya reaksi pemerintah RI. Tidak hanya itu. Ratusan TKW kita terancam hukuman mati di Arab Saudi persis ketika diplomasi pemerintah RI masih belum menunjukkan hasil yang memadai. Wajar kemudian reaksi sinis pembaca dan mungkin saja sebagian masyarakat Indonesia terhadap tetesan air mata SBY. Pertanyaan yang juga layak dikemukakan, “Di manakah air matamu ketika para TKI kita disiksa, diperkosa, dicambuk, dan dihukum mati?” Tetapi pertanyaan yang sama yang juga perlu kita ajukan ke pemerintah kita adalah perihal keseriusan menangani masalah korupsi. “Di manakah air matamu ketika para koruptor lari ke luar negeri dan tidak sanggup kau kembalikan demi sebuah proses hukum?” “Di manakah air matamu ketika rakyat miskin di kejar dan diusir di kota-kota besar karena mereka dianggap pendatang haram?” “Di manakah air matamu ketika pasar dalam negeri semakin dibanjiri dan dikuasai produk-produk Malaysia?” Dan seterusnya.

Saya mungkin satu dari sedikit orang yang menaruh simpati pada tetesan air mata SBY di Jepang karena 2 alasan. Pertama, sebagai sebuah ungkapan emosi yang sifatnya universal, air mata SBY melampaui atau mengungguli kata-kata atau ungkapan ikut bersedih atas tragedi bencana alam tsunami yang barangkali ingin disampaikan SBY. Air mata saja sudah cukup membuat terharu, dan itu jauh lebih mendalam dibandingkan untaian kata-kata. Ada yang sinis terhadap sumbangan 2 juta dollar yang diberikan RI kepada Jepang. Tentu nilai sumbangan itu akan sangat bagus jika digunakan untuk membantu kaum miskin dan yang membutuhkan di dalam negeri. Tetapi sumbangan itu – dibarengi dengan air mata SBY – bisa menjadi simbol kerja sama RI – Jepang. Tetesan air mata SBY bisa dibaca sebagai alat politik untuk membangun kerja sama RI – Jepang ke arah yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kedua, air mata SBY mengikatkan kedua bangsa (Indonesia dan Jepang) akan kerapuhan dan ketidaksanggupan manusia sebagai insan di hadapan kekuatan dan kekuasaan alam (dan tentu Sang Pencipta). Orang rendah hati dan sadar akan tempatnya yang sesungguhnya di alam (kosmos) yang maha luas ini akan menyadari betapa kecil dan tak berartinya dia. Air mata SBY bisa menjadi simbol untuk mengingatkan siapa pun bangsa di dunia ini, bahwa menguasai teknologi canggih tidak sama dengan mengendalikan alam secara seratus persen. Maka ketika menyaksikan kawasan Kawanuma yang porak poranda, saya membayangkan bulu kuduk SBY berdiri. Dia merinding. Hatinya merintih. Dia menyerah pada kekuasaan alam, dan ketika air matanya mengalir ke bumi, SBY menyatukan emosi dan jati dirinya dengan alam di mana dia menjadi bagiannya.

***

Tafsir semacam ini tentu sah-sah saja dan siapa pun bisa mengatakannya. Dengan ini saya tidak bermaksud untuk tidak melihat dimensi atau tafsir lain dari air mata SBY. Yang saya takutkan adalah bahwa air mata itu bukanlah sebuah ekspresi sungguhan pengalaman kesedihan yang mendalam akan sebuah tragedi kemanusiaan yang menimpa sebagian manusia, tetapi justru menjadi alat politik demi sebuah tujuan politik yang lebih besar. Tentu kekhawatiran semacam ini beralasan jika kita hubungkan dengan beberapa momen ketika air mata SBY dibaca sebagai sarana politik pencitraan. Kita seakan hafal betul apa yang ingin SBY katakan dengan air mata. Dia merasa dizalimi, merasa dikhianati, merasa diperlakukan tidak adil, dan semacamnya. Sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat pencinta sinetron seperti Indonesia, hasil yang dicapai SBY pun maksimal. Simpati dan dukungan politik.

Lagi-lagi saya berharap semoga tetesan air mata SBY di Jepang itu terjadi dalam bingkai dua alasan yang saya kemukakan di atas. Berasumsi bahwa tetesan air mata SBY di Jepang adalah sebuah ekspresi mendalam rasa sedih dan simpati, dan bukan air mata buaya, saya justru mau menyarankan agar masa kepemimpinan yang tinggal 3 tahun ini diisi dengan sebaik-baiknya. Lebih tegas lagi dengan pemberantasan korupsi. Tunjukkan watak sebenarnya dari seorang Jenderal yang marah kalau ada warganya dizalimi di negara lain. Perlihatkan amarahmu kepada ketidakadilan yang menyengsarakan rakyat. Tegaslah kepada para pejabat yang nakal dan coba-coba korupsi. Perluas lapangan kerja dan tingkatkan daya saing RI di kancah internasional.

Dan setelah masa jabatanmu berakhir di tahun 2014 nanti, engkau akan meneteskan air mata. Kali ini engkau menangis bukan karena rakyat masih miskin. Engkau juga tidak menangis karena ribuan TKI diperlakukan tidak adil di luar negeri. Kali ini air matamu adalah air mata kebahagiaan, bahwa setelah bekerja keras, pemerintahanmu akhirnya mampu menegakkan keadilan, sanggup memberantas korupsi, mampu melindungi warganya, sanggup meningkatkan taraf hidup rakyatnya, dan sebagainya. Maka saya membayangkan, matamu menerawang jauh ke pulau-pulau Nusantara. Mulutmu bergetar mengucapkan kata-kata “Majulah Negeriku”. Dan negeri ini akan mengenangmu sebagai presiden yang suka menangis, bukan sekadar ekspresi kecengengan, tetapi keharuan akan majunya anak-anak negeri.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s