LADY GAGA, JUDAS, DAN TUHAN SEBAGAI PENGHALANG KENIKMATAN

Kalau saja semua orang setuju tafsiran Lady Gaga dalam lagunya berjudul “Judas”, bahwa tidak peduli siapa pun Anda, Yesus pasti mencintai dan mengasihimu, maka lagu ini bisa dinikmati tanpa ada rasa risi sedikit pun. Tapi, apakah di situ letak persoalannya? Mengapa ribuan bahkan mungkin jutaan orang seantero dunia yang tidak setuju dengan cara Lady Gaga menafsirkan Kisah Judas dan mempresentasikannya baik melalui lirik maupun video clip lagunya itu? Mengapa negara seperti Lebanon menolak – akhirnya sudah menerima juga – impor dan penjualan kaset Ladi Gaga di negeri itu hanya karena lagu Judas yang bisa menyinggung perasaan agama tertentu?

Simak saja lagu ini di Youtube yang ketika saya akses (17 Juni 2011), telah dinikmati sekurangnya 61 juta orang dan selidiki beragam reaksi atas lagu itu. Kalau mau berpikir dikotomis, berbagai reaksi itu bisa direduksikan menjadi dua kutub, yakni mereka yang pro, setuju dan mendukung berhadapan dengan mereka yang menentang. Kalau mau lebih bombastis lagi, mereka yang mendukung kita sebut kelompok liberal, sementara para penentang kita masukkan sebagai kaum konservatif. Tentu dengan kaca mata berpikir seperti ini, kita segera menemukan mereka yang mendukung jenis musik, lirik, dan video klip lagu Judas seraya memujinya sebagai bagian dari ekspresi kebebasan. Ada juga mereka yang lebih radikal pikirannya – tampaknya mereka benar-benar membenci Gereja (Katolik) – yang menafsir lagu Judas ini sebagai kritik terhadap ajaran Kristiani. Seorang komentator di Youtube dengan nama samaran “xafflictxbrutalizex” mengatakan demikian, “Menurut tafsiran saya, video ini mengungkap Kebohongan Besar yang selama ini dipertahankan Gereja Katolik, yang mengatakan bahwa Allah mengasihi semua orang, tidak peduli siapa dia. Padahal Allah tidak mengasihi semua orang, terbukti dengan adanya dosa asal.”

Menarik mengikuti komentator-komentator yang ada di Youtube di mana bisa dikatakan hampir seratus persen bernada negatif. Tidak tahu apakah ini memang komentar-komentar bernada sinis dan melawan Lady Gaga sengaja dipertahankan “pemilik” video lagu Judas ini atau tidak. Apakah reaksi-reaksi melawan lirik dan lagu Judas sebagai bagian dari kesadaran puritanisme kaum Kristiani, bahwa Lady Gaga telah melanggar kepatutan seorang Kristiani dalam mengeritik Gereja? Tapi emangnya Lady Gaga seorang Kristen? Jika dia seorang Kristen, apa salah kalau dia sendiri mengkritik agamanya? Lalu, apakah lagu ini memang benar-benar menyinggung perasaan orang Kristen?

Kita simak saja lirik lagu ini sambil melihat di manakah letak ketersinggungan itu. Lirik lagu Judas selengkapnya seperti berikut.

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas GaGa

Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas GaGa

[Lady Gaga – Verse 1]

When he calls to me, I am ready

I’ll wash his feet with my hair if he needs

Forgive him when his tongue lies through his brain

Even after three times he betrays me

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

I’ll bring him down, bring him down, down

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

A king with no crown, king with no crown

[Chorus]

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas GaGa

[Lady Gaga – Verse 2]

I couldn’t love a man so purely

Even prophets forgave his crooked way

I’ve learned love is like a brick, you can

Build a house or sink a dead body

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

I’ll bring him down, bring him down, down

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

Ah-ah-ahhh-ow uh uh o

A king with no crown, king with no crown

[Chorus]

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Ew!

[Bridge]

In the most Biblical sense,

I am beyond repentance

Fame hooker, prostitute wench vomits her mind

But in the cultural sense

I just speak in future tense

Judas, kiss me if offenced,

Or wear ear condom next time

I wanna love you,

But something’s pulling me away from you

Jesus is my virtue,

And Judas is the demon I cling to

I cling to

[Chorus]

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

I’m just a Holy fool

Oh, baby, it’s so cruel

But I’m still in love with Judas, baby

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Woah woah woah woah woah

I’m in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas Juda-ah-ah, Judas GaGa

***

Kalau kita setuju bahwa manusia adalah insan berdosa dan Judas bisa ditafsir sebagai simbol kedosaan manusia, kata-kata Lady Gaga sebenarnya merepresentasikan sifat kemanusiaan kita: I am in Love with Judas yang dapat dibaca sebagai “saya menyukai dosa” atau senang berbuat dosa, dan sebagainya. Kata-kata lainnya dalam lirik sehubungan dengan cinta pada Judas bisa direduksikan ke relasi manusia dengan dosa dan kedosaan manusia. Juga bahwa sering status kedosaan itu dipertahankan karena menyenangkan. Kita nyaman berada dalam dosa sehingga pertobatan menjadi sesuatu yang sulit terwujud.

Sejauh ini, pesan lagu Judas tentu tidak ada masalah. Yang “agak” aneh justru pada lirik yang dimulai dengan kata-kata: “But something’s pulling me away from you , Jesus is my virtue, And Judas is the demon I cling to, I cling to.” Menurut saya, cara tafsir Lady Gaga ini mengandung kekeliruan. Dalam pikiran awam kita biasanya memahami bahwa dosa dan iblislah “biang kerok” yang menjauhkan kita dari Tuhan dan cinta kita padaNya. Apa yang dikatakan Lady Gaga dalam lagu itu seakan-akan mengatakan bahwa “manusia itu menyukai dosa dan selalu berusaha untuk tetap dalam dosa, tetapi gara-gara Tuhan makanya manusia tidak mau hidup dalam dosa lagi. Nah, jika tafsir semacam ini benar, maka hubungan atau relasi dengan Tuhan menjadi sesuatu yang buruk dan sebaiknya dihindari, karena hanya akan menjauhkan atau memisahkan kita dari iblis (baca: kesenangan, kenikmatan, kegemerlapan hidup, dsb).

Dan itu dikatakan dalam syair berikutnya, ketika Lady Gaga mengatakan, “Oh, baby, it’s cruel, but I’m still in love with Judas, baby.” Di titik inilah saya mengerti dengan baik kenapa komentator pada video clip Judas di YouTube nyaris bernada negatif semua.

Saya lalu berpikir, jangan-jangan seperti inilah cara orang modern memahami hubungan dengan Tuhannya. Bahwa dunia ini begitu enak dan menjanjikan kenikmatan. Bahwa seharusnya kita terus tenggelam dalam kesenangan dunia dan merayakannya, karena di situlah kita menemukan kebebasan kita seutuhnya sebagai manusia. Kehadiran Tuhan justru akan memisahkan kita dari kenikmatan itu.

Ya, kalau pemahaman seperti ini yang dipakai, tidak mengherankan bahwa agama (mungkin hanya Kristianitas) tidak menarik lagi, terutama di Barat. Apakah memang demikian? Aku pun tak tahu. Tapi anehnya, ketika beberapa kali mendengar lagu Judas, saya perlahan menyukainya.

5 pemikiran pada “LADY GAGA, JUDAS, DAN TUHAN SEBAGAI PENGHALANG KENIKMATAN

  1. Music is art,same with other like photo, write a book/novel ,painting ,etc. Try to see from other view,pls not always connected with religion.. Coz religion is between you and GOD.. This song is mean nothing coz its only entertain art of music.. We are same,FULL OF SIN!!

    1. Tentunya. Tinjauan filosofis tentang seberapa estetisnya karya2 dan performnya Lady Gaga akan membantu kita memahami apakah reaksi publik atas kedatangannya di Indonesia dapat diterima secara rasional atau tidak. Bagus jika anda punya pemahaman filosofis mengenai ini, misalnya dengan membaca Plato dan Kontrol atas seni, dari buku The Republik, bab 2. Salam!

  2. Agama tidak menarik lagi, karena orang sudah lebih mengerti jalan pikiran agama. Bagaimana ia dibentuk, motivasi keberadaannya, motivasi si pembawa agama. Kalau semua orang mau berani lebih mempelajari lagi kritikan2 terhadap agama, maka dia “pasti” (menurut saya), akan menyadari bahwa agama hanyalah sesuatu yg “dibuat” oleh orang di jaman dahulu. Ketika pengetahuan, kesadaran, pemikiran orang2 sudah mulai maju, dalam artian, ada orang2 yang bersusah payah mempelajari perbandingan agama, kritikan thd agama, dan akhirnya science, mereka menyadari bahwa tidak lagi perlu adanya agama. Moral, berbuat baik, dll, adalah sesuatu yg bisa dipisahkan dari agama, Buktinya adalah di setiap agama pasti ada 1 atau 2 hal tentang berbuat baik. Bahkan atheist/agnostic/non-believer pun yang dianggap “sesat” oleh kaum beragama memiliki a sense of morality.

    Apa hubungannya dgn Gaga? hehe.. Saya pikir Lady Gaga adalah seseorang yg ingin menyentil orang tentang sesuatu yg sensitif, Mungkin untuk membuka jalan pikiran orang2, Atau setidaknya membuat orang berpikir dan lebih berani mempertanyakan apa yg selama ini orang2 percayai agar tidak saja gampang dibohongi oleh sesuatu bernama ‘kepercayaan’… Kepercayaan yg sering kali tidak bisa dibuktikan dan hanya bisa dirasakan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s