Keheningan di Biara Benediktin di Kaki Bukit Euganean

Keindahan Biara Benediktin dilihat dari atas bukit.

Jika Anda adalah termasuk salah satu dari mereka yang suka mengunjungi biara-biara abad pertengahan dengan lingkungan alam pedesaan yang ramah, bersih, dan tenang, kunjungilah Biara Benediktin Praglia, 12 kilometer dari Kota Padua di Italia. Bagi mereka yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau kelompok doa atau bahkan seorang diri ingin mengalami doa dan keheningan, biara ini termasuk salah satu tempat yang cocok. Dijamin ketenangan dan keheningan doa bisa dialami di biara yang terletak di kaki bukit berhutan lebat ini.

Biara ini memang terletak tidak jauh dari kota Padua. Naik bis dari terminal hanya makan waktu sekitar 20 menit. Tiketnya pun murah meriah, 2,5 Euro sekali jalan.

Setelah bis meninggalkan terminal dan melewati pusat perbelanjaan kota Padua, bis akan segera melewati daerah-daerah luar kota. Orang Padua menyebutnya daerah luar kota, tetapi kalau dilihat dari infra strukturnya, mungkin lebih baik tetap dibilang kota. Biara Benediktin ini sendiri terletak di kaki bukit Euganean. Bukit yang luasnya sekitar 18 ribu hektar ini sebenarnya adalah ditetapkan oleh pemerintah region Venesia sebagai daerah hutan lindung sejak tahun 1989. Di bawah kaki bukit terdapat hamparan dataran rendah yang amat subur, ditanami gandum, jagung, dan tentu saja juga perkebunan anggur. Tentu tidak hanya kehadiran Biara Benediktin yang menjadi daya tarik orang Padua dan sekitarnya berkunjung ke sana, tetapi juga bukit dan keindahan alam yang mempesona.

Biara Benediktin yang dibangun di akhir abad ke-11 ini di masa lampau terkenal sebagai tempat pengembangan obatan-obatan alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Sekarang masih bisa ditemukan berbagai jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. Dengan moto “berdoa dan bekerja”, para rahib yang tinggal di biara ini mengelola lahan pertanian mereka yang maha luas itu, antara lain mengembangkan tanaman obat-obatan dan usaha peternakan lebah. Tidak jauh dari biara ini sebenarnya ada mata air untuk penyembuhan termal, sekitar 5 kilometer jaraknya. Tepatnya di Terme Abano. Biasanya orang-orang berdatangan ke mata air ini, mandi sauna di sana, kemudian bisa kembali ke Biara. Dewasa ini biara bahkan menyediakan kamar-kamar yang bisa disewa pengunjung.

Layaknya biara abad pertengahan, Biara Benediktin ini termasuk salah satu pusat spiritualitas Katolik di region Venesia. Biara ini sendiri dibangun oleh keluarga Maltraverso dari Vicenza. Biara ini pun mengalami perkembangan pesat, baik dari segi penghuni maupun fisik, selama abad pertengahan dan renaisans. Karena itu, dalam perjalanannya biara ini pun mengalami perubahan bentuk dan luas, mulai dari bangun sederhana untuk menampung beberapa rahib sampai menjadi bangun megah yang bisa menampung sampai ratusan rahib.

Di belakang penulis tampak Biara Benediktin.

Turun dari bis pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer, melewati areal perkebunan nan subur sebelum memasuki pintu gerbang biara. Di sebelah kiri pintu gerbang langsung tampak bangunan gereja nan megah.  Itulah Basilika Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga yang dibangun pada tahun 1400-an..Basilika ini tampak megah dari luar. Sementara keindahan bagian dalam basilika menjadi bukti tersendiri bagaimana selama berabad-abad menjadi pusat spiritualitas bagi para rahib maupun umat Katolik.

Lantai dasar

Biara Benediktin ini sendiri memiliki empat bagian dalam yang disebut cloister. Begitu bel ditekan, kita akan dijemput seorang rahib berpakaian a la rahib, dan dengan senyumnya yang ramah menyambut kedatangan tamu. Kita pun masuk melalui lorong di lantai dasar. Di sini terdapat ruang tamu bagi mereka yang ingin konsultasi rohani dan tempat untuk berbagai aktivitas budaya. Nikmati saja keindahan gedung-gedungnya. Amati secara saksama tiang-tiang penyanggah gedung bergaya Verona dengan ciri khas marmer merah dan putih. Perhatikan pula jendela-jendelanya yang elegan, bergaya gotik khas Venesia.

Di bagian tengah di lantai dasar ini terdapat sebuah sumur dari abad 18 yang sampai sekarang masih berfungsi. Memang tidak banyak dijumpai lagi tanaman obat-obatan seperti di masa lampau, tetapi jangan khawatir karena masih bisa menikmati keindahan taman bunga khas Italia. Sementara di sisi lain dari biara ini terdapat kebun raya yang masih cukup kaya dengan berbagai tanaman.

Lantai atas

Rahib yang membimbing kunjungan para tamu akan membawa kita ke lantai atas, naik melalui tangga sempit nan antik. Di pintu menuju tangga kita akan disambut oleh lukisan indah Santo Benediktus, sang pelindung sekaligus pendiri biara benediktin yang dewasa ini masih eksis dan tersebar di seluruh dunia. Begitu tiba di lantai atas, kita akan disuguhi pemandangan indah kubah dari biara ini, terbuat dari batu pualam yang indah.

Di lantai atas ini terdapat sebuah ruang terbuka yang dikelilingi bangunan-bangunan lainnya. Lantai dasar dari ruang terbuka ini membentuk sebuah bak penampungan, konon digunakan untuk menampung air hujan yang bisa digunakan selama musim panas. Karena itu disebut juga sumur di bagian atas biara.

Ruang Bab

Di sebelah kanan dari ruang terbuka di lantai atas ini terdapat sebuah ruangan sekitar 120 meter persegi, disebut sebagai chapter room. Di ruangan inilah para rahib biasanya berkumpul dan mendengarkan Kepala Biara membacakan satu bab dari aturan hidup atau konstitusi para rahib Benediktin. Kepala Biara akan duduk di kursi paling di tengah dan para rahib lainnya akan duduk di bangku kayu yang terletak menempel ke dinding ruangan ini. Keantikan kayu ceri yang digunakan untuk membuat bangku-bangku ini masih bisa dinikmati sampai sekarang. Sementara di lantai ruangan ini terdapat ruang bawah tempat menyimpan sisa-sisa abu dan dari tubuh para kepala biara yang pernah memimpin biara ini.

Ruang Makan Monumental

Dari raung bab para tamu dan pengunjung biasanya dibawa ke ruang makan monumental. Di ruang nan megah inilah di zaman dahulu para rahib makan. Sebagai bagian dari peraturan hidup membiara, para rahib makan dalam keheningan. Mereka akan duduk di bangku yang menyatu dengan meja makan yang diletakkan mengelilingi ruang makan ini. Sambil makan, akan ada seorang rahib yang bertugas membacakan bacaan rohani untuk para rahib. Dia akan berdiri di sebuah panggung di ketinggian, membacakan entah salah satu perikop Kitab Suci atau penggalan kisah orang kudus atau bacaan rohani lainnya dengan suara nyaring. Para rarib yang sedang makan pun diharapkan mendengar suaranya dan merenungkan apa yang sedang dibacakan itu.

Seorang rahib benediktin tampak sedang memberi penjelasan kepada para pengunjung.

Sementara di dinding-dinding ruang makan monumental ini terdapat lukisan-lukisan dari abad pertengahan, entah mengenai kisah perjanjian lama atau pun baru. Selain itu, terdapat pahatan-pahatan kayu di seluruh dinding ruang makan, berisi relief dan tulisan yang bisa menginspirasi para rahib untuk merefleksikan hubungan dirinya dengan Tuhan.

Dewasa ini ruang makan ini tidak digunakan lagi karena tidak memiliki pemanas ruangan sehingga terlalu dingin di musim dingin dan terlalu panas di musim panas.

Keluar dari ruang makan monumental ini kita akan disuguhi pemandangan alam nan indah dari atas teras di lantai dua ini. Di kejauhan tampak hijaunya hutan lindung, sementara di bawah sana terdapat perkebunan anggur nan subur miliki para rahib.

Jangan lupa mengunjungi pula perpustakaan kuno milik biara benediktin ini. Perpustakaan ini berisi lebih dari 100 ribu buku, mayoritas adalah buku-buku teologi.

Bagi mereka yang suka membeli oleh-oleh dan cinderamata buat keluarga dan kenalan, biara ini punya toko yang cukup lengkap. Berbagai barang yang diproduksi sendiri dari bahan dasar yang ditanam di kebun biara tersedia di sini. Perlengkapan mandi, obat untuk kosmetik dan herbal, berbagai jenis madu dapat dibeli di toko di biara ini, tentu dengan harga terjangkau.

Bagi mereka yang menginap di salah satu hotel di kota Padua dan harus naik bis ke Biara Benediktin ini, jangan lupa pulang sebelum jam lima sore. Setelah jam itu tidak ada bis lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s