Hukuman “mata ganti mata, gigi ganti gigi” di Iran

Ameneh Bahrami memegang fotonya ketika wajahnya belum rusak. Gadis ini memang tampak cantik.

Ameneh Bahrami adalah korban serangan asam mengerikan yang menyebabkan mata kirinya rusak dan buta. Menurut hukum Syariah, pengadilan Iran memerintahkan agar si penyerang juga harus dihukum sampai menjadi buta, namun hukuman belum dilakukan sampai hari ini. Berikut adalah kisah pencarian keadilan tak kenal lelah yang dilakukan Ameneh Bahrami.

Tahun 2004 ketika Ameneh Bahrami berusia 24 tahun. Dia seorang gadis cantik, mandiri, dan tentu saja juga menarik bagi para lelaki, termasuk teman-teman mahasiswa. Waktu itu dia sudah bekerja di sebuah laboratorium di Teheran.

“Banyak anak laki-laki biasa datang ke rumah saya, bahkan dosen. Mereka meminta kesediaanku untuk menikah dengan mereka,” katanya kepada BBC World Service’s program Outlook.  “Aku seorang gadis yang sangat cantik.”

Dia harus menderita seperti saya 

“Aku ingin dia juga menderita dan orang lain menjadi saksi atas penderitaannya,” kata Ameneh Bahrami. Dia kemudian mengenang peristiwa yang terjadi dalam hitungan detik yang merusak nyaris seluruh wajahnya itu. Lelaki yang merusak kebahagiaannya bernama Majeed Movahidi. Bahrami mengakui, dirinya belum pernah bertemu pemuda ini sampai suatu waktu keluarga pihak laki-laki ini menelpon keluarga Bahrami, menanyakan kemungkinan putra mereka menikah dengan gadis cantik ini.

Ameneh Bahrami menolak “lamaran” pihak keluarga cowok itu. Kecewa karena penolakan ini, Majeed Movahidi membuntuti sang gadis sampai ke kampus. Ternyata mereka berdua memang mahasiswa di kampus yang sama. Di kampus itulah mereka berdebat panjang dan panas. Meskipun begitu, Ameneh Bahrami sendiri belum mengenal nama si cowok ini.

Hari-hari setelahnya hidup Ameneh Bahrami penuh teror dan rasa takut. Mula-mula ibu dari sang cowok menelpon Ameneh Bahrami dan mengatakan bahwa jangan sekali-sekali meremehkan putranya. “Dia mengatakan bahwa anaknya adalah laki-laki dan dia mengatakan bahwa jika anaknya menginginkan saya maka dia harus mendapatkan saya,” demikian pengakuan Ameneh Bahrami kepada BBC.

Kematian ancaman 

Sejak perdebatan panjang dan panas di kampus, Ameneh Bahrami menyadari dirinya dalam bahaya. Nona Bahrami mengakui bahwa sang pemuda ini mengancam untuk menghabisi nayanya, atau setidak-tidaknya membuat dirinya menjadi cacad agar pemuda lain tidak bisa menikahi dirinya. “Dia mengatakan ‘Aku akan menghancurkan kehidupan Anda sehingga tak ada yang akan menikahimu’,”  kenang nona Bahrami.

Dia melaporkan ancaman ini ke pihak kepolisian, tetapi pihak kepolisian mengatakan bahwa jangan terlalu khawatir. Apalagi belum terbukti bahwa sang pemuda akan melakukan suatu tindakan kekerasan atas dirinya. Nona Bahrami pun tidak mendapat perlindungan dari pihak kepolisian.

Dua hari kemudian, ketika dia meninggalkan tempatnya bekerja di sore hari, ia melihat ada seseorang yang membuntutinya. Sambil berjalan menuruni gang yang sempit, nona Bahrami memperlambat langkahnya dengan maksud membiarkan laki-laki y ang membuntutinya itu mendahului dirinya. Ketika semakin mendekat, dia menyadari ternyata laki-laki itu adalah Movahidi.

Ketika melihat laki-laki itu, nona Bahrami mengatakan bahwa laki-laki itu tersenyum dan tertawa padaku. Ada semacam kebahagiaan di wajah dan di matanya. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menimpah wajahnya. Semula dia berpikir bahwa itu hanya air panas. “Lalu aku merasakan sensasi terbakar dan aku tahu bahwa itu adalah asam.”

Saat tiba di rumah sakit, ia telah kehilangan penglihatan di mata kirinya. “Saya takut untuk menyentuh wajah saya karena saya tahu saya tidak punya hidung, tidak punya bibir. Ketika saya meletakkan tangan saya di dekat mata kiri, saya tidak merasakan apa-apa. Ibuku tidak membiarkan saya melihat cermin. Baru setelah setelah seminggu mata kanan saya bisa melihat,” kisahnya.

Hukuman gantung lebih mudah

Dengan dukungan Mohammad Khatami yang kemudian menjadi presiden, dia pergi ke Barcelona untuk mendapatkan perawatan spesialis agar mata kanannya bisa benar-benar kembali pulih.

Nona Bahrami selalu memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan wajahnya yang cacad. Setelah pemilu tahun 2005, ketika Mahmoud Ahmadinejad berkuasa, orang-orang yang semula mendukung perjuangannya satu per satu tak kedengaran lagi. Dia ditinggalkan seorang diri dan tak punya cukup uang di negara asing. Dia kemudian dibawa ke tempat penampungan tunawisma untuk perempuan di mana dia akhirnya harus kehilangan penglihatan mata kanannya. Dan kini kedua matanya pun telah menjadi buta.

Kehilangan penglihatan mata kanan inilah yang telah mengubah sikapnya terhadap penyerangnya.  Selama perjuangannya untuk mendapatkan kembali penglihatannya, Nona Bahrami jarang memedulikan si penyerangnya. Tapi sekarang, dia ingin melihat Movahidi dihukum.

Tahun 2007 Nona Bahrami pun kembali ke Iran. Dengan bantuan mantan atasannya dan mulai memproses ditegakkannya keadilan retributif atas apa yang telah menimpanya, agar Movahidi pun mengalami kerusakan yang sama seperti yang telah ia alami.

“Saya pergi ke pengadilan dan berkata, saya menginginkan balas dendam.” Pihak pengadilan menjawab, “Kami tidak dapat melakukan ini. Kami hanya diminta untuk menggantung orang, dan itu jauh lebih mudah bagi kami.”

Kejam dan tidak manusiawi

Meskipun jarang digunakan, keadilan retributif bersifat legal dan dipraktikkan di Iran di bawah kode Syariah Islam qisas (retribusi). Nona Bahrami mengajukan diterapkannya keadilan distributif atas Madjeed, dan pengadilan pun memenangkan kasusnya pada tahun 2008. Pada waktu itu pengadilan memutuskan agar Madjeed Movahidi (27 tahun) harus dihukum sampai buta dengan menyiram asam ke wajahnya. Madjeed juga dijatuhi hukuman penjara dan diperintahkan pengadilan untuk membayar ganti rugi kepada korban.

Pihak berwenang Iran ragu-ragu untuk melaksanakan hukuman semacam ini dengan membuat orang lain menjadi buta. Meskipun sudah menjadi keputusan tetap pengadilan, Madjeed sendiri belum dihukum sampai buta dan sekarang masih mendekam di penjara. Setelah beberapa tahun tertunda, dijadwalkan pada 14 Mei 2011 Madjeed harus dihukum sampai buta. Pada hari yang telah dijadwalkan, Nona Bahrami akan pergi ke penjara di mana penyerangnya ditahan agar bisa menyaksikan sendiri bagaimana hukuman dijalankan. Meskipun demikian, hukuman ini sekali lagi ditunda karena pihak otoritas sendiri belum berhasil menemukan dokter yang bersedia untuk melaksanakan jenis hukuman semacam ini.

Organisasi hak asasi manusia termasuk pihak yang mendorong agar hukum dan praktik keadilan retribusi dicabut. “Sulit dipercaya bahwa pemerintah Iran akan mempertimbangkan untuk melakukan hukuman seperti ini,” kata Hassiba Hadj Sahraoui, Deputi Direktur Amnesty International Timur Tengah dan Afrika Utara Program.

“Terlepas dari bagaimana mengerikan kejahatan yang diderita oleh Ameneh Bahrami, membutakan sang pelaku kejahatan dengan asam adalah hukuman kejam dan tidak manusiawi.”

Sampai kini hukuman berdasarkan keadilan retribusi ini masih ditunda. Movahidi tetap di penjara tanpa batas waktu, menunggu pelaksanaan hukuman.

Dengan dana segar dari sebuah badan amal yang berbasis di AS, Ameneh Bahrami kembali ke Barcelona untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah. Meskipun demikian, dia bertekad untuk memperjuangkan keadilan distributif. “Kalau saya memaafkan dia, saya tidak mendapatkan apa-apa dari pengampunan itu,” katanya.

“Hal yang sama, jika mataku diganti dengan matanya, saya tidak mendapatkan apa-apa Saya ingin agar orang-orang seperti Majeed sadar bahwa ada hukuman terhadap kejahatan yang mereka lakukan, “ kata Ameneh Bahrami.

Sumber: BBC, 2 June 2011 Last updated at 00:04 GMT (http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-13578731)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s