Presiden SBY, Aristoteles dan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mampu menghasilkan kepribadian yang inklusif, menerima siapa pun tanpa membeda-bedakan (Sumber: http://www.eduguide.org/library/viewarticle/1466)

Di hari pendidikan nasional dan kebangkitan nasional 2011, Presiden SBY meminta seluruh masyarakat mewujudkan pendidikan karakter. Menurut pemerintah, pendidikan karakter dapat menjadi jalan keluar bagi terbentuknya bangsa yang unggul, tidak saja dari segi ilmu dan teknologi, tetapi juga moral dan budi pekerti. Menarik bahwa Presiden SBY merujuk ke pemikiran Aristoteles tentang human excellence sebagai paradigma mendesain pendidikan karakter bangsa (kompas.com, 20/05/2011).

Sah-sah saja mengatakan bahwa pemerintah panik menghadapi bahaya kehancuran bangsa. Akhlak dan moral bangsa menukik tajam ketika korupsi merajalela. Dan ketika pemerintah tampak belum maksimal memberantas korupsi, terorisme bermotifkan ajaran ideologi radikal-eksklusif dan eksistensi NII hadir mengancam NKRI. Pemerintah keliru besar kalau pendidikan karakter dipandang sebagai jalan keluar mengatasi masalah konkret semacam ini. Pertama, belum jelas benar apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Kalau itu sebuah mata pelajaran baru, pendidikan karakter hanya akan memberatkan peserta didik dan pendidik. Wajar para pendidik menanyakan cetak biru pendidikan karakter karena mereka tahu kebijakan ini akan segera dieksekusi Kementerian Pendidikan begitu diumumkan, apalagi oleh orang nomor satu RI. Para guru pantas resah karena mereka akan babak belur di lapangan menafsir sendiri seperti apa pendidikan karakter. Belajar dari pelaksanaan pendidikan tematik di SD kelas satu sampai tiga yang filosofinya adalah pendidikan integratif lintas bidang studi, justru dipraktikkan sebagai pengajaran setiap subjek secara independen persis ketika tidak tersedianya pemahaman memadai dan cetak biru. Sementara guru dengan berbagai keterbatasan yang ada dan minimnya model, tidak bisa berbuat banyak. Hal yang sama dikhawatirkan terjadi juga pada pendidikan karakter.

Kedua, berpendapat bahwa pendidikan karakter adalah solusi bagi krisis yang dihadapi bangsa saat bisa menyesatkan. Tidak pernah ada penelitian ekstensif sejauh mana mata pelajaran normatif seperti agama mampu membentuk akhlak peserta didik, misalnya dalam rentang waktu pasca tergusurnya pendidikan Pancasila dari kurikulum nasional. Terlepas dari kasus pengajaran agama di tempat tertentu yang menanamkan sikap eksklusif dan radikal kepada para siswa, memperlakukan pendidikan agama semata-mata sebagai salah satu mata pelajaran tetap tidak mampu mengubah perilaku. Padahal penelitian semacam ini mampu mengukur sejauh mana urgensi dan watak pendidikan normatif. Baru setelah itu kita bisa memutuskan apakah pendidikan karakter masih dibutuhkan, dan jika dibutuhkan, rancangannya seperti apa.

Asumsinya sangat sederhana. Korupsi, kolusi, dan berbagai perilaku tak bermoral baik dilakukan para pejabat publik maupun warga masyarakat dilakukan oleh mereka yang tahu patokan baik dan buruk secara moral. Sekurang-kurangnya mereka tahu dari pendidikan agama. Persoalannya bukan pada apakah seseorang tahu mana yang baik dan buruk secara moral, tetapi kemauan melaksanakan apa yang baik. Jika pendidikan agama sendiri mampu menjembatani peralihan dari pengetahuan akan kebaikan kepada tindakan baik, pendidikan karakter atau mata pelajaran normatif lainnya tidak terlalu urgen. Kalau pun kita mengasumsikan bahwa pendidikan karakter dibutuhkan karena kegagalan pendidikan agama dalam membentuk akhlak dan watak keimanan, kesalahan yang sama akan terulang persis ketika terjadinya diskontinuitas antara pengetahuan yang baik dan perilaku baik secara moral. Sanggupkah pendidikan karakter mengubah pengetahuan mengenai karakter yang baik (excellence character) kepada tindakan berkarakter?

Presiden SBY merujuk Aristoteles, semoga itu bukan sekadar moda berargumentasi. Merujuk ke pemikiran Aristoteles sebagai paradigma pendidikan karakter artinya menerima watak pendidikan Aristotelian sebagai pembentukan keutamaan. Ini cukup tepat, meskipun ahli pendidikan karakter bisa berpendapat sebaliknya. Pendidikan moral dalam tradisi Aristotelian memang dimaksudkan untuk membentuk manusia berkeutamaan.  Tradisi etika Aristotelian mengatakan bahwa seseorang memiliki keutamaan jika dia sanggup mengendalikan diri dari bertindak terlalu ekstrem kiri atau ekstrem kanan. Keutamaan kemurahan-hati (generosity), misalnya, diraih seseorang jika dia telah berhasil menghindari perilaku boros (wastefulness) sebagai ekstrem kanan dan sikap kikir (stinginess) sebagai ekstrem kiri.

Tentu ini saja tidaklah cukup! Seorang peserta didik juga dituntut konsisten mempraktikkan kebaikan. Etika keutamaan yang diusung Aristoteles mengajarkan bahwa manusia memang memiliki kehendak (will) yang lemah. Karena itu, mengetahui apa yang baik tidak secara otomatis membuat dia berperilaku baik. Dibutuhkan kehendak atau kemauan yang kuat untuk mengalihkan pengetahuan akan yang baik kepada sikap baik. Meskipun tidak mudah, konsistensi mempraktikkan kebaikan dapat menjadi latihan mencapai pribadi berkeutamaan.

Impian mulia Presiden SBY tentu harus didukung. Kalau manusia berkeutamaan (virtues man) menjadi cita-cita manusia Indonesia yang ingin kita wujudkan, jalan ke arah itu memang masih jauh sekali. Pendidikan karakter bisa menjadi salah satu jalan keluar dengan catatan didahului sebuah perencanaan yang matang. Dan ketika pendidikan karakter belum menjadi kenyataan, seluruh proses pendidikan yang sekarang berjalan seharusnya menjadi moda pembentukan manusia Indonesia yang berkeutamaan. Kalau saja masing-masing kita bertekad melatih diri bertindak moral, menghindari ekstrem kiri dan ekstrem kanan secara konsisten, niscaya kita akan menjadi pribadi berkeutamaan sebagaimana dicita-citakan bersama.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s