1,5 Juta Umat Hadiri Misa Beatifikasi Yohanes Paulus II Di Lapangan Santo Petrus

Satu setengah juta orang memadati Lapangan Santo Petrus, Vatican dalam misa beatifikasi Yohanes Paulus II, 1 Mei 2011.

Hari-hari menjelang beatifikasi Yohanes Paulus II, media-media massa seluruh dunia tidak hanya menegaskan kembali mendunianya pengaruh Paus asal Polandia ini, tetapi juga beberapa kritik pedas. Ada media yang mengatakan bahwa beatifikasi ini terlalu cepat dan sedikit dipaksakan hanya untuk mempertahankan emosi umat dan kecintaan mereka pada Gereja Katolik. Mereka melihat hal ini sebagai tanggapan terlalu cepat terhadap seruan ribuan orang yang memadati Lapangan Santo Petrus pada pemakaman Yohanes Paulus II, enam tahun silam. Ada juga media yang meragukan kekudusan dan kesucian Yohanes Paulus II, mengingat selama hidupnya Beliau tidak mengambil langkah-langkah cepat dan berani menangani skandal pelecehan seksual para imam kepada anak-anak laki-laki. Mengikuti berbagai media online dan tanggapan-tanggalan yang diberikan para pembaca sungguh membuat merah kuping. Gereja Katolik seakan-akan ditelanjangi.

Perlahan-lahan kain selubung yang menutupi gambar resmi Beato Yohanes Paulus II dibuka, diiringi tepuk tangan merih umat yang hadir.

Sekarang, ketika 1 Mei 2011 ada lebih dari 1,5 juta peziarah memadati kota Roma dari berbagai belahan dunia, dan ada sekitar 1 juta orang hadir membludak di Lapangan Santo Petrus, mengikuti secara hikmad jalannya misa beatifikasi, apa lagi yang bisa dikritik media massa? Apa lagi yang bisa dikritik pada pembenci Gereja Katolik? Apakah jutaan orang yang hadir di Lapangan Santo Petrus ditambah ratusan juta orang di seluruh dunia yang menyaksikan siaran langsung misa beatifikasi adalah orang-orang yang tidak waras? Apakah mereka beragama Katolik sekadar emosional belaka? Rasanya argumen-argumen yang biasa mereka kemukakan dipatahkan oleh hadirnya jutaan orang dan rasa cinta mereka yang semakin membara kepada Gereja Kristus. Dan cinta itu tidak main-main, karena mereka hidup di zaman modern, mereka sangat terdidik, terbiasa berpikir rasional, dank arena itu memutuskan sesuatu dalam hidupnya berdasarkan pertimbangan yang rasional pula. Hanya saja, rasio kali ini menemukan ruang untuk bertumbuh dalam iman akan Yesus Kristus, rasio yang menyadari keterbatasannya di hadapan Realitas Maha Kuasa Sang Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

Sangat Dicintai

Yohanes Paulus II terlalu terkenal dan terlalu kaya untuk digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas, ketika menyebut namanya, orang langsung teringat pada perannya bagi runtuhnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur. Orang juga mengingat intelektualitas dan karya-karya akademiknya dalam bentuk buku-buku dan risalah filsafat atau teologi, belum termasuk ensiklik dan seruan-seruan. Paus Benediktus XVII memuji Yohanes Paulus II dengan mengatakan bahwa jasa Beliau memang tak-terhitung bagi runtuhnya komunisme. Benediktus XVI memberi kesaksian dalam homilinya, katanya, “Ketika Karol Wojtyla menduduki kursi Santo Petrus, dia membawa serta dalam dirinya pemahaman yang mendalam akan perbedaan antara Marxisme dan Kristianitas, didasarkan pada visi mereka masing-masing mengenai siapa manusia.” Dan tentunya, berkat iman yang tegus, kekuatan, dan keuletan, Yohanes Paulus II mampu menunjukkan betapa Kristianitas memiliki pemahaman yang lebih tepat akan siapakah manusia. Lanjut Bendiktus XVI, “Dia dengan tepat menegaskan kembali bahwa dalam arti tertentu memang iman sepertinya gagal di hadapan Marxisme dan ideology-ideologi lain yang memuja kemajuan. Dia [Yohanes Paulus II] mengembalikan Kristianitas kepada wajahnya yang sejati sebagai agama pengharapan, agama yang dihidupi dalam sejarah dengan semangat ‘Advent’ agama yang dihidupi sebagai pengalaman pribadi dan kehadiran komunitas yang diarahkan kepada Kristus, kepenuhan dari kemanusiaan dan kepenuhan dari seluruh kerinduan kita akan keadilan dan perdamaian.”

Orang juga mengingat Yohanes Paulus II sebagai Paus yang mengunjungi nyaris semua negara di dunia. Dan bagi kaum muda, Yohanes Paulus II membuka mata dan hati mereka akan cinta dan relasi personal dengan Yesus, akan kekayaan dan tradisi Gereja Katolik yang didirikan Yesus sendiri melalui pertemuan tiga tahunan World Youth Day. Semua itu dijalaninya sebagai wujud nyata kerasulannya. Menjadi salah seorang Paus yang menduduki kursi Santo Petrus yang dipilih menjelang peralihan milenium, Yohanes Paulus II tampil sebagai saksi iman yang terus mengatakan kepada seluruh umat Katolik sedunia untuk “tidak takut” dan menyambut hari-hari depan dengan pengharapan. Maka ketika jutaan umat berkumpul kembali di lapangan Santo Petrus pagi ini, 1 Mei 2011 dalam misa beatifikasi, kita pun teringat kembali kata-kata Yohanes Paulus II, “Jangan takut, bukanlah lebar-lebar kepada Kristus!” Menurut Benediktus XVI, apa yang diseruan Yohanes Paulus II, dia sendirilah yang pertama kali melakukannya. Dialah yang memelopori terbukanya masyarakat, kebudayaan, politik, dan sistem ekonomi kepada Kristus.

Sebagian kecil peziarah dari Polandia tampak antusias.

Marynka Ulaszewska, 28 tahun dari Ciecjocinek, Polandia pada momen beatifikasi 1 Mei 2011, sambil berurai air mata, mengatakan, “Dia seperti seorang raja dan ayah bagi kami. Saya harap perasaan seperti ini akan terus bertahan dalam hidup kami dalam waktu yang lama.” Alessandra Verdura dari Northamptonshire berusia 12 tahun ketika Yohanes Paulus II meninggal dunia, dan kini dia ada bersama jutaan orang yang bersukaria dan bersyukur di Lapangan Santo Petrus. “Dia memang telah tiada, tetapi orang masih merasa bahwa dia ada di sini, dan itu menunjukkan betapa berpengaruhnya seorang Paus,” demikian Alessandra. Sementara Eugeniusz Mroz, teman sekolah Yohanes Paulus II, kini berusia 90 tahun, datang jauh-jauh dari Wadowice (Polandia) untuk ikut bersyukur dan bergembira atas peristiwa agung ini. “Adalah kegembiraan luar biasa bagiku, bahwa sahabatku sendiri yang dengannya kami berangkat ke sekolah bersama, sekarang dihitung di antara orang kudus. Ini juga merupakan kegembiraan tersendiri bagi orang Polandia, bahwa ada seorang bernama Yohanes Paulus II dari Wadowice yang sekarang dibeatifikasi,” demikian Mroz.

Cinta kepada Yohanes Paulus II dan syukur kepada Tuhan atas anugerah kekudusan menyebar ke seluruh dunia. Ratusan juta orang turut menyaksikan siaran langsung misa beatifikasi dari layar kaca di rumah mereka atau layar-layar raksasa di gereja-gereja. “Dia adalah model dan inspirasi yang menyatukan dunia dengan karismanya,” aku John Paul Bustillo, siswa kedokteran berusia 16 tahun yang tenggelam dalam suka cita bersama sekitar 3000 umat yang menyaksikan siaran langsung misa beatifikasi di Manila Bay, Filipina.

Di Polandia, negeri kelahiran Yohanes Paulus II, ribuan umat memadati gereja-gereja besar di Krakow dan Wadowice, mengikuti misa yang disiarkan langsung dari Vatican. Perdana Menteri Donald Tusk dan istrinya, Malgorzata ikut dalam ribuan orang di Wadowice, menyaksikan siaran langsung misa beatifikasi tersebut.

Setelah hampir 3 jam misa, Benediktus XVI berdoa di depan peti Yohanes Paulus II yang di atasnya terdapat sebuah salinan Injil Lorsch (Alkitab dilengkapi ilustrasi yang aslinya ditulis antara tahun 778-820 M, selama masa kekuasaan Karolus Agung dari Dinasti Frankish). Setelahnya Basilika Santo Petrus dibiarkan terbuka dan mempersilakan umat menyalami dan berdoa di depan peti Yohanes Paulus II. Setelah itu, peti berisi tubuh Yohanes Paulus II dipindahkan ke bagian samping Basilika Santo Petrus, persis sebelum Patung Pieta karya Michelangelo yang terkenal itu.

Sr. Tobiana (Kiri) dan Sr. Marie Simon-Pierre (kanan), mengantar relikwi ke Benediktus XVI.

Selama misa, Benediktus XVI menerima relikwi perak berisi darah Yohanes Paulus II yang diambil selama hari-hari terakhirnya di Rumah Sakit. Sebagai salah satu bagian penting dari ritus beatifikasi, relikwi itu tersedia bagi umat dan digunakan untuk kepentingan doa. Menarik bahwa yang mengantar relikwi ke Benediktus XVI adalah Suster Tobiana, biarawati dari Polandia yang membantu dan melayani Yohanes Paulus II selama masa kepausannya didampingi Suster Marie Simone-Pierre dari Prancis, biarawati yang mengalami mukjizat kesembuhan dari Parkinson berkat doa melalui perantaraan Yohanes Paulus II.

Kesaksian Pribadi Benediktus XVI

Di akhir homilinya Benediktus XVII membagikan pengalaman perjumpaannya dengan Yohanes Paulus II. Kata Benediktus, “Saya mau bersyukur kepada Tuhan karena anugerah-Nya sehingga saya bisa bekerja dalam waktu yang panjang bersama Beato Yohanes Paulus II. Saya telah mengenal dia jauh sebelumnya dan sangat menaruh hormat padanya, tetapi untuk dua puluh tiga tahun, dimulai sejak tahun 1982 setelah dia memanggil saya ke Roma untuk menjadi Perfek Kongregasi Ajaran Iman, saya ada di sampingnya dan semakin menghormatinya. Karyaku sendiri didukung dan diperkaya oleh kedalaman spiritualitasnya dan oleh kekayaan visi-visinya. Teladannya dalam berdoa terus-menerus mengagumkan saya: dia selalu dipersatukan secara mendalam dengan Allah bahkan di tengah-tengah tuntutan kegembalaan yang berat.

Benediktus XVI menerima dan mencium relikwi Beato Yohanes Paulus II.

Juga kesaksian imannya dalam penderitaan: Tuhan perlahan-lahan menanggalkan segalanya dari dia, dan dia tetap bertahan sebagai seorang “batu”, sebagaimana yang diinginkan Kristus. Kerendahan hatinya yang mendalam, berakar dalam kesatuannya dengan Kristus, memampukandia melanjutkan kegembalaannya memimpin Gereja untuk menyampaikan kepada dunia sebuah pesan sejalan dengan menurunnya kekuatan fisiknya. Dalam cara ini dia menghidupi panggilannya secara luar biasa dari panggilan setiap imam dn uskup untuk menjadi seutuhnya bersama Kristus, Dia yang setiap hari disambutnya dan dipersembahkannya dalam Ekaristi.

Terberkatilah engkau, yang terkasih Paus Yohanes Paulus II, karena kau percaya! Lanjutkan terus membantu kami dari surge mempertahankan iman umat Allah ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s